Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pedang Beranak


__ADS_3

"Kenapa tidak berhenti? Keretanya mendekat!" sentak Kelana menoleh pada Jin.


"Astaga! Apa yang terjadi?" Sanum berseru panik ketika mendengar benturan keras.


Jantung semua orang berdesir hebat. Malaikat maut mereka berada tepat di depan mata. Kereta berkecepatan tinggi bergerak dari timur ke barat. Sementara mobil mereka bergerak dari selatan ke Utara semakin mendekati rel kereta api.


Jin sama sekali tidak menanggapi keributan penumpangnya. Fokus penuh hanya dia tujukan pada jalanan dan mobil. Dia tidak boleh ikut panik dalam kondisi darurat ini.


"Sial! tidak mungkin memaksakan diri tancap gas maksimal. Kalaupun kulakukan, mesin mobil pasti akan mati begitu melintasi rel dan kereta akan menabrak mobil ini. Tidak melakukan apa-apa pun hasilnya akan tetap sama. Nyawa kami akan berakhir." Hati Jin menimbang-nimbang segala konsekuensi yang ada. Otaknya dituntut berpikir dengan sangat cepat


Kelana merasa sia-sia mengajak Jin berbicara. Dalam hitungan detik mobil yang mereka tumpangi akan mencapai rel. Kelana pun mengambil inisiasi. "Sebaiknya kita melompat keluar dari mobil ini!"


Namun, Jin tidak membukakan kunci pintu. Pemuda itu dengan nada datar berkata, "Jangan! Kita pergi bersama. Mati pun harus bersama. Bila satu terluka maka yang lain juga harus terluka. Kita hadapi semuanya bersama-sama!"


"Apa kau sudah gila?" maki Kelana di tengah celotehan Jin.


Emosi Kelana memuncak karena Jin terlihat seperti tidak peduli dengan nyawa mereka. Akan tetapi, Kelana dikejutkan dengan tindakan Jin berikutnya. Dengan lincah, tangan kiri Jin memainkan tuas perseneling. Selanjutnya Jin menginjak pedal gas.


Kereta api melintas dengan suara memekakkan telinga. Sanum dan Sanubari berpelukan sambil memejamkan mata. Kereta panjang itu nyaris saja menyambar mobil mereka. Bumper depan mobil hanya berjarak kurang dari satu centimeter dengan badan kereta yang sedang melaju. Terlambat sedikit saja mungkin mobil akan benar-benar tersambar.


Kini mobil melaju mundur. Setelah berhasil menjauhi kereta di depan mereka, Jin mematikan mesin. Tidak lama, mobil pun berhenti.


"Selamat pun harus bersama-sama. Mundur adalah jalan terbaik jika maju tidak memungkinkan atau beresiko besar." Jin tersenyum.


"Akhirnya selamat juga." Kelana menghela napas lega. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi, merilekskan tubuh yang semula tegang.


Kelana tidak tahu apa jadinya bila yang menyetir saat ini adalah dirinya. Ia melihat sendiri bahwa Jin menarik tuas rem tangan dan tidak terjadi apa-apa. Itu artinya kedua rem pada mobil tersebut sama-sama bermasalah.


Sepertinya Kelana masih kalah dari segi psikologis dengan Jin yang jauh lebih muda darinya. Beruntung tadi kemudi ia serahkan pada pemuda itu. Dalam kondisi panik seperti itu, tidak sedikit pun terpikirkan cara seperti yang dilakukan Jin. Dia mengakui kehebatan Jin. Tidak heran bila pemuda seperti dia ditunjuk seorang diri sebagai pengawal orang besar.

__ADS_1


"Kau ini sepertinya multitalenta ya, Jin? Tidak hanya bisa memecahkan kasus yang tidak bisa ditangani polisi tapi kau juga memiliki kemampuan menyetir luar biasa," puji Kelana.


"Kak Penculik Baik Hati memang hebat! Selalu penuh kejutan. Dua jempol untuk Kakak." Sanubari mengacungkan dua jempol tangannya, "ah, tunggu sebentar! Kutambah jadi enam jempol."


Sanubari menurunkan jempolnya sendiri. Dia memegang tangan ayahnya lalu membuatnya mengacungkan jempol. "Pinjam jempolnya ya, Papa!"


Aeneas tidak melawan. Dia membiarkan Sanubari memainkan tangannya. Usai membentuk tangan ayahnya seperti emotikon suka, Sanubari beralih memegang tangan ibunya.


"Pinjam jempolnya ya, Mamak!" kata Sanubari lalu kembali mengacungkan kedua jempolnya sendiri, "enam jempol dariku buat Kak Penculik Baik Hati."


"Kalian terlalu memujiku." Jin tertawa.


"Kau memang hebat. Kau bahkan tahu banyak tentang Aifka. Bagaimana kau bisa tahu sedetail itu?"


"Karena aku suka pedang dan kerabatnya. Apa pun itu bila berkaitan dengan pedang maka akan kupelajari," jawab Jin.


"Uuuuuu, jadi pisau itu saudaranya pedang?" sahut Sanubari yang baru pertama kali mendengar istilah itu, "jadi pedang pun bisa menikah terus memiliki anak sama seperti mamak yang nikah dengan papa terus punya aku?"


Kelana melemparkan wadah tisu pada Jin. "Jangan bicara sembarangan!"


"Aw, Paman. Apa yang kau lakukan pada penyelamatmu ini?" keluh Jin.


