KAISAR 12 ELEMEN

KAISAR 12 ELEMEN
CH 360 : Pamit Berperang


__ADS_3

Pagi hari, matahari terbit dengan sangat cerah dan menghangatkan, air embun menetes dari daun-daun pohon yang basah, kicauan burung-burung yang merdu meramaikan suasana yang indah.


Tampak Reya yang sedang tetidur dengan sangat nyenyak setelah melakukan sepuluh putaran penuh dengan Evan.


Sedangkan tampak Evan telah selesai mandi dan sedang mengenakan pakaian. Kemudian Evan berbalik badan dan memberi kecupan pada kening Reya dengan sangat lemah lembut.


"Istriku yang cantik, kamu tidurlah dan tunggu aku pulang!" pinta Evan dengan sangat lemah lembut pada Reya yang sedang tidur dengan nyenyak.


Kemudian Evan mengenakan pakaian tempurnya dan keluar dari kamar. Setelah dari keluar kamar Reya, Evan pergi ke tempat para Istrinya yang lain satu per satu untuk berpamitan.


Setelah selesai dari kamar Nan Ruyu dan Ran Ran untuk berpamitan pada mereka, kemudian Evan pergi ke tempat Istrinya yang terakhir yaitu Ririn.


Disana Evan tampak sedang duduk berlutut pada Ririn yang sedang duduk diatas tempat tidur. Dengan lembut dan hangat Evan mencium kedua tangan Ririn yang dipegangnya.


"Istriku, kamu tunggulah aku pulang, jaga dirimu dan anak kita dengan baik." ujar Evan dengan lemah lembut dan penuh kehangatan.


"Tenang saja, aku pasti akan menjaga diriku dan anak kita dengan baik, kamu tidak udah merasa khawatir." kata Ririn sambil tersenyum dengan lemah lembut pada Evan.


"Istriku, bolehkah aku menyentuh anak kita?, aku juga ingin berpamitan kepadanya." pinta Evan pada Ririn.


"Tentu saja boleh, ini adalah anak kita dan kamu adalah Ayahnya." kata Ririn dengan senang hati mengijinkan Evan untuk menyetuh bayi yang ada dalam kandungannya.


Kemudian Evan yang sudah sangat lama menanti dan merindukan untuk menyentuh calon anaknya, dengan perlahan mencoba mendekat dan mengelus perut Ririn dengan lembut dan hangat.


"Sayang, Ayah akan segera pergi berangkat berperang. Kamu dan Ibu harus saling menjaga dengan baik, dan kamu jangan menjadi anak nakal yang menyusahkan Ibu. Jika kamu berani menyusahkan Ibu, besar nanti Ayah pasti akan sering menghukun kamu!" ujar Evan dengan lembut sambil mengelus calon anaknya yang berada didalam perut Ririn.


Akan tetapi Ririn yang seketika kesal mendengarnya, tiba-tiba langsung menarik telinga kiri Evan untuk menjauh dari perutnya.


"Anakku tidak akan menyusahkan aku, kamu jangan mengatainya yang tidak-tidak. Kamu cepatlah pergi berangkat dan cepat kembali pulang, jangan terlalu banyak bicara disini!" ujar Ririn sambil menjewer dan menarik telinga Evan menjauh dari perutnya.


Evan yang baru dilepaskan telingannya merasa cukup kesakitan. Evan berdiri tegak dihadapan Ririn sambil menggosok telinganya.


"Astaga Istriku, kenapa kamu galak sekali?. Aku hanya sedang mengajari anak kita saja, kenapa kamu menarik telinga sampai hampir lepas?" ujar Evan merasa sebal sambil menggosok telinga kirinya yang memerah.


"Humph!, katanya punya kekuatan raga yang kuat, baru ditarik sedikit saja sudah kesakitan." ujar Ririn yang juga merasa kesal.

__ADS_1


"Huh!, Dasar Istri Galak!" kata Evan bergumam menyela Ririn.


Sontak Ririn yang mendengar Evan menyela dan mengatai dirinya merasa sangat marah dan kesal.


"Apa kamu bilang?!" tanya Ririn dengan raut wajah marahnya.


"Tidak ada!, aku harus segera pergi berangkat ke benteng, Luo Bai dan teman-teman yang lainnya pasti sedang menungguku.. Dadah 👋👋👋......!!" kata Evan yang dengan cepat langsung berbalik badan dan kabur melarikan diri dari Ririn.


