Santri Famiglia

Santri Famiglia
Jalur Peluru


__ADS_3

"Mundur, tetap di posisi kalian, dan jangan bergeser satu inci pun!"


Itu kalimat terpanjang dari Aeneas yang baru didengar Damiyan hari itu. Aeneas telah berdiri di depan kedua orang tua Damiyan, sementara Damiyan didorong ke belakang. Pria itu membawa sebilah katana.


"Jangan bergeser ke samping melebihi perpanjangan tanganku ini!" Aeneas merentangkan tangan. Katana hitam legam tergenggam di tangan kanannya.


Damiyan spontan menghitung ubin meski tidak mengerti mengapa Aeneas memerintahkan demikian. Bocah itu mendusel di antara kedua orang tuanya demi melihat Aeneas. Matanya hanya bisa menangkap punggung Aeneas sebelum tubuh kedua orang tuanya menghalangi pandangan. Dia didorong.


Ketika Aeneas menarik bilah dari sarungnya, seorang perempuan berteriak, "Jatuhkan senjatamu! Jika tidak, kami akan menembak."


"Iyan, lari dari sini bila kau melihat kesempatan! Kau juga sayang! Aku akan membantunya membuat celah untuk kalian."


"Kalian bertiga yang ada di belakangku, diam! Bergerak sedikit saja, aku tidak akan peduli lagi!" bentak Aeneas.


Dia mengabaikan sepenuhnya peringatan kubu perempuan. Katana telah keluar sepenuhnya dari sarung. Lelaki itu melangkah maju, mengikis jarak 15 meter yang memisahkan mereka.


Baru satu langkah, peluru langsung menghujani mereka. Sekonyong-konyong ibu Damiyan memeluk Damiyan. Desingan beruntun dan tumpang tindih memenuhi ruangan. Bunyi berdentang-denting beriring mengudara.


Bersamaan dengan itu, tawa seorang membahana. "Gafrillo, Gafrillo, betapa bodohnya dirimu! Terima kasih telah mengantarkan nyawamu ke sini dengan sendirinya. Setelah ini, aku akan menjadi penguasa terkuat satu-satunya di seluruh dunia!"


Tawa itu perlahan memudar. Letupan-letupan masih bergemuruh. Damiyan bisa mendengar detak jantung sang ibu. Debarannya sangat berisik walau tembakan sangat intens.


Damiyan penasaran. Dia melepaskan dekapan. Sang ayah mematung. Itu cukup memberitahunya bahwa Izyaslav juga masih hidup. Mustahil orang hidup masih bisa berdiri tanpa penyangga.


Mata Damiyan terbelalak ketika menyaksikan pemandangan di hadapan sang ayah. Tangan-tangan Aeneas bergerak sangat cepat, memainkan pedang dan sarungnya.


Setiap kali bunyi berdenting terdengar, peluru berjatuhan ke lantai. Bukannya darah yang tercecer di sekitar pria itu, melainkan timah-timah panas. Tak satu pun peluru berhasil menyentuh Aeneas dan Damiyan sekeluarga.


"Luar biasa!" Damiyan terkagum-kagum. Dia menyentuh dada kiri secara naluriah. Di sana, ada bekas luka tembak yang belum pulih sepenuhnya. Itu mengingatkannya pada kejadian yang memberikannya luka tersebut.


Damiyan tersenyum kecut, menyadari betapa kecilnya dirinya. Apalah dirinya dibandingkan orang dewasa yang berdiri kokoh di depan matanya. Pria itu bisa menangkis ratusan atau bahkan ribuan peluru yang diarahkan padanya tanpa berpindah tempat. Sedangkan Damiyan menghindari satu tembakan saja tidak bisa.


"Bagaimana mungkin? Mustahil! Bagaimana bisa kau tetap berdiri?" Tawa perempuan sebelumnya sirna.


Intensitas tembakan menurun. Sepertinya, sebagian dari mereka telah kehabisan amunisi. Keributan pun terdengar dalam kerumunan perempuan.


"Dia monster!"


"Kita sepertinya harus pergi dari sini."

__ADS_1


"Pengecut! Dia hanya sendiri. Tiga orang di belakangnya tidak berguna. Hajar dia!"


"Tapi, Madam ...."


"Jika pertarungan jarak jauh tidak berguna, lakukan pertarungan jarak dekat! Kita pasti bisa mengalahkannya bersama! Siapa pun yang berani kabur, akan kuanggap sebagai penghianat." Provokasi itu terdengar berapi-api. Dia bak singa betina yang mengaum.


