
Sanubari merasa dikhianati. Dia ingin memukul senyum Fang yang tampak licik. Namun, yang mampu tubuh Sanubari lakukan hanyalah menggelinjang.
"Mari kita lihat seberapa tangguh imunitasmu!"
Suara itu terdengar menyebalkan. Padahal, Sanubari sudah memberikan kepercayaan, tetapi kepercayaan itu dihancurkan secepat ini. Sekali lagi, tubuhnya harus menerima beban menyakitkan dari hasil eksperimen manusia. Terakhir kali, Sanubari sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya menjadi ringkih dan sangat lemah.
Sanubari benci kondisi seperti itu. Entah apa lagi yang akan terjadi ketika imunnya berhasil memenangkan peperangan dalam tubuh kali ini. Kelumpuhan, koma, atau kematian. Sanubari sama sekali tidak mengharapkan satu pun dari mereka. Dia memelototi Fang.
"Kenapa? Sakit? Kau tidak perlu memasang wajah seperti itu, Sanu! Tenang saja! Di sini ada penawarnya!" Fang duduk santai sambil terus memasang senyum.
Ingin sekali Sanubari meminta penawar itu. Sayang, mulutnya terasa sangat berat. Jangankan membuka untuk mengeluarkan suara, mengerang pun tidak bisa. Lelah teramat seolah mengunci pita suara. Tubuhnya membatu bersama hujaman rasa sakit.
"Ah, tapi tidak secepat ini!" Fang menggeleng, melihat arloji, "kita harus melakukan desensisasi. Kau juga tidak akan senang bila meminum penawarnya sekarang, iya, kan, Sanu?"
Fang terdengar makin menyebalkan. Sanubari tidak mengerti perkataan Fang. Terselip kata-kata asing di dalamnya.
Tubuh Sanubari terasa sangat dingin. Kendati demikian, keringat terus bercucuran dari sekujur pori-pori, sementara organ dalamnya terasa sangat kering. Bibirnya perih. Sekujur tubuhnya ngilu. Kepalanya berdenyut-denyut nyeri. Matanya pun sakit seperti orang dengan gejala rabun yang berusaha membaca. Itu teramat menyakitkan dan melelahkan. Hingga akhirnya, kesadaran Sanubari terenggut.
Sanubari tidak tahu berapa lama dirinya pingsan. Saat terbangun, jantungnya berdebar sangat cepat. Tubuhnya berguncang dan lemas. Guncangannya sangat kencang sampai Sanubari pikir gempa sedang terjadi, padahal itu murni tubuhnya yang gemetaran. Dalam kesadaran yang masih setengah mengawang, Sanubari mendengar pertengkaran.
"Cara kuno seperti itu tidak seharusnya dipakai."
"Ini sudah diterapkan secara turun temurun dan selalu berhasil."
"Tapi, Kek, dalam dunia medis ...."
"Jangan samakan aku dengan orang kolot yang sembarangan memakai herbal tanpa pengetahuan hingga menjadi racun pembunuh tanpa disadari! Aku jelas tahu apa yang kulakukan dan dosis yang tepat."
"Ketahanan setiap manusia berbeda. Mana bisa Kakek samakan dengan Kakek dan leluhur kakek."
"Ah, sudahlah! Kau ini datang-datang mengganggu saja. Pergi sana! Kembali ke klinikmu! Kasihan para orang tua kalau disuruh menunggu terlalu lama gara-gara kau hanya duduk-duduk disini."
__ADS_1
"Aku tidak akan pergi sampai Kakek membiarkanku merawat Sanu."
"Tidak akan pernah kubiarkan kau menghambat desensisasi!"
"Menyingkirlah, Kakek Fang! Ini permintaan Iyan. Aku yakin Iyan juga berpesan untuk menjaganya pada Kakek, bukan menyiksanya. Iya, kan?"
"Cih, dasar murid kurang ajar itu! Bisa-bisanya dia meragukan gurunya sendiri."
"Pengkhianatan tidak mengenal status dan ikatan."
Mereka terus beradu mulut tanpa menyadari Sanubari yang mulai membuka mata. Sanubari melihat Fang yang berdiri di atas sofa. Kaki kiri Fang bersentuhan dengan lengan Sanubari. Kaki kanannya berperang dengan kaki kiri Patrick, sedangkan kedua tangannya menahan tangan-tangan Patrick. Patrick berdiri di atas meja, berhati-hati untuk tidak menginjak nampan makanan. Dia bertatapan sengit dengan Fang.
"Dokter Patrick?" ucap Sanubari lemas.
Fang dan Patrick melihat ke bawah. Mereka saling bertatapan dengan Sanubari.
