
"SERAAANNGG !!!"
"BANTAAAI!! BUNUH!!"
Teriakan dari setiap pasukan menggema dengan lantangnya, pertempuran besar pertama Evan dimedan perang terjadi dengan hebat.
Tampak pasukan kavaleri yang dipimpin oleh Reya telah berhasil membelah dua pasukan musuh dan mengacaukan formasi pasukan musuh, hingga membuat pasukan musuh tampak menjadi terpojok dengan formasi yang kacau.
Reya dengan tombaknya menebas para musuh dari atas kudanya.
"Semuannya Serang! bantu sayap kanan dan kiri!" seru Reya dari atas kuda memberi perintah pada pasukan Kavalerinya.
Dibagian sayap kiri tampak Sea Lin dan yang lainnya beserta pasukannya membantai musuh dengan sangat mudah.
Tampak Sea Lin yang sedang menggila kegirangan membunuh membantai para musuhnya, matanya berubah menjadi merah dengan aura hitam kemerahan disekujur tubuhnya.
"Hahaha.... Mati! Mati! Mati!, Bunuh Semuannya!!" kata Sea Lin yang sedang menyerang, membunuh, dan membantai semua musuhnya.
Kemudian Sea Lin mengeluarkan jurus tebasan dengan ayunan Tombak sabitnya yang seketika memotong banyak prajurit musuh.
Disisi lain Evan menggunakan jurus 'Langkah Kilat Surgawi' dan 'Tebasan Petir Membelah Langit' beberapa kali dan dalam sekejab lebih dari setengah musuh telah dibantai habis oleh Evan dan pasukan Serigalanya.
Teman-teman beserta pasukan Evan berperang dengan sangat bersemangat dan berani, dengan teriakan dan sorakan membuat seakan jiwa mereka ikut terbakar yang membuat mereka pun bertarung menjadi lebih beringas.
Hanya dalam waktu yang tidak berlangsung lama pasukan Evan yang hanya berjumlah 30 ribu prajurit berhasil membuat pasukan Negara Mo yang berjumlah lebib dari 50 ribu prajurit terpojok.
"Kenapa bisa jadi seperti ini!?, kenapa kita bisa kalah dengan pasukan Nanzhou yang lemah itu!?, Apa yang sebenarnya terjadi selama setengah bulan kami tidak menyerang!" pikir Jenderal musuh dalam hatinya yang kesal.
"Padahal jumlah pasukan mereka jauh lebih sedikit dari pasukanku!, tapi kenapa pasukanku bisa kalah!?" batin Jenderal musuh yang merasa kesal dan tidak percaya.
Merasa situasi sudah tidak menguntungkan lagi, dan Karena merasa terpojok dan akan kalah, Jenderal pasukan Negara Mo pun memutuskan untuk mundur.
"Semuannya mundur!, Aku perintahkan Mundur!!" Seru Jenderal musuh.
Mendengar itu pasukan Negara Mo pun segera berbalik mundur, tersisa Kurang dari 10 ribu prajurit Negara Mo mundur.
"Jenderal apa perlu kita kejar?" tanya Wolf.
"Tidak usah!" jawab Evan singkat.
"Sea Lin lakukan!" perintah Evan berteriak pada pada Sea Lin yang jauh berada dibarisan paling depan diantara prajurit.
Sea Lin mendengarnya. "Hahaha baiklah..." jawab Sea Lin.
__ADS_1
Kemudian energi dalam tubuh Sea Lin pun meluap keluar, dia mengeluarkan aura kematian yang kuat yang membuat prajurit disekitarnya merasa takut.
Sebuah bola Energi berwarna merah kehitaman terbentuk ditombak sabit Sea Lin, seakan merasa sudah cukup mengumpulkan Energi, Sea Lin berlari beberapa langkah.
"LEDAKAN DARAH!" ucap Sea Lin sembari. melemparkan bola energi tersebut ke arah pasukan musuh yang kabur.
Bolah tersebut terlempar dengan sangat kuat dan cepat menuju pasukan Negara Mo yang kabur.
Bola tersebut menabrak seorang prajurit hingga prajurit itu jatuh tersungkur, kemudian Prajurit tersebut bangkit berdiri dengan segera namun tubuhnya mulai berubah bentuk mengelembung-gelembung menjadi aneh.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Ayo lari menjauh darinya!"
