Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ekosistem Raksasa


__ADS_3

Menantu Fang membawakan baju untuk anak kecil dan pria dewasa. Dia menyerahkannya pada Fang. Saat Vladimir sedang ganti pakaian, Robert datang. Dokter tersebut membawa lampu darurat yang lebih terang. Lilin pun disingkirkan.


Fang menatap nanar pada anak kecil yang terbaring. Darah rupanya banyak merembes dan lukanya tidak hanya pada satu tempat. Robert melepaskan pakaian itu, membersihkan luka, lalu menutup bekas luka setelah mengangkat timah yang bersarang di dada.


"Anak ini beruntung. Peluru hanya menabrak tulang rusuk, tidak sampai mematahkan dan menembus organ dalam," katanya sambil berpindah ke luka tusuk pada perut.


Fang makin penasaran. Dia belum jadi mendengar peristiwa apa yang menimpa cucu dari kawan lamanya itu. Vladimir belum kembali dari kamar mandi.


Damiyan tersentak. Dia mengernyit. Kakinya mengentak memberi perlawanan secara spontan.


",Papa! Mama!"


Dia menjerit. Kacamata Robert terjatuh karena tertendang Damiyan. Benang jahitnya pun putus, padahal dia belum selesai menjahit perut Damiyan.


"Kau berada di tempat yang aman. Tenanglah, Nak!" Fang maju. Dia memegangi tubuh Damiyan.


Patrick masuk sambil membawa air hangat. Dia bergegas meletakkan baskom dan handuk, lalu mengambilkan kacamata Fang.


"Lepaskan Papa dan Mama, Penjahat!" Damiyan terus memberontak. Wajah-wajah asing membuatnya takut. Namun, dia enggan memperlihatkan kelemahan pada mereka.


"Kami di sini untuk membantumu," kata Fang.


"Patrick, pegangi dia!" Robert memakai kacamata kembali. Dia melihat ke bawah. Luka baru terbentuk di dekat luka tusuk akibat gerakan tiba-tiba Damiyan kecil yang baru berusia tujuh tahun jalan delapan tahun.


"Baik, Kek." Patrick memegangi kaki Damiyan.

__ADS_1


"Rileks, Nak! Jika kau terus memberontak, lukamu akan bertambah," ujar Robert.


"Damiyan, tidak apa-apa! Mereka teman."


Mata Damiyan bergerak, mencari sosok yang baru berbicara. Sosok Vladimir menyeruak di antara orang-orang yang tidak dikenal. Pandangan Damiyan beralih-alih antara wajah-wajah asing dan Vladimir.


"Kita aman di sini." Vladimir tersenyum.


"Papa, Mama?" Matanya beralih berusaha melihat di antara celah. Dia mencari dua sosok berharga baginya.


"Mereka juga ada di sini," jawab Vladimir.


"Aku mau ketemu," pinta Damiyan.


Semua orang diam. Mereka membiarkan dialog antara cucu dan kakek itu. Berangsur-angsur, Damiyan menjadi tenang.


Damiyan menurut. Robert memperbaiki jahitan yang koyak. Damiyan tidak merasakan sakit karena efek bius lokal. Hanya saja, ada sensasi aneh ketika jarum menembus kulitnya. Itu seperti anggota tubuh kebas yang dicolek-colek.


Damiyan memperhatikan Robert yang sedang bekerja. Jantungnya berdesir ngeri. Dia pernah tanpa sengaja mengiris jari sendiri. Akan tetapi, lukanya kali ini lebih buruk daripada sekadar tergores pisau di ujung jari. Untungnya, usus Damiyan tidak terburai.


Jika ingat peristiwa yang baru saja menimpanya, Damiyan rasanya ingin menangis. Namun, dia tahan perasaan cengengnya itu. Dia tidak ingin diejek seperti anak perempuan.


Sejak dini, Damiyan dididik untuk menaklukkan rasa takut. Meski belum sepenuhnya bisa, dia akan tetap berpura-pura kuat ketika keluarganya melihat. Mereka semua selalu mengatakan itu demi masa depannya.


"Rasa takut, pengecut, dan kemarahan hanya akan membuatmu mudah ditendang dari dunia ini," begitu kata Vladimir di sela-sela waktu istirahat setelah latihan. Vladimir selalu mengulangnya setiap kali ada kesempatan.

__ADS_1


Sejauh ingatan Damiyan, kalimat itu didengarnya pertama kali ketika berusia lima tahun. Bila bisa mengingat lebih jauh lagi, bisa jadi Vladimir sudah mengatakannya ketika Damiyan berusia tiga tahun atau mungkin sejak dalam kandungan. Yang jelas, Damiyan ingat kalimat itu sering muncul sejak dia diajari menembak, sejak dia disuruh maraton dengan citah.


Kala itu, sekujur tubuhnya dilumuri darah. Matanya ditutup dengan kain. Ketika penutup mata dibuka, dia sudah berdiri di depan citah yang dirantai. Jaraknya hanya lima meter. Kemudian, gelang rantai tiba-tiba terlepas.


