
Sebagian area kapal menjadi panggung pertarungan. Mereka saling baku hantam. Selama beberapa saat, kedua kubu tampak berimbang.
Seorang gadis 13 tahun mengamati jalannya perkelahian. Dia duduk di atas atap anjungan, memegangi topi koboi di kepala supaya tidak diterbangkan angin. Payung hitam merekah, melindunginya dari sengat terik matahari. Gagangnya berdiri, menempel pada atap sehingga tidak perlu dipegangi.
Gadis itu tersenyum, merasa memiliki bahan latihan. Lantas, dirabanya sesuatu di paha kanan. Dia mengeluarkan benda itu dari sarungnya.
Satu kali tembakan melesat, Sai berjengit. Dia berkelindan sambil meraba tengkuk. Sai merasa seperti baru saja disengat lebah. Tangannya menemukan sesuatu. Dilihatnya sekilas benda itu—sebuah jarum seperti isi pensil.
Saraf-saraf Sai perlahan melemah. Refleksnya menurun drastis. Tak ayal, sebogem tinju mengenai pipinya. Dia tersungkur seketika, kehilangan kesadaran.
Dua kali tembakan melesat, rekan dadakan Sanubari dan Sai tumbang satu per satu. Mereka pingsan. Hingga akhirnya, tinggal Sanubari seorang yang masih berdiri, berhadapan dengan Mikki.
"Senjata yang praktis!" Gadis itu menyeringai melihat senjata di tangan.
__ADS_1
Itu merupakan pistol bius. Sebagaimana namanya, benda itu berbentuk sama persis dengan pistol. Dia mengelus larasnya penuh kasih sayang. Itu merupakan hadiah dari Mikki di ulang tahunnya tahun ini.
Gadis itu menjadikannya sebagai barang berharga yang harus dirawat dengan baik. Dia sangat senang mendapatkannya. Terlebih lagi, Mikki memperbolehkannya ikut serta di ekspedisi kali ini. Maka, dia juga harus menunjukkan kebergunaannya supaya lain waktu tidak ditinggalkan lagi karena hanya dipandang sebagai anak kecil.
"Akan kubuktikan bahwa aku adalah penembak terbaik," batinnya.
Ketika Mikki tidak sibuk, gadis itu hanya diajak berburu setiap malam. Mereka terkadang berburu kelelawar, burung, atau binatang lain. Mikki mengutamakan binatang bergerak.
Jadi, ketika mereka memasuki sarang kelelawar, maka Mikki akan membuat mereka berhamburan, lalu gadis itu yang ditugaskan untuk menembaki mereka dengan jarum bius. Mikki melatihnya memakai berbakai jenis senjata lontar seperti ketapel, sumpit, dan panah.
Dia sangat yakin tidak akan membuat amunisi tersia-siakan dengan keakurasiannya yang terlatih. Terlebih lagi, dia memegang senjata paling efektif dari yang pernah digunakannya.
"Gadis itu mengalihkan bidikan pada Sanubari. Ketika sepasang matanya menangkap celah terbuka, dia langsung menembak. Kerutan tercipta di antara persimpangan alisnya tatkala satu jarum terlontar disertai bunyi lesutan ringan telah berlalu sekitar satu menit.
__ADS_1
"Aneh ...."
Dia sangat yakin bidikannya tidak meleset. Akan tetapi, Sanubari tetap berdiri kokoh. Padahal, bius itu seharusnya bereaksi tidak lebih dari 15 detik.
Di bawah sana, orang-orang sedang menyeret Sai dan kelompoknya. Sementara Mikki dan Sanubari terus bertukar belasan jurus. Mereka sama-sama tangguh. Namun, mulai tampak bahwa kemampuan Sanubari jauh di bawah Mikki. Dia berulang kali tersungkur, sedangkan Mikki belum sekali pun jatuh.
"Sial! Orang ini sama kuatnya dengan Kak Abri," pikir Sanubari.
Bila pikiran itu benar, maka mustahil baginya untuk mengalahkan Mikki. Mengalahkan Abrizar saja Sanubari belum bisa. Sanubari mengusap darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Dia mengamati sekitar, rekan-rekannya telah dibawa pergi.
"Kau sangat menghibur, Kawan!" Mikki tertawa, "Karenamu, kurasa perjalanan sepekan ke depan tidak akan membosankan. Bagaimana? Apa kau sudah lelah? Atau, mau lanjut lagi?"
Sanubari menatap nyalang pada Mikki, lalu ikut tertawa. "Senang bisa membuatmu terhibur, tapi aku tidak akan menyerah selagi masih bisa mencoba."
__ADS_1
Mikki mengangguk dan menggumam, "Baiklah, akan kulayani antusiasmemu. Maju dan serang aku!"