
Tetes demi tetes darah membasahi tisu yang ditumpuk Fukai. Dokter itu menjauhkan pisau setelah mengiris lengan Sanubari cukup dalam.
"Perhatikan baik-baik!"
Fukai meletakkan pisau ke pangkuan. Dia mengambil beberapa lembar tisu bersih lagi.
Sanubari bisa merasakan bilah pisau sampai mengenai tulang. Namun, perih yang dirasa tidak lebih dari tiga puluh detik. Darah pun berhenti mengalir keluar kurang dari satu menit.
Begitu bekas darah yang tersisa diusap, lengan itu telah kembali normal. Fukai menekan-nekannya dengan jempol.
"Apa ini sakit?" tanyanya yang ditanggapi gelengan Sanubari.
/Petahana tidak percaya itu bisa terjadi. Dia melihat sendiri bahwa Fukai tidak hanya memberikan goresan ringan. Namun, luka itu benar-benar lenyap.
"Apa itu terjadi setelah saudariku menyuntikkan sesuatu pada Sanu? Maksudku, kelebihan kecepatan penyembuhan itu bukan bawaan lahir?" tanyanya memastikan.
"Bukan. Sebelum itu, banyak luka di tubu Sanu yang bahkan tidak kunjung menutup setelah sepekan lebih. Itu karena tubub Sanu sendiri baru terkena sesuatu yang bisa dibilang virus yang meningkatkan sensitivitas dan melemahkan saraf."
Fukai mengelap pisau dengan tisu. Dia juga meremas dan membuntal bekas darah Sanubari sampai noda merah tidak terlihat lagi, lalu meletakkan gumpalan putih dan pisau ke atas meja.
"Sampai saat ini pun sepertinya kulit Sanubari masih sangat sensitif. Selembar kertas saja bisa melukainya. Sampai kemarin di rumah sakit, Sanu mengalami pendarahan hebat gara-gara dokter sembarangan melepas plester yang kupasang, sedangkan aku kehilangan tasku yang berisi obat khusus Sanu. Tapi, tadi pagi semua luka Sanu lenyap.
"Tapi, kurasa, kondisi Sanu sekarang bisa dibilang lebih baik. Mungkin. Mungkin saja begitu. Meskipun tubuhnya mudah terluka, tetapi itu mudah sembuh juga. Akun tidak tahu apa itu ada kaitannya atau tidak dengan sesuatu yang disuntikkan saudaramu," jelas Fukai.
Sementara itu, Sanubari sibuk mengamati tangan sendiri. Dia sempat mengira tubuhnya kembali mati rasa. Akan tetapi, dugaan itu terbantahkan. Dia bisa merasakan sakit ketika mencubit sendiri lengannya.
"Besok kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit. Sekarang, istirahatlah!" ucap Petahana yang kemudian berpamitan.
Hari berikutnya, mereka pergi ke rumah sakit. Tidak ada yang aneh dengan tubuh Sanubari.
Fukai juga melaporkan hal tersebut kepada Canda dan para ilmuwan yang menangani Sanubari. Mereka tidak bisa melakukan pemeriksaan jika Sanubari tidak dibawa pulang.
Di pulau Mafia, Sai, Renji, dan Eiji benar-benar seperti berlibur. Tempat itu sungguh damai. Tidak ada kriminalitas sama sekali. Informasi pun tidak mereka peroleh. Sampai panggilan dari Fukai datang, ketiganya berkemas.
Petahana mengantar Sanubari, Abrizar, dan Fukai ke pelabuhan. Sembari menunggu jam layar, perempuan itu mengajak mereka memasuki sebuah restoran.
Dari salah satu meja, Fanon tersenyum melambaikan tangan. Rombongan itu pun menghampiri dan duduk bersamanya.
"Andai aku tahu peristiwa itu akan terjadi, mungkin sudah kusuruh Tendei mencari jalan lain atau tetap menemani kalian hari itu. Aku sungguh menyesal." Fanon memainkan sedotan.
__ADS_1
"Kok Paman Kora tahu? Dapat kabar dari Paman Fukai, ya?" tanya Sanubari.
"Aku tidak memberi tahu siapa pun."
"Sepertinya Hana belum bercerita pada kalian." Fanon tersenyum.
"Hana hanya muncul sesekali di hadapan kami. Setiap kali muncul, dia hanya menanyakan kabar Sanu, membicarakan hal umum, lalu pergi," ungkap Fukai.
Selama di rumah Petahana pun sama. Perempuan itu memang ramah, tetapi benar-benar mengobrol seperlunya saja. Jadi, belum banyak informasi yang mereka dapat.
"Aku hanya menjalankan amanah," kata Petahana.
"Jadi, Kak Hana ini kenal Paman Kora? Lalu, pria-pria yang menjemput kita memakai helikopter?" tanya Sanubari.
"Kami bekerja di tempat yang sama," jawab Fanon.
"Apa kalian semacam agen rahasia yang menangani penculikan?" selidik Fukai.
