
Sai dan Renji menguping di balik pintu. Mereka memutuskan untuk bergabung ketika pembicaraan tampak akan selesai. Tanpa permisi, Renji mendorong pintu.
"Kalian membicarakan hal menarik, tapi melupakan kami. Di mana kesetiakawanan kalian?"
Renji memukul punggung kanan Sanubari lalu duduk di sebelahnya. Dia tidak akan melewatkan ini.
"Kalian mendengar semuanya?"
Sanubari memperhatikan Sai dan Renji bergantian. Sai tersenyum. Dia duduk bersimpuh menghadap mereka.
"Aku akan bergabung jika kalian benar ingin membentuk mafia."
"Jangan tinggalkan aku! Tidak akan kubiarkan kalian melakukan aksi seru tanpaku!" kekeh Renji.
Sanubari tersenyum. Tidak disangka, dua anggota suka rela datang menawarkan diri. Sanubari seperti mendapat bonus.
"Terima kasih, Kak Ren, Kak Sai!"
Sanubari langsung memeluk Renji yang berada di sebelah. Dia teramat bahagia. Hari ini, tanggal satu April, organisasinya resmi terbentuk, meski baru beranggotakan lima orang.
"Baiklah, berhubung sudah terkumpul beberapa orang, mari buat peraturan!" ajak Eiji.
"Peraturan? Memangnya harus ada, ya?"
Sanubari melepas pelukan. Dia hanya memikirkan tujuan organisasi selama ini, dan itu sudah ditulisnya di catatan ponsel. Sementara aturan, tidak pernah sekali pun dia memikirkannya.
"Tentu saja! Peraturan harus ada supaya tidak ada yang sewenang-wenang, juga untuk menyatukan visi misi anggota menjadi satu," jelas Eiji.
"Tidak ada yang boleh membunuh atau melukai secara berlebihan!" cetus Abrizar paling pertama.
Diasangat paham risiko dunia seperti ini. Dia juga pernah mendapatkan curhatan dari Sanubari.
Eiji, Sai, dan Renji terbeliak. Usulan Abrizar terdengar tidak masuk akal. Mereka lebih laterjun langsung ke lapangan. Mereka paham betapa bahayanya dunia bawah.
Renji pun protes, "Apa kau gila? Kita yang akan terbunuh jika tidak membunuh terlebih dahulu."
Dia dan Sai sering mencabut nyawa tanpa ragu. Itu mereka lakukan untuk menghindari masalah lebih besar di masa mendatang.
Mereka tahu bahwa musuh pasti akan mempersiapkan perlawanan lebih bila dibiarkan lolos.
"Kita ini bukan malaikat maut, bukan hakim hidup dan mati. Setiap orang memiliki kesempatan berikutnya, memiliki potensi untuk berubah lebih baik sekeji serta sekejam apa pun mereka.
Aku tahu, ini terdengar naif. Aku hanya tidak ingin kita berakhir sama saja dengan mafia lain diluar sana."
__ADS_1
Alasan Abrizar itu bisa dipahami Sanubari. Itu memang akan membuat organisasinya melenceng dari tujuan awal bila terjadi.
"Benar. Tujuan kita adalah melindungi HAM dan menciptakan dunia yang damai. Kita tidak boleh merampas hak orang lain sembarangan. Aku setuju dengan Kak ABRI."
"Sebagai gantinya, kita akan menyerahkan sisanya pada pemerintah bila bertemu hal merepotkan. Biar mereka yang mengurus! Mungkin, tidak semua pemerintahan bersih, tetapi itu patut dicoba."
"Kita yang akan membersihkannya! Membersihkan dengan deterjen kebaikan!"
Sanubari manggut-mangfut. Dia sangat bersemangat hari ini.
"Karena lebih dari separuh setuju. Maka, peraturan berikutnya adalah tidak ada yang boleh mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang," tambah Abrizar.
"Apa kau ketuanya di sini? Kenapa dari tadi hanya kau yang mengeluarkan peraturan tidak masuk akal?"
Renji kesal. Dia adalah seorang pecandu sake berat. Menyuruhnya berhenti sama saja dengan menyiksanya pelan-pelan.
Sai dan Eiji tersenyum. Mereka bisa memaklumi ini. Sanu dan Abrizar adalah muslim. Eiji dan Sai paham alasan di balik ini. Mereka pun tidak keberatan. Toh, keduanya juga tidak terlalu suka minum-minum.
"Masing-masing dari kita bisa mengusulkan dua aturan. Aku hanya mengawali. Selanjutnya, kau, Sanu!"
Abrizar sama sekali tidak berniat untuk menjadi ketua kelompok. Dia tersenyum.
"Eh, aku?"
Sanubari menunjuk diri sendiri. Dia mengedarkan pandangan bingung, lalu menunduk.
