
Salawat masih dikumandangkan. Pertarungan tidak terelakkan. Sebelas lawan tiga bukan hal yang menakutkan. Satu orang hanya perlu menghadapi tiga atau empat orang.
Tentu Eiji, Sai, dan Renji tidak bermaksud menyerah tanpa perlawanan pada mereka yang datang-datang mengatakan hal tidak masuk akal. Eiji langsung mencengkram pundak salah satu yang mengambil cangkul.
"Kami susah payah menggali lubang-lubang ini. Tidak akan kubiarkan kalian menguruknya tanpa digunakan."
Eiji merebut cangkul, lalu menendang. Pria asing itu kehilangan keseimbangan. Tak ayal, dia pun terjatuh ke dalam lubang.
Seorang lainnya menyerang dari titik buta Eiji. Tak pelak, Eiji pun terhuyung karena kepalanya terkena pukulan. Namun, dia lekas berbalik badan, menghindari serangan berikutnya.
Ketiga orang Jepang itu sibuk mengurusi musuh masing-masing. Sai berdiri tidak jauh dari lubang. Cangkul juga di sebelahnya. Dia menarik tangan orang yang maju, menendang keras perutnya dengan lutut sampai pria kampung itu melotot karenanya. Dia tidak segan-segan menjatuhkan satu per satu yang menyerang ke dalam lubang.
Tidak diragukan lagi, orang paling bawah dapat dipastikan pingsan akibat tertimpa rekan sendiri. Sai menendang siapa pun yang mencoba naik selama dalam jangkauan.
Iring-iringan jenazah sampai bingung ketika tiba. Lubang yang seharusnya digunakan untuk mengubur jenazah telah penuh dengan gelimpangan manusia.
"Bagaimana ini Pak Kades?" tanya iman menoleh pada pimpinan desa itu.
Warga menurunkan tandu dadakan yang hanya terbuat dari jalinan bambu. Kerandanya pun terbuat dari lengkungan bambu. Sementara kain penutupnya hanya selimut dan selendang. Semua serba apa adanya. Sebab, mustahil meminjam kelengkapan keranda ke pemakaman terdekat.
Tempat itu dikelola satu orang yang mengurusi perjenazahan. Tempat lain pun sama. Tidak ada istilah pinjam meminjam. Mereka harus membayar bila ingin memakai. Bukannya enggan menyumbangkan biaya perawatan yang menjadi masalah, tetapi harga sewanya teramat mahal.
Masalah yang menjadi momok masyarakat selama ini. Menguburkan jenazah itu lebih sulit daripada mencari uang untuk makan. Sampai sekarang, permasalahan tersebut belum terpecahkan.
Sanubari mendengar itu semua sepanjang jalan mengantar jenazah. Dia sengaja kembali bersama iring-iringan jenazah. Ketika barisan terus mengucapkan 'lailahailallah' sambil jalan, seorang warga mencurahkan keluh kesahnya pada Sanubari di barisan paling belakang bersama Abrizar.
"Alhamdulillah, ada inisiatif dari anak pemuda seperti kamu, Dik. Ini memang waktunya melakukan pemberontakan. Negara memang sudah merdeka, tapi kami masyarakat kecil belum merdeka. Kami masih dalam Kungkungan penjajah dalam negeri. Sungguh ironis, bukan?
__ADS_1
"Musuh kita bukan bangsa lain, melainkan bangsa sendiri. Revolusi kuburan harus ditegakkan! Kapan pun kalian memulai revolusi kuburan, hubungi saya! Insyaallah akan saya bantu semampu saya."
Ucapan bapak itu sebelum sampai kuburan tentu menciptakan senyum pada bibir Abrizar dan Sanubari. Revolusi kuburan terdengar lucu di telinga Abrizar. Sementara Sanubari memang berniat melakukan itu dalam waktu dekat.
Melirik penuh penyesalan ke lubang yang telah terisi, Eiji melontarkan pembelaan, "Maaf, tadi mereka memaksa untuk meratakan kembali kuburan yang telah digali. Waktu kami cegah, mereka melawan. Jadi, kami terpaksa meladeni dan tanpa sadar sudah seperti itu."
Mendengar itu, warga mulai berkasak-kusuk. Gangguan rupanya datang sampai sejauh itu. Sebelum memberangkatkan jenazah saja keranda sempat dirusak. Untungnya, membuat yang baru atau memperbaiki tidak membutuhkan waktu lama. Mereka lekas bekerja setelah perusak pergi.
