
Eiji dan Renji sibuk memasang beberapa perangkat keamanan tambahan dalam ruangan. Sai ikut membantu. Dia duduk di atas tangga, menata senjata-senjata yang mengarah pada pintu masuk dengan sangat teliti. Ketelitian adalah poin penting yang harus dimiliki seluruh anggota tim Eiji.
Sanubari sama sekali tidak diperbolehkan membantu. Dia benar-benar menganggur saat ini. Duduk berselonjor di kursi panjang balkon sebuah kamar mewah, remaja itu menepuk jidatnya sendiri.
"Aku lupa meminta kartu simku."
Dia menatap tiga kontak yang terpampang di ponsel barunya. Hanya tiga nama—Han Sina, Kim Jae Hyun, dan Papa. Sanubari memandang lama nama kontak terakhir. Jelas itu bukan nomor ayahnya. Dia tidak pernah menyimpan nomor Aeneas ke ponselnya.
"Apa yang kupikirkan, huh? Itu pasti nomor ayah Hyun Jo. Ini saja ponselnya."
Sanubari berpindah memeriksa akun lain, mengabaikan rasa aneh yang menyerang hatinya. Dia sudah berusaha keras memberikan pemakluman. Namun, penyangkalan sesekali masih suka timbul tenggelam. Sanubari benci dengan kelabilannya.
Untuk mengalihkan pikiran, dia kembali fokus menjelajahi ponsel Hyun Jo. Email masih atas nama Hyun Jo. Instagram pun sama. Tak banyak yang diunggah lelaki autis itu. Namun, satu foto menarik perhatiannya.
Hyun Jo berpakaian serba putih memakai kalung medali emas, bersandingan dengan sepasang kaki berjin serta memakai sepatu sport. Foto yang aneh menurut Sanubari.
"Kenapa dia berfoto dengan kaki orang? Dasar unik!" Sanubari terbahak, "Aku baru tahu Hyun Jo bisa anggar. Dapat emas pula."
Dia mengetuk foto. Ternyata, akun Jae Hyun ditandai pada kepala peanggar tersebut. Sedangkan namanya sendiri ditandakan pada kaki di sebelah Jae Hyun.
"Kupikir Hyun Jo yang bisa anggar. Ternyata Jae Hyun toh."
Sanubari mengklik akun Jae Hyun. Lebih banyak pengikut dan unggahan. Foto-fotonya lebih normal daripada akun Hyun Jo. Dia menekan Tab foto-foto dari orang lain yang menandai Jae Hyun.
"Wow! Penggemarnya banyak juga."
Digulirnya foto-foto jepretan para penggemar dan wartawan tersebut. Dari ribuan foto yang terpampang, sebuah foto membuatnya tertegun cukup lama. Foto dari akun resmi olimpiade dunia, diunggah sekitar delapan tahun silam.
Foto close up tiga anak kecil berseragam anggar berjajar dalam satu podium. Sanubari tahu benar siapa yang tersenyum lebar mengalungi medali emas di sana.
"Kami pernah bertemu sebelumnya?"
Seakan tidak percaya, Sanubari pun membaca deskripsi di bawah foto. Keterangan tersebut ditulis dalam bahasa Inggris. Yang artinya sebagai berikut :
__ADS_1
+
Inilah para finalis anggar nomor foil tunggal putra tingkat pemula :
Peraih medali emas—Sanubari (Indonesia/10)
Peraih medali perak—Kim Jae Hyun (Korea/11)
Peraih medali perunggu—Andrean Montano (Italia/11)
+
Namanya benar-benar tertulis di sana. Sanubari sampai berulang kali mengerjapkan mata. Dia menggali ingatan saat pertama kali bertemu dengan Jae Hyun. Siapa sangka, setelah bertahun-tahun berlalu tanpa saling mengenal, mereka dipertemukan kembali. Meskipun Sanubari tak benar-benar ingat kapan saja berjumpa dengan Jae Hyun.
Tiba-tiba saja, layar mendadak menjadi putih. Hanya ada lingkaran yang berputar-putar dan tulisan 'Sedang memuat ulang ...".