"Nah, Nak, kau lihat sendiri, kan? Sanu tidak apa-apa. Jadi, singkirkan jarummu!"
"Baiklah. Tapi, aku akan tetap memeriksanya, lalu membawanya ke klinik untuk pemeriksaan lebih lanjut." Patrick turun dari meja. Dia duduk di seberang Fang dan Sanubari.
Fang membantu Sanubari bangun. "Ayo sarapan dulu, Sanu! Kau harus makan dengan teratur supaya tidak terkena masalah lambung."
Sanubari menatap Fang curiga. Si kakek tersenyum seolah adegan peracunan tidak pernah terjadi.
Kejadian itu masih jelas dalam ingatan Sanubari. Meski tidak ingat kapan berpindah ke sofa, Sanubari sangat yakin adegan keracunan itu bagian dari kenyataan. Tatapan sangsi menyelidiki ekspresi Fang sebelum akhirnya jatuh ke semangkuk salad dan sepiring ikan.
Melihat gelagat curiga Sanubari, Fang lekas berkata, "Makanan itu tidak beracun."
Tetap saja Sanubari enggan menyentuhnya. Dia tidak ingin terjebak untuk kedua kalinya. Betapa bodohnya ia bila sampai keracunan berturut-turut dari orang yang sama.
"Patrick, cicipi semuanya!"
__ADS_1
"Kenapa tidak Kakek sendiri saja?" Patrick melotot pada Fang.
"Oke-oke. Sanu, aku akan mencicipi makanan ini bila kau tidak keberatan berbagi alat makan dengan kami. Patrick juga akan mencicipinya supaya kau lebih percaya."
Fang mulai memotong ikan. Dia juga menusuk salad dengan garpu. Kemudian, Patrick melakukan hal yang sama. Keduanya mengunyah dengan tenang. Mereka pun tampak tidak ragu ketika menyuap makanan.
Setelah memastikan Patrick dan Fang baik-baik saja, Barulah Sanubari mau makan. Dia sudah lapar berat.
"Maaf sudah mengejutkan dan menakutimu. Tapi, perlu kau tahu bahwa aku tidak akan pernah membunuhmu meski setelah ini aku memberikan minuman yang sama seperti tadi lagi."
Sanubari terkesiap. Dia sontak menunjuk Fang dengan garpu berikan. "Aku hanya tanpa sengaja membunuh kuda kesayangan kakek. Aku juga sudah janji untuk mengganti rugi. Tapi, kenapa Kakek malah ingin balas dendam dengan menyiksaku seperti tadi?"
"Jangan salah paham dulu! Kau ingat salah satu tantangan yang sudah kuberitahukan, kan?"
"Aku tahu tantangan ini hanyalah kedok balas dendam kakek."
"Sama sekali bukan. Bagaimana lagi aku harus menjelaskan padamu?" Fang mendecak, "coba bukalah catatan tantanganmu! Aku yakin di sana pasti tertulis tentang jarum beracun. Supaya lebih aman dalam melakukan itu, kita harus membuat tubuh kebal racun. Itulah yang sedang kulakukan padamu. Tidak lucu bila kau sampai terluka karena senjatamu sendiri, kan?"
"Caramu itu terlalu berbahaya, Kek," cegah Patrick. Dia menatap Sanubari yang mengunyah pelan.
Tampaknya, Sanubari sedang berpikir. Tawaran Fang terdengar menggiurkan meski berisiko tinggi. Bila dia berhasil meningkatkan sistem kekebalan, Sanubari tidak perlu lagi takut akan ada orang yang diam-diam meracuninya. Dia bisa menjadi orang terkuat.
"Aku sudah pengalaman dengan ini. Ini sama sekali tidak akan membahayakan jiwamu, Sanu. Lihatlah! Buktinya, kau masih bisa makan, kan?"
"Benar juga." Sanubari tidak bisa membantah fakta yang diungkapkan. Tenaganya berangsur pulih walau makanan yang dibawakan Fang tidak mengenyangkan. Nafsu makannya malahan bertambah."
"Kau pasti tidak akan pernah bisa bangun lagi bila aku ceroboh, Sanu. Tapi, terserah! Pilihan ada di tanganmu. Bila kau menolak, perjanjian kita otomatis batal. Sama sekali tidak ada ruginya bagiku. Justru kau yang rugi besar karena menolak melanjutkan ini."
"Apakah itu benar-benar akan membuatku kebal dari jenis racun apa pun?"
"Um," Fang mengangguk, "semua jenis racun. Kau bahkan tidak akan mudah sakit bila tubuhmu mampu beradaptasi dengan baik dan menembus ke level imunitas yang lebih tinggi."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan melaakukannya! Tapi, sebelum itu, boleh tambah makanan? Aku masih lapar." Sanubari cengengesan.