
Kedai-kedai makanan jalanan baru saja buka. Di sudut salah satu perempatan Namba, duduklah tiga Korea. Tiga omelet beralas foam putih tersaji di atas meja, di hadapan dua pemuda sembilan belas tahun dan satu wanita dua puluh sembilan tahun.
Suasana masih begitu damai, hening tanpa ada kebisingan yang mengganggu. Kecuali,aroma sedap khas telur dadar yang menggelitik hidung, tersebar ke area sekitar. Kepulan aroma yang tak kasat mata itu dihirup dalam-dalam oleh salah satu pemuda. Matanya terpejam.
Dua detik, empat detik, delapan detik, dua belas detik tiga kali tarikan dan embusan dilakukan oleh satu di antara mereka. Bibirnya melebar, membentuk senyuman kenikmatan. Entah apa yang sedang dirapalkannya dalam hati, sampai si kuning di depannya belum terjamah. Sepasang sumpit merah diberdirikan di tengah gundukan hangat tersebut membuatnya terlihat seperti dupa yang tertancap pada hiolo.
Pria berwajah identik di sebelahnya tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukannya. Dia memotong omeletnya menggunakan sumpit penuh dengan tata Krama, lantas mengunyahnya sesuap demi sesuap dalam diam.
Sementara wanita di hadapannya menyantap omelet miliknya dengan mata tak lepas dari lelaki yang sedang berjongkok—mematung di atas kursi. Memperhatikan pemuda itu adalah kewajiban penuh baginya. Saat ini, sang pemuda memang tampak anteng. Namun, siapa tahu yang akan terjadi menit berikutnya.
Setengah porsi berlalu, mata yang terpejam akhirnya terbuka. Sumpit tercabut dari landasannya. Sepotong telur dadar pun mendarat di rongga mulutnya. Bukan dari piringnya sendiri, melainkan dari sumpit saudaranya yang telah diangkat di depan bibir yang terbuka. Dia memasukkan ujung sumpit di antara celah sumpit saudaranya. Kemudian, secepat kilat memindahkan ke sumpitnya sendiri.
Tidak ada yang protes. Mereka cukup terbiasa dengan tingkah laku satu pemuda itu. Toh, berdebat dan mempermasalahkan makanan bukanlah hobi seorang Kim Jae Hyun. Lelaki itu lebih memilih untuk tidak ambil pusing, lalu mulai memotong omelet yang masih tersisa.
Akan tetapi, saudaranya yang bernama Kim Hyun Jo mengambilnya sebelum dia sempat menyumpit. Itu terus terjadi sampai potongan terakhir. Ketika wadah Jae Hyun telah kosong, Hyun Jo menggeser miliknya dengan senyuman lebar pada sang saudara.
__ADS_1
Tanpa verbal pun Jae Hyun bisa mengerti makna tersirat dari bahasa tubuh Hyun Jo. Saudaranya itu hanya ingin dipotong kan omeletnya. Hyun Jo begitu tenang menikmati omeletnya, hingga seekor kupu-kupu putih kecil mengepak-ngepakkan sayap di hadapannya. Retinanya mengunci bayangan sang kupu-kupu. Sayangnya, serangga tersebut tak terbelenggu di tempatnya.
Makhluk bersayap tersebut terbang menjauh. Sekonyong-konyong, Hyun Jo melompat dari kursinya. Dia mengejar si putih.
"Hyun Jo!" teriak sang wanita yang tak lain adalah asisten pribadinya—Sina.
Walaupun dua lelaki di hadapannya berwajah sama persis, tetapi Sina tahu siapa yang akan mendadak berlari seperti itu. Tidak sulit membedakan si kembar identik. Dia meletakkan sumpitnya dan berlari menyusul.
Pandangan Jae Hyun mengikuti arah kepergian dua rekan seperjalanannya. Hyun Jo sesekali melompat, mengulurkan tangan ke langit, sepertinya berusaha menangkap si putih. Sementara kupu(-kupu tersebut malah terbang lebih tinggi, seakan menghindari terkaman Hyun Jo.
"Sayang sekali," gumamnya menyesali makanan yang tersia-siakan.
Hyun Jo terus berlari, menerjang barikade manusia. Dia tidak menghiraukan teriakan orang-orang yang ditabraknya. Bahkan, dia tanpa ragu memotong rangkaian karnaval. Matanya menatap pada kupu-kupu yang hilir mudik. Hanya satu itu yang menarik perhatiannya, sedangkan yang lain dianggapnya benda yang tak perlu dipedulikan.
Di lain sisi, Sina kesulitan melewati kerumunan seraya terus mengucapkan, "Permisi! Maaf ... mohon beri jalan ...."
__ADS_1
Berulang kali pula dia membungkuk meminta maaf atas kelancangannya. Dia berharap tidak akan menjumpai kerumunan seperti ini lagi di depan. Sebab, bisa-bisa dia kehilangan jejak sang tuan muda bila itu terjadi.
Hari ini masih dalam periode goldenweek. Bagian-bagian kota yang tidak menjadi jalur karnaval masih sangat lengang. Sangat kontras dengan area yang menjadi pusat keramaian. Itu wajar. Sebab, warga telah berbondong-bondong menuju titik-titik strategis pagi-pagi sekali.
Melewati gedung dengan kepiting raksasa, jembatan, berbelok menyusuri tepian sungai, tiba-tiba kupu-kup7 menyeberangi sungai yang cukup lebar tersebut, terbang di atas pemuda bermata hijau yang sedang bertopang dagu memperhatikan perahu yang sedang menepi di bawah.
Dalam sekali hentak, Hyun Jo melompat, menjadikan bahu Sang pemuda beriris hijau sebagai tumpuan kedua untuk menambah ketinggian. Sekali lagi, dia mengulurkan tangan.
"Awas!" teriak sang pemuda beriris mata hijau ketika menyadari seorang pria terbang di atasnya setelah pukulan keras di bahu kiri dirasakannya. Itu adalah bagian pundak yang baru saja dijadikan tumpuan oleh pria itu.
Secara spontan, dia memanjat pagar pembatas, meloncat untuk menangkap tubuh Hyun Jo yang melayang di udara.
"Hyun Jo!" jerit Sina ketika melihat pria asuhannya itu melompat ke tengah sungai.
Mendengar keributan tersebut, Sai yang sedang berdiri di salah satu stand takoyaki pun berbalik badan. Saat itu, dua pria yang berpelukan di udara dalam proses jatuh dari ketinggian yang sepertinya lebih dari tiga meter. Dia sontak berlari dan turut berteriak, "Sanu!"
__ADS_1