"Anggap saja seperti itu. Aku ke sini sebenarnya ingin memberikan oleh-oleh pengganti. Katanya, kiwano kalian hilang saat pencurian itu?"
"Benar. Untungnya, barang-barang lain bisa kembali," balas Fukai.
Fanon membuka menu. Sanubari memesan banyak daging tanpa sungkan. Abrizar menyerahkan pilihannya pada Sanubari. Dia sedang malas memilih makanan sendiri.
Sanubari mencoba memancing tentang pintu pada pohon raksasa dalam obrolan. Namun, Fanon selalu mengalihkan pembicaraan. Petahana pun tidak mengatakan apa-apa tentang pohon raksasa itu ketika ditanya.
Akhirnya, waktu berlalu begitu saja. Acara makan mereka selesai. Fanon mengambilkan tiga buah kiwano yang diikat dan tiga gelondongan kayu lagi.
"Sebenarnya, apa yang ada dalam kayu-kayu ini?" Sanubari sungguh penasaran.
"Buka saja setelah sampai tujuan!" Fanon menyerahkan kiwano dan batang itu pada Fukai.
"Paman Kora, ingat untuk segera menyusul kami! Jika tidak, maka kami yang akan ke mari lagi untuk menjemput Paman," cengir Sanubari.
"Tentu. Aku tidak akan ingkar janji. Sekarang, cepat naiklah! Kalian bisa ketinggalan kapal," ucap Fanon.
Petahana dan Fanon berdiri di dermaga. Mereka melihat kapal itu berlayar menjauh. Sanubari terus melambaikan tangan dari atas kapal.
Setibanya di pulau Mafia, mereka langsung menuju bandara. Pesawat mereka sudah siap tinggal landas. Sai membantu Fukai menyimpan barang-barang ke bagasi. Kemudian, mereka duduk saling berhadapan.
__ADS_1
"Kami memiliki dua kabar baik. Pertama, anggota baru berhasil direkrut meski baru setengah hati. Dia akan tetap bersama kita atau tidak itu tergantung Sanu nanti," kata Abrizar mengawali diskusi.
"Kalian hanya kembali bertiga." Eiji memperhatikan mereka.
"Dia memang tidak bersama kami sekarang, tdtapi akan segera berkumpul dengan kita dalam waktu dekat," jawab Abrizar mantap.
"Lalu, kabar kedua?" tanya Eiji.
"Sanu sudah sembuh. Operasi pembersihan pertama akan segera bisa dimulai." Abrizar tersenyum lebar.
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian membuat Sanu bekerja keras. Kondisi tubuh Sanu masih tanda tanya." Fukai menyilang kan tangan.
"Aku sudah sembuh. Paman lihat sendiri, kan?"
Sanubari menyingsingkan lengan kaos, memperlihatkan tangan yang sudah bersih dari luka. Lebam-lebam pun sudah menghilang dari sekujur tubuh. Dia juga mengangkat kaos tinggi-tinggi. Perut dan dadanya pun bersih.
"Tapi, kondisi tubuhmu itu abnormal. Manusia mana yang bisa menutup luka irisan dalam kurang dari satu menit?"
"Itu mungkin anugerah setelah semua penderitaanku selama ini." Sanubari malah tersenyum bangga. Dia senang tidak lagi kehilangan kekuatan mendadak setelah beraktivitas.
Dia sudah membuktikannya. Selama menunggu di rumah sakit, dia melakukan push up dan sit up ratusan kali. Dia juga berlari mengelilingi rumah Petahana tiga jam penuh. Tidak ada lagi drama pingsan maupun lumpuh dadakan setelah kelelahan.
"Kulitmu masih mudah tergores. Itu belum bisa disebut baik meskipun kau memiliki kecepatan pemulihan super," sanggah Fukai.
Perjalanan pulang waktu itu dipenuhi perdebatan antara Sanubari dan Fukai. Sanubari bersikukuh dan terus-terusan menentang Fukai yang menghalangi kehendaknya.
Mendarat di Verona, Reste, Bio dan beberapa pria langsung menyerbu Sanubari. Mereka mengawalnya sampai tidak bisa kabur.
"Lepas! Aku bisa jalan sendiri!" ronta Sanubari.
"Maaf, kami tidak bisa memberikan kesempatan untuk melarikan diri," kata Bio.
"Paman Fukai melaporkan kondisi Sanu pada Gafrillo?" tanya Abrizar yang berjalan di belakang mereka.
Sanubari telah digiring memasuki mobil, meninggalkan Mereka yang masih berjalan. Mobil lain yang lebih besar pun terparkir tidak jauh dari mobil yang baru saja pergi.
"Yeah, aku perlu berkonsultasi dengan Profesor Canda dan dokter lain perihal kesehatan Sanubari. Tidak kusangka sambutannya akan seperti itu."
Mereka menaiki mobil, di antar ke alamat masing-masing. Sementara Sanubari di bawa ke rumah sakit. Jajaran dokter yang dipimpin Canda berbaris menyongsong Sanubari.
__ADS_1