
Aeneas telah menemukan bidadarinya kembali. Baginya Sanum adalah wanita tercantik yang pernah ia temui. Wanita dua puluh sembilan tahun itu tetap terlihat menawan walau tanpa riasan. Aeneas menyukai kecantikan alami Sanum.
Dewi keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya. Kurang dari setengah tahun, anak buah yang ia tugaskan berhasil mengetahui kediaman baru Sanum. Bonus kejutan pun ia dapatkan tatkala misi terselesaikan. Bidadarinya itu memberinya malaikat kecil yang sempurna—anak laki-laki yang diinginkannya.
Tahun lalu, Aeneas ingin mengangkat seorang anak laki-laki. Ia mendatangi beberapa panti asuhan. Ia berharap bisa mendapatkan anak tanpa menikah. Namun, tidak satu pun anak yang cocok dengan keinginannya.
Aeneas nyaris berakhir dalam perjodohan dengan hati hampa. Tidak ada satu pun wanita yang menarik perhatiannya. Hari-hari dihabiskannya untuk mengurus bisnis dan memperluas kekuasaan. Setiap wanita yang mendekatinya ia perlakukan bagaikan nyamuk. Ia tidak segan untuk menyingkirkan mereka bila memberikan gangguan berlebih.
Kemudian, ia teringat dengan Sanum. Aeneas tidak pernah berkomunikasi dengan bahasa saat bersama Sanum. Lebih tepatnya Aeneas banyak berdiam diri karena tidak mengerti bahasa orang-orang di sekitarnya.
Tiga bulan lamanya mereka berinteraksi secara fisik tanpa bisa memahami verbal satu sama lain sedikit pun. Sebelas tahun berlalu, namun memori singkat kebersamaannya dengan Sanum masih membekas jelas di ingatannya. Sanum selalu tersenyum padanya. Setiap hari wanita itu mengatakan kalimat yang sama. Karena terus diperdengarkan secara berulang, Aeneas pun secara alami mengingat kalimat tersebut. Walaupun ia sama sekali tidak mengerti maknanya.
Aeneas menanyakan kalimat tersebut kepada Kelana. Ia langsung terbang ke Indonesia begitu mengerti arti dari perkataan Sanum. Sayang, Sanum tidak lagi tinggal di rumah pinggir pantai yang dulu pernah ia tempati. Beberapa detektif ia pekerjakan untuk menemukan keberadaan Sanum.
Fakta-fakta unik tidak terduga terkuak di tengah-tengah penyelidikan. Sanum hamil dan dirinya secara resmi telah menikah dengan Sanum. Aeneas mengerutkan kening ketika membaca informasi tersebut. Bagian penyebab kehamilan Sanum, Aeneas masih bisa mengingatnya.
Akan tetapi, bagian pernikahan menjadi tanda tanya besar di kepala Aeneas. Bagaimana, kapan, dimana, mengapa dia bisa berstatus suami Sanum, Aeneas sungguh tidak bisa melacak kejadian itu dalam ingatannya. Ia merasa tidak pernah melakukan proses menikah. Rasanya aneh bila statusnya mendadak berubah.
Aeneas tidak amnesia. Hanya saja, keterbatasan bahasa membuatnya tidak bisa memahami keseluruhan kejadian secara sempurna. Berita tersebut memberikan kejutan luar biasa dalam kehidupannya.
__ADS_1
Mungkin baru kali ini ada orang waras sudah menikah tetapi tidak sadar bahwa dirinya telah menikah. Selama sebelas tahun setelah menikah pun Aeneas masih menganggap dirinya sendiri lajang. Untuk pertama kali seumur hidup, Aeneas merasa menjadi manusia terbodoh sedunia.
Mengenai kehamilan Sanum, sejujurnya ada setitik keraguan dalam hati Aeneas. Bisa saja Sanum hamil dengan orang lain setelah kepergiannya. Di kemudian hari, Aeneas menerima foto seorang bocah laki-laki yang sangat mirip dengannya. Dari wajah, kulit dan mata saja dapat dipastikan bahwa gennya menurun pada anak itu. Namun, ia tetap menyuruh orang-orangnya untuk melakukan tes DNA secara diam-diam.
Segera setelah mendapatkan hasil serta alamat, Aeneas menyuruh sekretarisnya untuk menjadwalkan ulang agendanya. Beruntung Kelana tidak bekerja sendirian sehingga dia hanya cukup mengatur keberangkatan ke Indonesia di tengah kesibukan mereka.
