
Kemudian Sea Lin dan enam orang Pasukan Gagak Malam pun sampai ke taman tempat Evan dan yang lainnya berada.
Sea Lin dan pasukan Gagak Malam terkejut heran ketika melihat Evan, Ray dan Tang Chen yang sudah akan mengumpulkan tanaman spiritual di taman tersebut, dan Ular Piton yang juga masih baik-baik saja diam mengerami telurnya.
Mereka terheran melihat keadaan dan situasi sekitar tampak normal yang sama sekali tidak ada bekas pertarungan di tempat itu.
Evan melihat kedatangan Sea Lin dan enam orang pasukan Gagak Malam yang sedang berjalan menghampirinya.
"Sea Lin, kalian sudah selesai membereskan semua orang-orang itu?" tanya Evan.
"Sudah, mereka semua sudah kami bereskan sesuai perintah Kakak Besar!" jawab Sea Lin sembari berjalan mendekat menghampiri Evan.
Sea Lin melirik sekilas ke arah Ular Piton Bertanduk Tiga yang tampak sedang diam mengerami telurnya dengan penuh kasih sayang.
"Kakak Besar ada apa dengan situasi ini?, kenapa tampak tenang dan normal?" tanya Evan dengan suara pelan.
"Tidak apa-apa, bukankah bagus jika seperti ini?, aku dan Ular Piton Bertanduk Tiga telah bersepakat bahwa dia akan membiarkan kita untuk mengambil apa yang kita inginkan ditempat ini, tetapi kita tidak boleh mengambil semuannya karena dia juga membutuhkan Sumber Daya untuk dirinya dan anaknya yang akan segera menetas, dan juga setelah ini kita juga harus melindungi dia (Ular Piton Bertanduk Tiga) dan anaknya yang akan segera menetas sampai dia pulih dari lukanya dan mengumpulkan kembali energinya!" jawab Evan menjelaskannya pada Sea Lin.
"Tetapi bagaimana jika saat Ular Piton Bertanduk Tiga sembuh, dia akan berbalik menyerang kita?" tanya Sea Lin.
"Itu tidak akan terjadi, karena aku telah memberi Segel Jiwa pada Ular Piton Bertanduk Tiga itu jadi dia tidak mungkin akan menyerang kita, ini adalah kesepakatan kami!" jawab Evan.
Setelah mendengar itu dengan jelas dari Evan, Sea Lin pun berhenti bertanya lagi.
"Baiklah, sekarang ayo kalian semua bantu aku mengumpulkan tanaman spiritual yang ada disini!" perintah Evan pada kelompoknya.
Kemudian Evan melihat ke arah sebuah pohon yang ada ditengah taman itu.
"Kakak Petir, apakah benar ini adalah pohon buah yang sebelumnya kamu katakan?" tanya Evan pada petir yang ada didalam lautan spiritualnya.
"Yah, inilah pohon dan buah itu!" jawab Petir.
"Hmm..., aku merasakan energi yang kuat dari pohon ini, sebenarnya ini adalah pohon apa?." tanya Evan.
"Ini adalah pohon yang biasanya ada didunia atas, tetapi mengapa ada satu pohon disini?" ucap Petir yang juga heran.
"Sebenarnya pohonnya ini tidak terlalu berharga tetapi buahnya lah yang sangat berharga apa lagi untuk kamu yang perlu meningkatkan kekuatan pasukan!" ujar Petir.
__ADS_1
"Sangat Berharga?" batin Evan merasa heran.
"Benar, nama buah ini adalah Buah Bulan Abadi, buah ini berbuah sepanjang tahun dan tidak bisa membusuk walau sudah jatuh ketanah sampai 100 tahun dan buah ini sangat bermanfaat, karena hanya dengan memakan satu buah maka dapat meningkatkan kekuatan yang setara dengan sepuluh tahun perkembangan!" kata Petir yang seketika membuat Evan terkejut.
"Sepuluh Tahun Perkembangan?" ucap Evan yang terkejut hingga tercengang.
"Yah, kira-kira seperti itu, akan tetapi buah ini hanya bisa dimakan sebanyak satu atau dua kali dalam jangka waktu yang lama sampai kamu bisa menetralkannya, jika kamu memakan lebih dari yang kamu bisa maka tubuhmu akan langsung meledak berkeping-keping dan mati!" kata Petir dengan jelas kepada Evan.
"Astaga sayang sekali jika seperti itu, Kakak Petir menurutmu aku bisa makan sampai berapa buah?" tanya Evan.
"Dengan Tingkatan Kultivasi, kekuatan Raga dan Roh kamu, aku yakin kamu bisa memakan sampai dua buah!" jawab Petir.
"Apa?, Hanya Dua?" ucap Evan yang tampak kecewa.
"Dengan kekuatan kamu yang sekarang seharusnya kamu senang!" ujar Petir pada Evan.
Kemudian Evan pun mengambil dua bauh yang ada diatas tanah.
