
Sai berjalan dengan pakaian basah. Dia ingin menyusul Sanubari, tetapi tidak tahu anak itu dibawa ke mana. Dia sudah mencoba menghubungi Eiji dan Abrizar untuk meminta bantuan. Namun, tidak ada jawaban. Sepertinya, mereka masih terlelap.
Sai sudah memeriksa posisi dengan satu-satunya gadget yang dimilikinya. Dia berada di negara yang perbedaan waktunya 10 jam. Jadi, Sai berhenti menghubungi, lalu meninggalkan pesan untuk mereka.
Angin dermaga yang berhembus membuatnya bersin. Perut yang belum terisi dengan selayaknya pun semakin lapar, sementara kondisi mustahil memungkinkannya untuk langsung membeli makanan.
Sai pun memasuki kedai makanan. Tanpa gengsi, dia meminta pekerjaan dengan upah makanan. Sayang, usahanya sia-sia. Dia keluar membawa penolakan. Sai menyerah mencari uang dengan cara benar. Ada hal lain yang harus disegerakannya selain menghasilkan uang untuk diri sendiri.
Dengan sangat terpaksa, Sai mencari ATM terdekat. Dia meretas mesin, mengambil uang lima ribu dolar, lalu berjalan santai layaknya orang biasa. Tidak ada yang mencurigainya. Petugas keamanan pun membiarkan Sai pergi begitu saja karena tidak ada gelagat aneh dari Sai. Sembari menunggu balasan teman-teman untuk melacak keberadaan Sanubari, Sai mengisi perut dan belanja sedikit keperluan memakai uang curian.
Sementara itu, di samudra, Damiyan mengemudikan sekoci dengan kecepatan maksimal. Keputusan memisahkan diri diambilnya setelah kapal pesiar tidak mau lagi bekerja sama. Kendali otomatis diaktifkannya, sedangkan Damiyan sendiri berusaha menghubungi pangkalan-pangkalan organisasi bayangan negara terdekat. Akan tetapi, tak satu pun dari mereka yang bersedia mengulurkan bantuan.
"Apa yang bisa kami lakukan melawan negara Adidaya seperti Amerika? Yang ada, kitalah yang akan musnah bila mencoba ikut campur."
"Maaf, tapi aku tidak bisa menjerumuskan organisasi ke urusan yang bisa membahayakan organisasi di masa depan."
"Itu hanya akan merugikan kami."
"Kali ini, aku tidak bisa membantumu. Tapi, aku pasti akan membantumu di lain kesempatan."
"Maaf, tidak bisa. Ada urusan penting yang memerlukan kekuatan penuh organisasi saat ini."
__ADS_1
Begitulah alasan mereka saat Damiyan berusaha bernegosiasi. Pria itu mengumpat. Sungguh sulit membujuk mereka tanpa mengatas namakan L'Eterna Volonta, sementara Aeneas mencegahnya terlalu sering menggunakan nama organisasi dalam misi penjagaan.
Aeneas khawatir musuh-musuhnya akan beralih mengincar Sanubari lebih intens bila tahu anak itu mendapat perlakuan istimewa darinya. Kelana pun selalu mengingatkan untuk melakukan tarik ulur supaya perhatiannya terhadap Sanubari tidak terlalu kentara di mata oknum-oknum tertentu. Ini semua demi keamanan Sanubari.
Berita peristiwa yang melibatkan kapal kargo BGA sampai ke benua seberang. Di Italia, pagi-pagi sekali, Kelana dipanggil departemen ekspor dan impor salah satu cabang. Perselisihan sedang terjadi dalam divisi tersebut. Mereka meminta Kelana hadir karena masalah ini sangat mendesak.
"Bagaimana mungkin kapal dirampok sejak seminggu yang lalu,tapi kalian baru tahu sekarang?" tanya Kelana setelah mendengar penggalan laporan dari mereka.
20 tahun sudah pasca perang besar, BGA dan perusahan-perusahaan lain di bawah naungan L'Eterna Volonta selalu bertransaksi dengan aman. Tidak pernah sekali pun terdengar isu barang hilang di tengah pengiriman maupun kurir diserang di tengah perjalanan. Sekalipun mereka menuju negara berkonflik, armada BGA belum pernah mengalami masalah. Bisa dibilang, ini adalah kasus besar pertama setelah sekian lama.
Satu-satunya masalah tahunan perusahaan adalah Frosty Sky. Namun, usikan berhenti total setelah Abrizar sang Frosty Sky bergabung dengan Sanubari.
