
Sore hari.
Setelah membagi harta rampasan Perang, Evan memutuskan untuk langsung pergi meninggalkan Kota Dayu dan melanjutkan perburuan mereka.
Di pintu gerbang Kota Dayu. Tampak hampir seluruh Rakyat Iblis Kota Dayu mengantarkan kepergian Evan dan Pasukan Gagak Malam. Tidak terkecuali Ratu Yue Xian Ling dan seluruh Pasukan Besarnya.
"Apakah kalian sungguh tidak ingin menginap dan beristirahat satu malam saja disini?" tanya Ratu Yue Xian Ling.
"Maaf, kami tidak bisa. Kami harus segera pergi untuk melanjutkan perburuan kami," jawab Evan.
Mendengar jawaban Evan, maka tampaklah kekecewaan diwajah Ratu Yue Xian Ling dan semuannya.
"Sudahlah, jangan memasang raut wajah sedih seperti itu. Kita bukannya tidak akan bertemu lagi di masa mendatang. Kami berjanji, jika ada waktu kami pasti akan datang berkunjung kesini." kata Evan membuat semua orang merasa senang, namun tidak dengan Ratu Yue Xian Ling.
Ratu Yue Xian Ling merasa tidak rela jika harus berpisah terlalu dini dengan Evan, dan itu semua terlihat dengan jelas dari raut wajahnya yang tampak sedih.
Namun Evan yang melihat Ratu Yue Xian Ling tidak rela dengan perpisahan mereka, kemudian tersenyum tipis.
"Ada apa denganmu? Apakah kamu tidak rela berpisah denganku?" Evan mencoba menegur dan menghibur Ratu Yue Xian Ling.
"Yah, aku merasa sedikit tidak rela jika harus berpisah denganmu secepat ini."
Evan terkejut mendengar jawaban jujur Ratu Yue Xian Ling. Dia tidak menyangka bahwa Wanita seperti Ratu Yue Xian Ling akan menjawab dengan jujur pertanyaan darinya.
"Mengapa kamu tidak rela?" Evan mencoba bertanya.
"Walaupun sejak pertama kali kita bertemu kamu selalu membuatku merasa kesal, tetapi setelah kejadian di Danau, aku menyadari kalau ternyata kamu tidak semenyebal-kan itu. Setelah aku mengenal dirimu dengan cukup dekat, aku menyadari walaupun kamu sangat licik tetapi kamu memiliki pandangan yang luas, berhati baik, juga lemah lembut."
"Terima kasih atas nasehatmu yang telah membuat aku sadar akan kesalahanku. Terima kasih karena telah menghentikan sikap bodohku. Terima kasih atas kata-katamu yang telah membuatku kembali melihat kebenaran. Terima kasih!"
"Sama-sama," Evan tersenyum dan mengangguk pelan.
Evan merasa senang karena dengan nasehatnya ia dapat membuat Ratu Yue Xian Ling berubah dan sadar akan kesalahannya.
"Oh yah, satu lagi. Bolehkah aku bertanya?" Ratu Yue Xian Ling ingin bertanya.
"Tentu saja boleh," Evan mengijinkan. "Kamu ingin tanya apa?"
__ADS_1
"Bolehkah aku tahu siapa kamu sebenarnya?" tanya Ratu Yue Xian Ling merasa penasaran.
"Walaupun tidak penting siapa diriku, tapi aku akan tetap memberitahumu. Aku Evan Li Jenderal Besar Penguasa Nanzhou!" Evan menunjuk dadanya dengan ibu jari.
Mengetahui siapa Evan sebenarnya, Ratu Yue Xian Ling menghela nafas dan kemudian tersenyum.
"Aku sudah menduganya," Ratu Yue Xian Ling melihat Evan dengan senyuman. Begitu juga sebaliknya.
"Baiklah. Sekali lagi, terima kasih atas semua bantuan mu dan Pasukan mu selama ini."
"Yah, sama-sama."
"Baiklah, sekarang kami harus pergi. Lain kali, jika ada waktu datanglah berkunjung ke Nanzhou. Kami pasti akan menyambut kalian dengan baik!" harap Evan.
"Sampai Jumpa!" ucap Evan salam perpisahan.
Kemudian Evan pun berbalik badan dan berjalan pergi dengan diikuti oleh Qiu Shen dan Pasukan Gagak Malam. Mereka berjalan menuju Hutan Lembah dan meninggalkan Kota Dayu.
