Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kembali


__ADS_3

"Sopo Kowe melu-melu?" tanya salah satu pria.


Mereka kesal dengan keterlibatan Sanubari. Apalagi, Sanubari terlihat asing. Kulit, mata, wajahnya sama sekali tidak seperti orang Asia pada umumnya.


"Tidak penting. Jika kalian tidak mbeli tanah nenek ini, maka aku yang akan beli."


Ucapan Sanubari sangat tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Muka preman mereka sama sekali tidak membuatnya takut.


"Kau ini tuli apa tuli? Kau tidak dengar? Dari tadi, kami sudah mau membeli. Nenek ini saja yang merepotkan, minta ini/itu," teriak salah satu pria. Intonasinya meledak-ledak. Padahal, tanpa mengeraskan suara pun semua orang bisa mendengar.


Sanubari tidak menanggapi. Itu sama sekali tidak penting. Melayani orang-orang macam mereka sama halnya membuang waktu.


Jadi, Sanubari mengalihkan pandangan pada wanita tua, lalu berkata sekali lagi, "Nenek, aku bersedia membayar dua ratus juta. Bagaimana? Apa nenek setuju? Kita bisa bernegosiasi jika Nenek kurang berkenan."


Wanita tua itu terbengong, seakan tidak percaya dengan yang baru saja didengar. Rumah yang tidak laku lima puluh juta, kini ditawar empat kali lipat lebih tinggi.


"Hei Bocah Tidak Punya Etika, jangan main serobot! Kami yang menawar terlebih dahulu. Kamilah yang berhak membeli!" hardik salah satu pria.


Dia mencengkram pundak Sanubari, membuat pemuda itu berbalik padanya. Kehadiran Sanubari benar-benar mengacaukan segalanya.


Semua orang keluar dari rumah. Pono dan istri, Pak RT, Pak Kades, Sai, serta Renji—mereka berdiri di pelataran tanpa terlibat dialog.


Mbok Jum masih seperti orang linglung. Matanya tidak berkedip melihat Sanubari.


"Nenek ini masih menjadi pemilik yang sah. Jadi, biar nenek saja yang memutuskan akan menjual pada siapa."


Sanubari tersenyum. Dia ingin mencoba seperti Sai yang senantiasa tersenyum setiap saat. Seseorang dalam alam bawah sadar mengajarkan padanya bahwa dia tidak perlu takut selama benar.


"Bagaimana, Nek?" lanjutnya menoleh pada Mbok Jum.


"Aku akan menjual tanah dan rumah pada anak muda ini saja."


Suara Mbok Jum sedikit bergetar dan lemah. Tersirat ketakutan dalam ekspresinya. Dia tertunduk saat mengatakannya, terlampau ciut bila sampai bertemu pandang dengan dua pria itu. Mbok Jum sendiri tidak yakin apakah keputusannya ini benar.


Namun, dari segi ekonomi, tawaran Sanubari tentu lebih manusiawi. Dia masih bisa menyambung hidup dengan sisa penjualan tanah setelah dipotong biaya pengobatan.

__ADS_1


"Anak muda siapa yang kamu maksud, Nek?" tanya Sanubari memastikan.


Kata-kata Mbok Jum itu terdengar multitafsir. Dia tidak ingin dianggap gede rasa.


"Sampeyan, Le. Sampeyan yang matanya hijau," jawab Mbok Jum pelan, masih dengan menunduk.


"Kalian dengar sendiri, kan? Nenek ini akan menjualnya padaku. Jadi, kalian boleh pergi jika tidak ada urusan lagi," pungkas Sanubari.


Dua pria itu tidak bisa membalas. Mereka hanya diberi tugas untuk menawar tanah sesuai harga yang telah ditetapkan. Menaikkan harga bukanlah wewenang mereka. Dengan terpaksa, keduanya pun pergi.


"Pak Kades, apa ada yang punya mobil di sini? Jika boleh, aku mau sewa untuk mengantar cucu nenek ini ke rumah sakit."


Suara itu masih bisa didengar oleh kedua pria yang menjauh. Mereka mengingat baik-baik ciri-ciri Sanubari. Siang itu juga, mereka menuju sebuah rumah di sebelah kuburan.


Wongso duduk di teras, menghadap kuburan ditemani kopi hitam dan gorengan. Menyaksikan mayat-mayat dikuburkan selalu menjadi hiburan baginya.


