Santri Famiglia

Santri Famiglia
Lautan Api


__ADS_3

Sepersekian menit, napas Fukai tertahan. Adrenalin terpacu seiring meningkatnya tempo pemompaan bilik-bilik jantungnya. Hampir saja, dia berakhir menjadi manusia panggang. Mata dokter itu masih membelalak, tidak berkedip.


Embusan angin cukup kencang membuat lidah api memanjang. Namun, bara kuning kemerahan itu menyusut kembali setelah angin sedikit mereda. Area di depan pintu belum sepenuhnya terbakar.


Akan tetapi, liukan-liukan kobaran yang bergerak tidak menentu membuat sebagian dari mereka ketakutan. Bara itu bisa menjulur kapan pun dan menjilat siapa pun yang mencoba melewatinya.


"Selamatkan kami, Ya Allah!" Hana kian merapatkan diri pada Anki. Sekujur tubuhnya bergetar. Dia merasa sangat lemas, tetapi tetap berusaha berdiri dengan berpegangan pada Anki.


Andaikan ada tombol reset di depan matanya, dia akan menekannya saat ini juga. Dia ingin memulai ulang adegan sebelum memasuki kapal. Dia tidak akan menaiki kapal kargo Meiwa Spirit ini hari ini. Jika perlu, selamanya dia tidak ingin berlayar lagi.


Anki memikirkan hal yang sama. Dia juga tidak ingin merasakan panasnya sentuhan api.


Sementara Sai, Renji, dan Eiji tidak terlalu terkejut dengan hal semacam ini. Mereka tidak jarang menghadapi peristiwa semacam ini. Khususnya, Sai dan Renji. Mereka sering terdesak dan dituntut berpikir cepat mencari cara melarikan diri.


Kendati demikian, ketiganya tetap tegang. Eiji memikirkan adiknya. Fukai yang sesaat lalu membeku, berbalik badan. Dia mengamati satu per satu rekan seperjalanannya dengan cepat.


"Hana, rapikan jilbabmu! Jangan sampai berkibar!" Fukai menatap gadis berkerudung lebar itu.


Hana pun menyentuh ujung jilbabnya. Dia menariknya ke depan dan menggulungnya dengan berantakan, seperti membuat bola kain.


"Kita akan berlari melewati api ini." Fukai menunjuk api di belakangnya.


"Tapi, api itu akan membakar kita." Hanan seakan enggan melewati gawang pintu yang setengah terbakar. Nyalinya terlampau ciut.


"Tidak jika kita berlari cepat. Percaya padaku! Kita akan berakhir mengenaskan bila hanya diam di sini."


Setelah mengucapkan itu, Fukai berbalik badan. Dokter itu menerobos pintu. Api sempat menyentuh pakaiannya. Namun, itu tidak sampai membakar. Ketika perkataan sulit dipercaya, maka dia harus membuktikannya dengan tindakan.


Renji menyusul. Dia juga berhasil berdiri di sisi Fukai. Keduanya menghadap ke pintu.


"Lihatlah! Kami baik-baik saja. Jika kalian pernah bermain lilin, lalu mematikan api memakai dua jari dengan gerakan cepat, ini rasanya seperti itu. Tidak akan panas," Fukai mengatakannya sambil menggerakkan jari jempol dan telunjuk, menempelkan ujung-ujungnya serta merenggangkan berulang di dua kalimat akhir.


"Hana, bisa lari?" Tiba-tiba, Sai berada di sebelah Hana.


Gadis itu terperanjat. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


Sai tahu, bila dirinya dan Eiji pergi tterlebih dahulu, maka kemungkinan kedua anak kembar ini akan bertambah ketakutan. Mereka akan makin ragu untuk menyeberang.

__ADS_1


"Maaf, bisa pinjamkan tanganmu?" Sai mengulurkan tangannya.


Hana masih kebingungan. Dia menggenggam erat kerudungnya.


"Aku bisa menggendongku bila kau takut."


Hana menggeleng atas tawaran Sai itu. Rasanya memalukan bila dia sampai harus digendong seorang pria, meski lututnya sendiri lemas.


"Jika kau memakai celana panjang, sebaiknya rok panjangmu ini juga dinaikkan." Sai memandang ke bawah.


Hana menuruti kata-kata Sai. Gadis itu bisa mengerti, memakai baju kurung memang bisa membahayakan dirinya sendiri dalam kondisi seperti ini. Bisa jadi nanti bawahan berkibarnya akan tersangkut, terbakar, atau menjadi sandungan bagi dirinya sendiri bila tidak menurut.


Dia teringat nasihat Mohammad, "Perempuan muslim memang diperintahkan untuk menutup aurat dengan pakaian syar'i seperti pakaianmu ini, Hana. Tetapi, kau juga harus bijak dalam berpakaian. Maksudku, tahu tempat.


Jangan di tempat banyak mesin gilingan seperti itu kau biarkan pakaianmu berkibar. Apa jadinya bila pakaian sampai tersangkut, lalu kau terseret dalam mesin raksasa semacam itu? Abi tidak ingin kecelakaan seperti itu terjadi padamu. Ingat ini baik-baik! Jangan sampai kekolotan membuatmu ceroboh dan mencelakakan dirimu sendiri."


