Santri Famiglia

Santri Famiglia
Sirip Hiu


__ADS_3

Di lantai tiga puluh sembilan Umeda Sky Building, dengan dengan pemandangan indah seratus enam puluh meter, dua pria duduk bersebelahan. Pria berjas hitam menyuruh mereka menunggu di tempat itu sebelum akhirnya pergi.


"Lapar," perut Sanubari keroncongan, "bisakah kita memesan makanan?"


Melihat gambar-gambar makanan di hadapannya membuat lambung Sanubari kian berisik. Semuanya tampak lezat dan menggiurkan. Ini memang sebuah restora. Namun, Sai ragu, bijakkah memesan makanan di saat seperti ini, sementara orang yang diajak janji t3mu saja belum hadir.


"Hey, hey, hey, Kak Sai! Kenapa hanya diam saja? Sampai kapan kita harus menunggu? Ini sudah sepuluh menit loh!" rengek Sanubari. Persis sekali dengan anak kecil yang meminta dibelikan mainan.


Sanubari tahu berapa lama waktu yang berlalu karena selain menampilkan aneka makanan, layar di hadapannya juga menampilkan jam digital. Perhatian Sanubari sedikit pun belum teralihkan dari monitor sebesar notepad tersebut sedari tadi.


Tidak ada jam pasti yang diinfokan Eiji padanya, sedangkan pria berjas hitam pemandu tadi hanya berkata bahwa dia akan mengabari tuan Yang tentan kedatangan keduanya. Sai tidak tahu sampai kapan mereka harus duduk bersantai tanpa melakukan apa pun seperti ini. Andaikan dia tahu waktu pertemuannya, mungkin akan lebih mudah untuk mengambil sikap.


"Kak Sai! Kakak tidak sedang melamun, kan? Ayo kita pergi sebentar dan cari makanan! Apa Kakak tidak lapar? Perutku sudah melilit nih!" Mulut Sanubari terus saja menyerocos.


Tempat bernuansa Cina ini memang elegan dan nyaman dijadikan tempat untuk menunggu. Bentang alam yang disuguhkan pun amat memukau. Namun, segala keindahan panorama tersebut tidak bisa mengenyangkan perut.


"Kurasa tidak bijak meninggalkan tempat ini sebelum tuan Yang datang. Bagaimana bila beliau kemari di saat kita tidak di tempat?"


"Kita bisa berpesan pada seseorang kalau kita hanya pergi sebentar," saran Sanubari asal.


Sai bergeming. Dia perlu mempertimbangkan segala konsekuensi bila menuruti Sanubari. Sebenarnya, bisa saja mereka memesan makanan dari Restoran Kantou ini. Akan tetapi, rasanya tidak etis bila mitra bisnis mereka tiba-tiba datang di saat keduanya sedang menikmati hidangan.


Pemikiran dan keinginan Sanubari disambut dengan aroma sedap yang kian dekat. Bukan hanya aromanya, barangnya pun secara nyata tersaji di hadapan mereka. Dua pramusaji baru saja meletakkannya.

__ADS_1


Sai dan Sanubari secara instan menoleh pada tiga orang yang baru datang. Dua orang memakai rompi hitam dengan kemeja putih dan celana hitam. Sementara satu pria lainnya berpakaian serba putih memakai celemek.


"Selamat pagi, Tuan-tuan! Saya Nicolas Tse, chef yang bertanggung jawab di sini. Semoga Tuan-tuan menyukai tumis sirip hiu dengan kepiting dari restoran kami. Pelayanan spesial untuk Tuan-tuan hari ini. Semuanya gratis. Selamat menikmati!"


Setelah mengatakan semua itu dengan senyuman yang bisa dibilang berlebihan, Chef Nicolas Tse beranjak, diikuti dua pramusaji yang sebelumnya membawakan wine dan tumis sirip hiu.


"Jadi, ini restoran?" Sanubari memandang tidak percaya pada hidangan di hadapannya. Sesuatu yang berbumbu di atas piring itu hiu. Tak pernah terpikirkan bahwa dirinya akan memakan seekor hiu. Ini sungguh ekstrim baginya.


"Um."


"Apakah kita baru saja mendapatkan jekpot karena menjadi pelanggan pertama hari ini?"


Tidak ada tanggapan dari Sai. Namun, Sai berpikir bisa jadi ini tanggapan dari tuan Yang.


"Ya," respons singkat Sai.


Sanubari membandingkan makanan dan gambar di hadapannya. "Kalau begitu, apa kita juga bisa mendapatkan ini?" Sanubari menunjuk layar di hadapannya, "aku ingin mencobanya."


Sai merasa seperti sedang menjadi pengasuh bayi besar. Dia tahu, Sanubari akan terus berisik bila tidak dituruti. Sebelum itu terjadi, Sai menggeser monitor ke arahnya.


"Kau ingin makan apa?"


"Apa pun asal bukan babi."

__ADS_1


"Sebagian besar mungkin mengandung babi, tapi bisa ditiadakan dengan menuliskan di kolom permintaan khusus," jelas Sai.


Kemudian, dia membuka laman menu. Sanubari terbeliak saat melihat daftar harga yang tertulis. Itu sangat mahal.


Sai menyebutkan satu demi satu makanan yang ada di daftar menu. Dia juga menjelaskan secara gamblang bahan-bahan yang digunakan.


"Steak daging sapi Jepang, daging sapi goreng dengan saus Exo tumis daging sapi dan sayuran heimao, sup sirip hiu dan kepiting, tahu pedas dengan daging giling, capjay, ayam goreng, pangsit kuah, ayam goreng, nasi goreng kepiting, lumpia, gyouza ...."


Sementara itu, pria berjas hitam yang memandu mereka menjauh dari tempat Sanubari dan Sai. Seperti yang dijanjikannya, dia menghubungi Tuan Yang.


"Perwakilan dari pusat sudah tiba, Tuan. Tetapi yang datang bukan Shiragami Eiji," katanya melalui sambungan telepon.


"Bukan Shiragami Eiji? Lalu, bagaimana kau bisa yakin itu Dafi pusat?" Tuan Yang di seberang mengerutkan dahi.


"Saya memeriksa kartu anggota salah satu dari mereka. Namanya Motohira Saiyuki, sedang yang satunya pemuda beriris mata hijau. Sepertinya anak baru."


"Hm," terdapat jeda cukup lama setelah gumaman tersebut.


Sang pria yang baru saja memandu Sai dan Sanubari dengan setia menunggu tanggapan berikutnya. Kesopanan adalah salah satu hal yang utama. Pelanggaran terhadap etiket bisa membuatnya terkena sanksi yang memberatkan. Khususnya bagi anggota lama.


Sepuluh detik, dua puluh detik, lorong telinganya masih menerima keheningan. Tidak ada suara manusia selirih apa pun, seakan panggilan sedang dibisukan. Awalnya, dia mengira panggilan telah terputus. Namun, status pada ponsel masih tersambung. Menit berikutnya, jawaban dari seberang kembali terdengar.


"Katakan pada mereka ...."

__ADS_1


__ADS_2