"Hari ini, lima warga meninggal lagi, tetapi baru tiga lahan yang berhasil kita ambil alih. Kebanyakan ahli warisnya berada di luar desa. Jadi, sisa lahan tidak berpenghuni belum bisa diproses lebih lanjut," lapor Subagio sang sekretaris.


Laporan yang tidak menyenangkan. Namun, tiga puluh kematian yang terjadi belakangan ini membuatnya cukup puas. Kemarahannya bisa ditahan dengan keuntungan yang masuk.


"Seharusnya, kalian bekerja lebih keras lagi. Apa kalian sudah melakukan apa yang kuperintahkan dengan benar?" tanya Wongso yang kemudian mengepulkan asap dari mulut.


Kedua pria yang turun dari motor langsung memberikan penghormatan pada Wongso. Mereka menceritakan peristiwa yang baru terjadi. Begitu mendengar kabar itu, Wongso langsung naik pitam.


"Siapa yang berani-beraninya menganjlokkan harga pasar kita?"


Wongso meninggikan suara. Dia benar-benar geram. Rencananya terancam gagal gara-gara seorang cecunguk yang mendadak muncul.


"Kami juga tidak tahu. Sepertinya warga baru. Yang jelas, matanya hijau."


"Mata hijau?"


Sementara itu, di desa lain, Baron melepas helm. Elang yang bertengger di pohon karet terbang turun. Pria berblangkon itu mengangkat lengan kiri, membiarkan elang mendaratkan cakar pada lengan berlapis jaket kulit.


"Ada apa, Kawan? Sudah lama kau tidak kembali."

__ADS_1


Dia menggantung helm pada setir, turun dari motor, berjalan masuk rumah sambil mengusap puncak kepala elang tersebut. Rumah bernuansa Jawa itu tampak sepi. Sekeranjang buah-buahan tersaji di tengah meja.


Elang terbang, mendarat ke atas meja, lalu menggelindingkan apel merah dengan kakinya. Baron mengedarkan pandangan.


Kemudian, dia berteriak, "Sulih!"


Dalam tiga panggilan, seekor burung kecil terbang dari belakang rumah. Itu burung beo. Beo bernama Sulih tersebut bergabung dengan elang di atas meja. Mereka mencuit, berkakak, bercakap-cakap dengan bahasa burung.


Baron duduk di kursi depan mereka. Meraih pisau, dia memotong-motong buah menjadi kecil. Elang mematuk potongan-potongan tersebut, memakannya. Hewan yang seharusnya tergolong karnivora itu memang sudah dilatih makan buah dan sayuran sejak lahir.


"Anak itu kembali," ucap Sulih Si beo setelah menelan sepotong apel.


"Anak itu?" tanya Baron menatap elang yang sibuk makan apel.


Burungnya yang satu ini memang pernah ditugaskan untuk satu hal. Dia melarangnya kembali jika tidak mendesak atau ada alasan lain yang mengharuskannya pulang.


"Iya, dia ada di kota ini. Dia ada di kota ini," celoteh Sulih sambil mondar-mandir.


Berpotong-potong apel kemudian, Burhan tiba. Baron mempersilakan pria itu masuk.


Tanpa basa-basi, dia berkata, "Pak Wali Kota, anak itu ada di kota ini lagi."


"Anak siapa?"


Burhan tampak kebingungan. Dia memang sering berkonsultasi pada Baron, tetapi tidak pernah membahas masalah anak akhir-akhir ini.


"Bocah pembawa sial yang menyebabkan kematian keponakan Anda sekitar sembilan tahun yang lalu," Jelas Baron.


Dia ingat tugas apa yang diberikannya pada si elang. Tugas tersebut merupakan tugas lanjutan karena Burhan tidak puas dengan hasil pertama. Wanita itu berhasil selamat, meski sekarang Sudah meninggal.


Burhan mengenang masa lalu. Hatinya bergolak ketika mengingat betapa putus asanya keponakan perempuannya kala itu. Gadis itu tampak muram. Dia kehilangan harapan. Dia kehilangan masa depan.


Sebagai wali sah, Burhan tidak tega melihat keponakannya seperti itu. Hatinya sakit, luka menyaksikan nasib pedih yang menimpa sang keponakan.


"Di mana dia berada?" tanya Burhan.

__ADS_1


Tahun demi tahun telah berlalu, tetapi dendam itu masih ada dalam dada. Kabar tentang dia memantik api dendam yang telah padam. Dia tidak bisa melepaskannya begitu saja.


Sulih si burung beo menyahut, "Di desa ....""


__ADS_2