Sebelumnya, mereka harus berpura-pura membubarkan diri supaya mereka mau pergi, lalu kembali setelah dirasa aman. Warga juga dengan suka rela membawa selimut dan jarik untuk mengganti kain penutup keranda yang sudah menjadi perca.
"Ma–maaf, Pak Kades, saya harus pulang! Baru ingat ada urusan. Permisi!"
Seorang bapak keluar dari kerumunan dengan tergesa. Jelas itu bukan karena sungguh memiliki keperluan lain, melainkan karena ketakutan mulai mengambil alih. Mereka takut akan terdampak proses pemakaman menyalahi aturan ini.
Dua orang lain pun diam-diam juga kabur. Mereka tidak berani terlibat lebih jauh.
Dengan ragu dan pelan, seorang warga berkata, "Tapi, bagaimana kalau mereka menyerang?"
Orang yang tersisa berkeringat dingin. Kecuali, Sai, Eiji, Renji, Sanubari, dan Abrizar. Orang-orang yang pernah mendengar kisah Idris dan Rudy mendadak memucat.
"Biar kami saja yang memindahkan jika kalian takut," usul Renji.
Iman hendak membantu. Namun, seorang bapak yang mengatakan tentang revolusi kuburan mencegah. Itu ayahnya. Meskipun dia senang jika pemberontakan terjadi, tetapi masih ada sedikit jiwa pengecut dalam diri. Semua orang mengambil jarak.
Hanya Sanubari dan teman-temannya yang berani maju. Sai berpasangan dengan Sanubari. Sementara Renji dan Eiji. Dalam kondisi seperti itu, Renji dan Sai paham yang harus dilakukan.
Keduanya menjadi orang pertama memastikan keadaan para orang asing. Mereka memukul titik vital siapa pun yang masih setengah sadar hingga pingsan, lalu menyerahkannya pada Sanubari dan Eiji. Mereka menyeretnya menjauh.
__ADS_1
Warga buru-buru menurunkan jenazah karena khawatir orang-orang itu akan segera sadar begitu kuburan kosong. Sampai ada yang hampir lupa membuka tali pocong. Untungnya, kepala desa mengingatkan.
Mereka saling bergantian menurunkan jenazah. Sementara yang lain menimbun tanah ke lubang yang sudah diisi mayat.
"Ah, ada yang kabur," ucap Sanubari. Pandangannya tertuju pada pria yang lari lintang pukang, meninggalkan rekan yang masih pingsan.
Kepala desa hanya menoleh sekilas lalu berkata, "Biarkan saja! Lanjutkan pemakaman supaya cepat selesai!"
Semua orang langsung pergi begitu jenazah terakhir. Kecuali, kepala desa, Iman dan ayahnya, serta Sanubari sekawan. Iman dan sang ayah sedang menguruk kuburan.
Sanubari merasa miris melihat perlengkapan pemakaman darurat. Keranda dadakan dibiarkan tergeletak begitu saja. Iman mengambil selimut dan jarik yang dijadikan penutup keranda, lalu berpamitan begitu pekerjaannya kelar.
Tidak ada doa lagi untuk para jenazah. Kepala desa mengajak Sanubari sekawan ke rumah. Mobil pun mereka tinggalkan di sana usai ibadah.
Enam orang itu berjalan santai meninggalkan kuburan. Sanubari menoleh ke belakang.
"Apa tidak apa-apa meninggalkan orang-orang itu tetap di sana?" tanya Sanubari, berbagai prasangka memenuhi kepala.
"Biarkan saja! Memangnya kamu mau apa? Menyadarkan mereka?" tanya balik kepala desa.
"Bukannya begitu. Maksudku, bagaimana kalau mereka merusak atau bahkan membongkar kuburan ketika sadar nanti?" balas Sanubari.
Sai, Eiji, dan Renji tampak seperti petani baru pulang dari sawah atau ladang. Mereka memanggul cangkul, mendengarkan percakapan itu. Sedangkan ember ditumpuk jadi satu, dibawa kepala desa.
"Insyaallah aman. Kalaupun itu memang terjadi, kita bisa memperbaikinya nanti," ucap kepala desa.
"Sebenarnya, aku bermaksud membangun pos untuk menyimpan perlengkapan pengurusan jenazah di lahan tadi. Apa Pak Kades bisa membantu mencarikan warga yang mau dengan suka rela menjadi pengurusnya?"
__ADS_1
"Wah, itu sulit, NU. Kalau juragan itu ... kamu tahu siapa yang saya maksud itu masih di sini, jangan harap bakal ada warga yang bersedia!"