Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tangan Ajaib Sanubari


__ADS_3

Bunyi kerak telur dipukul dengan bilah pisau terdengar dua kali, disusul dengan bunyi berisik minyak. Sanubari tersenyum melihat dua telur ceplok yang terlihat seperti mata di atas permukaan hitam teflon. Pelan-pelan, ia membalik telur yang sudah ditaburi garam satu per satu dengan spatula.


"Makan enak nyam nyam nyam!"


Dulu, ia hanya bisa makan satu telur saja dalam satu hari. Itu pun belum tentu satu Minggu sekali. Kenangan bersama Sanum selama tinggal di rumah berdinding anyaman bambu berputar dalam angan Sanubari.


Kini, Sanubari bisa makan telur sebanyak yang ia mau dalam sekali makan meski harus menggorengnya sendiri. Akan tetapi, ia tidak bisa terus seperti ini. Sudah beberapa hari ini ia tidak bekerja. Uang di tangan pun semakin menipis.


"Aku harus mencari pekerjaan, tetapi kata kak Abri dan abi Jun orang-orang itu masih mengintai di sekitar sini. Argh!" Risau Sanubari menggaruk kepala yang tidak gatal.


Sebenarnya, Sanubari tidak perlu khawatir masalah makan. Abrizar dan Aljunaidi sering mentraktirnya. Namun, ia sungkan jika harus terus bergantung kepada mereka. Abrizar juga sudah memberikan tempat tinggal yang nyaman tanpa memungut biaya. Sedangkan Sanubari tidak mempunyai apa-apa untuk membalas kebaikan mereka.


Sembari menata sarapan ke meja makan, Sanubari terus memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan pekerjaan tanpa gangguan seperti sebelumnya. Ia memang selalu makan di rumah karena pergi ke kafe untuk makan terlalu berisiko. Jika tidak memanfaatkan jasa pesan antar, biasanya Sanubari gang akan memasak.


"Cappucino dan sandwich untuk kak Abri beres. Susu dan nasi pluz telur spesial untukku juga siap. Sabar ya, Telur Sayang! Sebentar lagi kau pasti akan jalan-jalan ke perutku."


Sanubari tertawa kecil, menatap makanannya sambil mengusap perut secara memutar lalu pergi. Ia mendatangi kamar Abrizar untuk mengajaknya makan.


"Kak Abri, sarapan yuk!"


Remaja itu menyelonong masuk ke kamar Abrizar yang tidak dikunci. Sanubari mengedarkan pandangan, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada bunyi berisik dari laptop yang menyala. Laptop tersebut terus berbunyi seperti membaca sesuatu. Sanubari yang tertarik pun duduk di depan layar.


"Aneh sekali selera kak Abri. Masak yang begini diputar?"


Sanubari mengangkat sebelah alis, mengira itu adalah audio dari daftar putar Abrizar. Menurut Sanubari, suara ini benar-benar tidak bisa dinikmati. Lagu bukan, ceramah bukan, drama audio juga bukan—hanya ucapan random yang sesekali diselipi bahasa Inggris. Dahinya semakin mengerut tatkala melihat jajaran karakter yang tidak bisa dibaca serta susunan kalimat aneh di layar.


"Apa ini?"


Sanubari sama sekali tidak paham dengan apa yang terpampang di sana. Semua terlihat rumit, seperti tulisan balita yang baru belajar menulis. Namun, Sanubari menyadari sesuatu pada detik berikutnya.


"Oh, aku tahu. Kak Abri 'kan buta. Pasti dia asal pencet tanpa tahu apa yang dipencet. Hm, apa kak Abri mau jadi penulis, ya? Hm ... baiklah, mari kubantu!"


Sanubari tersenyum penuh makna. Ia meletakkan dua jari telunjuknya ke papan ketik, mulai mengotak-atik aksara di hadapannya. Sanubari kesulitan karena belum terbiasa memakai laptop. Terkadang muncul pula jendela layar mengambang pemberitahuan eror atau peringatan ketika ia coba merubah rangkaian aksara, menambah atau menghapus sesuatu.


"Arg! Pop up menyebalkan!" gerutu Sanubari kesal.

__ADS_1


Jendela layar mengambang yang sesekali muncul sangat mengganggu. Namun, Sanubari tidak mau menyerah. Ia terus mengetik sesuka hati. Sampai akhirnya muncul jendela layar mengambang lagi.


[Warning! Kimbab is trying to enter the local host and steal some datas.]


(Peringatan! Kimbab memcoba memasuki local host dan mencuri beberapa data.)


"Aneh sekali pesan orang ini. Mau mencuri kok terang-terangan. Pakai kirim pesan pula. Coba kalau semua pencuri sesopan ini," pikir Sanubari memiringkan kepala.


Ia tertawa mengetikkan sesuatu di kolom yang dianggap sebagai tempat membalas pesan. Kemudian, ia kembali asal-asalan menekan papan ketik karena belum mengerti semua fungsinya. Tiba-tiba saja, semua tulisan di layar menghilang, layar sepenuhnya menjadi biru.


]Processing ....]


