Santri Famiglia

Santri Famiglia
Makan


__ADS_3

Kecipak-kecipuk air menghiasi musim panas. Gelak tawa anak-anak menyegarkan suasana di bawah langit cerah. Seorang pria dewasa duduk di pinggiran kolam sambil memegang alat pengukur waktu. Sementara satu pria lainnya duduk lebih ke pinggir, menyanding sang Istri yang sedang menjemur putri pertama mereka.


"Bagaimana kalau kita balapan renang?" ajak Sanubari.


"Boleh juga," jawab Kumbara.


"Bagaimana kalau kita taruhan?" usul Embara.


"Tidak boleh berjudi! Apalagi kalian masih kecil," sahut Kelana.


"Kita enggak judi kok, Papa! Kita cuma taruhan," elak Embara.


"Sama saja. Kalau mau balapan ya balapan saja, tidak usah pakai taruhan!" balas Kelana.


Mereka bertiga pun menurut. Perlombaan renang antara Sanubari dan duo kembar pun dimulai. Sanubari menjadi yang tercepat di antara mereka bertiga. Sanubari berhasil kembali ke posisi semula. Padahal Embara dan Kumbara masih setengah jalan.


"Selamat, Sanu! Kau pemenangnya," ucap Kelana.


"Yay!" Sanubari bersorak riang.


Pergerakannya menciptakan riak-riak dan gelombang kecil di sekitarnya. Kala itu, mata Sanubari menangkap pemandangan di belakang Kelana. Ayah dan ibunya sedang berciuman.


Adegan itu terekam dalam memorinya. Ia mulai bertanya-tanya mengapa ayahnya suka sekali melakukan itu. Mungkin ia akan tahu jawabannya jika mencobanya.


Malam harinya, keluarga Sanubari dan Kelana berkumpul untuk makan bersama. Sanubari duduk di sebelah kanan Embara, Kembara berada di sebelah kiri Embara. Mereka duduk membentuk huruf u dengan Aeneas menjadi pusat. Sedangkan tiga orang dewasa berada di seberang anak-anak. Bayi UKA diletakkan di kereta bayinya di dekat Sanum dan Aeneas.


Anak-anak sangat lahap. Lauk di atas meja digasak habis hingga hanya menyisakan remahnya saja. Sanubari melihat sebuah bola ayam goreng masih berada di tempatnya.


Ditusuknya bola pedas gurih tersebut. Ia hendak menyantapnya tetapi ia urungkan. Diperhatikannya bola Di ujung garpunya. Itu adalah makanan favorit Embara. Ia melirik Embara yang sibuk makan lalu tersenyum jahil.


"Ah, Em! Ini sepertinya chicken ball kesukaanmu yang terakhir. Aaa!" Sanubari menyodorkan bola ayam goreng pedas yang ditusuknya ke depan mulut Embara seolah mau menyuapi.


Embara membuka mulut, bermaksud hendak memakannya. Namun, Sanubari menggerakkan garpunya ke arah dirinya sendiri, tidak membiarkan Embara berhasil menangkap chicken ball itu dengan mulutnya. Embara pun terpancing untuk mengikuti arah ditariknya makanan favoritnya hingga ia menoleh ke sisi Sanubari. Tiba-tiba Sanubari mencium bibir Embara.


Para orang dewasa yang satu meja makan terkejut dengan gayanya masing-masing. Semua ternganga. Kecuali Aeneas yang masih menampilkan ekspresi tenangnya. Sanum sampai menjatuhkan sendoknya akibat ulah tak terduga sang putra. Sedangkan Kelana berpura-pura batuk.


Merasa tidak enak dengan Kelana, Sanum segera menegur putranya. "Sa-sanu! Apa yang kau lakukan? Cepat habiskan makananmu, jangan berbuat yang aneh-aneh!"

__ADS_1


Sanubari sedikit terlonjak. Ia kembali menghadap ke depan lalu menjawab, "Baik."


