Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pelayaran


__ADS_3

Dua belas jam lamanya Sanubari tertidur. Satu-satunya pemicu kebangunannya adalah rasa lapar. Perlahan dia membuka mata. Namun, kegelapan masih belum berubah.


"Apakah ini masih malam?" pikirnya.


Sanubari mengira bahwa lampu ruangan sengaja dimatikan. Ia ingat bahwa sebelum tertidur dia sedang berada di toko bakeri yang berlokasi di sebrang kafenya. Ia mengobrol bersama dua pemilik toko.


"Zio Zia!"


(Paman, Bibi?)


Namun, tidak ada jawaban. Sanubari sangat lapar. Ia ingin makan tetapi Sanubari sadar bahwa dirinya tidak sedang berada di rumahnya sendiri.


"Sepertinya aku harus pulang. Mamak pasti khawatir kalau aku menginap di rumah orang tanpa izin. Tapi, dimana ya Paman dan bibi? Kok dipanggil tidak nyahut? Ah, sebaiknya aku saja yang mencari mereka," batinnya.


Sanubari pun mencoba untuk bangun. Akan tetapi, jidatnya membentur sesuatu ketika Ia mengangkat tubuh. Alhasil, Sanubari pun kembali terbaring.


"Aw, sakit. Perasaan atap rumah tidak serendah ini. Tapi kok bisa kejedot sih?"


Sanubari mencoba mengingat-ingat dimana ia tertidur. Waktu itu ia langsung tertidur setelah menghabiskan pocasia. Jika pasangan patisier itu tidak memindahkannya maka seharusnya dia masih tertidur di sofa.


"Apa aku jatuh dari sofa lalu masuk ke kolong meja, ya?" tanya Sanubari dalam hati.


Ia mengira sesuatu yang baru saja ditabraknya adalah papan meja. Sanubari pun mencoba menggerakkan tangannya. Ia ingin meraba dan memastikan apa yang ada di atasnya. Namun, tangannya tidak bisa diangkat lebih tinggi. Keduanya juga tidak bisa dipisahkan.


"Ada apa dengan tanganku? Kenapa rasanya seperti diikat?" batin Sanubari yang kemudian berteriak dalam bahasa Italia, "Zio, zia, dove sei? Che cosa è successo veramente?"

__ADS_1


(Paman, Bibi dimana kalian? Apa yang sebenarnya terjadi?)


Sanubari histeris panik. Ia berguling ke kanan tetapi tubuhnya menabrak sesuatu. Ia mencoba bangun lagi tetapi kepalanya tetap membentur sesuatu.


Sanubari beralih berguling ke kiri dan bangun. Namun, hal yang sama terjadi. Kepala dan kakinya pun tetap akan menabrak sesuatu ketika bergerak ke atas atau bawah.


Dia seperti sedang terkurung dalam ruangan sempit. Dia tidak sadar bahwa dirinya sedang berada dalam sebuah peti. Ada beberapa lubang di penutup peti sehingga Sanubari tetap bisa bernapas. Namun, tetap saja tempat itu pengap. Meskipun Sanubari bisa bernapas tetapi dia merasa sesak.


Peti tempatnya terbaring kini berada dalam mobil boks dengan peredam suara. Percuma saja Sanubari menjerit-jerit, teriakannya tidak akan terdengar dari luar. Mobil boks tersebut sekarang berada dalam kapal kargo, berlayar meninggalkan pelabuhhan Livorno menuju pelabuhan Asdot.


Satu hari kemudian, peti diturunkan di sebuah bangunan yang berada di Israel. Dua pria menggotong peti tersebut ke dalam gedung mengikuti seorang wanita. Wanita itu mengetuk pintu lalu masuk begitu dipersilakan. Kedua pria juga membawa peti masuk. Mereka meletakkannya ke lantai tepat di depan meja kerja.


"Buka petinya!" perintah pria yang duduk di belakang kursi.


Lelaki ini adalah Barnabas Boas—presiden Israel yang sedang menjabat. Saat ini dia dalam tahun ke tiga masa jabatannya. Barnabas bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Ia menggunakan bahasa Indonesia karena kedua pria yang mengantar peti itu merupakan warga negara Indonesia yang merantau menjadi TKI.


Salah satu pria itu membuka peti. Barnabas berdiri lalu melangkah mendekati peti. Ia melihat Sesosok bocah beriris mata hijau dengan masker menutupi mulutnya. Barnabas berjongkok dan membuka masker bocah itu.


"Ternyata Gafrillo memiliki anak yang sangat tampan." Barnabas tertawa senang.


Sanubari terkulai lemas. Dia tidak makan dan minum nyaris dua hari. Sedangkan keringat terus bercucuran. Wajah dan bibirnya pucat pasi. Dia dehidrasi.


Sanubari bisa mendengar ada orang yang berbicara. Akan tetapi, dia tidak tahu siapa. Pandangannya masih gelap total.


"Haus, lapar," ucap Sanubari dengan nada yang sangat lemah sampai nyaris tidak terdengar.

__ADS_1


"Hey, kalian!" Barnabas menatap dua pria pengantar peti Sanubari.


"Iya, Bos!" jawab mereka.


"Apa kalian tidak memberinya makanan?"


"Tidak, Bos. Kami menerimanya dalam keadaan tidak sadar. Jadi, kami pikir tidak perlu memberinya makanan."


"Apa yang sudah kalian lakukan? Cepat carikan makanan untuknya! Aku tidak ingin bocah ini mati," perintah Barnabas.


"Baik, Bos!" Kedua pria itu langsung keluar ruangan.


Agnela, ambilkan minuman itu lalu minumkan pada bocah ini!" Barnabas menunjuk segelas air putih di meja.


"Baik, Pak Presiden."


Agnela mengambil segelas air putih. Ia berjongkok di sebelah Barnabas, membantu Sanubari duduk lalu meminumkan air padanya. Sanubari menenggak air tersebut hingga tandas.


"Terimakasih. Paman, Bibi, dimana ini? Kenapa kita gelap-gelapan?" Sanubari memaksakan diri untuk bertanya. Sebab, menurutnya tempat ini aneh. Ada beberapa orang berkomunikasi tetapi ruangan tetap dibiarkan gelap total.


"Gelap?" Agnela menoleh pada Barnabas Tidak mengerti.


"Tempat ini sangat terang, Bocah. Semua lampu dinyalakan," kata Barnabas.


Sanubari mengernyitkan alis. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Namun, semuanya tetap gelap. Dia juga tidak bisa melihat keberadaan orang yang berbicara padanya.

__ADS_1


"Terang apanya? Tempat ini gelap gulita begitu loh!" balas Sanubari.


__ADS_2