KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 88 : Akhir Pembantaian


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Evan yang melarikan diri dengan menaiki Harimau Putih Mata Emas semakin terkejar oleh jenderal tong, namun evan memiliki rencana kalau dia akan pergi ke hutan kematian untuk melarikan diri dari kejaran jenderal Tong.


Evan terus melarikan diri secepat-cepatnya hingga sampai ke gerbang teleportasi hutan kematian, Evan tanpa berpikir lagi langsung masuk kedalam gerbang teleportasi.


Jenderal Tong yang melihat itu pun seketika berhenti mengejar Evan tepat di gerbang teleportasi hutan kematian.


"Sial !, dia berhasil kabur kedalan hutan kematian!" kata Jenderal Tong dengan marah.


Namun setelah berpikir jenderal Tong pun akhirnya ikut masuk ke hutan kematian.


"Sial, aku tidak boleh membiarkan Evan ini sampai lolos, jika dia hidup, dengan kejeniysannya maka dia akan menjadi sebuah ancaman besar!. aku harus mengikutinya masuk ke dalam hutan kematian dan membunuhnya!" pikir Jenderal Tong.


Kemudian dia pun ikut masuk ke dalam hutan kematian melalui gerbang teleportasi yang sama dengan Evan.


Namun tak disangka oleh jenderal Tong kalau mereka akan jatuh terpisah ke tempat berbeda dihutan kematian.


Tampak Evan terjatuh ke sebuah tempat yang penuh pepohonan hingga tubuh Evan beberapa kali menghantam batang-batang pohon hingga Evan jatuh dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.


Diwaktu yang sama Sea lin, Luo bai, Qin shan, dan Tang chen berhasil kabur dan melarikan diri kedalam sebuah hutan.


Setelah lolos dari kejaran Mereka berempat beristirahat dibawah sebuah pohon sambil merenung dan menangis.


"Huuhh... akhirnya kita bisa lolos dari pengejaran." ucap Tang chen sambil duduk bersila.


"Yaaah... setelah ini kita harus ke kota salju merah darah melihat keadaan para murid sekte matahari merah." kata Qin shan dengan duduk sambil menunduk diantara kedua lututnya.


"Sialan !, para orang-orang kerajaan itu berani menghancurkan sekte kita, kita harus balas dendan pada mereka!" Sea lin berdiri bersandar ke sebuah pohon sambil menutup wajahnya yang menangis namun marah.


"Sudahlah, kita berhasil lolos saja sudah sebuah keberuntungan, jangan memikirkan untuk balas dendam terlebih dahulu, tapi pikirkan bagaimana kita harus mengurus para murid sekte matahari merah agar tidak menyebabkan kekacauan." ucap Luo bai menenangkan teman-temannya agar mereka berpikir.


"kita hanya seorang murid, bagaimana caranya kita akan menghadapi murid-murid sekte yang ada puluhan ribu? apa lagi aku hanya murid lemah yang tidak memiliki apapun." ucap Tang chen dengan pesimis.

__ADS_1


"kamu jangan pesimis seperti itu, membuat yang lain patah semangat saja. ingat kalau kita sudah berjanji dengan para Tetua untuk mengembalikan kejayaan Sekte Matahari Merah!." kata Qin shan kepada yang lainnya untuk tetap bersemangar dan jangan pesimis.


"Benar apa yang dikatakan Qin shan, kita jangan berfikir terlalu pesimis dan mudah menyerah, kita harus menepati janji kita dengan para tetua!." ucap Luo bai membenarkan perkataan Qin shan.


"Andai saja kakak besar Evan ada disini, kita hanya perlu mengikuti arahannya dengan mudah." ujar Sea lin yang mengharapkan kehadiran Evan.


"Benar, Evan memang memiliki jiwa pemimpin yang bijaksana dan hebat dalam mengambil keputusan dengan cepat!" ucap Qin shan yang ikut berharap dengan keberadaan evan yang memudahkan mereka.


"Evan memang hebat, tapi Kita jangan terus selalu mengandalkan Evan karena dia tidak selalu berada bersama kita seperti sekarang ini, kita harus berusaha dan mengandalkan diri kita sendiri untuk kemajuan kita!" ucap Luo bai memberi saran kepada yang lain agar jangan terlalu mengandalkan orang lain.


"Kira-kira Evan selamat atau tidak dari kepungan?" kata Tang chen menatap ke atas.