Damiyan mau tidak mau harus berlari. Dia sempat diterkam dan berpikir akan dimakan citah. Namun, binatang berkaki empat tersebut tumbang sebelum menggigitnya. Tentu saja Damiyan menangis, meraung meminta bantuan kala itu. Itu adalah pengalaman yang keterlaluan menurutnya.


Akan tetapi, berkat latihan itu, Damiyan sering menjuarai kompetisi lari. Bukan hanya sekali, dia disuruh balapan dengan citah. Jadi, kecepatan lari manusia bukanlah apa-apa baginya. Dia sering mengeluh. Namun, Vladimir selalu saja mengulang petuahnya.


Bosan mendengar kalimat yang sama, Damiyan terkadang menanggapinya dengan candaan. "Dunia ini sangat luas. Manusia macam apa yang bisa menendang ku sampai ke luar angkasa? Manusia yang berguru pada beruang hitam raksasa?"


Jika seperti itu, hari berikutnya, Damian terkadang akan di hadapkan pada hewan sungguhan. Siapa sangka, celetukkannya itu sungguh ada di dunia nyata. Lebih tepatnya, bagian tentang hewan raksasa. Damiyan tidak pernah menyangka Rusia punya laboratorium Gila yang ada di perut bumi. Para ilmuan membiakkan ekosistem raksasa. Bahkan, ulatnya pun sampai sebesar kereta dan ada yang lebih besar lagi. Tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya dia akan memiliki pengalaman bertahan hidup layaknya Sun Go Kong. Bedanya, dia hanya dikurung selama tujuh hari setiap kali dihukum.


Pengalaman itu membentuknya menjadi pribadi yang selalu ingin bersantai. Dia lelah disuruh bertahan hidup dalam tekanan hampir setiap saat. Meskipun begitu, dia bisa juga menjadi tergesa di detik-detik terakhir. Selama dia berpikir segalanya masih berjalan aman dan terkendali, selama itu pula dia akan santai dan tidak segera mengambil tindakan.


Ketika sekelompok perempuan tiba-tiba masuk ke penginapannya dan menjadikannya Sandra pun Damiyan masih bisa tenang. Bahkan, dia tidak merengek ketika moncong pistol ditempelkan pada pelipisnya walau ada sedikit rasa takut dalam hati. Namun, dia tidak tahan melihat pisau ditodongkan pada leher ibunya. Di saat yang bersamaan, ayahnya dipukuli karena tetap bungkam. Pria itu tetap enggan menyerahkan sesuatu, memberikan informasi, atau entah apa itu yang mereka minta meski para perempuan sudah mengancam. Gertakan untuk membunuh sang istri serta anak nyatanya sulit untuk menaklukkan keuletannya.


Dengan ketangkasannya, Damiyan melakukan perlawanan. Dia merebut pistol. Ibunya juga memberontak. Wanita itu merebut pisau, lalu melepaskan ikatan sang suami dengan cepat. Kondisi menjadi kacau. Damiyan asal menembak. Kala itu, dia belum terbiasa dengan kekacauan sesungguhnya. Tangannya sedikit bergetar karena harus melukai manusia.


Perutnya tertusuk, tapi Damiyan masih bisa bergerak. Kemudian, sebuah tembakan mengenai tubuhnya. Jantungnya serasa berhenti. Pemandangan terakhir yang dilihatnya adalah, bilah pedang terayun pada sang ibu sebelum pandangannya menggelap sempurna.


Ketika tersadar, Fang dan yang lain sudah mengelilinginya. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Vladimir yang tidak ada dalam pandangan terakhirnya pun berada dalam ruangan, menemaninya.


Peristiwa itu membuat Damiyan memahami maksud dari petuah Vladimir. Kakeknya itu benar. Jiwa pengecut hanya akan membuat para perempuan aneh bisa menindasnya. Mereka sampai bisa melukainya karena dia terlalu takut melayangkan nyawa seseorang. Selama perlawanan, dia menghindari area torso dan kepala. Dia ingat perkataan gurunya.


"Peluru yang menembus usus bisa menyebabkan peritonitis. Jika tidak ditangani segera dan dengan benar, itu bisa mengakibatkan kematian. Kalau kau menembak dari sudut ini, peluru bisa menembus jantung, paru-paru, hati, lalu memecahkan lambung. Itu bisa menyebabkan kematian juga. Bahkan, lebih efektif daripada menyasar area usus. Terlebih lagi bila kau mengincar kepala."

__ADS_1


Damiyan memperhatikan organ-organ peraga yang ditunjuk satu per satu. Dia hafal karena kerap disuruh mengulang penjelasan dan praktik—menembak dari atas pohon, lantai 20, semak-semak, motor yang melaju, helikopter.


Padahal, usianya baru lima tahun ketika pengetahuan dewasa itu dijejalkan ke otaknya untuk pertama kali. Damiyan menganggapnya sebagai permainan seru. Namun, karena keseringan menembak boneka manusia dari berbagai posisi, dia mencapai titik jenuh juga. Dia tidak mengerti untuk apa semua itu. Damiyan baru memahaminya ketika memasuki masa transisi kanak-kanak ke remaja.


__ADS_2