Obrolan mereka mencairkan suasana. Aeneas mengamati kinerja Jin dari awal bertemu hingga detik ini. Aeneas memang tidak mengerti pembicaraan mereka. Akan tetapi, dia tahu bahwa Jin sepertinya banyak melakukan kebaikan untuk keluarganya.


Aeneas tersenyum tipis. Banyak orang di dunia ini yang tidak bisa dipercaya. Namun, pria itu memberikan anak buah dengan kualitas cukup bagus seperti Jin, Aeneas terkesan. Mungkin menjadikan pria itu sebagai sekutu memanglah pilihan yang tepat.


Akan tetapi, Aeneas belum bisa sepenuhnya memberikan kepercayaan pada pria itu. Tentunya dia tidak ingin pengkhianatan terjadi untuk ke dua kalinya. Ia masih harus lebih berhati-hati dalam menilai seseorang jika tidak ingin ia dan keluarganya celaka.


"Sepertinya Paman harus komplain pada pihak rental! Masak mobil tidak bermutu begini disewakan? Kita nyaris saja setor nyawa gara-gara mobil ini," gerutu Jin sambil mengeluarkan ponsel.

__ADS_1


"Ini aneh. Aku sudah membawanya dari Surabaya sampai ke sini. Selama itu tidak ada masalah sama sekali. Kenapa baru sekarang remnya tidak berfungsi?" adu Kelana.


"Maksud Paman ada yang menyabotase mobil ini waktu parkir di mal tadi?"


"Aku tidak tahu pasti. Bisa jadi begitu."


"Hm ... aku malas tiduran di bawah mobil malam-malam untuk mengecek dan memperbaiki kerusakan. Sebentar akan kuteleponkan seseorang. Biar dia yang mengurus semua ini!"


Jin menghubungi Bas—anak buahnya yang siap sedia dua puluh empat jam. Dua puluh menit kemudian, dua mobil datang. Satu mobil derek dan satu mobil keluarga. Jin, Sanubari, Sanum, Aeneas dan Kelana pindah ke mobil keluarga itu.


Mobil sewaan yang rusak Jin serahkan pada anak buahnya. Sementara dia dan keluarga Sanubari melanjutkan perjalanan. Mereka mampir membeli makanan sebelum akhirnya pulang ke rumah Jin. Itu adalah tempat dimana Sanubari disekap sebelumnya.


Atas permintaan Sanubari, Aeneas tidur sekamar dengannya. Sanubari tidur di tengah ayah dan ibunya. Mereka semua terlelap sampai siang karena kelelahan.


Namun, mereka sama sekali tidak membuang-buang waktu. Kelana dan Aeneas datang ke Indonesia bukan untuk berlibur. Mereka harus menggunakan waktu yang mereka miliki seefektif mungkin.


Siang itu juga mereka pergi ke kantor imigrasi setempat untuk membuat paspor Sanum dan Sanubari. Prosesnya pun lumayan cepat. Hari itu juga langsung jadi.


Sore harinya, mereka langsung ke stasiun kota Blitar. Mereka berlima menaiki kereta Gajayana kelas luxury menuju Jakarta. Kereta berangkat pukul tiga lebih empat belas menit sore.


Fasilitas pada kereta tersebut sangat mewah. Hanya ada dua puluh enam kursi dengan susunan dua dan satu. Masing-masing tempat duduk dipasangi tirai penyekat yang bisa dibuka/tutup sehingga bisa memberi ruang privasi tersendiri bagi setiap penumpang. Kelana duduk sendirian di kursi tunggal. Aeneas duduk di sebelah Sanum di kursi yang berdekatan.


Sementara Jin duduk bersama Sanubari. Jin menyuruh Sanubari duduk di dekat jendela supaya lebih aman. Kursi mereka depan belakang dengan kursi Aeneas dan Sanum.


Sanubari terkagum-kagum dengan fasilitas kereta yang ia naiki. Kereta ini bahkan lebih mewah dari rumahnya. Di depan kursinya ada televisi. Di sekitar kursinya juga ada tombol-tombol yang tidak ia mengerti fungsinya. Jin harus bisa meladeni bocah gagap teknologi itu supaya tidak melakukan hal memalukan atau tanpa sengaja merusakkan properti.


Sesaat setelah kereta berangkat, pramugari membagikan makanan ringan dan jus buah. Malam harinya pramugari juga membagikan makan malam berupa nasi dengan lauk ayam bakar, tempe goreng, tahu goreng dan sambal. Puding, kerupuk, jus buah dan air putih turut menjadi pelengkap.


Dalam perjalanan, Sanubari lebih sering menghabiskan waktunya bercanda dengan Jin. Dia tidak terlalu berminat menonton televisi di hadapannya. Memasuki tengah malam, sudah banyak penumpang yang menutup tirainya. Sanubari pun mulai mengantuk. Jin membantu Sanubari membaringkan sandaran kursi dan menaikkan sandaran kaki supaya Sanubari bisa tidur dengan nyaman. Kemudian ia menyelimuti bocah itu.

__ADS_1


Masih butuh sekitar empat jam lagi untuk sampai Jakarta. Ada sedikit urusan bisnis yang harus Aeneas dan Kelana lakukan di kota metropolitan itu. Kelana juga sudah mengajukan aplikasi pembuatan visa ke Kedubes Italia. Rencananya mereka akan melakukan semuanya sekali jalan sehingga mereka bisa segera kembali ke Italia.


__ADS_2