"Apakah benar buah Bulan Abadi ini sehebat itu?" ujar Evan yang masih tidak yakin.
Kemudian Evan pun memakan dua Buah Bulan Abadi tersebut dan setelah memakan dua buah itu seketika dua Buah Bulan Abadi itu memberi tambahan besar Energi Spiritual pada Dantian Evan dan itu masih terus bertambah.
Tubuh Evan terus mengumpulkan energi dengan jumlah yang besar, Melihat itu Sea Lin dan yang lainnya pun berhenti mengumpulkan tanaman spiritual.
Seketika emua orang yang ada disitu pun melihat ke arah Evan.
Energi didalam tubuh Evan terus bertambah dengan sangat cepat dan Sayap Aura Evan keluar dengan sendirinya, Kemudian Evan pun terbang melayang di udara dengan energi yang masih terus bertambah dengan cepat.
"BAAMM !!" ledakan terobosan yang besar menyebabkan angin berhembus dengan kencang dan menerpa semua yang ada disekitarnya.
Terlihat Evan dengan Sayap Aura sebelah kanan adalah Petir sedangkan Sayap Aura sebelah kiri adalah Kegelapan, Dan mata kiri berwarna Biru Petir sedangkan mata kanan berwarna Hitam Kegelapan, Dan Tubuh Evan tampak berlapis dengan Armor Spirit level satu.
"Buah Bulan Abadi ini sungguh luar biasa!, Akhirnya aku mencapai tingkat Kaisar! (didunia asli)" kata Evan dengan sangat senang
Evan berhasil menerobos tingkatan ke tingkat Kaisar Level satu didunia asli atau nyata, namun karena adanya penolakan di Alam Fantasi Tujuh Bintang, Evan tetap berada ditingkat Jenderal Level Tiga dan semua yang ada pada diri Evan seperti Sayap Aura dan Armor Spirit seketika pun menghilang dan Evan terjatuh terbanting ketanah.
Melihat Evan terjatuh, Sea Lin dan yang lainnya pun menghampiri Evan.
__ADS_1
"Aaakh..., kenapa bisa seperti ini?" ucap Evan bangkit berdiri.
"Kakak Besar, apalah kamu tidak apa-apa?, apakah Kakak besar tadi melakukan terobosan lagi?" tanya Sea Lin.
"Yah, aku tidak apa-apa, aku tadi sudah melakukan terobosan ke Tingkat Kaisar Level satu, tetapi tidak tahu kenapa tiba-tiba seperti ada sebuah penolakan yang menyebabkan semua energi aku tadi menghilang seketika!" kata Evan yang juga tidak tahu dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Kemudian suara petir terdengar dari ruang kesadaran Evan.
"Itu adalah penolakan dari Alam Fantasi Tujuh Bintang ini, kamu jangan lupa bahwa tingkatan kamu di alam Fantasi Tujuh Bintang ini masih berada ditingkat Jenderal Level Tiga, jadi tentu saja sesuatu seperti Sayap Aura dan Armor spirit yang seharusnya berada di atas tingkatan kamu yang berada ditingkatan Jenderal Level Tiga di alam fantasi ini seketika menghilang!" kata Petir menjawab semua ketidak tahuan Evan dari dalam Ruang kesadaran (Lautan Spiritual).
Mendengar perkataan Petir Evan pun bertanya lagi.
"Jadi Kak, apakah aku akan tetap naik ke tingkat Kaisar saat aku keluar nanti?" tanya Evan pada Petir melalui kesadaran.
"Yah, Tentu saja!" jawab Petir.
"Evan!, Evan!" panggil Racun dengan bersemangat.
"Evan, setelah keluar dari sini apakah kamu akan langsung mengobati dengan meniduri Kekasih kecil kamu itu?" tanya Racun dengan bersemangat.
Evan yang mendengar pertanyaan itu pun seketika wajah dan kupingnya menjadi merah.
"Aaah.., jangan membahas itu dulu, Oke?, apa lagi aku dan dia masih sangat muda dan belum pantas melakukan hal-hal seperti itu!" ujar Evan menjawan Racun.
"Tidak apa-apalah, bukankah banyak orang-orang yang menikah muda? dan mereka juga baik-baik saja?, kalian juga boleh mencobanya bukan?, apa lagi ini demi mengobati kekasih kecil kamu itu!" ujar Racun tampak yang sedang memaksa Evan.
"Tapi...." Evan tidak tahu harus berkata apa untuk menolak.
Seketika dengan cepat Pasir Membungkam mulut Racun yang terus berbicara tanpa henti.
"Sudah Evan jangan dengarkan kata Kakak Racun kamu ini, dia ini Racun yang sesuai namanya, karena sudah terlalu lama tidak melihat orang bercinta makanya jadi seperti ini, jadi jangan dengarkan dia dan kamu lakukanlah sesuai dengan caramu sendiri!." saran Es pada Evan.
Mendengar itu Evan pun diam dan berpikir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
...----------------...
......................