Santri Famiglia

Santri Famiglia
Sanubari Bangkit


__ADS_3

Bunyi PIP panjang terdengar nyaring di arena. Lawan telah berhasil mencetak poin di menit awal. Sanubari semakin panik. Tubuhnya gemetaran tidak terkontrol. Sementara wasit mulai mengucapkan aba-aba kembali tanpa memberikan waktu istirahat yang cukup.


"Allez!"


Seharusnya kedua atlet saling menyerang dan bertahan ketika aba-aba mulai itu diucapkan. Namun, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Perwakilan dari Cina yang menjadi lawan Sanubari berdiri dengan menurunkan pedang serta memiringkan kepala.


"UWAAA!" teriak Sanubari sambil berlari ke lawan arah.


Saking paniknya sampai tanpa sadar Sanubari melewati garis mati. Wasit langsung menegurnya. Sanubari pun berhenti.


Seketika gemuruh gelak tawa memenuhi stadion. Seumur hidup, ini kali pertama para penonton yang hadir di arena melihat seorang atlet berbalik badan menjauhi lawannya.


"Astaga, Sanu!" Kelana tertunduk sambil menutupi wajah dengan telapak tangan dan berkacak pinggang.


Bocah itu melakukan hal yang di luar dugaan Kelana. Dia pikkir bocah itu akan bisa mengatasi kegugupannya setelah diberi arahan sedemikian rupa. Namun, demam panggung tetap saja menjadi momok yang sulit diatasi bagi bocah tidak berpengalaman seperti Sanubari.


Dari bangku penonton, keluarga Sanubari dan Kelana menyaksikan. Asia, Sanum, Embara, Kumbara dan istri Kelana—mereka semua duduk berdampingan menyaksikan pertandingan.


"Ya ampun! Apa itu Sanu?" tanya Embara dengan heboh.


"Kurasa itu memang Sanu. Mereka tidak bertukar posisi," jawab Kumbara.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia malah lari ke lawan arah? Embara menoleh kepada Kumbara.


"Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu apa yang dia pikirkan," respons Kumbara.


Para penonton di bangku lain pun memperbincangkan tentang kejadian ini. Mereka bergosip dengan bahasa masing-masing. Pun demikian dengan bangku pendukung Indonesia.


"Apa-apaan anak itu?"


"Siapa yang memilih atlet amatiran seperti dia untuk mewakili Indonesia?"


"Anak tidak bisa main kok dikirim?"

__ADS_1


"Cemen! Pasti anak mami tuh."


"Malu-maluin aja."


"Mending enggak usah ngirim atlet kalau tidak punya yang kompeten."


Siaran langsung pertandingan ini ditayangkan di beberapa stasiun televisi seluruh dunia. Para komentator menjelaskan keadaan dalam bahasa masing-masing. Orang-orang yang mengaktifkan perekam otomatis pada layar televisinya langsung memotong adegan tersebut.


Mereka yang berprofesi sebagai kreator konten memanfaatkan momen tersebut. Berbagai video dan foto editan pun tersebar di jagad Maya. Banyak meme dalam berbagai versi tercetus dan bertebaran di berbagai media sosial.


Di gedung olahraga lain namun masih di kota yang sama, seorang pemuda sedang beristirahat. Dia baru saja menyelesaikan latihan bersama pelatihnya. Jin nama pemuda itu.


Dia sedang meneguk air mineral dari botol sambil menggulir akun media sosialnya. Seketika air dimulutnya tersembur ketika video viral itu melintas di layar ponselnya. Jin terbahak.


"Konyol! Masak ada atlet anggar kabur dalam laga internasional seperti ini? Dia pikir anggar itu lomba maraton, apa?"


Video singkat itu diputar berulang secara otomatis di ponsel Jin. Jin mendadak fokus melihat video ketika nama yang tidak asing baginya disebut. Dia mendengarkan video itu baik-baik.


Tiba-tiba Jin penasaran. Dia langsung mencari saluran yang menyiarkan pertandingan foil tunggal putra tingkat pemula. Jin ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya.


Di arena pertandingan, Sanubari mendapatkan kartu peringatan dari wasit. Sanubari hanya mengangguk-angguk mendengar wasit. Dia baru sadar telah keluar dari landasan anggar.


Pelanggaran pertama Sanubari bukanlah tergolong dalam pelanggaran berat sehingga dia masih diperbolehkan melanjutkan pertandingan. Sanubari menghembuskan napas panjang. Dia melangkah kembali ke tengah landasan.


"Aku harus tenang. Aku pasti bisa!" batin Sanubari.


