Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kejahatan yang Dikacaukan


__ADS_3

"Kembalikanuangku!"


Wongso menggebrak meja kustomer service. Dari pagi, dia mengantre untuk mengurus tabungan yang bocor. Namun, teller selalu menolak dengan alasan yang sama.


"Maaf, Pak. Sebenarnya, mau Anda ini apa? Anda ingin mengambil uang, tetapi tidak ingin melakukan penarikan."


Teller masih berusaha menjaga sopan santun, meski sedikit kesal. Sejak tadi, mereka hanya berdebat kusir. Yang dibicarakan itu-itu saja.


"Mbak bisa baca ini, kan?"


Wongso mengangkat buku tabungan yang baru keluar dari mesin cetak..


"Bank harus mengembalikan satu miliar ini ke rekening tabunganku."


Andai Wongso tidak memakai mbanking, mungkin dirinya tidak akan sadar uangnya telah terkuras sebanyak itu. Dia merasa tidak pernah melakukan transaksi, tetapi uangnya bisa tertransfer dengan sendirinya ke sebuah akun asing.


Teller memperhatikan itu. Dia tersenyum lebar, memaklumi orang desa yang menurutnya kurang pandai di hadapannya ini.


"Bapak, itu Anda mengirimkan sebagian uang Anda pada badan amal. Tentu total tabungan Anda berkurang. Pihak bank sama sekali tidak berkewajiban mengembalikan setiap nominal yang Anda keluarkan untuk pihak lain."


"Tapi, aku tidak pernah melakukan transaksi ini. Ini pasti karena sistem bank yang jelek. Makanya, pencurian model begini bisa terjadi."


Wongso masih bersungut-sungut. Tidak akan dia biarkan pihak bank lepas tangan begitu saja. Mereka harus bertanggung jawab. Mereka harus mengganti uangnya yang hilang entah ke mana.


Meski terus disudutkan, teller itu mencoba mencerna kalimat Wongso. Berbicara dengan orang emosional memang sulit. Dia harus pandai-pandai memilah informasi.


"Maksud Bapak, Bapak salah transfer? Baiklah, tunggu sebentar! Akan saya bantu menghubungi bank terkait untuk pengembalian uang."


Teller tersebut mengambil buku tabungan Wongso. Dia memindainya hingga muncul data tabungan Wongso dan riwayat transaksi.


"Seharusnya dari tadi seperti ini 'kan enak."


Wongso manggut-manggut. Akhirnya, komplainnya dilayani juga.


Teller sibuk berkutat dengan komputer. Dia mengernyit heran ketika melihat data bank.

__ADS_1


"Ini aneh. Saya tidak bisa menemukan data apa pun tentang tujuan pengiriman."


Karena ketiadaan data tersebut, pengembalian dana pun tidak bisa diproses lebih lanjut. Teller lain yang menangani kasus serupa pun menemukan hal sama. Mereka kebingungan menghadapi persoalan ini.


Bukan hanya Wongso yang mendadak kehilangan uang. Sekretaris walikota, pejabat lain, serta beberapa orang di seluruh negeri mengalami nasib serupa.


Sementara bank ramai dengan permintaan pengembalian uang dan tabungan ke rekening baru, beberapa orang mengucap syukur. Mereka mendapat kiriman dana dari instansi tidak dikenal. Jumlahnya sebanding dengan biaya pengobatan yang pernah mereka keluarkan selama pandemi. Ada yang kehilangan sejumlah uang, ada pula yang menerima.


Kepala desa asal Sanubari juga mendapatkan sejumlah dana bersama pesan dari tanpa nomor. Pesan tersebut berisi tentang bagaimana dana tersebut harus diperlakukan. Terlampir nama-nama korban wabah berikut dengan alamat.


Hari itu juga, kepala desa langsung mengambil tunai dan membagikan uang tersebut sesuai amanah. Mayoritas dari mereka memang tidak memiliki rekening. Jadi, perlu pemberian secara langsung untuk penggantian rugi atas wabah.


Beberapa orang acak terpilih untuk mengemban tugas serupa. Kejadian itu langsung viral.


"Terima kasih, Malaikat Allah yang telah mengembalikan rezeki kami."


"Puji Tuhan! Tidak pernah terpikir sebelumnya, akan ada orang yang dengan tulus memberikan santunan ke seluruh korban wabah seperti kami."


"Ini luar biasa! Saya tidak menyangka biaya pengobatan akan dikembalikan seutuhnya seperti ini."


Tidak hanya itu, media dan kepolisian juga mendapatkan pesan aneh tentang wabah. Kantor-kantor terkait menjadi gempar karenanya.


"Pak, haruskah kita membuktikan isi pesan ini atau biarkan saja seperti surat kaleng tidak berguna?"