"Itu tidak benar, Pak! Saya sendiri yang menerima bukti tanda terima bahwa armada berhasil mengirimkan barang ke tempat tujuan dengan aman. Jadi, berita perampokan itu pasti palsu," sanggah seorang perempuan yang menjadi penanggung jawab.
"Anda tahu sendiri bagaimana prosedur laporan perusahaan kita, bukan? Lihat ini jika kalian masih tidak percaya!" Sang perempuan menampilkan salindia yang menampilkan lampiran email dari Martinez. Foto-foto dan video ditampilkan pada layar digital.
Tiba-tiba, Kelana teringat tentang kasus lama. Dahulu, memang pernah ada komplain dari pelanggan. Itu pun hanya satu kali.
Pada waktu itu, laporan barang berhasil dikirim ke tujuan pun juga masuk. Akan tetapi, sang klien bersikukuh tidak pernah menerima paket tersebut. Setelah diselidiki, laporan pengiriman dan fakta lapangan ternyata berbeda. Ada satu paket aifka yang dikirimkan ke alamat yang tak semestinya.
Ketika didatangi, alamat tersebut ternyata hanyalah rumah kosong tak berahli waris. Paket sudah tidak ada lagi di rumah itu. Perusahaan menganggap itu karena keteledoran pegawai. Alhasil, BGA harus mengirimkan aifka lain untuk ganti rugi.
__ADS_1
Itu kasus yang rumit. Bukti yang mengarah pada tersangka pencurian dan ke mana barang tersebut lenyap sama sekali tidak ada. Meskipun begitu, kasus hilangnya satu seri aifka itu tidak mereka anggap sebagai masalah besar karena setelahnya tidak ada lagi kasus paket hilang tanpa jejak.
"Mungkinkah ini pencuri yang sama dengan waktu itu?" batin Kelana.
Itu terjadi satu tahun sebelum munculnya Frosty Sky. Kelana belum tahu bahwa pelaku pencurian kala itu adalah Abrizar yang baru berusia belasan tahun. Sementara perampok yang kali ini menyatroni kapal kargo BGA tentu saja kelompok lain dan Abrizar sama sekali tidak terlibat.
Di ruang rapat, mereka masih saja memperdebatkan benar atau tidaknya perampokan itu. Masing-masing kekeh dengan pendapatnya. Argumen mereka terdengar berputar-putar, sampai Kelana bosan menyimaknya. Sementara Kelana sendiri masih memperhatikan data faktual yang ada di hadapan.
"Hentikan adu opini kalian!" sergah Kelana.
Mereka diam seketika. Para petinggi yang ada di sana pun juga diam. Mereka tidak menemukan cacat dari laporan yang masuk. Namun, sebagian orang itu memilih di pihak netral.
"Kenapa tidak mencoba menghubungi kapten kapal untuk membuktikan laporan ini dipalsukan atau tidak?" saran Kelana.
"Masalahnya, Pak, kami kehilangan kontak setelah menerima pesan darurat dari Kapten Martinez. Selain itu, kapal juga tidak bisa dilacak. Terakhir kali, mereka terdeteksi di sekitar Los Angeles-," jawab pria yang menerima telepon dari Martinez.
Yang lain menimpali, "Pak, mengingat kondisi Amerika sedang tidak baik-baik saja, bisa jadi mereka sedang terjebak dalam peperangan sekarang."
"Saya rasa itu teori yang masuk akal. Kita tidak bisa mengabaikan video Kapten Martinez yang sudah tiba di pelabuhan. Dalam video ini juga disebutkan bajak laut memang sempat menyerang, tetapi berhasil dilumpuhkan sehingga mereka bisa melanjutkan perjalanan. Jadi, tidak benar kalau saat ini kapal kargo kita ada di tangan bajak laut."
Fakta itu tidak bisa Kelana sangkal. Bukti-bukti transaksi terlalu nyata keasliannya untuk diragukan. Namun, sisi lain otaknya berpikir, "Bagaimana bila bukti-bukti itu hanyalah pengecoh?"
__ADS_1
Pola ini mirip dengan pencurian satu seri aifka beberapa tahun silam. Bila memang demikian, keaslian video itu pun perlu ditinjau ulang. Bila ini bisa menjadi ancaman, Kelana harus mengambil tindakan untuk segera mengatasi mereka. Pria itu menarik napas panjang.
"Bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengambil kesimpulan secara gegabah. Kalian, terus coba hubungi Kapten Martinez. Kita tetap harus menyelidiki semua ini sampai mendapat kabar lagi dari kapal kargo yang saat ini tidak bisa dihubungi," putus Kelana.