Dia tidak ada ide sama sekali. Sanubari menggosok-gosok karpet dengan telunjuk seolah sedang mengais petunjuk dari sana.
Semua orang menanti peraturan dari Sanubari. Mereka menatap ke arahnya.
Setelah sejenak perenungan, Sanubari berkata, "Semua harus setia dan tidak boleh merokok. Kalian tidak harus berhenti sekarang, tapi bisa sedikit demi sedikit mengurangi sampai terbebas dari rokok."
Sejak kecil, Sanubari benci bau rokok dan alkohol. Jadi, hanya itu utang bisa dia sampaikan.
Renji menahan tawa ketika Sanubari masih berbicara. Saat kalimatnya berakhir, Renji terbahak.
"Itu peraturan terkonyol!"
Mereka semua memang bukan perokok. Jadi, tidak ada yang protes kali ini.
"Apanya yang lucu? Kesetiaan itu wajib dimiliki semua orang supaya organisasi tidak mudah hancur. Menghindari rokok juga bagus untuk kesehatan."
"Tidakkah kau memiliki aturan yang lebih penting dari itu, Sanu?" kelakar Renji.
__ADS_1
Nia bercanda Renji itu ditanggapi dengan serius oleh Sanubari. Dia pun memberikan jawaban lugas, "Tidak. Kak Eiji, bagaimana?""
"Dilarang bermain-main dengan perempuan. Itu saja dariku," balas Eiji.
Kesetiaan yang diucapkan Sanubari sudah cukup mewakili semuanya menurut Eiji. Dia tidak ingin menambahkan aturan lain yang membuat yang lain merasa terkekang.
"Ah, aku tahu! Aaku tahu! Ini pasti tentang adikmu, kan?" sindir Renji.
Namun, itu diabaikan oleh Eiji. Menoleh pada Sai, Eiji melontarkan pertanyaan, "Bagaimana denganmu, Sai?"
Sai menggeleng. Dia tidak terlalu minat ambil andil dalam perumusan aturan seperti ini.
"Tidak ada dariku. Mungkin Ren Senpai bisa melengkapi."
"Di luar semua aturan tadi, bebas!"
Mereka sepakat dengan semua itu. Sanubari mengulangi poin-poin dan mencatatnya. Begitu selesai, dia membacakan visi misi.
"Poin pertama, menciptakan dunia damai, bebas kejahatan. Poin kedua, memindahkan haluan mafia ke aliran putih, poin ketiga, membersihkan kejahatan dengan deterjen kebaikan."
Semua itu menjadi bahan olok-olok Renji. Dia tidak bisa berhenti tertawa karena semua yang diucapkan Sanubari terdengar seperti lelucon. Keduanya berdebat.
Kendati demikian, diskusi itu menjadi mufakat mereka. Sanubari mengirimkan salina hasil diskusi pada mereka.
Hari berikutnya, mereka menyiapkan dokumen untuk mengurus keberangkatan. Eiji meyakinkan Anki tetap tinggal di Italia.
Karena Sanubari terlanjur bilang bahwa Anki boleh terlibat dalam urusannya, dia pun menunjukkan kafe singkong miliknya. Dia mengarahkan Anki untuk bekerja di sana sementara waktu. Anki setuju dengan itu.
Sesuai rencana, mereka bertolak ke Indonesia setelah kelengkapan bepergian di tangan. Tanggal delapan April, mereka mendarat di Surabaya. Dari sana, mereka menaiki kereta ke Blitar.
Hari masih terang ketika kereta mereka berangkat. Sanubari duduk di dekat jendela, memperhatikan pesawahan yang membentang..
Sementara Sai dan Eiji memperhatikan hal yang berbeda. Mereka memperhatikan para penumpang. Sejak dari stasiun, banyak orang memakai masker.
Mereka tiba di kota Blitar ketika langit telah menggelap sempurna. Kelimanya melanjutkan perjalanan dengan taksi, menuju desa Sanubari sesuai alamat yang ditunjukkan Eiji.
Saat tiba di lokasi tujuan, mereka tertegun. Di bawah sinar bulan sabit dan bintang gemintang, mereka berdiri, menatap tanah kosong.
"Eiji, apa kau yakin alamatnya benar?" tanya Renji meragukan keakuratan navigasi.
"Alamatnya memang berhenti di sini."
"Ini memang rumahku. Musala di sana masih ada. Aku yakin tidak salah," ungkap Sanubari menunjuk tikungan tempat mereka berhenti sebelumnya.
__ADS_1
"Lalu, kenapa tidak ada apa pun di sini? Yang ada hanyalah kebun gelap tanpa penerangan di sana."
Renji menunjuk ke depan. Halaman kosong cukup luas memanjang. Di ujung, kebun cukup lebat terhampar.