Chicken ball masih di ujung garpunya. Lagi-lagi ditatapnya sejenak bola ayam tersebut. Tidak enak rasanya jika ia memakannya sendiri, sementara tadi ia sempat menawarkannya kepada Embara. Meskipun tadi hanya digunakan untuk mengerjai Embara saja, tetapi Sanubari tetap tidak enak hati. Akhirnya Sanubari kembali mengarahkan bola ayam tersebut kepada Embara.


"Untukmu, Em," katanya.


Namun, Embara tetap terdiam. Gadis sebelas tahun itu tertunduk malu dengan pipi bersemu.


"Nggak mau?" tambah Sanubari sambil menggerakkan garpunya.


Akan tetapi, Embara tetap tidak memakan bola ayam dari suapan Sanubari. Sanubari pun menarik tangannya lagi sambil berkata, "Ya sudah kalau begitu."


Ia memasukkan bola ayam ke mulutnya sendiri. Selepas keluarga Kelana pulang, Sanum mengajak Sanubari berbicara empat mata di kamarnya.


"SANu, kamu tidak boleh sembarangan menyentuh perempuan. Baik berupa ciuman maupun bentuk lainnya! Seperti waktu makan malam tadi, kamu tidak boleh mencium Embara seperti itu!" nasihat Sanum kepada putranya.


"Papa saja boleh mencium Mamak. Kenapa aku tidak boleh mencium Em?"


"Itu karena papamu sudah resmi menjadi suami mamakmu ini. Makanya boleh. Kamu cuma boleh menyentuh satu-satunya perempuan yang kamu nikahi kelak. Selama belum menikah, kamu tidak boleh bersentuhan lebih dari salaman. Dosa. Nanti kamu bisa masuk neraka. Mau?"


Sanubari menggeleng. Neraka adalah dunia paling menyeramkan yang tidak ingin ia kunjungi. Ia ingin menjadi orang terkaya di surga daripada orang termiskin di neraka. Sanubari ingat bahwa Sanum pernah bilang banyaknya dosa akan membuat seseorang semakin miskin. Sedangkan banyaknya pahala akan membuat seseorang semakin kaya.


Dengan panik, ia berkata, "Bagaimana ini? Apakah aku akan masuk neraka karena Em sering memelukku?"


"Kalian masih kecil. Jadi, bisa dimaafkan, tetapi kalian juga harus mulai memiliki rasa malu karena sudah beranjak besar." Sanum tersenyum.


Sanubari menghela napas lega. "Syukurlah."


Namun, sesaat kemudian ia teringat tentang Matilda yang memeluk dan mencium Aeneas ketika mereka baru tiba di Italia. Pemahaman Sanubari perihal sentuhan pun menjadi rancu. Seolah-olah hanya anak kecil yang tidak boleh melakukan ini itu, sedangkan orang dewasa bebas melakukan segalanya. Sanubari menanyakan perihal ini.


Sanum pun kembali menjelaskan, "Bumi adalah dunia multikultural. Budaya yang baik bagi orang asing belum tentu baik untuk kita. Namun, kita harus saling menghormati karena tidak ada manusia yang mengetahui kebenaran sejati. Yang jelas aku tidak mau Sanu tumbuh menjadi pria gampangan yang dengan mudahnya bermain-main dengan perempuan."


"Tidak boleh bermain?"


"Maksudku bermain dalam artian buruk. Misalnya gonta-ganti pasangan tidak jelas, melakukan tindakan tidak bermoral terhadap perempuan dan semacamnya. Suatu saat aku yakin kamu akan mengerti maksudku."


"Aku mengerti. Aku akan setia pada satu pasangan jika suatu saat mempunyainya. Aku akan memperlakukan perempuan dengan baik."

