
Diwaktu yang sama didalam Gua tampak Ular Piton bertanduk Tiga yang terluka sedang berada disebuah taman indah, ular itu tampak sedang melingkari dan melindungi sebuah telur berwarna kecoklatan.
Kemudian Ular Piton Bertanduk Tiga mendengar suara langkah kaki yang datang ke arahnya, ia pun mendesis bersiap bertarung lagi untuk melindungi telurnya walau dengan tubuh uang penuh dengan luka.
Tak lama kemudian Evan, Ray, dan Tang Chen telah masuk kedalam Gua, tampak didalam Gua banyak sekali rumput Spiritual disepanjang Gua.
Mereka bertiga pun berjalan semakin kedalam dan tampak ada beberapa Rumput Naga Tujuh Tangkai diantara semak rumput spiritual yang menjulang.
Ray dan Tang Chen tampak gembira dan terkejut melihat Rumput Naga Tujuh Tangkai yang termasuk tanaman spiritual tingkat tujuh.
"Evan, inikah Rumput Naga Tujuh Tangkai yang kamu katakan sebelumnya?" ujar Tang Chen bertanya pada Evan.
"Benar, tetapi ini bukan harta utama yang kita cari!" kata Evan melihat-lihat sekeliling seperti sedang mencari sesuatu.
"Hmm..., Ular Piton Bertanduk Tiga itu tidak ada disini, pasti Ular itu sedang bersembunyi di taman yang sebelumnya Elemen Petir katakan!" pikir Evan dalam hatinya.
Kemudian Evan melihat sebuah bekas jalan Ular Piton yang mengarah ke sebuah semak-semak rumput spiritual yang kemungkinan dibalik semak itu adalah jalan yang mengarah ke taman tempat Ular Piton Bertanduk Tiga bersembunyi.
"Kalian berdua cepatlah ambil Rumput Naga Tujuh Tangkai itu dan setelah itu ikut aku!" perintah Evan.
Kemudian Ray dan Tang Chen pun mengambil semua Rumput Naga Tujuh Tangkai yang ada didalam Gua, dan kemudian bergegas menyusul Evan yang sudah sampai ke semak-semak.
Evan mengikuti jalan bekas ular Piton dan tak lama kemudian Evan dan kedua temannya pun sampai ke ujung Gua.
Mereka bertiga terkejut dengan kagum melihat sebuah pemandangan taman yang indah dan dipenuhi oleh tanaman spiritual Tingkat Tinggi dengan sebuah pohon buah yang besar ada ditengah taman itu.
"Ternyata benar disinilah tempat yang dikatakan oleh Elemen Petir!" batin Evan sambil tersenyum melihat taman tersebut.
"Apakah pohon itu yang sebelumnya dikatakan oleh Elemen Petir?" pikir Evan dalam hatinya sembari melihat ke arah pohon buah yang ada ditengah taman tersebut.
Namun tiba-tiba Ular Piton Bertantuk Tiga menyerang mereka bertiga dan dengan cepat mereka pun berhasil menghindar.
"Humm..., aku hampir lupa jika masih ada satu masalah lagi yang perlu dibereskan!" kata Evan mengeluarkan Energi Petir dari tubuhnya.
Mereka bertiga mengeluarkan pedang mereka dan siap untuk bertarung dengan Ular Piton Bertanduk Tiga.
__ADS_1
"Kalian manusia mahkluk serakah yang rakus tak akan aku biarkan kalian mendapatkan apapun dari tempatku dengan mudah!" ucap Ular Piton Bertanduk Tiga.
"Apakah kamu sungguh ingin melawan kami bertiga dengan tubuh kamu yang terluka itu?, kamu hanya akan menyia-nyiakan tenaga kamu saja!, lebih baik kamu diam dari pada kamu akan mati!" kata Evan bersiap menyerang.
Ular Piton Bertanduk Tiga tampak berpikir dan bimbang sembari melirik ke arah telurnya, ia yang sudah tidak sanggup untuk bertarung lagi pun menyerah dan mundur kembali melingkari telurnya.
Melihat itu Evan pun menurunkan pedangnya. "kalian berdua turunkan senjata kalian!" perintah Evan dengan suara pelan.
Ray dan Tang Chen pun menuruti perintah Evan untuk menurunkan senjata (pedang) mereka.
Kemudian Evan berjalan mendekat menghampiri Ular Piton Bertanduk Tiga yang sedang mengerami telurnya dengan penuh kasih sayang.
Ular Piton Bertanduk Tiga melihat ke arah Evan yang berada dihadapannya.
"Kalian aku perbolehkan untuk mengambil apa yang kalian inginkan didalam sarangku ini!, tetapi aku punya dua permintaan pada kalian!" ujar Ular Piton Bertanduk Tiga dengan lemah.
