
"Sanu, kau tahu apa itu yang disebut penculik?" tanya Sai.
"Tahu. Orang yang menyekap orang lain di suatu tempat, lalu memberikan makanan lezat. Setelah dibiarkan menginap, mereka akan memulangkan orang yang diculik. Seperti keadaan kita ini, kan? Tapi, mereka penculik pelit. Dari pagi hanya memberi kita sebotol air mineral dan dua bungkus roti. Mereka harus belajar menjadi penculik yang baik supaya orang yang diculik seperti kita ini betah," cerocos Sanubari dengan sangat yakin.
Dia melahap roti dengan kesal. Belum habis jatah Sai dikunyah, milik Sanubari telah ludes digasak. Dia lantas melompat-lompat ke Pintu. Tangannya menarik-narik gagang.
"Sudah kuduga, terkunci," katanya.
Perhatian Sanubari lantas tertuju pada jendela bundar yang mengekspos pemandangan lautan. Segalanya tampak biru. Mereka jauh dari pulau.
Sai mencoba memaklumi jawaban Sanubari. Dia sudah pernah melihat Sanubari menganggapnya dan yang lain sebagai belalang. Barang kali, otak Sanubari memang memiliki kelainan. Sehingga, tidak mengherankan bila nalar Sanubari agak melenceng dari orang pada umumnya meski sudah sebesar itu. Begitulah simpul pikiran Sai.
Akan tetapi, Sai merasa perlu memberi tahu yang sebenarnya. Sai bukan orang yang seratus persen baik. Dia pernah melakukan kejahatan. Meskipun begitu, Sai paham konsep baik dan buruk yang berlaku di masyarakat.
"Sebagian pengertianmu itu salah, Sanu. Tidak ada orang yang suka menjadi korban penculikan."
"Siapa bilang? Buktinya, aku senang diculik." Balasan itu meluncur enteng dari mulut Sanubari. Kemudian, dia melompat berbalik badan. "Mungkin, aku salah menilai mereka. Sepertinya, mereka hendak mengajak kita jalan-jalan. Mereka mungkin bersikap seperti itu untuk memberi kita kejutan, lalu menyuguh kita dengan banyak makanan lezat setelah berlabuh nanti."
Andai Sanubari ingat pernah menjadi korban penculikan sampai menyebabkan matanya buta, pendapat semacam itu mungkin tidak akan keluar dari mulutnya. Sayang, semua kenangan buruk itu telah terhapus dari memorinya.
"Kesimpulan macam apa itu?" batin Sai heran.
Dia sampai berhenti mengunyah. Sungguh penasaran batin Sai tentang siapa gerangan yang telah mengajarkan mengenai penculikan terhadap Sanubari. Orang itu pastilah juga bisa mendidik Sanubari menjadi penjahat dengan mudah, dan Sanubari tidak akan pernah sadar bahwa tindakannya itu tergolong kejahatan.
__ADS_1
Sementara itu, Sanubari melompat ke arah pintu lain. Pintunya tidak terkunci. Akan tetapi, itu hanyalah kamar mandi.
"Tidak ada yang namanya penculikan itu disebut baik, Sanu. Kau ingat misi perdanamu menyelamatkan Kouhei?"
"Apa bedanya? Dia juga disekap dalam ruangan, kan? Andai kita tidak datang pun dia pasti diperlakukan dengan baik." Sanubari melompat-lompat, kembali duduk di sebelah Sai.
"Bagaimana dengan waktu Anki hilang?" kata Sai.
Pria itu mulai agak bingung memberi contoh. Menngajar memang bukan keahliannya. Kendati demikian, dia bukan orang yang akan mangkir dari tanggung jawab.
Karena waktu itu setengah demam, Sanubari tidak begitu ingat bagaimana perasaannya. Dia hanya ingat samar-samar bagaimana kondisi Anki saat dia temukan.
"Waktu itu Anki disekap di kamar mewah. Lebih nyaman dari tempat ini."
"Sanu, perlu kau tahu bahwa penculikan Anki waktu itu menyebabkan pertumpahan darah. Jangan menyela!" kata Sai. Dia tidak ingin penjelasan menjadi rancu karena selaan Sanubari. "Penculikan itu pasti tujuannya buruk. Kalau baik, bukan penculikan namanya. Penculik mencari korban itu bisa dijadikan untuk mengancam pihak tertentu, meminta tebusan, dijual sebagai budak atau bahkan organ dalamnya. Kemungkinan paling baik hanya dijual untuk diangkat anak pihak tertentu yang membutuhkan. Jadi, mereka membawa kita berlayar sekarang bukan untuk berwisata."
