KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 174 : Kembali Membawa Kemenangan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian sebagian pasukan itu telah sampai di lokasi ledakan, seperti sebelumnya mereka hanya melihat sebuah lubang bekas ledakan dan para mayat yang mati disekitarnya.


"Sial, ternyata sungguh tidak ada musuh disini!"


"Kamu! kamu berani menipu kami!"


Karena para prajurit itu tidak melihat adanya musuh mereka pun menuruti perintah Jenderal mereka sebelumnya, yaitu membunuh Evan.


"Sesuai dengan perintah Jenderal, bunuh dia!" ucap seorang prajurit menunjuk ke arah Evan.


Nampak Evan yang hanya berdiri diam sambil tersenyun. "Hahaha..., bodohnya kalian.." tawa Evan mengeluarkan pedangnya dan sembari perlahan kembali ke wujud aslinya.


Melihat Evan yang berubah wajud membuat para prajurit itu terkejut.


"Kamu, Kamu bukan prajurut Negara Mo, Siapa kau!?" tanya salah satu prajurit.


"Aku adalah Jenderal Li!, malam ini adalah hari kematian kalian!" ucap Evn dengan wajah kejamnya.


"Jenderal Li?, sial kita telah dijebak!"


"Berarti dari tadi kita sudah dipermainkan dan dibodohi oleh musuh yang ada didepan mata kita!"


"Padahal musuh sudah ada didepan mata kita sejak lama, tetapi kita bahkan tidak menyadarinya!"


Para prajurit Negara Mo tampak tidak dapat mempercayai bahwa musuh sebenarnya sudah dari tadi ada didekat mereka tetapi mereka tidak menyadarinya sedikitpun.


"Keparat!, kamu telah membodohi kami, Bunuh Dia!" ucap seorang prajurit kepada prajurit lainnya.


Para prajurit itu pun mengeluarkan senjata mereka dan langsung menyerang Evan.


"Kalian memang cukup punya keberanian, tetapi kalian tetaplah hanya kerbau bodoh yang minta untuk disembelih!" ucap Evan dan langsung maju menyerang dengan elemen kegelapannya.


Evan bertarung sembari menyerap para musuh, setiap ayunan pedangnya pasti akan langsung memotong musuh hingga tewas.


Darah mengalir diatas tanah, pakaian Evan bersimbah dengan darah, pedang Evan meneteskan darah musuh, dengan mata menghitam yang penuh dengan aura membunuh Evan membunuh para musuhnya dengan sangat cepat.


Beberapa saat kemudian Evan berhasil membunuh semua prajurit musuh.


Darah bergelinang dimana-mana, namun tampak tak ada mayat yang tersisa, Evan berdiri memegang pedang dengan tubuh diselimuti aura kegelapan, tatapan mata Evan penuh dengan aura membunuh yang kuat.


Perlahan aura kegelapan yang menyelimuti tubuh Evan menghilang, Evan berbalik badan dan mengam sebuah obor yang ada didekatnya.


Evan membakar salah satu tenda kemah yang ada didekatnya, setelah itu Evan membuang obor yang tadi dia ambil dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


"Misi malam ini Sukses!" ucap Evan berjalan menjauh meninggalkan lokasi yang sudah terbakar dilalap oleh api.


Disisi lain, ditempat Reya dan pasukan pemanah apinya sudah bersiap untuk menembakan panah api mereka untuk membakar kemah pasukan Negara Mo.


"Itu Jenderal Evan!, Jenderal Evan sudah memberi sinyal!" kata seorang prajurit yang melihat Evan sudah keluar dari Kemah pasukan Negara Mo dan memberi sinyal dengan melambaikan pedang yang diselimuti aura api.


Mendengar itu Reya pun tampak senang dengan senyum diwajahnya.


"Seluruh Pasukan Pemanah bersiap menembakan pemanah!" seru Reya memberi perintah dengan tegas.

__ADS_1


Mendengar perintah, pasukan pemanah menyiapkan panah api mereka dan menarik busur, siap untuk menembakan panah.


