
Tangan Lavatera bergerak begitu lihai, menyulap wajah-wajah anggota sendiri menjadi wajah awak kapal BGA. Satu demi satu awak kapal yang selesai dijadikan model pun dibawa kembali ke kabin tawanan.
Kini, para perampok itu tidak lagi memakai topeng karena riasan Lavatera akan membuat mereka dikenali sebagai awak kapal asli. Termasuk Mikki. Pria itu keluar, memerintahkan nahkoda untuk kembali melaju normal. Persiapan telah selesai. Mereka siap beraksi di pelabuhan.
"Selesai!" Lavatera menyapukan sentuhan terakhir pada wajah Lance.
Dokter itu memutar balik kursi, menghadap ke cermin. Dia menyentuh wajah sendiri dan mengamatinya dengan seksama.
"Waoh, aku tidak bisa mengenali wajahku sendiri. Ini tanpa cela!"
"Tentu saja! Masterpiece Lavatera penata rias artis nomor satu sedunia selalu sempurna!" Lavatera tergelak, lalu melihat satu anak buah kapal yang masih dalam ruangan, "siapa satu lagi yang belum? Kenapa masih satu di sini? Apa kalian kelebihan membawa sampel?"
Lavatera mengedarkan pandangan. Semua yang ada di sana sudah menjadi orang yang tidak dikenali Lavatera, kecuali Lavatera sendiri dan Liuna. Mereka menoleh, saling mencari.
Sementara itu di kabin lain, Martinez mondar-mandir. Saat panggilan untuk berkumpul diserukan, dia ikut berkumpul. Namun, ketika mengetahui apa yang dilakukan Lavatera, dia buru-buru meninggalkan tempat berkumpul.
Dia tidak mungkin tetap di sana. Bila topengnya sampai dibuka, dia akan ketahuan.
"Bagaimana ini? Kalau seperti itu, lalu terjadi apa-apa pada kapal ini, kami yang jelas akan dituduh sebagai tersangka."
Martines kebingungan. Dia sudah mencoba semua alat komunikasi yang ada di kapal. Semua tidak berfungsi. Perampok sepertinya telah melakukan sesuatu. Ponsel pun tidak berfungsi. Martinez tidak menyangka perampok akan menyamar sebagai awak kapal asli.
"Apa yang akan mereka lakukan dengan kapal ini? Bagaimana caraku membebaskan mereka?"
Martinez terus berpikir. Sampai akhirnya, kapal menepi. Jembatan diturunkan. Para awak kapal palsu mengusung muatan ke daratan.
Lavatera dan Liuna berjalan menjauhi tempat itu. Kedua perempuan beda generasi itu telah berganti pakaian. Mereka juga melepas topeng. Hanya memakai masker biasa layaknya turis yang berwisata di pantai.
__ADS_1
"Tidak perlu ikut campur urusan lelaki. Mari kita bersenang-senang, Lili!" kata Lavatera, menggandeng Liuna.
"Tapi, bagaimana anggota kita yang hilang satu tadi?" Liuna menoleh ke belakang. Orang-orang sibuk mendorong troli penuh peti. Ada pula yang mengangkat, memindahkan ke kendaraan darat yang disediakan.
"Sudah, jangan dipikirkan! Mungkin mereka memang salah hitung. Kalaupun memang hilang satu, Mikki pasti bisa mengatasinya."
Lavatera sendiri tidak yakin dengan apa yang terjadi. Dia tidak menghitung orang yang dikerjakannya. Namun, dia tahu bahwa Mikki adalah orang yang teliti. Ketua mereka itu tidak akan membiarkan jejak yang bisa membahayakan organisasi tertinggal di kapal. Terlebih lagi, kapal itu hendak dijual setelah bongkar muatan selesai.
Lavatera mengajak Liuna masuk ke rumah makan. Mereka duduk di dekat dinding kaca supaya bisa melihat ke laut.
Para pria masih hilir mudik. Mikki tampak berdiri di sebelah perempuan kekar berpakaian kasual. Rambut perempuan itu dikuncir kuda. Dia memeriksa peti-peti yang diangkut, lalu mencentang kertas pada papan dada. Dia hanya membaca keterangan pada label tanpa membukanya.
Mikki tersenyum. Batinnya senang pemeriksa barang di sampingnya ini tidak terlalu teliti. Dengan begitu, sampai serah terima selesai, tidak akan ketahuan bahwa sebagian dari peti-peti itu kosong.