"Apa yang kau bicarakan, kakak besar pasti selamat dan baik-baik saja!" jawab Sea lin dengan yakin


"Yah aku yakin dia pasti selamat dan mungkin kini dia berada disuatu tempat untuk memulihkan diri." ucap luo bai membenarkan ucapan sea lin.


"Aku juga percaya dia pasti selamat!" ucap Qin shan.


...****************...


Tampak para murid yang berhasil lolos berkumpul dibakai kota, mereka yang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa terus membuat kericuhan.


Mereka bingung tentang bagaimana dengan nasib mereka sekarang yang sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi, mereka pun merasa seperti orang-orang yang terlantar.


Reya dan Chu Xian berdiri diatas balai kota untuk menyampaikan sesuatu agar membuat para murid Sekte Matahari Merah menjadi tenang.


"Kalian semua tenang!, aku Reya Chang La anak dari jenderal besar Ryu, akan membiarkan kalian tinggal disini hingga ada kabar dari Evan dan para Tetua!!" seru Reya mencoba menenangkan para murid sekte Matahari Merah.


"Kalian semua tenanglah, para tetua, jenderal ryu juga Evan dan teman-temannya sudah berjuang dengan nyawa mereka, kalian jangan membuat mereka kecewa dengan tingkah laku kalian disini!" ucap mentor Chu Xian yang ikut mencoba menghilangkan keraguan para murid.


Akan tetapi, walaupun reya dan mentor chu xian sudah berkata demikian para murid sekte tetap ricuh dan bertanya-tanya bahwa mereka akan sampai kapan terus seperti sekarang.


"Evan, kau cepatlah kembali, aku harap kau baik-baik saja kami semua sedang menunggu kabar darimu." gumam reya berharap evan agar segera kembali.

__ADS_1


Diwaktu yang sama, di tempat penginapan evan yang sebelumnya dikota salju merah darah. Ririn dan cao cao terus menunggu evan dan yang lainnya dengan khawatir. Ririn duduk dibawah sebuah pohon dengan bersama cao cao yang duduk disampingnya.


"Kak ririn, kapan kakek dan kak Evan kemari?, apa mereka terjadi sesuatu?." tanya Cao Cao kepada Ririn dengan rasa gelisah.


"Cao cao yang sabar yah, Mereka pasti baik-baik saja Cao Cao jangan berfikir yang macam-macam." ucap Ririn mencoba menenangkan Cao Cao yang sedang gelisah dan khawatir.


Namun walau Ririn mencoba menenangkan Cao Cao, tetapi dia sebenarnya juga merasakan kecemasan dan kekhawatiran yang lebih dari siapa pun kepada Evan.


"Evan, kamu harus baik-baik saja aku menunggu kamu disini! " gumam Ririn dengan meneteskan air mata yang mengalir dipipinya.


Tak lama kemudian Qin yun datang mencari Ririn dan dia melihat Ririn yang sedang duduk dibawah pohon bersama dengan Cao Cao yang berada disampingnya.


Qin yun pun berjalan menghampiri Ririn.


"Ririn!" tegur Qin yun menyapa Ririn. Namun seperti biasa Ririn selalu tidak terlalu menanggapi orang lain dan dia pun menoleh dengan diam.


"Kau baik-baik saja?, bagaimana, apa ada kabar tentang kakakku dan yang lainnya?" tanya Qin yun. Ririn dan cao cao menjawab dengan menggelengkan kepalanya


Qin Yun menghela nafasnya karena belum mendapat kabar dari kakaknya dan teman-teman yang lain yang masih belum kembali, dia sangat merasa cemas.


"semoga mereka baik-baik saja dan segera kembali kemari." ucap Qin yun berharap


Diwaktu yang sama juga disebuah penginapan dikamar Lu Rao Rao...


Tampak Lu Rao rao terus menunggu dengan cemas dan terkadang sesekali menangis karena menunggu Luo bai dan yang lainnya.


Ran ran yang berada diluar pintu kamar lu rao rao ragu untuk mengetuk pintu mendengar lu rao rao yang terus menangis yang terkadang sambil menyebut nama Luo Bai.


Ran Ran memandang ke arah langit dan berharap agar Evan dan yang lainnya segera datang dan menenangkan semua keributan dan kesedihan yang terjadi dikota Salju Merah Darah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


...----------------...


......................


__ADS_2