"Panah..., Tembak!" perintah Reya dan para pasukan langsung melepas tali busur dan menembakan panah nereka ke arah perkemahan Pasukan Negara Mo.


Diwaktu yang sama Jenderal Bian Luo dan pasukannya telah sampai diperkemahan utama yang sudah tampak kacau dengan mayat para prajuritnya berserakan dimana-mana, sedangkan para musuh sudah tidak ada ditempat.


"Raaaagh!! Sial!, Bajingaaan!!" teriak Jenderal Bian Luo yang kesal setengah mati.


"Lihat!....." ucap seorang prajurit yang melihat banyak anak panah yang disulut oleh api meluncur menuju ke perkemahan.


Seketika seluruh prajurit menoleh melihat ke arah langit yang dipenuhi anak panah yang disulut Api.


"Sial, Itu adalah panah api!, mereka ingin membakar kemah kita!" kata Jenderal Bian Luo.


Seketika Jenderal Bian Luo tersadar teringat sesuatu.


"Semuannya ketempat persediaan!, selamatkan persediaan!" seru Jenderal Bian Luo beteriak dengan keras memberi perintah pada pasukannya.


Jenderal Bian Luo dan pasukannya langsung bergegas menuju ke arah tiga Tenda tempat persediaan mereka.


Sesampainya disalah satu Tenda tempat persediaan perlengkapan perang, Jenderal Bian Luo masuk dengan cepat kedalam tenda.


Setelah masuk Jenderal Bian Luo terkejut melihat ternyata seluruh perlengkapan perang mereka sudah tidak ada lagi, hanya ada tenda yang kosong melompong tidak ada apa-apa pun.


Kemudian dua orang yang memeriksa Dua Tenda lainnya yang menyimpan persediaan makanan dan Obat-obatan datang untuk melapor dan berlutut pada Jenderal Bian Luo.


"Lapor Jenderal, semua persediaan pangan kita sudah tidak ada, persediaan kita telah habis dicuri!" lapor salah satu prajurit yang berlutut sambil memberi hormat.


"Tenda tempat menyimpan persediaan obat kita juga telah dicuri, tidak ada satu obat pun yang tersisa!" lapor seorang prajurut lainnya yang berutut sambil memberi hormat.


Dalam sekejap kemah pasukan Negara Mo telah habis terbakar dilalap oleh api, api ada dimana-mana, dam tidak ada air untuk memadamkan api karena mereka berada ditengah-tengah gurun.


Mereka hanya bisa diam melihat tenda-tenda kemah mereka terbakar oleh Api, pandangan keputusasaan tampak dari wajah-wajah mereka.


"Hahaha..., Kita bahkan belum berperang tetapi sudah dikalahkan sejak awal, kita benar-benar sudah dipermainkan oleh musuh!" ucap Jendera Bian Luo merasa kalah.


"Jenderal!, kita adalah prajurit, kita tidak boleh menyerah sebelum kita mati!" kata seorang prajurit yang memberi semangat dan dorongan kepada Jenderal Bian Luo.


"Benar!, besok kita masih bisa berperang walaupun tanpa makanan, obat-obatan, dan perlengkapan perang!" ucap Jenderal Bian Luo yang mulai kembali semangat juangnya.


"Kita tidak boleh menyerah!, tidak boleh mundur!, tidak ada prajurit yang menyerah!, mati atau hidup tidak boleh menyerah!" seru Jenderal Bian Luo berteriak pada pasukannya.


Mendengar seruan Jenderal Bian Luo mereka yang penuh semangat juang, seketika membuat pasukan Negara Mo menjadi bersemangat kembali untuk berperang.


Diwaktu yang sama teman-teman dan pasukan Evan telah kembali ke kota Yanzhou, tampak mereka sedang menunggu (menanti) kembalinya Evan gerbang benteng pertahanan.


Beberapa saat kemudian tampak Evan yang berjalan sendiri menuju ke arah mereka, Evan berjalan sembari memegang lengan kirinya yang masih terluka.


