Santri Famiglia

Santri Famiglia
Menuju Pelabuhan


__ADS_3

"Mustahil!"


Batinnya tidak henti mengatakan itu. Visual Sanubari dengan sepasang mata lengkap terus membayanginya. Itu merupakan fakta yang sulit diterima akal.


Belum 24 jam Sanubari kehilangan mata, tetapi organ penglihatan itu entah bagaimana telah terpasang kembali, seolah tidak pernah meninggalkan tempatnya. Lance melangkah tergesa menuju kamar. Dia ingin segera membuktikan bahwa kejadian hari sebelumnya bukanlah mimpi belaka.


Dia pun berlari kecil. Begitu sampai kamar, Lance langsung membuka laci.


"Ada."


Mata itu tergeletak di sudut laci. Diambilnya bola mata itu.


"Tidak mungkin! Tidak mungkin ada manusia seperti itu!" sangkal Lance.


Namun, Sanubari fakta yang tidak bisa diabaikan. Memikirkan hal itu, Lance merasa terbelakang. Dia tak ubahnya manusia yang hidup di zaman primitif. Pengetahuan sudah berkembang begitu pesat hingga muncullah manusia yang mampu menumbuhkan anggota tubuh sendiri.


Akan tetapi, Lance tidak tahu itu sampai melihat Sanubari dengan mata kepala sendiri. Diremasnya bola mata di tangan.


"Apa yang kupelajari selama ini?"


Lance membuang napas kasar. Dia menyugar rambut, merutuki kerendahan pengetahuannya. Pendidikan tinggi nyatanya tidak membuatnya tahu segalanya.


"Jadi kau mengajakku hanya untuk memperlihatkan kehebatanmu menjahit mata?"


Saat Lance berbalik badan, Mikki sudah berdiri bersandar pada gawang pintu. Dia bersedekap, sementara Lance menggeleng.


"Aku tidak menjahit matanya," Lance menunjukkan bola mata yang dipegangnya, "mata anak itu tumbuh dengan sendirinya."


Lance sungguh ingin meneliti sel-sel tubuh Sanubari. Namun, tidak ada peralatan yang memadai di kapal.


Seminggu pun berlalu sejak hari itu. Kapal tiba di sekitar perairan Los Angeles-. Liuna memperbesar lensa teropong. Hiruk pikuk pelabuhan tampak jelas.


"Kita hampir sampai!" seru Liuna melompat dari atap anjungan. Gadis itu hampir setiap waktu selalu berada di sana. Duduk di atap anjungan seolah telah menjadi hobinya.

__ADS_1


"Oh, benarkah?" tanya nahkoda. Dia mengurangi kecepatan laju kapal.


"Um, kita sudah dekat." Liuna mengangguk.


"Kalau begitu, beri tahu Mikki!"


Tanpa menjawab, gadis itu berlari menuruni anak tangga, menuju tempat Mikki berlatih. Sejak mata Sanubari sembuh, Mikki selalu mengajak Sanubari latih tanding di kabin khusus.


Di luar, dua orang berjaga, masing-masing membawa bius semprot—botol bius dadakan yang dibuat dari bekas parfum milik awak kapal. Mereka memang membawa cukup banyak bius cair sebagai amunisi senjata. Isi terpaksa dipindahkan untuk mengantisipasi pergerakan Sanubari.


Sementara di dalam, Mikki juga ditemani dua orang lain. Mereka juga membawa bius. Hal ini karena Mikki pernah hampir kalah akibat nyaris kehabisan tenaga, sedangkan Sanubari masih bugar. Sanubari memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.


Jarum sama sekali tidak bisa menembus kulit Sanubari. Pemuda itu baru bisa di backup setelah empat orang membuatnya jatuh, menindih tubuhnya, lalu membekapnya dengan bius. Semenjak hari itu, Mikki selalu mengajak orang yang membawa bius untuk menemaninya.


Anggota Mikki sudah memperingatkan agar menghentikan pertarungan. Namun, Mikki menolak. Memiliki lawan sebanding lebih menarik perhatian Mikki dibandingkan hanya berdiam diri.


Secara teknis, Sanubari kalah jauh dari Mikki. Akan tetapi, secara kekuatan dan stamina, Sanubari yang lebih unggul. Mikki kewalahan karena itu. Semakin hari, kemampuan bertarung Sanubari kian meningkat berkat Mikki. Mikki hanya ingin bersenang-senang. Meski tanpa niat mengajari sedikit pun, Sanubari memperoleh banyak pelajaran dari Mikki selama pelayaran sepekan ini.


"Mikki di dalam, kan?" Liuna berhenti di depan dua orang penjaga pintu.


"Bukakan pintunya!"