"Setelah transaksi selesai, sebaiknya kalian langsung pergi dari pelabuhan ini!" celetuk si perempuan sambil mencentang.
"Kenapa?" tanya Mikki.
Sebenarnya, Mikki sudah tahu tentang berita itu. Mafia terbesar di benua Amerika sedang mengalami konflik internal. Konflik tersebut berkembang menjadi perang dalam negeri.
Pemerintah berusaha melindungi warga sipil dan menciptakan zona aman di beberapa tempat. Namun, mereka tidak berani mencampuri perseteruan yang terjadi. Hal itu dikarenakan mafia tersebut memegang rahasia yang bisa menghancurkan karir dan reputasi mereka.
Pengiriman senjata kali ini pun untuk salah satu kubu. Mikki sudah memperkirakan semua konsekuensi. Keadaan yang kacau justru akan menguntungkan bagi Mikki. Jejaknya bisa lebih disamarkan lagi dengan kericuhan yang mungkin terjadi.
"Ngomong-ngomong, kapal kami sempat di satroni perampok, tapi berhasil kami lumpuhkan. Mereka kami Tawan di kapal. Apa organisasimu membutuhkan budak atau mungkin membutuhkan organ mereka?"
Mendengar perkataan Mikki, perempuan itu teringat sesuatu. Organisasinya sering dihubungi untuk mencarikan organ sehat. Dia adalah salah satu orang yang ditugaskan untuk mencarikan.
__ADS_1
Perempuan itu pun berkata, "Menteri pertahanan membutuhkan donor ginjal dan jantung. Jika ada yang cocok, pak tua itu tidak keberatan membayar berapapun."
"Kurasa ada. Siapa pun yang sukses mencangkokkan tubuh anak ini pada tubuhnya pasti menjadi manusia super!"
Perempuan itu tertawa. "Jangan mengada-ada!"
"Ini sungguhan! Kami sampai kewalahan menghadapinya." Mikki menjelaskan tentang kondisi fisik Sanubari. Walau diri sendiri sulit percaya, Mikki mampu mengolah kata yang meyakinkan. Dia sudah seperti pedagang yang mempromosikan jualan. "Bagaimana? Akan ku serahkan tubuh istimewa ini bila kalian membeli tunai hari ini juga."
Sementara itu di kapal, Martinez buru-buru menuju kabin tawanan. Dia telah membuang topeng. Para perampok sedang sibuk memindahkan barang. Martines pikir itu waktu yang aman dan tepat untuk melarikan diri. Sialnya, dia bertemu Lance yang memeriksa setiap ruangan.
"Kenapa malah berlarian di sini? Bukannya seharusnya kau membantu yang lain menggotong peti?" tegur Lance.
"Kau sendiri kenapa malah ada di sini?"
Jantung Martinez berdebar. Dia khawatir orang di hadapan akan mengenalinya sebagai musuh. Andai tidak ingat apa yang dilakukan Lavatera, Martinez pasti sudah mengira orang ini sebagai awak kapal sendiri dan memanggil namanya.
Tanpa cyuriga sedikit pun, Lance membalas, "Mikki menyuruhku untuk mencari anggota yang hilang."
"Mikki juga menyuruhku," tiru Martinez, "kita harus segera menemukannya sebelum sesuatu terjadi."
Lance mengangguk. "Kau benar. Berdua memang akan lebih cepat. Kita bagi tugas ...!"
Mereka pun berpencar. Martinez lega bisa lolos dari Lance. Namun, saat tiba di kabin tawanan, separuh anggotanya dalam keadaan pingsan. Tatapannya jatuh pada awak kapal yang bergelimpangan. Namun, dia tidak punya waktu untuk bingung. Martinez lekas membuka ikatan anak buah kapal yang masih sadar.
"Kapal sedang berhenti. Kita harus kabur sekarang selagi mereka sibuk menurunkan muatan," kata Martinez.
Sai melepaskan ikatan sendiri. Kemudian membantu Martinez. Dia mencari-cari Sanubari. Akan tetapi, pemuda yang dicarinya itu tidak ada.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana dengan teman-teman kita yang masih pingsan?" tanya salah seorang anak buah kapal.
Martinez menjawab, "Kita hanya memiliki dua pilihan—meninggalkan atau menggendong mereka. Masing-masing dari kita bisa menggendong satu, tapi itu akan menyulitkan kita untuk kabur bila sampai ketahuan."