
Sedangkan Evan, setelah Cao Cao dan Qiu Nia Lan pergi dia pun ikut pergi. Evan dengan hati rindu pergi ke kamar Ririn sang Istri tercintanya.
Beberapa saat kemudian Evan sampai didepan pintu kamar Ririn. Sementara itu didalam kamar, tampak Ririn yang sedang melepaskan gulungan rambutnya dan bersiap untuk tidur.
Evan yang sudah berada didepan pintu kamar langsung membuka pintu, hingga membuat Ririn yang berada didalam kamar seketika terkejut.
Ririn yang terkejut langsung menoleh ke belakang dan merasa lega, ketika melihat bahwa orang yang membuka ternyata adalah Evan suaminya sendiri.
"Haaiiss..., Sayang, kamu membuat aku terkejut saja, aku pikir siapa orang yang berani menerobos kamarku malam-malam seperti ini!" kata Ririn sembari tersenyum hangat kepada Evan.
Melihat Ririn yang tersenyum hangat padanya, Evan merasa bahagia dan senang sambil tersenyum hangat pada Ririn.
Evan berjalan menghampiri Ririn sambil tersenyum. Kemudian Evan dan Ririn saling memeluk satu sama lain dengan penuh kehangatan dan kerinduan yang sangat mendalam.
"Terkejut yah?..., maaf jika sudah membuat kamu terkejut!" kata Evan meminta maaf dengan lemah lembut sambil memeluk Ririn dengan hangat dan penuh kerinduan.
"Kenapa kamu baru pulang sekarang? kata Sea Lin kamu sudah pulang dari tadi pagi namun pergi ke kota Yinzhou untuk menjumpai Qin Shan, karena ada hal penting yang perlu kamu sampaikan padanya, memang hal penting apa yang perlu kamu bicarakan dengan Qin Shan?" tanya Ririn merasa penasaran.
"Hanya urusan pekerjaan, aku menyuruhnya untuk segera pindah ke Ibukota Kerajaan untuk mengerjakan semua urusan administrasi pemerintahan disana." kata Evan menjawab dengan lemah lembut.
"Apakah hanya itu saja? tidak ada hal lain lagi?" tanya Ririn yang masih merasa penasaran.
"Aku juga menyuruhnya untuk mengumumkan kemenangan perang ke seluruh Nanzhou, dan aku juga sekalian bertanya padanya dan membuatnya marah!" kata Evan.
"Kamu bertanya apa sampai membuat Qin Shan marah?" tanya Ririn merasa heran dan penasaran.
"Aku bertanya padanya kapan dia punya pacar? setelah itu dia langsung marah dan mendorongku keluar dari ruang kerjanya hehehe...." kata Evan bercerita sambil tertawa.
"Pantas saja Qin Shan marah, kamu jahil sekali!" kata Ririn sambl tersenyum dan tertawa kecil setelah mendengar cerita Evan.
"Baiklah ayo kita duduk, nanti kamu lelah jika berdiri terus!" kata Evan dengan penuh perhatian menyuruh Ririn untuk duduk.
Kemudian Evan dan Ririn duduk berdampingan di atas tempat tidur. Dengan manja Evan berbaring dengan kepala berbantalan di pangkuan Ririn.
"Sayang, apakah kamu masih seorang Jenderal Besar? kenapa kamu manja sekali?" ujar Ririn bertanya dengan lemah lembut sembari mengusap kepala Evan yang berada dipangkuan pahanya.
__ADS_1
"Apakah tidak boleh seorang Jenderal bermanja pada istrinya? bahkan saat aku menjadi Kaisar nanti, aku juga tetap ingin selalu bermanja pada kamu, Istriku tersayang!" kata Evan dengan bermanja pada Ririn.
Mendengar jawaban Evan sungguh membuat Ririn merasa sangat senang dan bahagia. Ririn tersenyum dan kemudian mencium kening Evan.
Akan tetapi Evan yang hanya dicium keningnya saja merasa tidak puas.
"Hanya kening saja?" ujar Evan dengan manja meminta lebih pada Ririn.
"Jika kamu ingin lebih, kamu pergilah ke Istri kamu yang lain. Aku sedang hamil tidak boleh melakukan hubungan ranjang, itu akan berbahaya untuk bayi kita!" ujar Ririn menolak dengan lemah lembut sambil mengusap kepala Evan yang berada di atas pangkuan pahanya.
