
Tidak ada yang mengangkat tangan. Abrizar, Sai, Yato, Renji, Raiden, Mahiru, serta Anki tertegun melihat kedatangan para polisi. Aparatur-aparatur itu menghalangi pintu keluar.
Hanya Anki dan kawanannya yang masih berdiri di sana saat mereka tiba. Ditambah dengan Renji yang jelas-jelas membawa senjata, maka salah satu pemimpin pasukan itu langsung menganggap mereka sebagai tersangka. Sementara Yato telah membuang senjatanya setelah bahaya dirasa berlalu. Raiden pun tak lagi memegang senjata.
"Ringkus mereka!" perintah salah satu pemimpin polisi itu.
"Kami bukan penjahat." Yato angkat bicara, "Mereka yang ingin membunuh kami. Kenapa kami yang ditangkap?"
Penuduhan asal-asalan ini membuatnya kesal. Saat ini, Renji pun tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dia nekad mengangkat senjata, kemungkinan Anki akan dalam bahaya. Sebab, polisi-polisi di hadapannya Tidak akan segan menarik pelatuk.
"Sialan!" Renji hanya bisa mengumpat dalam hati. Andaikan dia hanya sendiri atau bersama Sai, pastilah pilihannya tidak sesulit ini. Renji mengeratkan genggamannya pada dua pelindung kepala yang dibawanya.
Renji tidak menyukai kondisi ini. Dia benci pergerakannya terbatas karena ada yang harus dipikirkan keselamatannya.
Beberapa polisi itu melompati mayat-mayat. Adapun yang tanpa sengaja menginjak gelimpangan raga tak bersukma itu. Hampir-hampir tiada permukaan kosong di sana. Mereka saja sebagian berdiri mengangkangi jenazah.
"Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!" Satu pemimpin itu tetap berpegang teguh pada asumsinya.
"Sebaiknya, kalian menurut tanpa perlawanan. Kalian akan dibebaskan bila terbukti tidak bersalah." Wakil pemimpin itu menimpali. Dia memandang iba pada Mahiru yang berdiri masih dengan pedang tertancap ke perut.
"Kau ini berbicara apa, Naito? Bagaimana mungkin kita bisa membebaskan mereka yang jelas-jelas melakukan pembantaian sesadis ini begitu saja?" Pemimpin itu menepuk bahu wakilnya.
Beberapa polisi dari pasukan khusus mengapit masing-masing dari mereka. Raiden tidak bisa membiarkan ini. Pikirannya menggerayang ke masa depan.
Dalam kepolisian, ada anggota Onyoudan yang berbaur menjadi satu. Meskipun bukan semua polisi bagian dari Onyoudan, tetapi pemerintah lebih pro pada Onyoudan. Bisa jadi, para polisi akan menutup telinga terhadap keterangan mereka, dan lebih memilih menetapkan mereka sebagai tersangka mutlak.
"Cepat jalan!" perintah polisi yang mengapitnya.
Namun, Raiden enggan bergerak. Raiden mengamati satu per satu wajah polisi di depannya. Sebagian memakai masker dan helm. Ada sekitar lima puluh lebih personil di sana.
Anki telah dipisahkan secara paksa darinya. Mahiru pun diambil alih pihak kepolisian. Lelaki tua itu menarik napas dalam-dalam.
Kemudian, dia berkata dengan lantang, "Waktunya bangkit!"
Sejujurnya, Raiden sedang bertaruh. Dia tidak bisa melihat wajah semua polisi. Dia tidak tahu berapa persen anggota Onyoudan yang tergabung dalam kepolisian.
Siapa sangka, perkataanya itu mendapat respons. Wakil pemimpin pasukan itu menatap padanya.
Sekali lagi, Raiden berteriak, "Tunjukkan diri kalian! Ini sudah waktunya."
__ADS_1
Raiden tidak berharap banyak. Hanya satu yang dia kenal di antara mereka.
Sebagian di antara polisi itu menahan tawa, menganggap pendeta tua itu telah kehilangan akalnya. Sementara sebagian lagi merasa diyakinkan.
"Maaf, Shiragami sama. Saya sempat berpura-pura sedikit kasar pada Anda." Tiba-tiba polisi di sebelahnya berbisik demikian.
"Hah, apa yang baru saja kau katakan?" tanya polisi di sisi lain Raiden.
Mendengar itu, polisi yang baru saja meminta minta maaf pun langsung menyerangnya. Dia membuatnya pingsan sebelum sempat membalas. Kejadian itu membuat sebagian pasukan polisi khusus terperanjat.
Chougan Naito meninggalkan sisi pemimpinnya. Dia melangkah penuh wibawa ke dekat rombongan Raiden.
Pemimpin polisi itu tampak kebingungan. Entah angin apa yang membuat arah haluan sebagian orang mendadak berubah.