(Sedang diproses ....)


Hanya itu yang tertulis di lagar serta Anka yang menunjukkan presentase berjalannya proses. Suara yang sedari tadi terdengar pun menyuarakan apa yang tertera di monitor. Tak alang kepalang, Sanubari pun panik.


"Bagaimana ini? Apa yang terjadi?"


Sanubari memegangi kepala dengan kedua tangan. Kebingungan tergambar jelas di wajahnya. Jantungnya pun ikut panik.


Sanubari meremas rambutnya sendiri gelisah. Ia takut karena tanpa sengaja menghapus data Abrizar. Ditambah lagi, peringatan itu dibacakan lantang oleh laptop di hadapannya, membuat Sanubari semakin merasa bersalah saja.


"Sanu, kau di sini?" tanya Abrizar yang merasa mendengar suara Sanubari dari kamarnya.


Mendengar suara Abrizar, Sanubari langsung menoleh dan berlari. Ia berlutut di depan Abrizar sambil memeluk kaki lelaki itu.


"Kak Abri, maafkan aku! Aku tidak bermaksud menghilangkan cerita Kakak. Aku hanya ingin membantu Kakak menulis cerita yang lebih baik.," cerocos Sanubari dengan cepat.


"Hah, apa maksudmu?"


"Itu laptop Kakak jadi biru, tulisannya hilang."


"Apa?" sentak Abrizar panik.


Ia segera meminta Sanubari melepaskannya dan menghampiri laptop. Ia sedang melakukan proyek besar dari semalam. Bisa gawat jika proyeknya gagal gara-gara ulah Sanubari.

__ADS_1


Proses telah selesai sepenuhnya ketika duduk di depan laptopnya. Beberapa pemberitahuan pun masuk. Mulai dari sistem yang sempat diretas beberapa menit yang lalu.


"Aneh, seharusnya tidak ada yang bisa membobol sampai sedalam ini. Siapa sebenarnya hacker di balik SM ini?" gumam Abrizar sambil terus mendengarkan laptopnya, "Kimbab? Sama seperti lima tahun yang lalu ... menarik"


Abrizar tersenyum tertantang. Sistem lokalnya memang sempat terjajah. Namun, tidak perlu dikhawatirkan. Penjajah itu berhasil diblokir sebelum menjadi ancaman fatal. Berikutnya, Abrizar mendengar beberapa hal yang membuatnya mengernyit.


Skripnya banyak yang dirubah dengan kalimat indah. Anehnya, skrip tersebut bekerja layaknya zkrip pada umumnya dan lebih efektif. Berkat itu pula Abrizar mendapatkan banyak keuntungan.


Sementara itu, Sanubari masih duduk bersimpuh sambil terpekur menyesali perbuatannya. Ia tidak berani menatap Abrizar yang sedang mengotak-atik laptop. Bagaimanapun juga lelaki itu telah berbaik hati menampungnya, tetapi ia malah menimbulkan masalah baginya.


"Sanu."


Panggilan itu membuat Sanubari mengucapkan satu kata, "Iya?"


"Apa kau yang melakukan ini?"


"Maaf, aku tidak bermaksud melakukannya tetapi aku siap menerima hukuman dari Kakak. Aku tahu aku salah."


"Kenapa kau terdengar sedih seperti itu?" Abrizar tertawa, "untuk apa pula aku harus menghukummu? Justru seharusnya aku berterima kasih padamu."


"Eh?"


Sontak saja Sanubari mengangkat kepala. Ia tidak mengerti dengan tanggapan Abrizar.


"Kau bisa mendengar ini, bukan?" Abrizar memperlambat laju ucapan laptopnya.


Sanubari bisa mendengar sangat jelas. Itu adalah laporan uang masuk. Matanya membulat sempurna manakala mendengar deretan angka yang seolah tiada habisnya.


"Lima kuadriliun tiga triliun sembilan miliar um ...."


Sanubari tidak bisa mengingat semua. Ia tidak tahu seberapa banyak itu. Yang ia tahu pasti adalah uang sebanyak itu bisa digunakan untuk membeli kuburan. Mendadak ia teringat harga sewa kuburan di masa lalu yang sangat tinggi.


"Benar, kau telah mengosongkan kas perusahaan SM. Bagusnya lagi, kau memusnahkan data mereka tanpa jejak dengan virus yang baru saja kau buat. Tidak kusangka aku bertemu programmer hebat sepertimu, Sanu. Tahu begitu, sudah kuajak kau berkolaborasi sejak awal."


Abrizar tersenyum puas. Sekali lagi ia mendapatkan kemenangan telak melawan SM, meskipun ia kesulitan menghadapi Kimbab setiap kali peretas itu muncul. Dari enam kali pertarungan digitalnya dengan SM, hanya tiga kali dia pernah bertemu dengan Kimbab. Kali ini adalah kemenangan terbesarnya. Hari ini pula Abrizar tahu bahwa Kimbab lebih merepotkan daripada dugaannya.

__ADS_1


"Programmer itu apa?" tanya Sanubari dengan polosnya.


__ADS_2