Sai kehabisan kata-kata. Berbicara dengan Sanubari Ternyata lebih sulit dari bernegosiasi dengan rekanan yang pernah diurusnya.
"Pengertianmu itu sudah tercampur aduk, Sanu. Jika kau ingin Santri Famiglia berkembang sesuai visi, maka kau harus belajar membedakan atau menyaring mana yang baik dan buruk! Kau harus melatih mental mu supaya bisa memahami itu dengan benar! Asahlah kepekaan dan kekritisan pikiranmu!" tutur Sai.
Sanubari menggumam, "Kak Sai mulai terdengar seperti Kak Abri."
"Apa pun anggapanku sekarang, kita akan tetap pergi dari sini nanti malam," pungkas Sai.
__ADS_1
Siang tanpa kegiatan terasa bergulir lama. Sanubari hanya melakukan skot jump beberapa kali, lalu kembali duduk. Itu membuatnya tambah lapar. Jadi, Sanubari menahan diri untuk tidak banyak bergerak.
Malam pun tiba. Sai mengeluarkan silet. Dengan itu, dia memotong borgol yang membelenggu dirinya dan Sanubari. Kemudian, diserahkannya silet pada Sanubari selagi dirinya sendiri mengaktifkan peralatan mata-mata kecil yang semula disembunyikan di balik lidah sepatu.
Sai memakai sarung tangan. Sebuah nano cip dimasukkannya pada logam pelindung pada punggung sarung tangan. Dari logam itu, terpancar hologram.
Itu merupakan panel kontrol yang bisa juga digunakan untuk berkirim pesan. Sai sudah meminta Abrizar untuk memprogram sistem transmisinya sehingga bisa digunakan di mana pun. Itu merupakan hasil kolaborasi dadakan pertama mereka. Sai berharap itu bisa bekerja dengan baik. Dengan hologram itu, Sai mengirim pesan pada Abrizar.
Sai berpikir bahwa Eiji dan Renji mungkin sedang sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Mereka tidak akan menyadari ada pesan masuk bila terlanjur berkonsentrasi. Hanya Abrizar yang selalu siaga walau sama-sama sedang bekerja. Tidak lain, tidak bukan karena gadget Abrizar bersuara seperti manusia yang mengumumkan sesuatu. Jadi, pria itu bisa cepat tanggap ketika ada pesan penting masuk.
Sai tidak menunggu jawaban. Dia lekas mematikan hologram, lalu menyimpan alat yang belum terpakai ke lidah sepatu lagi. Di depan pintu, Sanubari masih menyisir pintu sedikit demi sedikit. Lembar demi lembar berdenting seperti kayu yang diserut. Hingga akhirnya, pintu jebol.
"Tahu begini, kubawa serta baksilku. Jadi, kita tidak kerepotan memakai satu silet seperti ini."
Sanubari mengembalikan silet pada Sai. Semua barangnya tertinggal di mobil. Malam itu, Sanubari hanya berbekal sarung tangan yang berpasangan dengan kacamata. Namun, kacamata itu hilang saat dia pingsan.
Usai Sai menyimpan kembali silet, mereka keluar. Keduanya berjalan biasa mencari sekoci. Sampai di tempat sekoci, Sai menyingkirkan palang pengaman, melepas pin pengaman dan kabel daya.
Sanubari berdiri bingung melihat Sai yang bergerak ke sana kemari memindahkan ini itu. Sanubari sama sekali tidak tahu apa saja yang dilakukan Sai. Dia dilarang bertanya untuk menjaga ketenangan.
"Naik!" titah Sai.
Sanubari masuk ke sekoci. Sementara Sai masih harus mengurus Dewi-dewi SEbelum ikut naik. Lima menit berselang, sekoci berhasil mendarat di permukaan air. Sai mengemudikannya menjauhi kapal kargo.
__ADS_1
"Selamat tinggal kapal penculik pelit!" jerit Sanubari sengaja ditahan.
Dia senang bukan main. Sanubari tertawa-tawa hanya karena menemukan banyak makanan dalam sekoci. Tanpa membaca bungkusnya, Sanubari langsung membuka dan memakannya.