"Iyah aku tahu, tetapi bukankah kita hanya tidak boleh melakukan hubungan itu saja? Jika berciuman boleh bukan?" ujar Evan yang menginginkan ciuman dari Ririn.
Melihat Evan yang sangat ingin berciuman, Ririn pun tidak ingin menolaknya dan kemudian tersenyum.
"Baiklah boleh, pegang-pegang juga boleh!" kata Ririn memperbolehkan Evan untuk menciumnya.
"Tetapi kamu harus bertahan dan jangan sampai kelewatan!" lanjut kata Ririn mengingatkan Evan.
"Istriku memang yang terbaik! Aku janji pasti tidak akan kelewatan dan menyakiti bayi kita!" kata Evan merasa sangat senang dan bersemangat.
Sesaat kemudian Evan dan Ririn saling melepas ciuman mereka yang saling merekat. Setelah berciuman tampak nafas Evan dan Ririn yang terengah-engah dan wajah mereka yang merah merona.
"Ririn...., aku ingin kamu!..." kata Evan sambil menurunkan lengan baju Ririn.
"Evan, kamu sudah berjanji padaku, jangan kelewatan!" ujar Ririn mengingatkan Evan dengan lemah lembut.
"Sayang..., kamu menyiksaku!" kata Evan dengan terengah-engah sambil memeluk dan menyandarkan kepalanya dibahu Ririn.
"Sayang, maaf aku tidak bisa melakukannya. Jika kamu benar-benar menginginkannya, kamu pergilah ke kamar Reya, Ruyu atau Ran Ran...." ujar Ririn dengan sangat lemah lembut.
"Aku tidak mau! Aku hanya mau kamu!" Ririn dengan sangat manja dan merengek seperti seorang anak kecil.
"Evan cukup! bukanah tadi sudah berjanji jangan sampai kekewatan?" ujar Ririn dengan tegas menolak Evan.
Mendengar suara nada tinggi Ririn, seketika membuat Evan terkejut hingga tersadar.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku!" kata Evan sambil duduk dengan tegak dihadapan Ririn.
Evan merasa kecewa pada Ririn yang menolak keinginannya, namun Evan tetap tersenyum dengan hangat pada Ririn.
Melihat Evan yang benar-benar menginginkan dirinya, kemudian Ririn pun menghela nafasnya dan mencoba untuk membantu Evan memuaskan keinginannya.
"Apakah kamu sangat menginginkan diriku?" tanya Ririn dengan lemah lembut kepada Evan.
Evan tidak berjawab pertanyaan Ririn, namun Evan menganggukan kepalanya dengan pelan sambil tersenyum pada Ririn.
Melihar anggukan kepala Evan sambil tersenyum padanya, kemudian Ririn pun ikut tersenyum.
"CUP!" Ririn mencium dan mengkecup bibir Evan. "Kamu berbaringlah, aku akan membantumu...." ujar Ririn menyuruh Evan untuk berbaring.
"Tidak usah, kita tidak boleh menyakiti bayi kita!" kata Evan menolak Ririn.
"Tenang saja, aku tidak akan menyakiti bayi kita. Kamu berbaringlah, aku akan membantumu!" kata Ririn meyakinkan sambil tersenyum hangat dan penuh kasih sayang pada Evan.
Mendengar itu, kemudian Evan pun berbaring dengan patuh di atas tempat tidur. Namun seketika Evan terkejut saat Ririn melorotkan celanya luar dan ****** ******** sekaligus.
"Ririn!?....." Evan tampak tidak percaya saat melihat Ririn memegang dan memegang tongkat tegaknya dengan lembut.
"Sssstt......" suara Ririn mendesis menyuruh Evan untuk tetap diam dan tenang dengan patuh.
Kemudian Evan pun dengan patuh berbaring dan membuarkan Ririn melakukan apapun pada tongkat tegak miliknya. Sedangkan Ririn melakukan kewajibannya sebagai Istri untuk memuaskan Evan.
Pada malam itu, Evan terpaksa dipuaskan oleh Ririn dengan cara tersebut, agar tidak membahayakan dan menyakiti Bayi mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
......................
__ADS_1