"Wabah ini sudah gila. Pesan ini lebih gila lagi. Mungkin ada orang stres yang iseng untuk melampiaskan hasrat konyol mereka."


Polisi itu geleng-geleng. Sulit mempercayai sesuatu ketika apa-apa dengan mudahnya dijadikan candaan demi konten bercuan.


"Tapi, jika laporan ini memang benar, bukankah kita telah membiarkan mafia kesehatan itu meraup banyak untung dengan berpura-pura menyembuhkan virus yang mereka sebar sendiri?"


Mereka terdiam sejenak. Pendapat itu ada benarnya. Kejahatan terselubung ini benar-benar tanpa cela. Andai tidak ada pesan misterius itu, kepolisian tidak akan tahu tentang kepalsuan ini.


Kompetensi mereka sebagai aparat penegak hukum mungkin akan diragukan bila penyebar pesan misterius itu mengumumkan bahwa polisi tidak mau bertindak meski telah mengetahui faktanya. Itu tidak bisa dibiarkan. Polisi akan kehilangan muka bila itu terjadi.


"Siapkan pasukan! Kita akan menyergap lokasi yang tertera dalam pesan. Kita tidak bisa membiarkan capres nomor dua menjadi pemimpin negeri ini bila dia memang terlibat dalam konspirasi wabah yang melanda Nusantara."

__ADS_1


Keputusan itu diambil di akhir diskusi para petinggi kepolisian. Mereka langsung berangkat begitu pasukan terbentuk. Sesampainya di lokasi, para polisi tersebut benar-benar menemukan berpeti-peti cairan. Mereka belum tahu apa, tetapi menyitanya. Satpam dan penghuni rumah pun diringkus.


Tanpa menunggu hari berikutnya, mereka melakukan uji lab terhadap berbotol-botol cairan. Ternyata, itu sungguh cairan sumber wabah dan obatnya. Penyelidikan berlanjut dilakukan sesuai petunjuk dari pesan rahasia. Mereka tidak lagi meragukannya setelah penemuan pertama itu.


Capres nomor dua dan tim suksesnya turut digerebek karena terbukti terlibat. Polisi menemukan animatronik yang digunakan untuk menyebarkan wabah di rumah konselor capres. Aplikasi pengendalinya pun ditemukan di ponsel pria itu.


Ajidaya seakan tidak percaya. Dia kehilangan jejak di mana aifka kecil itu, tetapi bisa mendadak muncul begitu saja. Setiap oknum lain yang terlibat diciduk satu per satu.


Di sebuah kantor, seorang pria geram dengan penangkapan masal ini. Meski belum seluruhnya, tetapi agen dari daerah ke daerah terungkap satu demi satu.


"Bagaimana bisa ketahuan? Apa yang membuat mereka bertindak begitu ceroboh?"


Pria itu marah-marah. Kerugian yang diderita pastinya tidak main-main akibat penangkapan ini.


Pria lain di ruangan tidak berani buka mulut. Dia sendiri tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi.


"Bungkam media ember itu! Jangan sampai berita ini tersebar sampai ke luar negeri! Juga hubungi Haidar untuk menangani ini dari dalam! Aku tidak ingin kerugian lebih banyak lagi," lanjutnya.


Masalah ini benar-benar membuatnya pusing. Rencananya gagal total. Dia kehilangan sumber dana yang lumayan besar.


"Saya rasa akan sulit bagi Haidar sendiri untuk menyamarkan ini."


"Lakukan saja!" perintahnya tidak mau tahu.


"Baik, King!"


Berita tersebut telah tersebar ke seluruh negeri. Mereka yang belum tertangkap langsung menghapus aplikasi pengendali untuk menghilangkan bukti. Namun, daftar nama mereka telah berada di tangan beberapa polisi yang tepat. Kendati demikian, tidak semua polisi jujur. Ada di antara mereka yang sengaja melenyapkan daftar tersangka.


Burhan menjadi salah satu yang gelisah dan tidak bisa tidur setelah mendengar berita tersebut. Walaupun dia sama sekali tidak menyentuh aifka, tetap saja kekhawatiran itu ada.


"Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin ada yang menyadari wabah ini hanyalah buatan?"


Burhan mondar-mandir di kamar. Semua ini terdengar tidak masuk akal. Padahal, distribusi wabah sangat rapi. Seharusnya, tidak akan ada orang yang menyadari tentang rekaan itu.


"Mungkinkah ada pengkhianat?"

__ADS_1


Burhan hanya menerka-nerka. Baru saja dia merasa senang dendamnya terbalas beberapa hari yang lalu. Kini, kesenangan itu berubah menjadi momok. Dia berharap tidak akan masuk ke dalam daftar pembersihan polisi.


__ADS_2