
"Siapa kalian!?, kenapa bisa masuk kemari!?" tanya Mo Wu Zhang yang kesal melihat ada orang yang mengganggu kesenangannya bermain dengan wanita.
Mo Wu Zhang tidak mengenali Evan dan Nan Ruyu karena mereka berdua sedang menyamar dan memakai topeng.
"Ckck..., seorang tetua tapi suka datang kemari untuk bersenang-senang, sungguh contoh yang buruk untuk para muridmu!, tetua Mo Wu Zhang, Oh salah, atau lebih tepatnya anjing pengkhianat!" Ucap Evan yang datang memasuki ruangan.
"Siapa kalian berani sekali menyebutku sebagai anjing?!, aku tidak kenal dengan kalian!" Ucap Mo Wu Zhang.
"Jangan banyak omong kosong lagi!, segera selesaikan!" perintah Evan.
"Matilah Kau!" tanpa basa-basi lagi Nan Ruyu langsung menyerang Mo Wu Zhang.
"Heh!, hanya Ahli Silat dilevel delapan ingin membunuhku!?, masih belum cukup!" tangkis Mo Wu Zhang menahan serangan Nan Ruyu hingga membuat Nan Ruyu terpental mundur.
"Uhuk, uhuk...." batuk Nan Ruyu memegang dadanya.
"Dia berada ditingkat Jenderal level 1, aku tidak bisa mengalahkannya!" Ucap Nan Ruyu.
Para wanita yang tadi bersama Mo Wu Zhang langsung diam ketakutan.
"Kalian keluarlah jangan sampai kalian ikut terluka." perintah Evan kepada para wanita itu, dan para itu pun langsung melarikan diri keluar dari ruangan itu.
"Hahaha..., ingin membunuhku? kamu belum pantas!" Tawa Mo Wu Zhang meremehkan.
"Pfft...., Hei Gadis dingin, yakin kau bisa membunuhnya sendirian?, apa mau aku bantu?" tanya Evan yang berdiri dibelakang Nan Ruyu.
"Kau!, apa kau tidak bisa lihat!?"
"Jadi apa kau butuh bantuanku?"
"Kenapa masih bertanya!? apa kau mau melihatku mati!?" ucap Nan Ruyu kesal.
"Cih, baiklah aku bantu kamu gak usah langsung marah!"
"Aku hampir melupakan keberadaannya, siapa dia? aku tidak bisa melihat tingkatannya!" batin Mo Wu Zhang.
"Heh.., kalian berdua maju bersama pun kalian tak akan bi...."
"PLAAKK !!" dengan cepat Evan berpindah tempat dan menghentikan perkataan Mo Wu Zhang dengan tamparan yang membuat Mo Wu Zhang terpental.
"BRRUUAAKK !!"
__ADS_1
"Wow.., aku tidak menamparnya terlalu kuat kan?, dia tidak langsung mati kan?" Ucap Evan setelah menampar dan melihat ke arah Mo Wu Zhang terpental.
"Beraninya kalian!?" Ucap Mo Wu Zhang marah sambil berusaha bangkit berdiri.
Melihat Mo Wu Zhang madih hidup Evan pun tersenyum. "Baguslah, ternyata belum mati!"
Dan setelah berkata seperti itu Evan berjalan mendekat menghampiri Mo Wu Zhang yang ingin bangkit berdiri.
"GREEP...!!" Evan menjambak rambut Mo Wu Zang.
"Mo Wu Zhang, bukankah tadi kau ingin mengetahui siapa kami?, baiklah akan aku tunjukan...." ucap Evan membuka topengnya.
"EVAN...!?" ucap Mo Wu Zhang terbelalak kaget ketika melihat wajah orang yang ingin membunuhnya adalah Evan.
"Hehehe, kenapa?, apa kau terkejut?" tanya Evan tertawa sambil menjambak rambut Mo Wu Zhang.
"Bu-bukankah kau masuk ke hutan kematian!?, kenapa kau belum mati!?, dimana jenderal Tong!?"
"Tentu saja aku tidak akan mati dan mengenai jenderal Tong kalian itu, dia sudah mati ditanganku!" jawab Evan.
"Apa!?, tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin...?, Gadis dingin cepat bereskan sebelum ada orang datang kesini!" perintah Evan menyuruh Nan Ruyu dan melepas jambakannya dan kemudian memberikan Nan Ruyu sebuah pedang.
"CRRAAASSHH......!!" darah keluar dari pangkal leher Mo Wu Zhang yang sudah terpisah dengan kepalanya.
"Kak, lihatlah aku akan membalaskan dendam kamu satu per satu!" batin Nan Ruyu mengingat kakaknya dan kemudian mengembalikan pedang milik Evan.
"Jangan membuang waktu lagi, Ayo kita pergi! mungkin akan ada orang yang datang kesini!" ucap Evan.
......................
Dan kemudian mereka pun kembali ke tempat penginapan mereka, dan Nan Ruyu pun sudah berpakaian normal seperti biasanya.
Di penginapan....
"Paman, bagaimana keadaan putri Gu Mei?" tanya Evan pada Paman Qian Ji yang sedang berjaga.
"Dia baik-baik saja, mungkin sudah tidur." jawab Paman Qian Ji.
"Baguslah kalau seperti itu."
__ADS_1
Kemudian Evan mengantarkan Nan Ruyu ke kamarnya. Didepan pintu kamar menginap Nan Ruyu....
"Terima kasih sudah membantuku membalas dendam." Ucap Nan ruyu.
"Tidak masalah, aku juga memiliki dendam dengan Mo Wu Zhang jadi sudah seharusnya aku membantumu juga membunuhnya, jadi tidak perlu berterima kasih, jangan sungkan!" ucap Evan.
"CUP !" Nan ruyu berjinjit dan mencium pipi Evan dan hingga membuat Evan terkejut.
"Itu adalah hadiah terima kasih dariku, jangan sungkan." ucap Nan ruyu sehabis mencium Evan.
Kemudian Nan ruyu pun langsung pergi dan masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang merona.
"Aaaaa...., apa yang tadi aku sudah lakukan?, memalukan sekali....!" batin Nan Ruyu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dan menutup wajahnya yang merona dengan selimut.
Sedangkan Evan yang masih berada diluar hanya memegang pipinya yang habis dicium dan Evan pun hanya tersenyum.
......................
Disisi lain di kediaman tetua Mo Lin.....
"BAJINGAAN !!, siapa yang sudah berani membunuh anakku!?, cepat cari tahu siapa pembunuhnya, bawa kehadapan aku hidup atau pun mati, aku ingin melihatnya!." perintah Mo Ling marah ketika mendengar kabar bahwa anaknya telah mati terbunuh oleh seseorang didalam Rumah Bordil Gedung Wen.
"BAIK !!" ucap para suruhan Mo Ling serentak.
...SALAM DARI RIRIN...
...(GADIS DINGIN KEKANAK-KANAKAN)...
...βJANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTπ...
...π...
...π...
...π...
...π...
...π...
__ADS_1
...π...