Aeneas berlari maju sambil menangkis peluru. Dia menebas barisan terdepan. Percakapan berhenti. Seorang perempuan menghindar, hendak menyerang Aeneas dari belakang. Namun, Aeneas lebih cepat berbalik badan. Dia menendang sang perempuan hingga tersungkur.


Tusukan cepat, Aeneas tujukan pada leher perempuan di sampingnya. Satu per satu dari musuhnya bertumbangan.


Beberapa perempuan berlari ke samping. Damiyan melihatnya. Mereka sepertinya hendak mengambil senjata baru untuk melawan Aeneas. Itu tidak akan Damiyan biarkan. Mata Damiyan memindai cepat. Bocah itu melanggar perkataan Aeneas, mengerahkan kecepatan terbaik.


"Rompi anti peluru memang didesain untuk menahan peluru, tapi tidak untuk benda tajam. Tidak selamanya pula rompi antipeluru bisa menahan peluru. Semakin sering digunakan, semakin berkurang pula ketahanannya, karena itulah, angkatan bersenjata mengganti perlengkapan secara berkala. Lihatlah! Jika kau terus-terusan menembak pada titik yang sama, lapisan rompi akan koyak, dan peluru berikutnya pun bisa menembus dengan mudah."


Penjelasan itu tertanam dalam memori Damiyan. Sang guru bahkan mempraktikkan penjelasannya. Damiyan juga sempat melihat rompi antipeluru yang berlubang akibat tembakan beruntun.


Saat dua perempuan berhasil mengambil pedang, Senapan telah berada di tangan Damiyan. Bocah itu menembak lengan-lengan mereka. Pedang-pedang pun terlepas dari genggaman.


"Fokus, incar jantung mereka!" batin Damiyan.


Akan tetapi, posisinya berdiri dan para perempuan tidak selalu menguntungkannya. Damiyan tidak selalu bisa membidik jantung. Dari sisi samping, dia hanya bisa mengincar leher, kaki, atau lengan. Meskipun begitu, itu tidak masalah. Damiyan seolah melukis dengan senjata api. Dia menembak sepanjang kaki dan tangan guna melumpuhkan lawan.


Secepat kilat, Damiyan menghampiri mereka. Dia menembak jantung-jantung mereka dari posisi yang sangat dekat—hanya satu jari antara jantung dan moncong senapan serbu.


"Lakukan atau tidak sama sekali!" Mata kanak-kanak itu kehilangan keluguannya. Akhirnya, tangan kecil itu melakukan pembunuhan pertamanya.


Telapak tangan Damiyan berkeringat dingin, sedikit bergetar. Namun, tetap erat menggenggam senapan. Di sini, dia sedang menghadapi permainan bertahan hidup secara nyata.


"Membunuh atau terbunuh." Pikiran Damiyan paham itu. "Keraguan adalah kematian. Keyakinan adalah hidup."


Damiyan telah menyaksikan betapa manipulatif dan kejamnya para perempuan. Tidak boleh ada setitik pun keraguan dalam dirinya bila dia ingin tetap hidup. Damiyan beralih menatap ke arah Aeneas.


Tidak ada lagi perempuan yang bisa melewati Aeneas meski pria itu hanya sendiri. Dia selalu bisa menjatuhkan mereka entah dengan sabetan pedang, pukulan sarung pedang, atau tendangan.


Seolah ada garis-garis pengekang yang membatasi area gerak mereka, para perempuan bagai terjerat dalam zona serang Aeneas. Pria itu telah menyebar jaringnya. Siapa pun yang terjerat, tidak akan lepas dari jangkauan serangnya.


Damiyan mengangkat senjata. Dia mengukir garis lurus pada tangan dan kaki para perempuan itu dengan titik-titik peluru. Damiyan sudah terlatih menembak target bergerak. Mudah baginya mengincar para perempuan dalam pertarungan yang dinamis. Dia berusaha sangat hati-hati supaya tidak mengenai Aeneas yang berada di antara mereka.


Berkatnya, Aeneas lebih mudah menghabisi mereka. Pemimpin para perempuan yang dipanggil madam memohon pengampunan. Namun, Aeneas abai. Dia menusuk jantung perempuan itu, lalu mencabut kembali pedangnya.

__ADS_1


Mayat-mayat bergelimpangan. Aeneas berbalik badan. Tatapannya terhenti pada Damiyan. Mereka saling tatap.