Kala itu, ayah dan anak itu memang sedang menonton kumpulan kecelakaan kerja dan lalu lintas yang dialami muslimah. Sebagian besar penyebabnya adalah keteledoran diri sendiri. Bahkan, satu keluarga meninggal karena gaun sang istri tersangkut di jeruji saat berkendara.


Kala itu, Hana masih sangat kecil. Sejak saat itu pula Hana selalu memakai celana di balik gamisnya, berjaga-jaga bila bawahan lebar itu tersibak.


Karena nasihat ayahnya itu, Hana bisa menerima ucapan Fukai dan Sai dengan hati terbuka. Dia sama sekali tidak merasa jengkel dan dilecehkan. Dia mengerti itu. Sai dan Fukai hanya berniat baik.


"Iya."


Setelah mendengar jawaban gadis itu, Abrizar memegang telapak tangan Anki. Dari bunyi tapak kaki Fukai dan Renji, dia bisa tahu jalur mana yang harus diambil.


"Kau pergi bersamaku!"


Tanpa menunggu jawaban, Abrizar menggeret gadis itu. Anki pun secara refleks menggerakkan kaki, mengikuti kecepatan Abrizar.


Eiji terperangah. Tahu-tahu, adiknya sudah berada di seberang.


"Mari pergi bersama!" Sai menggandeng Hana.


Kini, tinggal Eiji dan Hanan. Eiji menoleh pada remaja yang bergeming. Api masih berkobar. Udara dalam lambung kapal kian pengap dan panas. Mata mereka pun mulai perih karena asap.


"Cepatlah!" desak Fukai.

__ADS_1


Tiba-tiba, angin kencang berembus kembali, mendorong api ke arah Fukai dan yang lain berdiri. Anki dan Hana berteriak histeris. Mereka berlari menjauh dari pintu.


"Jangan takut! Kita akan bersama-sama keluar dari sini." Eiji menggandeng Hanan.


Dia menghadap ke pintu, menanti api menyusut layaknya ombak yang surut. Cukup lama api pasang itu memenuhi geladak dalam.


Saat kesempatan tiba, Eiji lekas mengajak Hanan berlari. Hanan memejamkan mata. Remaja itu pasrah ke mana pun langka kakinya di bawa.


Eiji terus berlari, menuju ke tempat yang lain berdiri.


Namun, ketika jarak mereka cukup dekat, ledakan lain mengguncang kapal. Eiji dan Hanan tersungkur. Sai maju ke depan. Hampir bertepatan dengan hancurnya geladak di belakang Hanan. Api menyembur ke atas tidak ubahnya air mancur.


Lantai tempat Eiji dan Hanan retak. Bunyi deritan dan keratakan yang terdengar patah-patah dan beruntun membuat Hanan kian merinding ngeri. Keduanya berusaha bangkit.


Cuilan geladak di belakang Hanan terlepas. Dia lekas menarik kakinya.


Eiji mengeratkan genggaman tangannya dengan Hanan. Telapak tangan keduanya sudah sama-sama basah karena keringat. Mereka bisa merasakannya.


Eiji menahan nyeri pada pundak kanannya. Serpihan puing tertancap di sana. Hanan tidak jauh berbeda. Lengan kirinya tergores, sementarabetis kirinya tertembus sesuatu. Sesuatu itu mengoyak kulit dan dagingnya. Itu sangat perih. Darah mengalir, membasahi kaos kaki dan masuk ke sepatu.


"Hamba belum ingin mati, Ya Allah!" Meski dirinya seorang lelaki, itu sama sekali tidak mencegahnya untuk menangis.


Sementara di sisi Fukai sama sekali tidak ada yang terluka. Saat ledakan terjadi, Abrizar dengan sigap menangkis semua puing yang melayang ke arah mereka menggunakan tongkatnya.


Deritan-deritan masih terdengar,.berpadu dengan bunyi gemerubuk, membuat suasana kian mencekam. Pelarian malam itu berbalut kengerian.


Belum juga Eiji dan Hanan berdiri sempurna, geladak di bawah mereka ambrol. Keduanya terbeliak. Hanan tercekat ketakutan, sampai-sampai tidak bisa berteriak.


"Kakak!" Anki meraung. Namun, dia hanya bisa terdiam di tempat saat melihat Eiji terjatuh dalam lubang.


"Hanan!" Hana pun histeris. Air mata membanjiri kedua pipinya. Dia pun sama tidak berdayanya dengan Anki.


"Eiji Kun!" Fukai menjatuhkan kopernya.


Mereka berteriak bersamaan. Bahaya kian ganas meneror mereka, menghajar mental remaja-remaja lugu yang belum pernah mengalami tragedi untuk bertahan hidup.


Api telah merata di geladak bawah, membuatnya terlihat seperti lantai api. Oli dan minyak muncrat ke mana-mana, mengalir ke lautan, menyebabkan api menyebar lebih cepat. Di atas air, api pun berkobar. Air yang masuk ke geladak bahkan bagaikan bahan bakar penyulut api menjadi lebih besar, sama sekali tidak bisa memadamkan api.

__ADS_1


Mereka terjebak ditengah lautan api. Entah bisa selamat atau tidak setelah ini.


__ADS_2