"Pertama aku ingin kalian melindungi aku dan telurku hingga aku pulih dari luka-lukaku, kedua aku ingin kalian jangan mengambil semua yang ada disarangku ini karena aku dan telurku yang akan segera menetas juga membutuhkan sumber daya!" pinta Ular Piton Bertanduk Tiga.
"Heh, aku bisa saja melakukan apa yang kamu minta, akan tetapi bagaimana jika disaat kamu sudah pulih kamu juga akan menyerang kami?, jika saat itu tiba maka kami tidak hanya mendapatkan apapun tetapi kami juga bisa saja terluka atau pun mati dibuat olehmu!" kata Evan yang masih belum cukup percaya.
"Hmm.. aku tahu kamu pasti tidak akan mempercayaiku dengan mudah, baiklah agar kamu percaya kamu boleh memberi Segel Jiwa padaku dengan begitu kamu bisa menentukan hidup dan matiku kapan saja, jadi kamu tidak perlu khawatir kalau aku akan berbalik menyerang kalian!" ujar Ular Piton Bertanduk Tiga.
"Hmm...., apapun itu aku sebagai induk rela asal aku bisa melindungi telurku (anakku), sekarang milikku yang paling berharga adalah telurku yang akan segera menetas ini dan aku tidak akan membiarkannya terluka sedikitpun!" kata Ular Piton Bertanduk Tiga sembari melihat ke arah telur yang sedang erami.
"Jadi aku mohon pada kalian untuk melindungi aku dan telurku sampai aku pulih, setelah itu kalian pun boleh pergi!" ujar Ular Piton Bertanduk Tiga kembali memohon.
Evan pun tertegun mendengar perkataan Ular Piton Bertanduk Tiga itu.
"Hmm seorang ibu......" gumam Evan mengingat ibunya yang selalu menyayangi dan memanjakan dirinya saat dirinya masih kecil.
"Apakah Ririn juga akan sama seperti ini jika dia menjadi seorang ibu?" pikir Evan dalam hatinya.
"Apakah Ririn itu adalah kekasihmu?" tanya Ular Piton Bertanduk Tiga.
Mendengar itu Evan pun terkejut. "Kamu bisa membaca pikiranku?" tanya Evan yang terkejut.
__ADS_1
"Lebih tepatnya adalah aku bisa mendengar apa yang kamu pikirkan, ini adalah kemampuan istimewaku yaitu aku bisa mendengar apa yang seseorang pikirkan yang tingkatannya berada dibawahku!" jawab Ular Piton Bertanduk Tiga.
"Hmmm..., baiklah, aku dan teman-temanku akan melakukan apa yang kamu minta yaitu untuk menjaga kamu dan telur kamu sampai kamu pulih!" ujar Evan menyetujui.
Kemudian Evan pun memegang kepala Ular Piton Bertanduk Tiga untuk memberikan Segel Jiwa.
Setelah selesai berbicara dan memberikan Segel Jiwa pada Ular Piton Bertanduk Tiga, Evan pun berbalik badan ke arah teman-temannya.
"Kalian berdua ayo bantu aku mengumpulkan Sumber Daya yang ada ditaman ini!" perintah Evan.
Diwaktu yang sama diluar Gua, Sea Lin dan enam orang Pasukan Gagak Malam telah berhasil menghabisi semua orang-orang dari Tiga Kelompok itu tanpa menyisakan mayat mereka.
Namun masih tersisa Tai Cong, Chen Feng, dan Jie Khan yang masih hidup dengan tubuh yang terluka.
Tubuh Ketiga orang itu tampak gemetar dihadapan Sea Lin dan Enam Orang Pasukan Gagak Malam.
Dengan penuh ketakutan ketiga orang itu pun berlutut memohon ampun pada Sea Lin dan Pasukan Gagak.
Namun sudah terlambat karena Sea Lin tidak akan mengampuni mereka.
"Tadi kalian menyerang kami bersama-sama dengan sangat bersemangat dan sekarang kenapa kalian malah berlutut memohon ampun?, kalian pikir jika kalian berlutut naka aku akan memaafkan kalian?, tidak akan!" ucap Sea Lin dengan kejam.
"CRAAASS !!" Sea Lin membunuh ketiga orang itu dengan tombaknya.
Enam orang pasukan Gagak Malam hanya diam melihat itu.
"Ayo, sekarang ayo kita menyusul Kakak Evan masuk kedalam Gua!" ajak Sea Lin.
Dan kemudian mereka pun masuk kedalam Gua dan berjalan semakin dalam, Sea Lin mengikuti jejak ular dan jejak kaki Evan dengan kedua teman lainnya, hingga mereka melewati semak-semak rumput spiritual yang menuju ke arah Teman (sarang) tempat Evan dan yang lainnya berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
__ADS_1
......................
......................