__ADS_1


"SANu, ingatlah! Selain menjaga kehormatan diri sendiri, kamu juga harus menjaga kehormatan orang-orang di sekitarmu. Terutama perempuan. Kamu tidak boleh menyakiti mereka atau menjadikan mereka sebagai pelampiasan nafsu. Junjunglah martabat orang lain jika kamu ingin derajatmu dinaikkan! Mengerti?"


Mendengar nasihat itu, Sanubari merasa malu. Petuah Sanum tepat sasaran. Ia mencium Embara karena penasaran bagaimana rasanya setelah melihat ayah dan ibunya melakukan hal tersebut. Ia sadar bahwa tindakannya itu salah. Ternyata ada aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi untuk interaksi lebih intim supaya tidak terperosok dalam jurang dosa.


"Besok kamu harus meminta maaf kepada Em!" kata Sanum lagi.


Sanubari mengangguk. Perlahan suara air dikucurkan terdengar, disusul dengan aroma sedap yang menggugah enzim perangsang rasa lapar dalam lambungnya. Proyeksi kenangan enam tahun silam itu pun menghilang kala alam sadar telah mengambil alih tubuh remaja yang tertidur. Sanubari terbangun.


Seseorang berjarak dua kursi darinya sedang memakan mie cup yang baru saja diseduh. Melihatnya membuat perut Sanubari semakin keroncongan.


Sanubari menegakkan posisi duduknya. Beberapa kali dikerjakannya mata. Hari sudah sangat siang. Salju tidak lagi turun. Tumpukan salju pun sudah sepenuhnya meleleh, hilang tak bersisa.


Ia ingin makan seperti orang di sebelahnya tetapi tidak punya uang untuk membeli apa pun. Sejenak Sanubari berpikir tentang bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan. Di saat kepalanya penuh dengan pekerjaan apa yang bisa ia lakukan, tiba-tiba ia mendengar karyawan toko melayani pelanggan. Sanubari memutar posisi duduknya, diamatinya cara kerja kasir yang tidak jauh darinya.


"Itu pekerjaan yang mudah. Kalau cuma menghitung dan memasukkan belanjaan ke kantong plastik sih aku juga bisa," pikir Sanubari yang mulai menggendong ranselnya.


Ia menunggu kasir itu menyelesaikan tugasnya. Begitu pembeli pergi, Sanubari langsung mendatangi meja kasir. Ia tersenyum ramah kepada kasir tersebut.


Kasir pria pun bertanya, "Posso aiutarla?"


(Ada yang bisa saya bantu?)


"Posso lavorare qui? Ho bisogno di un lavoro."


(Bolehkah saya bekerja di tempat ini? Saya sedang membutuhkan pekerjaan.)


"Aspetta un attimo! Chiederò prima al direttore del negozio.)


(Tunggu sebentar, akan saya tanyakan kepada manajer.)


Kasir tersebut memanggil rekannya yang sedang merapikan dan menyetok ulang barang-barang yang hampir habis. Kasir itu meninggalkan tempatnya. Sesaat kemudian ia kembali dan berkata, "Mi dispiace, ma il nostro negozio non ha ancora bisogno di nuovi dipendenti.)


(Mohon maaf, tetapi toko kami belum membutuhkan karyawan baru.)


"Va bene allora, grazie.)


(Baiklah kalau begitu, terimakasih.)

__ADS_1


Sanubari meninggalkan swalayan tersebut. Ia keluar masuk beberapa toko untuk melamar pekerjaan. Sayang, semua menolak dengan alasan yang sama. Perut Sanubari semakin lapar. Ia tidak memiliki daya tersisa untuk bergerak. Seketika pandangannya menggelap dan tubuhnya ambruk menghantam jalanan keras.


Dari seberang jalan, pria berjas putih berlari menghampiri Sanubari. Ia berjongkok di dekat Sanubari dan mengamati wajah remaja yang tak sadarkan diri. Sepertinya itu adalah sosok yang ia kenali.


__ADS_2