
Sang menteri berlari menghampiri Damiyan yang mendorong brangkar. Pria itu mengira yang terbaring di atas ranjang beroda sebagai salah satu dari anaknya. Saat menyibak dengan perasaan kalut, rupanya hanya wajah asing yang didapati sang menteri.
"Kenapa dia dibawa keluar? Bagaimana dengan operasinya?" Sang menteri menoleh ke pintu yang telah tertutup kembali.
Tidak ada yang bisa dilihat dari sana karena untuk mencapai ruang operasi, mereka masih harus berjalan lurus, berbelok, lalu membuka pintu lain. Dia tidak bisa tenang sebelum mendengar kabar baik dari dokter. Kedua anaknya sedang menjalani operasi besar saat ini. Tingkat keberhasilannya hanya setengah. Tentu itu menjadi pikiran sang menteri.
Asisten perawat menelengkan kepala. Respons sang menteri tampak bertentangan dengan keterangan Damiyan. Dia pun berkata, "Pak, bukannya Anda yang ...."
Damiyan lekas menyela, "Operasi berjalan lancar."
Perhatian sang perawat teralihkan. Dia melihat darah yang merembes ke kain penutup, lalu menambahkan, "Ah, benar. Kami sudah berhasil memindahkan jantungnya pada putra Anda."
"Jantung? Mati aku!" batin Damiyan. Pandangannya terjatuh pada noda darah pada kain penyelubung. Damiyan berkeringat dingin mendengar kabar pengangkatan jantung itu.
Bagaimanapun, jantung merupakan organ vital. Tanpa jantung, sudah pasti manusia akan meninggal karena peredaran darah berhenti total. Meski Damiyan sudah tahu kemampuan regenerasi tubuh Sanubari, dia tetap cemas karena ini berkaitan dengan organ vital.
Di saat yang bersamaan. Dua ajudan tersungkur. Mereka menoleh. Dari tikungan, Sai muncul. Ajudan lain bergegas berlari untuk menghadang Sai.
Itu mengingatkan Damiyan pada tujuan semula. Hidup atau mati itu belum pasti. Dia harus segera membawa Sanubari pergi sebelum masalah yang lebih merepotkan datang. Terlalu dini memvonis kematian Sanubari dengan kondisi tubuhnya yang langka.
"PAk, kami harus segera menyembunyikan aset ini sebelum dia mengalahkan mereka."
Damiyan mendorong brangkar ke elevator. Mereka berjalan ke kamar jenazah tanpa halangan. Perawat yang menyertainya memeriksa Sanubari. Dia mengelap darah dari dada Sanubari, lalu menempelkan telinga ke sana.
"Ini ajaib! Baru kali ini, aku melihat orang masih bisa hidup setelah jantungnya diambil."
"Syukurlah." Damiyan menghela napas lega. Dia menarik kain yang menyelimuti Sanubari.
Dengan cepat, dia mengikat tangan si perawat ke belakang. Kaki perawat itu tertekuk, diikat ke dekat tangan menggunakan kain yang semula menutupi Sanubari.
Perawat itu berteriak-teriak meminta tolong. Damiyan bergegas meninggalkannya sambil memanggul Sanubari. Di ujung lorong, Patrick telah menunggu Damiyan. Lelaki itu membimbing Damiyan menuju mobil ambulans yang telah disiapkan.
Sanubari dibaringkan di belakang. Damiyan mengendarai mobil tersebut keluar dari rumah sakit, sementara Patrik menyusul dengan mobil. Patrick menjaga jarak dengan Damiyan.
Ambulans terus melaju melewati jalan bebas hambatan menuju jalur terlupakan di sebuah lembah. Tiada satu kendaraan pun yang lalu lalang. Damiyan berhenti di SPBU terbengkalai. Dia keluar dari mobil.
__ADS_1
Angin menggerakkan rambutnya. Matahari telah naik. Teriknya mulai menghangat. Damiyan menyugar. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Patrick belum terlihat dari jalan yang terbentang di hadapan.
Di sisi lain, sesaat setelah Sanubari dilarikan, Sai yang diberi tahu Sanubari telah dibawa pergi pun mundur dari pertarungan. Para ajudan mengejar. Namun, ketika melihat Sai menuju tempat parkir, mereka berhenti mengejar.
Salah satu dari mereka melapor, "Orang asing tadi sudah pergi, Pak."
Pada saat itu, seorang dokter berdiri di hadapan sang menteri. Dia baru saja mengatakan sesuatu pada sang menteri. Mendengar laporan tersebut, sang dokter menyahut, "Kalau begitu, operasi kedua bisa kita lanjutkan sekarang. Saya khawatir organ lainnya akan rusak karena jantungnya sudah kita ambil bila tidak segera dilakukan."
"Kalian, bawa kembali jasad tadi kemari!" perintah sang menteri.
"Di mana dia?" tanya seorang ajudan.
"Biar saya suruh seorang perawat untuk menjemputnya di kamar jenazah," kata dokter.
Dia bergegas masuk ke ruangan. Seorang perawat pria muncul. Dua ajudan mengikutinya untuk berjaga.
"Pak, apa ini tidak aneh?" kata seorang ajudan.
