Santri Famiglia

Santri Famiglia
Evaluasi


__ADS_3

"Tunggu satu jam lagi," kata Eiji yang ditanggapi anggukan oleh Sai.


Sementara itu, Sanubari berjalan santai menuju ruangan bekas terpakai. Dia masuk sebagai petugas yang membersihkan ruangan.


Sanubari merapikan ranjang, mengganti sprei dan selimut dengan yang baru. Dia juga mengambil semua botol dan suntikan bekas, menggantikannya dengan barang sama, tetapi bekas obat yang seharusnya dipakai.


Semua telah dipertimbangkan masak-masak. Andaikata ada yang memeriksa sebelum atau sesudah sampah dibuang, mereka tidak akan ketahuan telah menyalahi prosedur. Kamera pengawas juga telah dimanipulasi, hanya menampilkan gambar seperlunya, sedangkan gambar lain yang tidak diperlukan dihapus.


Abrizar dibantu Renji melakukannya. Tidak ada satu pun yang terlewat.


Satu jam kemudian, Eiji keluar dari ruangan. Dia menyerahkan laporan hasil otopsi rekayasa pada polisi. Laporan itu ditulis oleh Petamana. Kemudian, polisi pergi.


Setelah cukup aman, Sai mendorong brangkar berisi peti keluar. Dia pergi dengan mobil ambulans. Sanubari menyusul berjarak sekitar lima menit kemudian.


Mereka berhenti di kuburan sepi. Peti dicacah, sedangkan Muktar dipindah ke mobil Sanubari. Selanjutnya, mereka berpisah.


Sementara Petahana dan Fukai masih harus lanjut bekerja menggantikan perawat serta dokter sesungguhnya. Begitu jam kerja berakhir, mereka berdua melaju ke rumah si dokter untuk mengembalikan mobil dan pakaian, lalu pulang. Kelegaan terhgambar di wajah keduanya.


"Tim terakhir aman," lapor Fukai dalam perjalanan.


Eiji menerima pesan itu. Dia langsung menyampaikan pada semuanya. Sanubari bersorak riang.


"Yahu!" dia mengangkat tangan tinggi-tinggi, "Tapi, Kak Muktar belum bangun. Apa dia benar baik-baik saja?"


Sanubari cemas. Dia menoleh pada kamar yang pintunya terbuka. Di sana, Muktar berbaring terlelap.


"Dia kemungkinan baru akan bangun besok. Aku jamin dia masih hidup," kata Petamana.


Dia memiliki keyakinan tinggi. Dia sudah menguji dosiz yang lebih rendah pada tokek. Berawal dari kekesalannya terhadap tokek yang berisik tanpa tahu waktu, Petamana menangkapnya dan menjadikan binatang itu sebagai kelinci percobaan. Hasilnya, tokek masih hidup.


Waktu yang teramat singkat membuatnya tidak bisa melakukan dengan lebih cermat. Dia harus menyelesaikan semua kurang dari dua puluh empat jam. Fakta bahwa tokek masih hidup cukup baginya untuk mengira-ngira bahwa ramuannya cenderung aman.


"Aku sudah memeriksanya. Semua normal. Tapi, mungkin akan lebih baik bila orang dalam bidangnya ikut memeriksa. Kita tunggu seperti apa pendapat Fukai setelah kembali nanti," timpal Juma.


Semua orang berkumpul di satu tempat sore itu. Mereka saling menunggu satu sama lain guna memastikan segalanya berjalan lancar. Mereka juga harus siaga dan siap Andai rekan yang sedang melaksanakan tugas terhadang masalah.


Anki berjalan ke dapur. Dia membuka almari es. Namun, isinya hampir kosong.


"Teman-teman, kita kehabisan bahan makanan. Bisakah kalian menghubungi Paman Fukai dan Kak Petahana untuk belanja?"


"Akan kulakukan." Eiji mendial nomor Fukai lagi. Padahal, panggilan baru saja diakhirinya.

__ADS_1


"Kita perlu membeli kendaraan sendiri. Tidak mungkin selalu meminjam bila kita harus bekerja bersamaan seperti tadi, kan?" celetuk Renji.


Mereka hanya memiliki satu mobil. Itu pun milik ayah Abrizar. Satu mobil tambahan yang mereka pakai merupakan pinjaman dari kepala desa. Sementara motor yang dipakai Renji merupakan pinjaman dari Iman.


pagi-pagi sekali, Renji dan Eiji pergi ke rumah dokter forensik. Renji tetap tinggal. Sementara Eiji naik ojek atas nama si dokter ke rumah sakit.


Setelah urusan dokter forensik selesai, Petamana kembali ke rumah dokter muda. Juma ikut Renji pulang, lalu menjemput Petamana. Mobil ditinggalkan untuk Petahana dan Fukai.


Petahana dan Juma lantas pergi ke rumah sakit. Giliran Juma yang menunggu Sai kembali membawa ambulans. Sementara Petamana ikut satu mobil dengan Sanubari membuntuti mobil ambulans ke kuburan.


Selesai mengambil alih Muktar, mereka menuju rumah dokter forensik, menunggu Eiji kembali. Begitulah kronologi pelaksanaan hari itu. Mereka meminimalisir keterlibatan orang luar supaya jejak tidak mudah dilacak. Karena keterbatasan kendaraan, mereka pun terpaksa mengatur alur sedemikian rupa.


