
Di dojo kediaman Akamizu.
"Aku tidak bisa membiarkan Anki pergi bersama tuan Kim." Jawaban Eiji itu tidak bisa diganggu gugat.
Dia tahu siapa itu Kim Jong Hyun. Walaupun Jong Hyun dikenal sebagai dermawan berhati malaikat di permukaan, Eiji tidak bisa percaya begitu saja terhadap lelaki itu. Di Balik sisi teduhnya, ia—Kim Jong Hyun telah menebarkan neraka bagi sebagian orang.
"Tuan Kim itu orang terpandang, kaya raya. Tidakkah kau pikir Anki akan bahagia bersamanya?" Shima bertanya dengan penuh ketenangan.
Satu anak panah melesat lurus, menancap tepat di tengah papan target. Eiji menurunkan busur seraya menggeleng.
"Aku tidak ingin adikku dijual."
Satu anak panah terlepas dari jari Shima. Lelaki itu mengumpat pelan karena anak panahnya meleset jauh dari titik tengah. Kemudian, dia membalas, "Tuan Kim terlihat tertarik dengan adikmu. Tatapannya pun berbeda dengan saat dia memperhatikan wanita yang kita serahkan padanya untuk diperdagangkan. Mungkin tuan Kim menginginkan adikmu bukan sebagai budak, melainkan ingin menjadikannya sebagai pendamping. Bukankah itu bagus?"
Eiji mengeratkan pegangan pada busur dan anak panah lain yang baru saja diambilnya. Dia risih dengan pembicaraan ini. Akan tetapi, dia harus menemani Shima bermain panahan dan melanjutkan percakapan.
"Tuan Kim bahkan seumuran orang tua kami. Aku tetap tidak bisa melepas Anki padanya."
__ADS_1
"Ayolah Eiji! Bukan hanya Onyoudan yang akan untung bila kau merelakan Anki. Orang-orang bahkan akan lebih menyeganimu dengan terjalinnya hubungan di antara kalian."
Shima membujuk Eiji dengan sangat hati-hati. Dia sengaja tidak menggunakan intonasi paksaan dengan harapan Eiji akan melunak. Namun, Eiji sama sekali tidak terpengaruh dengan berbagai iming-iming yang ditawarkan Shima.
Satu lagi anak panah meluncur dari tangan Eiji. Itu adalah anak panah keempat yang lagi-lagi tepat sasaran. Kali keempat pula dia akan melontarkan penolakan.
"Tuan Shima, bukankah Anda berjanji untuk tidak menyentuh keluargaku? Kurasa pembicaraan ini sudah cukup jelas sampai sini. Maaf, aku juga harus segera ke Yamata. Permisi!"
Tanpa mengurangi rasa hormat, Eiji membungkuk sebelum meninggalkan Shima. Lelaki itu berjalan ke tempat penyimpanan perlengkapan. Dia meletakkan busur, melepas sarung tangan serta pelindung dada dengan kegusaran yang ditahan bercampur kerisauan.
Seharian itu, Eiji tidak fokus dengan pekerjaannya. Pikirannya penuh dengan Anki. Sedetik pun dia tak bisa mengusir kelebatan bayangan gadis kecilnya dari benaknya.
Sembilan tahun selama kiprahnya di organisasi yang tak jauh berbeda dari SM ini, perdamaian terbukti menyertai keluarganya. Dia bisa melihat Anki tertawa, menjalani keseharian normal bersama-sama teman sekolahnya. Itu adalah kebahagiaan yang ingin Eiji lihat.
Tak seperti biasa, waktu masih menunjukkan pukul tiga sore, tetapi Eiji sudah ada di rumah. Padahal, dia tidak melaksanakan misi dini hari seperti sebelumnya. Sejak memasuki pintu depan, lelaki itu sudah memanggil nama adiknya.
"Anki!"
__ADS_1
Dia terus melangkah ke dalam, mengusik kesunyian ruangan hanya untuk mencari jawaban satu gadis. Satu per satu ruangan diperiksanya dengan seksama. Tidak ada siapa pun di rumah dua lantai itu.
Eiji berdiri lama di kamar Anki. Tepatnya di depan meja belajar gadis itu. Pandangannya terjatuh pada buku tebal berkaligrafi aneh bagi Eiji.
Dia mengambil buku tebal seperti kamus tersebut. Beberapa lembar dibaliknya. Terdapat liukan-liukan yang terkadang saling terhubung dengan ornamen-ornamen di atas bawah. Ada yang menyerupai handakuTen, titik, garis vertikal, garis horizontal, bahkan alfabet w dan hiragana te pun ada. Eiji tidak bisa membacanya. Netra gelap itu beralih ke huruf Jepang yang tertulis di sebelahnya—saling bersandingan. Eiji membacanya.
"Watashitachi wa Anata ni nomi agame tsukae, Anata ni nomi tasuke wo koi negau. Watashitachi wo Tadashii michi ni michibiki tamae. Anata ga omegumi wo kudasareta hitobito no michi ni, Anata no ikari wo ukeshi mono mata fumi mayoeru hitobito no michi dewa naku."
Yang artinya 'Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.'.
Surat pertama itu sesuai sekali dengan kondisi Eiji saat ini. Maniknya bergerak ke atas dan bawah, mengulang bacaan. Tetap saja dia tidak bisa mencerna makna rangkaian kalimat itu seutuhnya. Dia menutup buku tersebut dalam ketidak pahaman.
"Jadi ini Al-QQur'an yang sangat diminati anak itu?"
©
Handakuten : tanda berbentuk lingkaran kecil yang merubah konsonan h menjadi p.
__ADS_1
Sukun dalam tulisan Arab dikenali Eiji sebagai handakuten.