Enam detik kemudian, layar putih menghilang, menampilkan akun milik Sanubari sendiri. Remaja itu mengernyit.
"Kapan aku pindah akun?"
Sanubari heran. Dia tidak menekan tombol apa pun, tetapi akunnya mendadak bisa ada di sana. Ada tambahan dua pengikut. Dapat dipastikan itu Hyun Jo dan Jae Hyun. Unggahan fotonya juga bertambah. Sementara dia merasa tidak pernah mengunggah apa pun.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Sanubari tergagap.
Foto pertama berisi satu anak kecil, seorang remaja, dan seorang kakek. Itu gambar Zunta, Sanubari, dan kakek Canda. Foto hasil unggahan Zunta.
Foto kedua berisi dua remaja dan kepala pria dewasa. Itu Selfi yang diambil Embara. Di sana, ada gambar Sanubari dan Embara, serta Kelana yang tanpa sengaja terpotret. Pengunggahnya adalah Embara.
Foto ketiga berisi tiga remaja—Kumbara, Embara, dan Sanubari. Kumbara ikut-ikutan mengunggah foto seenaknya ke akun Sanubari setelah tahu Embara melakukannya.
__ADS_1
Foto keempat—foto terbaru. Dalam foto tersebut, berjajar lima orang berdiri di bawah kepiting raksasa. Dari kanan ke kiri—Sai, Sanubari, Hyun Jo, Jae Hyun, dan Sina.
"Apa foto ini diunggah Hyun Jo?" terka Sanubari karena ponselnya dibawa Hyun Jo, "Tapi, bagaimana dia bisa membuat akunku ada di sini?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab. Namun,hal lain mendesaknya untuk memeriksa email. Email Hyun Jo lenyap, digantikan dengan milik Sanubari sendiri yang selesai disinkronisasikan.
Lanjut membuka kontak, nama papa dan Han Sina menghilang. Kontak yang semula hanya tiga nama pun menjadi sebelas—Abrizar, Embara, Handa Mitsuki, Kim Hyun Jo, Kim Jae Hyun, Mitarai Renji, Motohira Saiyuki, Zunta, Paman Kelana, Shiragami Anki, dan Shiragami Eiji.
"Apa ini ponsel ajaib?"
***
Malam kian larut. Tim Eiji lembur tanpa istirahat. Mereka hanya jeda sejenak untuk makan dan minum. Pengerjaan proyek sudah mencapai enam puluh persen. Eiji menguji sebagian yang telah selesai di tengah-tengah pekerjaan.
Inou Chou, Naka ku, Nagoya.
Anki baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk masih menutupi rambut basahnya. Dia berdendang pelan, berjalan ke kursi belajar.
"Semoga besok kami bisa menang," gumamnya setelah duduk.
Gadis itu membaca ulang puisi-puisi yang akan diperlombakan esok. Malam begitu sunyi. Tak ada satu pun binatang musim semi yang mengusik sepi, hingga pintu kamarnya mendadak berbunyi. Sontak Anki menoleh. Dahinya mengernyit heran.
Hari ini, dia tidak menginap di rumah kakeknya. Tidak mungkin itu kakeknya. Tidak mungkin pula ada angin yang bisa menarik gagang pintu.
"Kak Eiji?" panggilnya dengan nada tanya.
Tak ada jawaban. Pintu juga tidak bergerak lagi. Dia mengulangi panggilannya. Namun, tetap tak berbalas. Tidak biasanya sang kakak hanya membuka pintu dan tak jadi masuk ketika pulang.
Karena penasaran, Anki berjalan mendekati pintu kamarnya. Ketika dia membuka lebar pintu dan melongok, tiba-tiba seseorang membekapnya.
Lima detik bergulir sangat cepat. Tubuh Anki terasa lemas, sampai tak bisa memberontak. Kesadarannya melayang, mata pun memberat, hingga dia terkulai tanpa sempat berteriak.
Bersambung ....
__ADS_1
Ada yang ingat apa yang terjadi sebelum Sanubari bertemu pertama kalinya dengan Jae Hyun?
Sepertinya Hyun Jo akan segera mencicipi singkong goreng Sanubari sungguhan.