
Keluar dari halaman Wongso. Jin dan dua rekannya menyusuri jalan desa. Mereka memeriksa denah kuburan dengan teliti.
Beberapa jalan ditutup sementara. Terdapat palang kayu bertuliskan 'Sedang ada pembangunan.' dan penunjuk jalan alternatif. Jin menoleh ke luar jendela, memperhatikannya.
"Ada pembangunan apa di sana?" tanyanya.
"Denger-denger sih pemuda pulkam yang membangun rumah. Namanya Sanubari."
"Sanubari yang dulu pernah kita culik?" selidik Jin yang langsung menoleh.
Hanya satu Sanubari yang dia kenal. Bocah udik yang menghilang sejak tujuh tahun yang lalu. Sejak peristiwa penembakan di Saugertis, Sanubari tidak pernah lagi muncul di olimpiade. Padahal, Sanubari berturut-turut meraih medali emas dan Jin selalu bertemu dengannya dalam acara kumpul atlet.
"Entahlah, tapi dia terkenal. Dia banyak membantu warga di masa-masa pandemi. Banyak warga yang menjual tanah padanya. Kami sudah bertanya pada warga sebelum kau tiba."
"Hei, lihat! Ada tiga kuburan di sana!"
Rekan Jin yang duduk di kursi belakang menunjuk satu arah. Namun, mobil terlanjur melewatinya. Tuas perseneling pun digerakkan ke belakang. Mobil dimundurkan, masuk ke halaman terbuka, lalu parkir di sana.
Ketiganya keluar mobil. Mereka berjalan ke kuburan yang berjajar.
"Kuburan ini masih baru. Tanggalnya menunjukkan kalau mereka mati kemarin," kata Bas—salah satu rekan Jin.
Sementara itu, Jin membaca catatan kematian. Di sana tertera nama Kirman sekeluarga dan dua orang lain.
"Apa ada satu kuburan lain di sekitar sini?"
"Sayangnya, tidak ada, Jin," jawab Bas mengedarkan pandangan.
"Baiklah, untuk keluarga lain, mari datangi rumah mereka. Lalu, siapa pemilik tanah ini? Wongso atau orang lain?" Jin menutup buku dan menyimpannya.
Tidak ada di antara dua rekannya yang tahu. Mereka pun berjalan kaki menuju rumah yang berdiri tidak jauh dari lahan tersebut. Mereka mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, seorang wanita menggendong bayi muncul.
"Maaf, numpang tanya, Mbak. Kebetulan, saya tertarik membeli tanah. Kira-kira, tanah di pertigaan itu milik siapa, ya?" Jin menunjuk arah barat laut.
__ADS_1
"Oh, yang ada kuburannya itu?" Wanita itu melihat lahan yang pohonnya sudah ditebang semua.
"Iya," kata Jin mengangguk.
"Wah, kalau itu milik Sanubari, Mas. Saya tidak yakin itu dijual. Dengar-dengar sih sudah diwakafkan untuk pemakaman warga. Sebaiknya, Mas cari saja tanah lain kalau mau beli."
"Wah, sayang sekali. Padahal, lokasinya strategis untuk bisnis."
Jin berterima kasih, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah berikutnya. Mereka harus mencari jalan memutar karena jalan tembus ditutup sementara.
"Berarti tinggal mencari tahu tentang hubungan Wongso dan Sanubari, ya?" tanya Bas.
"Kurang lebih seperti itu. Seharusnya, kalian sudah melakukan ini untukku kemarin. Kenapa harus menungguku?"
Jin menyangga kepala. Siku ditumpukannya pada pintu. Titik merah pada navigasi terus bergerak mendekati tujuan. Bas sesekali melirik monitor yang menempel pada dashboard.
"Maaf, kami tidak kepikiran melakukan cara ini." Bas tertawa.
"Pantas saja kerja kalian selalu lambat," cibir Jin.
Tuan rumah menerima niat baik itu. Setelah memberitahukan lokasi dan berbasa-basi sejenak, dia terpancing untuk menjelaskan, "Biaya kuburan di sini sangat mahal, Mas. Saya habis lima ratus juta untuk menguburkan. Belum lagi, biaya hajatan tujuh hari berturut-turut untuk almarhum. Tabungan sampai ludes. Coba saja kalau Sanubari kembali ke desa ini lebih awal, sudah saya makamkan Bapak ke lahannya supaya tidak makan biaya."