Abrizar pun tidak mengerti apa yang dikatakan kakek Anki. Namun, dua polisi yang mendorongnya untuk bergerak maju mendadak menahan langkahnya setelah kalimat itu terucap. Dia bisa mendengar pergerakan.
Beberapa polisi berlari ke depan, memisahkan diri dari rekan sejawat lainnya. Mereka membentuk barikade di depan Raiden dan orang-orang di sisinya.
"Apa-apaan ini, Naito?" Seorang petinggi kepolisian terperangah dengan kejadian tidak terduga ini.
Dia tidak menyangka, kepolisian akan terbelah menjadi dua hanya kurang dari satu menit.
"Apa maksudmu? Kenapa berbicara tidak jelas seperti itu?" Pemimpin itu masih keheranan.
Abrizar tidak bisa meraba apa yang terjadi. Dia sama sekali tidak memiliki informasi tentang ini. Untungnya, mereka bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. Jadi, dia bisa memahami pembicaraan mereka untuk mengumpulkan informasi.
Satu hal yang membuat Abrizar cukup penasaran—polisi yang mendadak tampak sangat menghormati kakek Anki. Dia mendengar jelas ketika polisi itu meminta maaf.
"Anda sendiri adalah bagian Onyoudan. Saya rasa, Anda lebih paham apa yang saya ucapkan tanpa perlu dijelaskan," balas Naito.
"Onyoudan?" batin Abrizar terbeliak, "Jadi, orang-orang ini menentang Onyoudan? Sebenarnya, apa yang terjadi?"
"Kau sendiri tahu, bukan? Onyoudan berada di bawah naungan pemerintah. Kau bisa dianggap pengkhianat negara bila berani melawan kepolisian dan Onyoudan."
"Yang ada, pemerintahlah yang telah dimanipulasi oleh Onyoudan."
"Jangan berbicara sembarangan!" geram pemimpin polisi itu mendelik.
"Sebaiknya, kalian memberi jalan. Ada yang terluka di sini dan membutuhkan pertolongan segera," pungkas Naito.
__ADS_1
Raiden belum bisa merasa lega, tetapi dia bersyukur sekurangnya ada setengah dari mereka yang beralih memihaknya. Dia berharap ini akan cukup membantu untuk membebaskan diri.
Onyoudan memang telah tersebar ke mana-mana. Biro atas pemerintahan pun tidak terkecuali. Namun, tidak hanya Onyoudan saja yang menancapkan akarnya ke seluruh lapisan masyarakat.
Namun, ada kekuatan lain yang diam-diam berdampingan dengan Onyoudan. Mereka tidak pernah menunjukkan diri secara terang-terangan. Mereka berbaur sempurna dalam berbagai lapisan, seolah tidak pernah ada. Mereka adalah keluarga Shiragami.
"Kami tidak akan membiarkan mereka begitu saja. Waraskanlah pikiranmu, Naito! Akan kuanggap malam ini tidak pernah terjadi bila kau menyerahkan para pembantai itu." Atasan Naito itu berusaha membujuk.
Selama ini, dia menganggap Naito sebagai pegawai biasa. Dia belum menyadari bahwa Naito adalah bagian dari Shiragami sejak awal.
"Sebagian dari kalian, bawa Mahiru dan anak-anak ini pergi dari sini! Gunakan pintu belakang!" perintah Raiden.
Mahiru harus segera dibawa ke rumah sakit. Sementara pertikaian ini sepertinya masih jauh dari selesai.
"Empat orang saja. Sisanya tetap di sini!" Naito menambahkan supaya tidak terjadi kebingungan di antara mereka.
Mereka memutuskan tanpa banyak perdebatan. Renji, Sai, dan Anki mundur bersama Mahiru yang dipapah.
"Aku akan tetap di sini."
"Yato, kau ikut mereka! Fisikmu sudah luka parah," bentak Raiden.
Yato cemberut. Sebenarnya, dia ingin tetap di kuil untuk melindungi Raiden. Namun, ketika menoleh, yang didapatinya adalah sorot tak terbantahkan dari Raiden. Dengan sangat terpaksa, dia berbalik badan, berlari kecil menyusul Anki dan yang lain.
"Kejar mereka!" titah pemimpin polisi.
Bentrokan mulai terjadi. Anki bisa mendengar itu. Dia pun menoleh.
"Kakek!"
"Kakekmu akan baik-baik saja." Sai mencekal lengan Anki.
Sai tahu, mereka tidak bisa berada lebih lama di tempat ini. Entah seberapa besar kekacauan yang akan terjadi, Sai tidak bisa memperkirakannya.
"Sebaiknya Anda juga pergi, Kakek Raiden," ucap Naito.
"Aku akan tetap di sini bersama kalian."
Pertempuran intra polisi pun tak terelakkan. Mereka yang berpindah ke sisi Raiden tak keberatan jika harus kehilangan pekerjaan setelah insiden ini.
__ADS_1