Santri Famiglia

Santri Famiglia
Terjebak Ilusi


__ADS_3

Berlari dan berlari, Sanubari tertatih dalam kegelapan tanpa pelita. Jeritan demi jeritan memilukan begitu menyakitkan telinga.


Darah menganak sungai dari kedua lubang telinganya. Sanubari menutup rapat daun telinga dengan kedua telapak tangan. Dia tidak ingin lagi mendengar suara-suara itu.


"Sanu ...." Panggilan itu mendayu-dayu, begitu memilukan, begitu menyesakkan, membuat Sanubari tercekam kegelisahan.


"Sanu ...." Suara-suara asing terus berteriak memanggil-manggilnya.


Cukup sekali, dia menoleh, dan tidak ingin mengulanginya. Wajah-wajah pucat memandang dingin padanya. Mereka bak hantu-hantu yang mengejarnya. Padahal, dia sudah berhasil menyingkirkan ketakutannya terhadap kegelapan dan hantu beberapa saat lalu.


Entah mengapa, ketakutan itu kembali setelah dia terjebak dalam kegelapan tanpa ujung. Sanubari terus berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada seorang pun yang datang.


Napasnya terengah. Tubuhnya memberat, seolah pakaian baja berpuluh-puluh kilogram dilekatkan padanya. Sampai akhirnya, dia menabrak sesuatu dan terjengkang.


Berapa kali pun dia mengerjapkan mata, Sanubari tidak tahu apa yang menghalangi jalannya. Segalanya gelap. Tiba-tiba, lengan kanannya terasa teramat perih. Dia memeriksanya.


Matanya membelalak seketika tatkala menjumpai silet sepanjang tiga puluh centimeter menembus tulangnya. Dengan kasar, dia mencabut silet itu, lalu melemparnya sembarangan.


Dentingannya bergema berulang-ulang, membuat telinga Sanubari berdenging tidak nyaman. Darah terus mengalir, meski Sanubari telah menekan dengan tangannya sendiri.


Cairan merah itu seolah memiliki sumber cahayanya sendiri. Sanubari bisa melihatnya. Cairan terus menetes, menciptakan bunyi cipratan, bagai bulir air menetes ke genangan air.


Namun, Sanubari tidak bisa menemukan apa pun, kecuali kegelapan dan dirinya sendiri saat melihat ke bawah. Segalanya tampak seperti surealisme


Tubuhnya berguncang, seakan-akan ada sesuatu tidak kasat mata merabanya. Sanubari merinding. Dia meronta, menerjang apa pun yang menghalanginya.


Namun, ketika dia berhasil melangkah maju, kepalanya terbentur sesuatu. Kakinya pun seperti tersandung. Sanubari jatuh berguling-guling.


"Mamak ...." Nada bicaranya terdengar lemah, tidak lebih keras dari sebuah bisikan.


Dia seperti kembali menjadi anak kecil yang mencari-cari ibunya. Pobianya terhadap kegelapan sekonyong-konyong kembali hadir begitu saja.


Sanubari berusaha bangkit. Entah sejak kapan, Laras pistol berkaliber sebesar kepala diarahkan padanya. Sontak, Sanubari menjerit.


"Aaa!"


Ke mana pun dia berkelit, peluru itu mengikutinya dalam sunyi. Sangat senyap. Bahkan, Suara Sanubari sendiri sampai ikut lenyap. Dia berusaha berbicara, tetapi tidak ada suara yang terdengar.

__ADS_1


Tidak hanya satu atau dua kali dia mencoba. Hasilnya, nihil. Dia seakan berada di dunia bisu di mana suara menjadi wujud terlarang.


Beberapa saat berlalu. Suara-suara kembali mengisi keheningan. Suara menuntut penjelasan yang membuat bulu kuduk Sanubari tegak meremang menggema.


"Kenapa kau lari, Sanu?"


Ditanya seperti itu, Sanubari pun tidak tahu alasannya. Keberaniannya menguap entah ke mana. Sosok-sosok itu terlihat menyeramkan di matanya. Hingga ketakutan yang mengendalikan sistem sarafnya mengubahnya menjadi pengecut.


"Mengapa?" Suara lain menyambung tanpa ada jeda.


Sanubari ingin berteriak, menyuruh suara-suara itu diam. Akan tetapi, kutukan bisu tampaknya masih berlaku untuknya.


"Mengapa, Sanu?" Lagi, suara lain berucap.


Sanubari hanya bisa menggeleng. Suara-suara itu benar-benar mengganggunya.


"Mengapa kau lari dari tanggung jawab?"


Pertanyaan itu, Sanubari ingin menyangkalnya. Namun, mulutnya terkunci rapat. Organ-organ pembantu bicaranya seakan kelu. Dia kesulitan menggerakkannya.


"Kau tidak akan pernah bisa sembunyi dari dunia."


Namun, kata-kata mereka menusuk batinnya. Hatinya pun bertanya-tanya, benarkah dirinya sedang melarikan diri dari kenyataan.