Ketika menuju rumah berikutnya, tanggapan serupa mereka dengar. Keluarga almarhum mengeluhkan mahalnya biaya pemakaman dan nama Sanubari selalu saja dibawa-bawa.
"Kalau dikubur ke tanah sendiri, kena denda dua kali lipat biaya pemakaman. Ya, mending saya kuburkan ke tempat mereka to? Siapa sih yang bikin kebijakan mencekik rakyat seperti ini? Huh, gemes rasanya. Mau saya remet-remet para antek itu biar jadi nugget sekalian."
Ibu itu mengepalkan tangan kanan, memukul-mukulkan ke telapak tangan kiri, lalu memperagakan meremas dengan kedua tangan. Mukanya jutek. Intonasi bicaranya meledak-ledak.
Jin merekam semua isi percakapan dengan para ibu rumah tangga. Itu akan dia jadikan bukti untuk menulis laporan ke atasan.
"Jadi, benar kalau dia korupsi, ya? Mau langsung eksekusi besok?" simpul Bas.
Mereka meninggalkan rumah terakhir. Mobil melaju pelan menelusuri jalan yang disinari cahaya kekuningan. Jin menyipit karena silau.
__ADS_1
"Tidak perlu terburu-buru. Biarkan mereka menikmati hari! Besok, sebaiknya kita cari yang namanya Sanubari dulu."
Jin masih penasaran apakah itu Sanubari yang dia kenal atau bukan. Beberapa orang memiliki nama yang sama. Meskipun dia tidak pernah bertemu ataupun mendengar tentang Sanubari lain, tetapi dia tidak tahu itu orang yang sama atau bukan sebelum melihatnya secara langsung.
"Oh, jadi, kau ingin mengeksekusi si Sanubari ini sekalian?" tanya rekan Jin yang satunya lagi sok tahu.
Jin hanya diam, membiarkan perjalanan berakhir tanpa percakapan lebih lanjut. Kedua rekannya ikut bungkam. Mereka melihat ekspresi Jin yang serius, entah apa yang sedang dipikirkan ketua mereka itu.
Sementara itu, hari kedua Sanubari dipenjara, dia merasa pusing. Untuk mengusir pening yang mengganggu, dia berdiri dengan kepala terbalik, menjadikan tangan sebagai pengganti kaki. Sejak kemarin, dia tidak minum obat. Obat yang disita polisi dari Abrizar sama sekali tidak diserahkan padanya.
Sanubari berusaha mengurangi rasa cemasnya. Dia meyakinkan diri bahwa Abrizar dan yang lain pasti bisa menemukan cara untuk membebaskannya.
Bersamaan dengan datangnya dua nasi kotak jatah makan malam, tahanan baru dimasukkan ke jeruji—satu ruangan dengan Sanubari. Perhatian Sanubari tertuju padanya. Tahanan baru itu memakai peci putih, baju koko putih, sarung kotak-kotak biru. Tangan kanannya memegang tasbih putih yang terus diputar.
"Makan dulu, Mas!" tawar Sanubari.
Pria itu mengantongi tasbih, lalu mengambil nasi kotak. Dia duduk di sebelah Sanubari.
"Mas kenapa dimasukkan ke sini kalau boleh tahu?" tanya Sanubari mencoba mengakrabkan diri.
"Saya difitnah menggauli beberapa santriwati dan membunuh salah satu dari mereka."
"Jadi, Mas ini ustaz? Berapa usia Mas?"
"Bisa dibilang begitu. Saya baru dua puluh satu tahun. Nama saya Muhtar."
"Aku Sanubari. Sembilan belas tahun. Kok bisa difitnah gitu? Memangnya polisi tidak menyelidiki kebenarannya?"
"Entahlah. Semua bukti yang ditemukan katanya mengarah pada saya. Korban yang ditanya pun mengaku bahwa sayalah pelakunya. Padahal, demi Allah saya tidak pernah melakukan perbuatan yang dimurkai Allah semacam itu."
"Sabar, ya Mas! Kalau bisa keluar dari penjara ini, akan kugantikan para polisi kurang cerdas itu supaya tidak ada lagi tragedi salah tangkap." Sanubari percaya dan merasa kasihan pada Muhtar.
"Kamu sendiri kenapa bisa sampai masuk penjara?"
__ADS_1
"Masalah kuburan." Sanubari tertawa canggung.