
Namun tidak lama kemudian Ririn datang ke kamar Evan, niatnya hanya untuk memastikan kalau Evan sudah pulang atau belum.
Ririn membuka pintu dengan perlahan dan melihat bahwa Evan yang sedang berlatih, Evan yang menyadari kedatangan Ririn pun tersadar dari latihannya.
"Ririn, kenapa kamu masih belum tidur? dan malah kesini?" tanya Evan yang masih sedang duduk bersila.
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu masih belum tidur? dan malah berlatih?" ujar Ririn berbalik tanya.
"Ini aku sedang beristirahat sambil berlatih, aku kehabisan banyak kekuatan Jiwa dan Energi spiritualku saat membuat Pil, jadi aku harus mengumpulkan kembali Kekuatan Jiwa dan Energi spiritualku untuk berjaga-jaga jika ada musuh yang datang menyerang." jawab Evan yang masih sedang duduk bersila.
"Oooo..." ucap Ririn dengan cuek.
"Tetapi jika kamu sungguh ingin aku tidur cepat kamu bisa membantuku untuk mengumpulkan Kekuatanku dengan cepat!" ujar Evan sambil tersenyum.
Mendengar itu Ririn pun langsung manyun dan mengecilkan bibirnya, sedangkan Evan turun dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri Ririn.
"Mau Tidak?" tanya Evan dengan tersenyum sambil memiringkan kepalanya.
"Tidak!" jawab Ririn dengan cepat hingga membuat Evan seketika berhenti tersenyum.
"Kenapa tidak?" tanya Evan merasa kecewa dan penasaran.
"Ingin berkultivasi Yin Yang denganku kamu kira aku tidak tahu?, humph tidak akan!" jawab Ririn.
"Hahaha ternyata kamu sudah menebaknya, yasudah jika kamu tidak mau aku tidak akan memaksamu." ujar Evan tertawa dan tersenyum.
"CUP!" Evan mencium kening Ririn dengan lembut.
"Kamu kembalilah ke kamarmu, kamu tenang saja, setelah aku selesai berlatih aku akan langsung tidur!" ujar Evan dengan lemah lembut.
"Baiklah aku kembali ke kamarku!" ujar Ririn dan kemudian pergi meninggalkan kamar Evan.
Setelah Ririn pergi raut wajah Evan pun seketika berubah kecewa dan dia pun menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Dasar wanita tidak peka, mungkin mulai besok kita akan sulit untuk bertemu hingga satu bulan ke depan!, aku hanya merindukan dirimu saja." gumam Evan merasa kecewa.
"Sekarang lebih baik aku berlatih seperti biasa saja!" ujar Evan yang kemudian kembali duduk bersila di atas tempat tidurnya dan brrlatih untuk mengumpulkan tenaga.
Keesokan harinya tampak Evan dan teman-teman prianya yang melihat-lihat tempat tinggal para warga Desa Tanah Darah yang berada dipinggiran kota Yanzhou, tampak tempat tinggal mereka adalah rumah-rumah kecil yang telah lama ditinggalkan oleh para pemiliknya yang telah pindah karena takut akan ancaman perang di kota Yanzhou yang terjadi terus menerus dan tiada henti.
"Maaf jika tempat tinggalnya kurang memuaskan, karena sekarang kami juga mengalami kesusahan jadi hanya inilah yang dapat kami berikan untuk kalian tinggali!" kata Evan kepada Kakek Qiu Ming Zi.
"Tuan Muda Jenderal jangan bicara seperti itu, ini semua sudah jauh lebih baik dari pada kami harus terus berpindah-pindah tempat tinggal, saya mewakili seluruh warga desa Tanah Darah berterima kasih sebesar-besarnya kepada Tuan Muda Jenderal Li!" kata Kakek Qiu Ming Zi sambil memberi hormat kepada Evan.
"Kamu tidak perlu sesungkan itu dan jangan selalu memberi hormat padaku. lagi pula aku masih lebih muda dari cucumu Qiu Shen, rasanya tidak pantas jika aku terus memanggil orang yang jauh lebih tua dariku dengan sebutan 'kamu', bolehkan jika aku memanggil anda dengan sebutan Senior?" tanya Evan dengan tersenyum.
