
Lusinan pegawai berbaris di halaman sebuah perusahaan, berjarak satu depa satu sama lain. Para atasan memimpin, berdiri tegap di larik terdepan. Matahari belum seberapa tinggi, saat itulah musik diputar.
Mereka melakukan gerakan kompak, mengikuti alunan melodi. Seperti itulah rutinitas para tenaga ahli BGA sebelum mulai bekerja. Tidak ada yang boleh membolos dari senam pagi atau gaji selama bulan itu tidak akan pernah dibayarkan.
Hujan salju atau gerimis tidak menghalangi kegiatan itu untuk dilaksanakan. Kecuali, badai datang mendera, maka senam luar ruangan akan ditiadakan. Sebagai gantinya, senam dalam ruangan dilaksanakan di dalam ruangan divisi masing-masing.
Di antara para manusia berseragam toska dengan celana hitam itu, ada Eiji, Renji, dan Sai. Mereka berdiri satu baris dengan Eiji di tengah, Sai di kanan, dan Renji di kiri.
Tiga puluh menit berolahraga cukup membuat mereka berkeringat, meski matahari tidak begitu menyengat. Awan putih terkadang berarak, menghalangi sinar matahari.
Di penghujung pendinginan, para pimpinan tertinggi berseru lantang, "BGA!"
"Wujudkan kehendak!"
"Soddisfa la volontà !"
"Grasp the Will!"
Mereka dengan keras meneriakkan slogan dalam tiga bahasa itu. Suara mereka melebur menjadi satu. Kepalan tangan kanan mereka terangkat tinggi-tinggi penuh semangat.
Setelah mengucapkan slogan, biasanya para karyawan dibubarkan. Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Salah satu pimpinan tertinggi mengambil mikrofon.
Pria itu dengan suara bermartabatnya mengumumkan, "Shiragami Eiji, Mitarai Renji, dan Motohira Saiyuki diharapkan menemui Sir Mattarella ...."
Ketiga pria Jepang itu berkumpul. Sementara yang lain membubarkan diri, menuju bangunan divisi masing-masing
Pusat riset dan pengembangan BGA berada di dekat pantai, dikelilingi hutan dan kebun anggur. Tidak ada gedung pencakar langit di sini. Hanya ada tiga bangunan menyerupai panteon dua lantai. Satu bangunan menghadap pantai merupakan asrama pekerja. Sementara dua lainnya tempat tersimpannya peralatan-peralatan futuristik di mana para tenaga ahli bereksperimen dengan teknologi.
Eiji, Renji, dan Sai berjalan ke sayap kanan bangunan, menapaki anak tangga menuju lantai dua. Mereka bertiga bekerja di tiga proyek berbeda.
__ADS_1
Renji berkecimpung dalam pengembangan mobil terbang. Sai di proyek persenjataan. Sementara Eiji tergabung dalam tim pengembangan fitur aifka. Ketiganya bekerja di ruangan yang berbeda. Tidak ada waktu untuk saling bertemu selama jam kerja.
Tidak pernah sebelumnya, mereka dipanggil bersamaan seperti ini. Apalagi, menghadap ke Mattarella. Ketika masa training dahulu, mereka hanya diberi tahu bahwa Mattarella merupakan pengawas BGA. Dia jarang ada di lapangan, tetapi menjadi tangan kanan pemilik perusahaan.
Pemanggilan dadakan ini membuat mereka bertanya-tanya. Entah apa yang akan terjadi, mereka tidak bisa menebak. Ketiganya berjalan cepat sampai ke ruangan yang dimaksud.
Eiji mengetuk pintu. Namun, tidak ada jawaban. Dia mengulangi ketukan sekali lagi, pintu tetap bergeming.
"Sekarang, apa? Kembali ke tempat masing-masing?" tanya Renji meminta persetujuan.
Sai mengedarkan pandangan. Lantai itu sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang bisa ditanya.
