
"Kenapa rasanya nama Anki ini tidak asing, ya?" batin Sanubari yang masih syok.
Dia berusaha mengingat nama Anki. Jelas di data yang ditunjukkan Abrizar tidak ada. Abrizar hanya memperlihatkan biografi umum tentang Shiragami Eiji tanpa profil rinci keluarganya.
"Jika Anki ini adalah adik Shiragami Eiji, itu berarti nama lengkapnya Shiragami Anki. Shiragami Anki ...."
Sanubari sibuk dengan pikirannya sendiri setengah melamun sekaligus terpesona. Gadis yang dia perhatikan dari jauh, kini tepat berada di depan mata. Gadis itu terlihat makin imut dan cantik diperhatikan dari dekat. Tubuhnya mungil, tingginya mungkin hanya sebahu Sanubari.
Begitu fokusnya Sanubari terhadapnya, sampai Omelan gadis itu sama sekali tidak ada yang masuk ke telinga. Hingga akhirnya Sanubari menyadari sesuatu. Bayangan buku catatan bersampul sakura yang berada di rak masjid mendadak terlintas di kepala.
Sontak saja Sanubari menyentak, "Ah, kau Shiragami Anki yang ingin masuk Islam?"
Tak diragukan lagi, telapak tangan mulus Anki langsung membungkam mulut Sanubari. Sedangkan telunjuk kiri dia letakkan ke depan bibirnya sendiri. Gadis itu celingukan dan tampak gugup.
"Jangan keras-keras!" lirihnya sambil memelototi Sanubari.
Sanubari mengangguk. Sepertinya tebakannya benar. Gadis itu pun melepaskan bungkamannya.
__ADS_1
"Jadi, kalian ini benar-benar penguntit, ya? Sepertinya aku harus melaporkan kalian pada polisi." Anki merogoh saku Hakamanya.
Tanpa rasa takut sedikit pun, Anki mengeluarkan ponsel pintar. Kuil ini adalah wilayahnya. Jika mereka berani macam-macam, Anki tak akan segan untuk berteriak. Sekali teriak, kakak dan para pendeta pasti akan datang menolongnya.
"Kami mohon, jangan laporkan kami pada polisi! Kami ini bukan penguntit."
Refleks Sanubari menangkupkan kedua telapak tangan, menghimpit ponsel dan telapak tangan Anki. Dia sangat panik, takut dijebloskan ke penjara. Padahal, tujuannya saja belum terlaksana. Sanubari tertunduk tanpa berani menatap Anki. Saat menyadari tangannya bersentuhan dengan Anki, Sanubari langsung mengangkat tangan ke atas—persis seperti penjahat yang menyerah.
"Maaf, aku tidak bermaksud ...." Sanubari salah tingkah.
"Lalu, bagaimana kalian bisa tahu itu?" selidik Anki.
"Itu, itu aku membaca catatan mu di masjid Honjin."
Seakan teringat sesuatu, Anki tertunduk, ia meletakkan ujung ponsel ke bibirnya. "Ah, ternyata itu tertinggal di sana. Pantas saja tidak ada."
Anki mengatakannya dengan suara yang sangat lirih, tetapi Abrizar dan Sanubari masih bisa mendengarnya. Abrizar seperti mendapat celah dari reaksi Anki. Sepertinya mereka bisa mendekati Eiji dengan memanfaatkan sang adik.
__ADS_1
"Kami tahu namamu karena tanpa sengaja mendengar percakapanmu tadi. Kebetulan kemarin kami beristirahat di Honjin.," jelas Abrizar diikuti anggukan Sanubari.
Anki perlahan bisa memaklumi keduanya. Apalagi ia sadar kesalahannya sendiri yang telah meninggalkan catatan sembarangan.
"Kami bisa membantumu memahami islam lebih dalam jika memang tertarik. Kau bisa percaya kami," lanjut Abrizar yang masih berusaha mengambil hati Anki.
Lagi-lagi gadis itu mengisyaratkan mereka untuk diam. Ia sangat khawatir akan ada orang yang mendengar percakapan mereka. Itu adalah rahasia terbesar Anki. Tiba-tiba gadis itu mengulurkan tangan.
"Apa?" Sanubari memandang heran pada gadis yang mendadak bersikap aneh.
"Ponselmu mana?"
"Aku tidak punya nomor Jepang."
"Berikan saja padaku!" paksa Anki.
Sanubari pun mengambil ponselnya . Anki lekas menyambar ponsel itu. Tak lupa, dia memoto Abrizar dan Sanubari.
__ADS_1
"Temui aku di Bulan Bali nanti malam jam tujuh jika ingin ponsel ini kembali!" Anki mengangkat ponsel Sanubari, kemudian berlari meninggalkan mereka.