Di perjalanan.
"Tuan Jenderal, sepertinya hubunganmu dengan Ratu Yue menjadi sangat baik tidak seperti sebelumnya. Apa yang Tuan Jenderal lakukan padanya hingga menjadi seperti itu? Kamu tidak membuatnya jatuh cinta kepadamu kan?" tanya Qiu Shen sambil berjalan mengikuti Evan.
"Yah, dengan wajah tampan mu itu siapa yang tidak akan jatuh cinta?" batin Qiu Shen dalam hati.
Mereka terus berjalan semakin jauh ke dalam Hutan Lembah, hingga pada malam hari mereka pun masih terus berjalan tanpa beristirahat.
"Jenderal, disepanjang perjalanan kita tidak ada melihat satu pun Hewan Monster di Hutan Lembah ini. Apakah kita tetap akan melanjutkan perjalanan? Takutnya kita hanya akan membuang waktu saja," ujar Qiu Shen yang saat ini sedang berjalan disamping Evan.
"Tenang saja, sebelum berangkat aku sempat bertanya kepada Ratu Yue di wilayah Hutan Lembah bagian mana yang ada banyak hewan Monster. Dan arah perjalanan kita sekarang ini adalah arah yang tepat untuk menuju Wilayah Hutan Lembah yang dikatakan oleh Ratu Yue." jawab Evan.
Namun beberapa saat kemudian sebuah kabut tebal yang tidak tahu dari mana asalnya tiba-tiba muncul ditengah perjalanan mereka.
"Sial, mengapa tiba-tiba ada kabut muncul disini?" ucap Evan merasa kesal.
Dalam sekejap kabut tebal tersebut menutupi pandangan semua orang.
"Qiu Shen!" Evan memanggil Qiu Shen, namun Qiu Shen sama sekali tidak menjawabnya.
__ADS_1
"Qiu Shen!" Evan mencoba memanggil Qiu Shen sekali lagi, namun Qiu Shen tetap tidak menjawab panggilannya.
"Sial!" ucap Evan merasa kesal.
Kemudian Evan menyatukan kedua telapak tangannya.
"Teknik Pendeteksi Jiwa!" Evan mencoba menggunakan Kekuatan Jiwa miliknya untuk mendeteksi dan melihat keberadaan Qiu Shen dan Para Prajurit Pasukan Gagak Malam yang juga terjebak dalam tebalnya kabut.
Namun Evan sungguh tidak menyangka, kalau kabut tebal tersebut seperti sebuah dinding yang menghalau Kekuatan Jiwa miliknya.
"Berhenti mencoba, kamu hanya melakukan usaha yang sia-sia," Elemen Kegelapan berbicara dalam pikiran Evan.
Mendengar suara Elemen Kegelapan di dalam kepalanya, kemudian Evan pun melepas Teknik Pendeteksi Jiwa miliknya.
"Sepertinya Kabut tebal ini tidak hanya dapat menghalangi dan menutupi keenam indera, tetapi juga Kekuatan Jiwa sekalipun." kata Elemen Kegelapan memberitahu Evan.
"Sial!" ucap Evan sekali lagi dan menjadi semakin kesal.
Akan tetapi sesaat kemudian, tiba-tiba Evan merasakan suatu kehadiran disekitarnya. Kehadiran tersebut sangat asing bagi Evan.
Evan menjadi sangat waspada dan langsung membentuk sepuluh belati dengan Kekuatan Elemen Logam miliknya.
Evan dapat merasakan sosok kehadiran itu bergerak di sekitarnya, namun penglihatan Evan sangat terbatas karena terhalangi oleh kabut tebal disekitarnya.
Hingga pada saat Evan merasa sangat waspada dan penuh ketegangan, sekilas Evan teringat akan situasi yang pernah dialaminya beberapa waktu lalu. Situasi saat itu sangat mirip dengan situasi yang terjadi saat ini, yaitu situasi dimana Evan sedang berhadapan dengan Sekelompok Serigala Bayangan Pembunuh di Hutan Kematian.
Secara perlahan Evan mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu. Evan menarik nafas panjang dan membuangnya dengan perlahan. Evan mengatur nafasnya hingga akhirnya dirinya menjadi tenang.
"Di sana kau rupanya!" Evan langsung memfokuskan pandangannya ke depan dan menggabungkan sepuluh belatinya, menjadi satu buah Tombak yang menghunus tajam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
......................
__ADS_1
......................
......................