"Kau lupa denganku?" Sosok bocah laki-laki dengan mata berdarah-darah mendadak berdiri di hadapannya, membuat Sanubari terperanjat dan berbelok.


"Berikan matamu!" Sosok itu tetap berada di depan Sanubari. Dia seperti melayang mundur.


"Kau lupa denganku?" Sosok pria dewasa dengan bagian dada berdarah muncul di belakang bocah itu, Sanubari kian terbelalak.


"Kau lupa denganku? Pria dewasa lain muncul.


Mereka bersama-sama berkata, "Dosamu tidak termaafkan."


"Argh!" Sanubari menjerit sekeras-kerasnya. Akhirnya, suaranya bisa keluar kembali.


Sugesti-sugesti itu memenuhi kepalanya, membuat emosinya menggelegak. Sanubari tidak kuasa menahannya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, peluru raksasa itu menyentuh kepala Sanubari, meledak, dan menghancurkan kepala itu. Karenanya, Sanubari tersungkur. Bunyi-bunyian pun kembali terdengar.


Adrenalin Sanubari terpacu liar. Ketika dia meraba-raba bagian atasnya, kepala itu masih utuh. Kendati demikian, jantungnya tetap berdentam tidak karuan.


"Aneh," begitulah pikir Sanubari. Dirinya masih hidup setelah ledakan kepala itu. Kepala yang seharusnya berceceran pun lengkap tanpa tetesan darah. Telinga, hidung, mata, bibir—semua masih pada tempatnya.


Segurat kelegaan tergambar tipis di bibirnya. Sayang, istirahat belum diperbolehkan untuknya. Berikutnya, bunyi gemelegar sangat berisik. Desingan hujan peluru entah datang dari mana. Peluru-peluru yang lebih kecil menghajar raganya, membuat sekujur tubuhnya ngilu. Sekali lagi, Sanubari bangkit dan berlari, terus berlari tidak tentu arah. Langkahnya terseok-seok, menahan perih yang merajam tubuhnya.


"Ikutlah denganku, Sanu!" Suara seram itu berbisik dingin ke telinganya, sedingin telapak tangan yang mendadak mencengkeram kaki dan lengan Sanubari.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku tidak mau!" Sanubari berteriak-teriak, memberontak.


Namun, tangan-tangan itu makin bertambah banyak, makin merayap menutupi tubuh Sanubari, hingga dia terjatuh lagi. Tidak peduli seberapa keras pun dia mencoba melepaskan diri, tangan-tangan itu tidak mau melepaskannya.


"Kau sudah membunuhku, maka bunuhlah dirimu sendiri!" Seiring terdengarnya suara itu, kedua tangan Sanubari diangkat ke atas oleh tangan-tangan yang terulur dari kegelapan.


Dia berbaring terlentang. Sebilah pedang sepanjang empat puluh lima centimeter digemggamkan padanya. Tangan-tangan itu memaksa tangan Sanubari untuk bergerak merendah.


Sekuat tenaga, Sanubari menahannya, hingga keringat dingin mengucur deras dari seluruh pori-porinya. Kepalanya bergerak kaku ke kiri dan ke kanan.


"Tidak! Aku tidak mau! Tolong!" Sanubari meraung-raung.


Dia mengentak-entakkan kaki. Namun, tangan-tangan tetap melekat padanya.


Kegelapan di atasnya pun berubah menjadi stalaktit-stalaktit besi tajam seukuran linggis. Pangkal-pangkalnya terayun rapuh. Jantung Sanubari berdesir ngeri. Dia menangis darah.


Tangan-tangan membungkam mulut Sanubari yang berisik. Lagi-lagi, benda aneh muncul dari ketiadaan. Benda itu tampak seperti bola kaca, melayang, terus naik sampai menyentuh ujung lancip stalaktit. Seketika itu juga, bola kaca pecah berhamburan.


Fragmen-fragmennya menusuk daging Sanubari. Tangannya pun tidak kuasa menahan pedang. Bilah Tajamnya menjebol usus Sanubari.


Kesakitan yang dirasakannya tidak terperikan. Stalaktit-stalaktit berguguran, memaku tubuh Sanubari di tempat.


Dagingnya kini penuh dengan tancapan kaca dan besi. Darah menggenang. Raga itu tergolek tanpa bisa berdiri.


Kegelapan menghimpitnya kian sempit. Napasnya kian sesak. Sanubari merasa seperti dikurung dalam sebuah kotak tanpa ventilasi. Tidak ada oksigen yang bisa mengisi paru-parunya.


Tenaga Sanubari melemah. Dingin menyelusup lebih dalam, sampai ke tulang-tulangnya. Dia menggigil kesepian dalam kesakitan.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, begitu pun penderitaan Sanubari. Penderitaan bertambah kian berat dari detik ke detik. Kepalanya seperti dihantam-hantamkan pada sesuatu. Itu berdenyut sangat pening.


Sanubari tidak tahu bagaimana dirinya bisa berakhir seperti ini. Sanubari tidak tahu kapan ini dimulai. Dia hanya ingin ini segera berakhir. Berakhir sekarang dan selamanya.


__ADS_2