"Kita tunggu di sini saja! Mungkin beliau sedang ada urusan di bawah," balas Eiji.
Tidak lama berselang, pria sepantaran dengan Aeneas tiba bersama ketua divisi Eiji. Ketiganya terbeliak. Pria itu adalah orang yang dipanggil Dantae oleh Sanubari.
Waktu seakan mundur beberapa jam sebelum pertemuan ini. Seperti biasa, Eiji berkutat dengan logam-logam.
Pria lain duduk di belakang meja kerjanya, membolak-balik cetak biru, mempelajari rancangan yang diajukan Eiji. Dia bertanggung jawab mengevaluasi desain andai ada kekurangan sebelum mulai eksekusi.
"Lihatlah, Tuan Muda! Mereka semua masih sibuk. Sebaiknya tunggu sampai jam kerja berakhir."
Mendengar suara itu, semua orang menghentikan aktivitas sejenak, kecuali Eiji. Mereka semua memberikan penghormatan, sedangkan Eiji melanjutkan kegiatannya.
Sanubari tidak mau mendengarkan Dantae. Dia terus berjalan, berjalan melewati mereka semua. Beberapa orang mengenakan pelindung kepala yang menyembunyikan wajah.
Namun, langkAh Sanubari Pasti menuju satu titik. Gaya rambut Harajuku agak panjang membuat Eiji mudah dikenali. Sanubari berhenti di depan meja Eiji.
Benda-benda elektronik berserak di meja Eiji.
__ADS_1
Sesuatu menyerupai nanosd diletakkan di atas meja. Sanubari memperhatikannya. Tangan kiri Eiji memegang sesuatu mirip jarum dengan ukuran terkecil. Sementara tangan kiri memegang solder dengan ujung seukuran jarum.
"Untuk apa kartu memori itu ditusuk-tusuk?"
Seperti itulah yang terlihat di mata Sanubari. Dia tidak tahu, itu merupakan komponen untuk aifka yang hanya seukuran pisang susu.
"Jangan ganggu! Dia sedang berkonsentrasi."
Dantae berdiri di sebelah Sanubari. Perhatiannya tertuju pada Sanubari.
"Aku tidak sedang main-main."
Eiji meletakkan solder. Dia mulai merakit seluruh komponen dengan tangkas. Terkadang, dia memakai obeng seukuran jarum suntik untuk memasang baut. Tidak lama kemudian, pecahan-pecahan metal menjelma menjadi helikopter kecil paripurna.
"Hebat! Jadi, Kak Eiji sekarang berprofesi menjadi perakit mainan anak-anak?"
Sanubari bertepuk tangan. Eiji menaikkan kaca yang menutupi wajahnya.
"Ini bukan mainan anak-anak, Sanu!"Jelas Eiji.
Tangannya dengan terampil memasukkan program. Begitu selesai, Eiji langsung melakukan tes kelayakan. Helikopter sebesar pisang itu melayang-layang. Bagian bawah helikopter terbuka. Dari sana, sebuah helikopter sebesar capung terbang.
"Lihatlah!" Eiji memutar layar monitornya, Mata majemuk dan kaca mereka bisa merekam."
Helikopter terbang lebih rendah, menuju ke depan monitor. Mata Sanubari mengikuti. Dia menyaksikan hasil rekaman animatronik itu.
"Paman Dantae, aku ingin mencoba merakitnya sendiri. Apa masih ada yang lain?" tanya Sanubari antusias.
Satu nama yang disebut Sanubari itu mengembalikan aliran waktu ke masa kini. Lagi, lelaki bernama Dantae Mattarella berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Atasan Eiji membuka pintu, mempersilakan Dantae terlebih dahulu, kemudian yang lain. Mereka duduk saling berhadapan, sedangkan atasan Eiji kembali ke pekerjaannya.
Tanpa basa-basi, Dantae berkata, "Pekerjaan kalian bertiga sangat bagus. Tapi, sangat disayangkan, kalian harus berhenti hari ini juga."