Aeneas berjalan ke tempat Damiyan, lalu sekonyong-konyong mengulurkan pedang. Ujungnya mengarah ke bawah. Gagangnyalah yang terus teracung tanpa kata.


"Paman ingin aku mengembalikan ini ke tempatnya? Baiklah, akan kulakukan!" Damiyan tidak mengerti, tapi menjatuhkan senapan, lalu meraih gagang dengan kedua tangan.


Saat Damiyan hendak beranjak, Aeneas mencekal pundaknya. Damiyan menoleh, pria beriris hijau itu menggeleng. Satu tangan yang memegang sarung pedang terulur lagi pada Damiyan.


"Simpan!" Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Aeneas.


Ekspresinya sungguh tidak terbaca, masih sedatar dinding tanpa motif. Makin bertambah lipatan di kening Damiyan dibuatnya.


"Wah, ini 'kan masterpiece dari Penempa Besi Legendaris Kiriten! Tidak kusangka ada benda sebagus ini di sini." Pedang berpindah tangan ke Iziaslav.


"Apa itu asli?" tanya ibu Damiyan.


"Tentu. Tidak ada yang bisa membuat replikanya semirip ini. Lihatlah corak pada gagang dan bilahnya!" kata Iziaslav


Damiyan ikut memperhatikan secara keseluruhan karena penasaran. Pedang tersebut hitam legam. Tidak ada warna lain kecuali hitam. Namun, ketika diperhatikan dengan seksama, terdapat seperti kristal hitam legam pada ujung gagang. Bagian itu berkilau seperti kaca diterpa sorot lampu. Dari bulatan itu memanjang garis bak jarum sesekali vertikal, sesekali horizontal seperti kode bar dengan panjang bervariasi setiap garisnya. Pola tersebut terus berulang hingga ujung bilah.


"Konon, pedang ini dibuat dari batuan meteor tertua dan terkuat. Corak inipun alami dari sananya. Kiriten hanya mempelajari tekstur batuan tersebut, memotongnya, lalu menciptakan katana indah ini. Usaha untuk memotongnya pun tidak mudah. Kau harus menyimpannya, Iyan! Ini pedang yang sangat tajam dan tidak bisa patah," lanjut Iziaslav.


"Jika tidak bisa dipatahkan, mana mungkin bisa dibuat pedang?" sanggah Damiyan.


"Itu karena Kiriten menggunakan batu yang sama untuk memotongnya. Peralatan manusia sama sekali tidak bisa digunakan. Waktu terjatuh ke bumi, meteorit terbelah menjadi beberapa bagian. Batuan itulah yang digunakan Kiriten untuk memotong batuan lain yang lebih besar."


Selagi Iziaslav menjelaskan, Ibu Damiyan berkeliling. Dia seorang arkeolog yang juga berminat pada berbagai karya seni.


"Itu berarti, semua yang ada di sini barang-barang bagus dan langka?"


"Tidak, Iyan! Itu satu-satunya. Yang lain hanya benda biasa yang banyak dijumpai di pasaran," sahut ibu Damiyan.


"Aku yakin, orang ini ingin kau memilikinya." Iziaslav menunjuk Aeneas.


Damiyan menoleh. Dia hanya menangkap anggukan dari pria itu. Aeneas tetap membisu dengan air muka yang tampak jutek.


"Kenapa?" Damiyan sungguh ingin tahu. Bagaimanapun, Yang pertama kali menemukannya adalah Aeneas. Logikanya, penemu pertama seharusnya menjadi pemilik. Terlebih lagi, keistimewaan pada pedang akan membuat siapa pun tidak akan rela memberikannya pada orang lain. Akan tetapi, Aeneas malah menyerahkan pedang padanya tanpa berkata apa-apa lagi.


Aeneas adalah kotak misteri yang tidak bisa Damiyan buka maupun pecahkan. Pandangannya tentang Aeneas sedikit berubah. Kehadiran Aeneas dirasanya bisa membalik titik jenuh.

__ADS_1


Jadi, Damiyan menyerocos. "Penglihatan Paman begitu jeli, bisa melihat jalur peluru, bisa menemukan benda berharga di tengah-tengah senjata pasaran. Jadikanlah aku muridmu, Paman! Aku mau memberikan apa pun, membayar berapa pun asal Paman mau jadi guruku. Termasuk kesetiaanku."


__ADS_2