Para prajurit lain Negara Mo yang melihat orang itu merasa aneh dan langsung menjauh dari prajurit yang berubah aneh tersebut.
Disisi lain Sea Lin berbalik badan dengan santai dan menjetikan jarinya sembari berkata "BOOM!" sambil tersenyum yang bersamaan meledaknya prajurit yang tadi berubah bentuk menjadi aneh.
"BOOMM !!" ledakan besar terjadi ditengah pasukan Prajurit Negara Mo yang kabur, ledakan itu menewaskan lebih dari setengah pasukan musuh yang kabur.
Semua pasukan terkejut melihat itu bahkan Evan sekali pun.
...****************...
"Kakak besar, aku sudah bisa, tapi bola energi ini sangat kecil padahal sudah menguras banyak menguras energi spiritualku!" ucap Sea Lin mengeluarkan sebuah bola energi sebesar kelereng ditangannya.
Evan membuang nafas. "Yasudahlah tidak apa-apa" ujar Evan tidak mempermasalahkan.
"Sekarang coba kamu lempar bola kecil itu ke burung yang ada disana!" perintah Evan sambil menunjuk seekor burung yang ada disebuah dahan pohon.
Sea Lin mengangguk dan melemparkan bola kecil itu dan mengenai burung itu dengan tetap sasaran, Burung itu terjatuh, semula tidak terjadi apa-apa.
"Aah sepertinya memang tidak berhasil, lain kali ayo kita coba lagi!" kata Evan yang kemudian berbalik badan ingin pergi.
Nampak raut wajah Sea Lin yang kecewa dan ikut berbalik badan mengikuti Evan
Namun "BOOM!" sebuah ledakan mengejutkan Evan dan Sea Lin.
Evan dan Sea Lin pun langsung segera melihat arah ledakan itu.
"Astagaaa...." Evan terkejut melihat sebuah lubang bekas ledakan yang cukup besar dan hanya tersisa bulu-bulu burung yang masih berterbangan disekitarnya.
"Waah..., apakah aku sudah berhasil?" tanya Sea Lin yang terkejut kagum.
__ADS_1
"Hahaha... kau berhasil! Hebat hahahaha..." tawa Evan merangkul Sea Lin dengan gembira.
"Lain kali ayo kita coba lagi dengan bola yang lebih besar!, Hahaha..." kata Evan sambil tertawa.
"Hahaha... siap kakak besar!" kata Sea Lin ikut tertawa gembira.
......................
Kembali ke medan perang....
Para prajurit tercengang menelan ludah mereka melihat Ke arah Sea Lin.
"Untung saja Sea Lin adalah orangku, jika tidak pasti akan menjadi masalah bagiku!" batin Evan tersenyum melihat ke arah Sea Lin.
Sea Lin menoleh melihat ke arah Evan dan memberikan Jempol sembari tersenyum.
"Mantap!" ucap Evan tersenyum senang sembari memberikan jempol pada Sea Lin.
Karena pasukan negara Mo sudah mundur, pertempuran hari ini pun sudah selesai.
Evan memerintah sebagian prajurit untuk mengumpulkan barang hasil rampasan perang dan mengumpul mayat-mayat musuh untuk diserap olehnya dan Sea Lin.
Dan menerintahkan sebagian prajurit yang tersisa untuk membawa para prajurit yang terluka untuk berobat dan menguburkan para prajurit yang gugur.
Sore Hari tampak medan perang yang telah dibersihkan, dan para mayat musuh telah habis diserap oleh Sea Lin dan Evan.
"Kakak Besar, kenapa aku hanya naik satu Level saja?, padahal aku sudah menyerap begitu banyak mayat!" tanya Sea Lin yang sudah berada ditingkat Jenderal level Empat.
"Kamu Naik satu level sudah cukup bagus dari pada aku yang tidak naik level!" ujar Evan melirik tidak senang.
"Tingkatan kita sekarang sudah semakin tinggi tentu akan bertambah sulit untuk meningkat lagi!" kata Evan menjawab Sea Lin.
"Sekarang karena sudah selesai ayo kita kembali ke kota!" kata Evan sembari loncat naik ke atas kuda.
Karena telah selesai membersihkan medan perang, kemudian Evan pun memerintah pasukannya untuk kembali ke kota.
"Semuannya Kembali ke kota" perintah Evan pada seluruh pasukannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
__ADS_1
......................