"Tentu saja boleh, dipanggil 'Senior' oleh Tuan muda Jenderal Li adalah suatu kebanggaan untukku!" kata Kakek Qiu Ming Zi merasa senang.
Kemudian mereka pun berbincang dengan riang dan gembira, dan tak lama kemudian tiba-tiba datang seorang anak perempuan seumuran Cao Cao yang sangat imut menghampiri Evan yang sedang berbincang dengan Kakek Qiu Ming Zi dengan membawa bunga.
Anak perempuan itu mencolek-colek kaki Evan, dan Evan pun melihat ke arah bawah dan melihat anak perempuan tersebut yang sedang membawa sebuah bunga.
"Kakak Jenderal bunga ini Nia berikan untukmu!" kata anak perempuan bernama Nia tersebut sambil tersenyum dengan wajah imutnya.
Nia kecil sangat gembira dan senang melihat bahwa bunga yang dia berikan diterima oleh Evan, apa lagi Evan yang menyebutnya manis.
"Kakak Jenderal, kamu sangat baik dan tampan, Nia ingin menikah dengan Kakak Jenderal!" kata Nia mengejutkan semua orang yang ada disekitar.
"Evan, kenapa kamu sangat serakah?, bahkan anak kecil pun tidak kamu sisakan untukku!" kata Tang Chen.
"Kakak Besar, apakah empat gadis itu masih belum cukup? makanya kamu mencari seorang anak kecil? kata Sea Lin.
"Tidak aku sangka ternyata Evan adalah seorang pedofil!" kata Qin Shan.
Mendengar perkataan-perkataan teman-temannya sungguh telah membuat Evan emosi.
"Jika kalian bicara sembarangan lagi, aku jamin bahwa kalian tidak akan bisa bicara lagi besok!" ujar Evan mengancam teman-temannya.
__ADS_1
"Adik Nia, kakak Jenderal sekarang sudah punya calon istri, jadi Kakak Jenderal tidak mungkin bisa menikah dengan Nia!" kata Evan mengusap kepala Nia kecil dengan lembut.
Mendengar itu seketika Nia kecil pun merasa kecewa dan sedih.
"Nia tidak boleh sedih, bagaimana jika Kakak Jenderal perkenalkan kepada Nia adik Kakak Jenderal, nanti jika ada waktu, Kakak Jenderal pasti akan membawa Nia ke kediaman Kakak untuk bertemu dengannya!" kata Evan yang membuat Nia kecil menjadi penasaran.
"Apakah dia baik?, apakah dia juga tampan seperti Kakak Jenderal?, Nia tidak mau menikah dengan laki-laki jahat apa lagi jelek!" kata Nia kecil kepada Evan.
"Dia juga tampan dan baik seperti Kakak Jenderal, nama dia adalah Cao Cao umurnya kurang lebih sama seperti Nia, kakak Jenderal jamin kalau Nia bakal suka dengan Cao Cao!" kata Evan mencoba meyakinkan Nia kecil.
"Benarkah!?" tanya Nia kecil yang merasa sangat senang dan gembira.
"Benar, Kakak Jenderal tidak mungkin memobohongi Nia, Yasudah, sekarang Nia pergilah bermain dengan teman-teman Nia!" ujar Evan kepada Nia kecil.
"Baiklah Kakak Jenderal, Nia akan pergi bermain dengan teman-teman Nia!" kata Nia kecil dan Kemudian Nia kecil pun pergi meninggalkan Evan bersama dengan kakek Qiu Ming Zi.
"Senior, siapa Nia ini?" tanya Evan penasaran.
"Nama anak perempuan itu adalah Qiu Nia Lan, ibunya telah meninggal karena insiden tiga tahun lalu, sekarang dia hanya tinggal bersama dengan ayahnya seorang!" jawab Kakek Qiu Ming Zi.
"Sungguh anak peremuan yang kasihan!" ucap Evan turut prihatin.
Kemudian Sea Lin pun menegur Evan.
"Kakak Besar Ayo!, kita semua sudah siap untuk berangkat pergi, apakah kamu masih lama?" tanya Sea Lin kepada Evan.
"Baiklah, ayo kita pergi untuk menjual Pil di beberaoa kota lain!" ujar Evan kepada Sea Lin dan teman-teman yang telah menunggu Evan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
__ADS_1
......................