Koridor rumah sakit menjadi lebih tenang sejak kepergian Sai. Beberapa ajudan duduk bersandar dinding. Ada yang memegangi pipi karena terkena tendangan sol sepatu Sai. Mereka beramai-ramai, tetapi tidak mampu mengalahkan Sai yang seorang diri.
"Orang tadi begitu kekeh ingin diizinkan kemari, tapi kenapa mendadak pergi begitu saja?"
Sang menteri tidak berpikir sampai sana. Dia terlalu senang mendengar keberhasilan operasi sang putra. Keributan yang ada bukanlah apa-apa dibandingkan kabar baik yang diperoleh. Tinggal satu operasi lagi dan putrinya juga akan memiliki kehidupan baru.
"Biarkan saja! Yang penting, operasi berjalan lancar!"
Namun, tak berselang lama setelah ucapan itu, ajudannya berlari tergesa dari elevator yang berdenting terbuka. "Pak, pemuda itu hilang!"
"Siapa yang hilang?"
"Tubuh yang seharusnya menjadi donor itu dibawa kabur oleh salah seorang perawat yang membawanya dari sini."
"Apa?" sang menteri melotot, "kalian, kejar sebelum jauh! Lakukan segala cara untuk menemukannya!"
Dia sudah membayar mahal untuk mendapatkan Sanubari. Ditambah lagi, tubuh Sanubari sangat kompatibel untuk dijadikan pendonor. Dia tidak akan melepaskan Sanubari begitu saja.
__ADS_1
"Pengacau tadi pasti bekerja sama dengan penculik itu," kata ajudan yang masih menemani sang menteri.
Para ajudan lain telah meninggalkan lantai itu. Mereka menyisir area luar rumah sakit. Damiyan sudah tidak terlihat lagi. Mereka melacak jejak pria pembawa Sanubari itu dengan melihat kamera pengawas.
Damiyan melakukan scot jump sambil menunggu Patrick. Bunyi mesin menderu mendekat. Damiyan menoleh. Yang terlihat bukan mobil, melainkan pengendara bermotor.
Pengendara itu berhenti di sebelah Damiyan. Saat dia melepaskan helm, Damiyan mengenalinya. Itu salah satu teman Sanubari.
"Yang kamu bawa itu temanku." Sai menunjuk ambulans di belakang Damiyan.
"Oh, dari mana kau bisa tahu aku membawa seseorang dalam mobil itu?" Damiyan menoleh ke belakang.
Itu cukup mengherankanya. Damiyan sudah cukup waspada sepanjang perjalanan. Dia memeriksa sepion berkala. Bahkan, sepanjang jalan sebelum berbelok rute Damiyan yakin tidak ada kendaraan yang mengikuti, apalagi sebuah motor. Dia tertampar fakta bahwa rekan Sanubari memiliki kemampuan pengintaian lebih andal.
'"Itu tidak penting. Aku tidak tahu siapa kamu, tapi kuharap kamu mau menyerahkan jasadnya padaku baik-baik," kata Sai tersenyum. Dia siap dengan jawaban apa pun. Bila Damiyan menolak, Sai akan merebutnya paksa.
"Ah, mungkin dia menempelkan alat pelacak ke pakaiannya. Seharusnya, aku melucuti semua sebelum membawanya pergi. Untung yang datang ini sungguh teman Sanubari," batin Damiyan.
Tentu saja dugaannya itu salah. Pakaian Sanubari sudah diganti dengan pakaian operasi yang lebih steril sebelum masuk ruang operasi. Damiyan tidak memperhatikan itu.
Menit belum berganti sejak Damiyan berpikir demikian, raungan baling-baling terdengar. Damiyan dan Sai mendongak. Helikopter terbang mendekat.
Sai mengerjap karena sinar aneh mengenai matanya. Dia lekas berlari. Sebutir peluru melesat. Butir lain berdenting mengenai badan mobil.
Damiyan buru-buru masuk mobil dan menyalakan mesin. Dia menginjak pedal gas maksimal. Tangan kirinya memegang kemudi selagi tangan kanan berusaha menghubungi seseorang dengan arloji canggih.
"Abaikan saja rekannya! Kita harus menghentikan sopir ambulans itu terlebih dahulu!" kata seseorang dalam helikopter.
Penembak jitu beralih sepenuhnya pada Damiyan. Tembakan demi tembakan diluncurkan. Namun, semua meleset karena Damiyan terus bergerak.
Peluru-peluru berjatuhan mengenai aspal, kaca, kap mobiil. Oli menetes-netes akibat peluru menembus wadah bahan bakar.
"Ayo cepat angkat!" Damiyan melirik cemas pada bahan bakar yang berkurang secara tidak normal.
Tiba-tiba, ban belakang meledak. Damiyan mengendalikan kemudi supaya mobil tidak terguling. Lajunya terseok-seok. Kemudian, kap mobil mengalami ledakan ringan. Penutup depan mobil itu terangkat. Mesin tersendat-sendat. Dari sepion, tampak bagian belakang mobil yang terbakar. Damiyan berlari keluar. Dia terempas, terdorong pintu ambulans yang terlepas dari rangkanya. Mobil tersebut meledak dan terbakar.
__ADS_1