Dia mulai memasang kuda-kuda lagi. Sanubari masih gugup tetapi dia mencoba fokus. Dalam hati Sanubari berkata, "Aku tidak boleh kalah di sini. Kalaupun kalah, aku harus kalah secara terhormat. Tidak boleh lari. Tidak boleh mundur. Benar, aku harus menghadapinya!"


Aba-aba 'mulai' dikumandangkan kembali. Kedua atlet menjangkahkan kaki ke depan saling menghunuskan pedang. Sanubari menangkis bilah pedang lawan. Bunyi dentingan pun terdengar mengiris telinga. Namun, tekanan pedang lawan terlalu kuat. Pedang Sanubari terjatuh. Lawan berhasil mencetak poin lagi dengan menghunuskan pedanng ke area perut Sanubari.


Wasit menyuruh mereka kembali ke posisi semula. Sanubari mengambil pedangnya lalu bersiap. Ia lebih waspada dari sebelumnya.


Genggaman pada pedang pun dia perkuat supaya kejadian pedang jatuh tidak terulang. Ia bergerak maju begitu diperbolehkan. Kali ini Sanubari berhasil menusuk area torso lawan. Sayang, lawan juga berhasil melakukan hal yang sama. Sanubari gagal mencetak poin.

__ADS_1


Pertandingan dimulai dari awal lagi. Sanubari tertinggal empat poin dari lawan. Dia semakin meningkatkan kewaspadaan. Waktu perlombaan juga hampir berakhir.


Sanubari melakukan gerak cepat untuk menyusul poin lawan dalam waktu singkat. Sanubari mulai bisa bermain dengan tenang. Dia mengabaikan segala suara gemuruh yang bisa memecahkan konsentrasinya. Fokus penuh pun dia tujukan pada pertandingan.


Kelincahan Sanubari meningkat pesat. Dia bisa dengan mudah melompat ke belakang untuk menghindari tusukan lawan, kembali maju melakukan serangan balasan. Setelah berjuang keras, akhirnya Sanubari berhasil membalikkan keadaan. Dia keluar menjadi pemenang dan maju ke babak berikutnya.


Sanubari berhasil melewati babak berikutnya dengan mulus. Dia masuk ke babak perempat final. Tinggal lima atlet dari lima negara yang maju ke babak ini.


Tidak disangka Sanubari bisa maju sejauh ini. Dia mendapat giliran pertama melakukan duel. Lawannya kali ini adalah atlet tuan rumah.


"En garde!" kata wasit.


Sanubari bersiap di posisinya. Sedikit lagi dia bisa masuk Vinal. Harapannya kali ini sangat besar. Tingkat percaya dirinya bertambah setelah berhasil mengalahkan musuh sebelumnya.


"Prete ... allez!"


Sanubari melesat ke depan. Serangannya ditangkis. Namun, dengan segera Sanubari mengayunkan pedang ke arah lain, membidik perut lawan.


"Berhasil!" batin Sanubari senang ketika ujung pedangnya melesat tepat mengenai target.


Sayang, lawan berhasil menusukkan ujung pedangnya ke tengah dada Sanubari yang pertahanannya terbuka. Sedangkan serangan Sanubari ternyata tidak mengenai sasaran. Lawan menghindari serangan itu dengan sedikit mundur agak serong.


Keduanya kembali ke posisi semula. Mulai berduel lagi sampai waktu berakhir. Lawan kali ini sangat tangguh. Sanubari kalah telak dengan perolehan nol poin untuknya.


Ternyata kekalahan itu sangat menyakitkan. Kekecewaan tidak bisa Sanubari sembunyikan. Padahal sebelumnya dia sudah memutuskan untuk tidak terpengaruh dengan hasil tetapi hasil yang tidak memuaskan ini membuat Sanubari sedih. Ia berjalan menemui Kelana dengan muka lesu.


"Maaf, aku gagal," kata Sanubari tertunduk tidak bersemangat.


"Tidak masalah. Tidak perlu bersusah hati seperti itu!" kata Kelana dengan nada lembut sambil mengusap puncak kepala Sanubari.


"Padahal tinggal sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi aku ...." Sanubari terisak.


Dia tidak bisa mengendalikan perasaannya. Sanubari merasa sangat bersalah. Dia kalah dengan kondisi yang sangat mengenaskan—tanpa bisa mencetak poin sedikit pun. Dia telah mempermalukan Kelana yang telah berusaha keras melatihnya. Perasaan Sanubari campur aduk.

__ADS_1


__ADS_2