Di sinilah Aeneas pada akhirnya. Duduk berhadapan dengan Sanum dalam rumah anyaman bambu, tersenyum senatural mungkin demi memberikan kesan baik kepada wanitanya serta sang Buah Hati.
Berbeda dengan Aeneas, Sanum merasa canggung dengan pertemuan dadakan ini. Ia menunduk tanpa berani memandang pria itu—pria yang ia beri nama Bari. Sanum menemukan Aeneas terdampar di pantai. Pria rupawan itu membisu dan meracau tidak jelas. Dia seperti putra duyung dalam dongeng yang mengorbankan suaranya untuk mendapatkan kaki. Oleh sebab itu, Sanum menamainya Bari.
Hari ini Sanum baru mengetahui bahwa nama asli pria yang selalu dipanggilnya Bari itu ternyata adalah Aeneas. Sanum mendengarkan dengan seksama penjelasan tentang identitas Aeneas sesungguhnya dari Kelana.
Aeneas adalah pemilik perusahaan besar Baldofrillo. Sebuah perusahaan raksasa yang menguasai hampir semua bidang ekonomi. Sebagian besar perusahaan otomotif Italia yang mendunia seperti Ramvorkini, Pelari dan Venona secara resmi berada di bawah naungannya. Baldofrillo juga memperluas tancapan cakarnya ke seluruh wilayah Eropa.
"Jadi, Papa ganteng ini adalah papaku?" Sanubari memandang Aeneas dengan mata berbinar.
"Iya, tuan Aeneas adalah papa kandung Anda. Mohon maaf atas ketidak sopanan saya tadi, Tuan Muda Sanubari!" jawab Kelana.
"Paman lebih tua dariku. Jadi, Paman tidak perlu terlalu sopan denganku."
__ADS_1
"Mungkin di lain kesempatan kita bisa mengobrol lebih santai. Untuk saat ini saya hanya ingin menghormati Anda sebagai putra tuan Aeneas."
Sanubari menoleh pada Sanum lalu bertanya, "Mamak-mamak, apa benar kata paman Kelana? Papa Aeneas adalah papa kandungku? Aku punya papa manusia?"
Sanubari sulit mempercayai kenyataan ini. Selama ini dia selalu diejek sebagai anak setan karena matanya. Sekarang malah hadir seseorang beriris mata sama dengannya. Secara naluriah, Sanubari meragukan identitas Aeneas. Terlalu banyak informasi tidak benar tersumpal di otaknya. Sedangkan dia belum memiliki sistem penyaringan yang cukup baik.
"Iya, Sayang. Mas Bari—ah, maksudku Aeneas adalah ayahmu. Aku masih ingat wajahnya. Tapi aku juga tidak tahu dia ini manusia atau bukan."
"Saya bisa menjaminnya. Tuan Aeneas ini adalah manusia tulen. Dia tidak bisa berubah wujud, tidak bisa menembus benda padat, tidak pula bisa terbang tanpa bantuan alat," sahut Kelana.
"Aku punya papa! Aku punya papa!" sorak riang Sanubari.
Ia bangkit dari duduknya, mengangkat-angkat tangannya kegirangan. Kemudian, bocah itu berlari dan memeluk Aeneas sambil memanggilnya papa. Aeneas membalas pelukan itu dalam diam.
"Maksud kedatangan kami hari ini sebenarnya adalah untuk menjemput Sanubari," ucap Kelana.
Mendengar itu, Sanum langsung mengangkat kepala. Ia menatap Aeneas dan putranya. Ia mulai bertanya-tanya apakah ini alasannya mendadak muncul kembali—dia hanya ingin mengambil Sanubari darinya. Sanum tidak ingin prasangkanya itu menjadi nyata. Ia tidak ingin dipisahkan dari putranya. Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain putranya.
Namun, Sanum juga tidak bisa memaksa Sanubari untuk tetap bersamanya. Ia tidak boleh menjadi ibu yang egois. Sejak lahir, Sanubari tidak mengenal sosok ayah. Sudah jelas bocah itu haus akan kasih sayang seorang ayah. Kali ini bocah itu bisa bertemu ayahnya. Sanum tidak akan melarang Sanubari bila dia ingin pergi bersama ayahnya.
__ADS_1
Akan tetapi, Sanum akan merasa kesepian bila itu benar terjadi. Jauh di lubuk hati kecilnya, Sanum merasa kecewa dengan pertemuan ini.
"Anda mau 'kan ikut dengan kami ke Italia, Tuan Muda Sanubari?" tanya Kelana.