"Aku memang kepikiran untuk membeli satu mobil." Sanubari mengangguk setuju.


"Atau kita bisa membuatnya sendiri."


Eiji tersenyum. Dia belajar banyak hal selama bekerja di BGA. Terkadang, dia datang ke divisi lain untuk mencari inspirasi. Ditambah pengalamannya sebagai teknisi di Yamata, dia lebih dari siap untuk memulai produksi otomotif mandiri.


"Boleh juga. Kita bisa menjadikannya bebas pajak. Semakin banyak kendaraan, pasti banyak pula pajak yang harus dibayarkan, dan pajak mobil itu tidak sedikit. Itu akan menjadi beban pengeluaran yang tidak menguntungkan. Dengan produksi sendiri, kita bisa saja menyembunyikannya dari badan pengawas pajak. Tidak akan ketahuan selama tidak ada yang lapor. Tapi, kita perlu tempat untuk menyembunyikannya," kata Abrizar.


"Kita memiliki lahan luas untuk memarkir lebih dari sepuluh mobil tanpa terlihat orang lain."


Lalu, melanjutkan, "Kalian sudah melihat ini sebelumnya. Tapi, akan kujelaskan lagi sedikit lebih detail untuk mengingat. Area ini akan menjadi kompleks perumahan baru, dan setiap rumah selalu memiliki ruang bawah tanah. Termasuk lorong yang cukup dilewati sebuah tronton. Kita juga bisa memanfaatkan lorong rahasia untuk keluar/masuk area perumahan Sanubari."


Semua orang tercengang mendengar itu. Fanon seolah bisa membaca masa depan. Sehingga, tidak ada yang sia-sia dari desainnya.


"Ini akan menjadi markas sempurna," ucap Renji.


"Pak Kora memang luar biasa," kata Sanubari bertepuk tangan.


"Dan kau, Sanu, tidak masalah membeli satu atau dua mobil. Itu bisa digunakan untuk kepentingan umum guna menghindari kecurigaan. Sementara kendaraan rakitan sendiri bisa kita gunakan untuk urusan tertentu organisasi."


"Ya, mari lakukan itu!" seru Sanubari.


"Eiji, bila kau bisa melakukan terobosan inovatif, kita bisa sukses dalam sektor industri ini," tutur Fanon.


"Aku akan segera melakukan riset pasar." Eiji mengangguk mengerti.


Pergantian topik tiba-tiba membuat Eiji lupa sedang mencoba menghubungi Fukai. Panggilan pertama gagal. Alih-alih mengulang panggilan, Eiji malah tenggelam dalam obrolan.


Anki mengambil ponsel dari Eiji, lalu menelepon sendiri. Dia menggerutu sambil keluar karena mereka sangat berisik.

__ADS_1


"Terima kasih telah bersedia membantu kami Kak Mana, Kak Juma," ucap Sanubari.


"Justru aku yang seharusnya berterima kasih. Berkat kalian, aku bisa menguji coba eksperimenku."


Petamana tersenyum lebar. Dia senang telah mendapatkan kesempatan melakukan percobaan pada manusia lagi. Itu kesempatan yang sangat berharga baginya.


"Jadi, apakah kalian berdua bersedia bergabung dengan kami?" tawar Sanubari.


"Bergabung dengan apa?"tanya Petamana.


"Kami membuat organisasi. Namanya Santri Famiglia."


Sanubari memberi penjelasan singkat tentang organisasinya. Termasuk tujuan sederhana mereka. Dia juga menyebutkan beberapa poin mendasar yang tidak boleh dilanggar.


"Aku akan bergabung selama kau membebaskanku bereksperimen." Itu syarat mutlak yang diusulkan Petamana. Tidak ada alasan baginya untuk menerima tawaran Sanubari bila dia sama terkekangnya seperti saat bersama Petahana.


"Id3m," kata Juma.


"Selama itu bermanfaat untuk organisasi atau tidak menimbulkan keburukan, boleh-boleh saja."


"Itu bisa diatur."


Petamana menjentikkan jari. Mereka mencapai kesepakatan. Juma dan Petamana resmi bergabung.


Tidak lama kemudian, dua mobil masuk ke pelataran. Anki yang duduk di teras, bangkit berdiri. Dia menghampiri dua mobil yang parkir.


"Kak Jin membawa makanan lagi?" tanyanya ketika Jin membuka pintu belakang.


Aroma sedap sesuatu digoreng menyebar di udara. Fukai dan Petahana yang baru turun pun bisa mencium aromanya.


"Ah, iya. Bebek presto goreng. Pernah makan?" Jin mengambil beberapa kantong plastik.


Dia memesan dua belas ekor utuh bebek, nasi uduk, dan es oyen. Kedua tangannya terlalu penuh. Sementara di dalam masih banyak barang.


"Kurasa belum. Itu Mau dikeluarkan semua?" Anki menunjuk barang dalam mobil.


"Iya, itu makanan untuk kita semua."


Tanpa diperintah, Anki mengambil barang yang tersisa. Jin tersenyum melihatnya.


"Wah, sepertinya kita akan pesta makan-makan lagi," komentar Fukai membopong tiga kardus mi instan, "Hana, panggil bantuan! Kita juga perlu pasukan untuk menurunkan belanjaan."

__ADS_1


__ADS_2