"Itu Jenderal Li, Jenderal Li kembali!" tetiak seorang prajurit yang berdiri diatas benteng pertahanan.


Tampak suasana dibenteng menjadi ramai dengan kedatangannya Evan.


"Astaga..., apa-apaan yang mereka lakukan?, kenapa sampai menyambutku seperti ini?, ini terlalu berlebihan!" batin Evan melihat keramaian yang terjadi dibenteng pertahanan.

__ADS_1


"EVAN.....!!" panggil Reya dengan gembira sambil berlari menghampiri Evan.


"PLUUK!" Reya langsung memeluk Evan dengan erat dan Evan pun juga membalas memeluk Reya.


"Evan, kenapa kamu pulang lebih lambat dari kami?, kamu tidak melakukannya sesuai rencana kita!, kamu bertindak sendirian!, apa kamu tau betapa khawatirnya aku?" ujar Reya dengan bersikap manja pada Evan.


"Reya...., kamu ini sudah tidak seperti Reya yang aku kenal, kemana Reya yang galak, arogan, dan mendominasi itu?" ucap Evan dengan lemah lembut sambil memeluk Reya.


"Reya yang galak dan arogan telah menghilang dan menjadi kucing manja dihadapan calon suaminya!, jadi kamu harus bersyukur sifatku yang seperti ini hanya khusus untuk kamu saja!" jawab Reya dengan manja.


"Iyah deh kucing kecil!" ucap Evan mengusap kepala Reya.


Reya sangat senang dengan sikap Evan yang mulai menerimanya dan memperlakukannya layaknya seorang kekasih.


"Evan, Akhirnya kamu mau menerimaku lagi, maaf karena aku meninggalkan kamu sebelumnya, maafkan aku karena sebelumnya aku bersikap buruk padamu, maafkan aku karena dulu aku menyakitimu bahkan berniat ingin membunuhmu!" batin Reya mengingat kejadian masa lalu yang sebelumnya ia bersikap buruk dan berniat membunuh Evan.


Reya menangis meneteskan air mata penuh penyesalan didalam pelukan Evan yang hangat.


"Reya, kamu menangis?, maaf jika sudah membuatmu khawatir..." ucap Evan yang semakin memeluk Reya dengan hangat.


Kemudian Reya melepas pelukannya perlahan dan mengusap air matanya.


"Evan kamu baik-baik sajakan, apakah kamu ada terluka?" tanya Reya.


"Sedikit" jawab Evan singkat sambil tersenyum.


"Mana lukanya?" tanya Reya kembali tegas.


Evan menunjukan luka yang ada dilengan kirinya.


"Ini tidak sedikit! ini lukanya cukup dalam!, kenapa kamu diam saja dan tidak mengatakannya!?" tanya Reya mulai cerewet dan mengomeli Evan.


"Hanya luka kecil saja, biarkan saja besok juga pasti akan sembuh" ujar Evan merasa bukan masalah.


"Tidak Boleh dibiarkan saja!, jika tiga calon istrimu yang lain tahu aku pasti akan disalahkan oleh mereka karena tidak bisa merawatmu!" ujar Reya dengan tegas.


"Hmmm...., baiklah, ayo kita kembali lebih dulu dan cari tempat yang cocok untuk mengobatinya, diluar dingin banyak angin dan banyak nyamuk yang mengintai melihat kita!" ujar Evan.


Tampak sekitar mereka ada teman-teman dan para prajurit yang sedang melihat mereka dengan wajah tersenyum.


"Ekhem, aku tidak melihat apa-apa!" ucap Luo Bai mengalihkan pandangannya.


"Benar kakak besar Diluar memang banyak nyamuk!" ucap Sea Lin berpura-pura memukul-mukul nyamuk.


"Sialan, aku juga ingin punya pacar...." ucap Tang Chen merasa sedih.


"Hueek...." mual Ray melihat Evan dan Reya yang sedang bermesraan.


Sedangkan teman-teman dan pasukan lainnya hanya tersenyum dan tertawa riang dengan gembira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


...----------------...


......................


__ADS_2