"Tunggu sampai dia selesai kalau mau menemuinya!"


"Tidak bisa!" tolak Liuna.


"Mikki akan marah bila diganggu. Di dalam bahaya!"


Kedua penjaga itu tetap tidak mau memenuhi permintaan Liuna. Mereka sudah diwanti-wanti supaya tidak membuka pintu sembarangan sebelum Mikki sendiri yang melakukannya dari dalam.


"Tapi ini lebih penting. Kita akan segera sampai ke pelabuhan. Mikki akan lebih marah bila tidak segera diberi tahu," desak Liuna.


Dengan sangat terpaksa, mereka membuka pintu. Mikki masih bertarung dengan Sanubari. Entah bagaimana awalnya, Sanubari telah mencekal kedua kaki Mikki, lalu melemparnya. Mikki menimpa dua penjaga pintu dan Liuna.

__ADS_1


Kedua rekan Mikki yang ada dalam ruangan langsung memegangi Sanubari. Miki berusaha bangkit. Dia memarahi mereka.


"Sudah kubilang jangan sembarangan membuka pintu, kan?"


"Tapi anak ini bilang kita akan segera sampai," kata penjaga pintu.


Mikki mengalihkan pandangan pada gadis cilik yang masih duduk. Wajahnya tertutup topeng, tetapi Mikki bisa melihat cairan merah menetes dari ujung dagu.


"Aku mengerti. Dan kau Liuna, pergi ke tempat Lance untuk mengobati lukamu itu!" setelah itu, Mikki mengalihkan pandangan pada penjaga pintu, "lalu kalian, bawa ABK pada Nenek Lava!"


Kedua penjaga dan Liuna berlari ke tujuan masing-masing, sedangkan Mikki berbalik badan. Dia mengeluarkan botol kecil dari saku, berjalan ke arah Sanubari, menciumkan benda itu ke hidung Sanubari. Ketika mengetahui Sanubari masih membuka mata setelah beberapa saat, Mikki menyeringai.


"Sampai kapan kau akan terus menahan napas seperti itu?"


Mikki mengoleskan benda itu ke bawah hidung Sanubari. Dia juga mengoleskan ke pipi sekitar hidung.


"Sial!" batin Sanubari kesal. Dia tahu aroma wangi itu akan membuatnya pingsan. Beberapa hari ini, Miki melakukan hal yang sama. Maka dari itu, Sanubari tidak mau menghirup aromanya.


Pelatihan renang Sanubari memang membuatnya kuat menahan napas dalam waktu lama. Akan tetapi, dia tidak bisa melakukan selamanya. Pada akhirnya, paru-paru Sanubari butuh pasokan oksigen jua.


Sanubari membuka mulut untuk bernapas. Dia tidak mau bernapas dengan hidung sebelum aromanya memudar. Tangan Sanubari telah diikat ke belakang. Mikki masiu menungguinya pingsan.


"Banyak akal juga kau," ucap Mikki. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Mikki menggulung kaos Sanubari ke atas, lalu menyumpalkan ke mulut Sanubari.


Mau tak mau, Sanubari bernapas juga dengan hidung. Wewangian itu mulai bereaksi. Kesadaran Sanubari setengah melayang sebelum akhirnya kehilangan kendali untuk mempertahankan kelopak mata tetap terbuka.


Setelah itu, Mikki pergi mencari Lavatera. Di tempat wanita itu, sudah ada sepuluh anak buah kapal yang pingsan, sebuah meja penuh peralatan rias, lalu seorang anggota sendiri yang duduk berhadapan dengan Lavatera. Dari cermin, wanita itu tahu Mikki telah tiba bersama Lance dan Liuna.


"Baguslah kalian datang! Akan kutunjukkan kekuatan seni sesungguhnya pada kalian! Kau masih meragukan kemampuanku, kan, Mikki?" kata Lavatera sambil menyapukan kuas pada pria di hadapan. Dia sedang melukis wajah salah satu awak kapal yang pingsan.


Lavatera memang berprofesi sebagai penata rias artis. Puluhan film fantasi berkualitas tinggi pernah dia tangani dan hasilnya sangat memuaskan. Film-film tersebut juga selalu memperoleh penghargaan. Termasuk Lavatera sendiri.


"Kemampuanmu masih sama saja Nenek Lava. Tetap tidak bisa menipu sistem keamanan Eiji, kan?" ejek Mikki.

__ADS_1


"Itu hanya kebetulan saja kecerdasan buatannya bekerja dengan baik. Lagipula, itu sudah lama berlalu. Kenapa dibahas lagi? Kemampuanku tentu sudah meningkat drastis sejak hari itu," kilah Lavatera.


__ADS_2