Sementara diwaktu yang sama didalam kamar Sea Lin. Tampak Sea Lin yang telah selesai mandi dan sedang mengenakan pakaian tempurnya. sedangkan dibelakangnya tampak Chu Xian yang sedang duduk sambil melihat ke arahnya.


"Sea Lin, kamu harus pulang, jangan meninggalkan aku sendirian terlalu lama disini, aku menunggumu pulang!" ujar Chu Xian dengan lemah lembut mengingatkan Syaea Lin.


Mendengar itu, Sea Lin yang sedang mengenakan pakain tempurnya berbalik badan dan berjalan perlahan menghampiri Chu Xian.


Kemudian Sea Lin berlutut dan memegang kedua tangan Chu Xian. Sea Lin mencium kedua tangan Chu Xian yang digenggamnya dengan lembut dan hangat.


"Xian Xian, kamu jangan memohon lagi, janganlah bersedih. Aku pasti akan pulang dan tidak akan membuat kamu menunggu lama disini, aku berjanji!" kata Sea Lin dengan lemah lembut berjanji pada Chu Xian.


Melihat Sea Lin yang telah berjanji, Chu Xian merasa senang dan menjadi jauh lebih tenang.


"Xian Xian, kenapa kamu membahas ini lagi?, aku tidak apa-apa. Bukan kamu yang terlalu egois, tetapi akulah yang terlalu bodoh hingga tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Jadi aku mohon, kamu jangan menyalahkan diri sendiri lagi." kata Sea Lin yang tidak ingin Chu Xian terus menyalahkan dirinya sendiri.


Kemudian Sea Lin mencium kedua tangan Chu Xian yang digenggamnya dengan lembut dan hangat untuk yang kedua kalinya.


"Mulai sekarang aku berjanji, aku akan berusaha untuk menjadi Pria dewasa seperti yang kamu inginkan, jadi aku mohon, kamu jangan bersedih lagi!" kata Sea Lin berjanji agar membuat Chu Xian tidak merasa sedih lagi.


Chu Xian merasa sangat senang dan bahagia melihat Sea Lin yang selalu berjanji untuk tidak membuatnya merasa sedih.


Chu Xian yang merasa sangat bahagia tidak tahu bagaimana untuk mengungkapkan perasaannya.


Sea Lin yang ingin segera berangkat pergi untuk berperang, kemudian bangkit berdiri.


"Sudah, aku harus berangkat pergi berperang, Kakak Besar dan yang lainnya pasti sudah menungguku. Kamu jagalah dirimu sendiri dengan baik, tunggu aku pulang dan kita akan menikah untuk menjadi suami Istri yang sah!" kata Sea Lin yang ingin pergi untuk berangkat berperang.


"Yah, aku pasti akan menunggu kamu pulang, aku menantikannya." kata Chu Xian dengan patuh dan tersenyum pada Sea Lin.

__ADS_1


Kemudian Sea Lin berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Chu Xian di kamarnya sendirian. Sea Lin pergi berangkat berperang bersama dengan Evan dan yang lainnya.


Pada saat keluar dari kamarnya, Sea Lin melihat Evan yang sedang berjalan ke arahnya.


Sea Lin seketika merasa heran dan tersenyum menahan tawanya ketika melihat telinga kiri Evan yang memerah.


"Kakak Besar, ada apa dengan telingamu?, apakah digigit oleh Kakak Ipar?" tanya Sea Lin merasa heran sambil tersenyum menahan tawanya.


"Kamu jangan menertawakan aku, ini bukan digigit tetapi dijewer oleh Kakak Ipar Petamamu!" kata Evan sambil terus menyentuh telinga kirinya yang memerah.


Mendengar itu Sea Lin merasa jenaka dan terus tersenyum menahan tawanya, sedangkan Evan kemudian berhenti untuk menyentuh telinganya.


"Sudah, ayo kita berangkat. Luo Bai dan yang lainnya pasti sudah menunggu kita didepan gerbang pertahanan!" ujar Evan mengajak Sea Lin untuk berangkat bersama.


Kemudian Evan dan Sea Lin langsung terbang pergi meninggalkan kediaman Jenderal dan menuju benteng pertahanan tempat teman-teman mereka dan seluruh Pasukan berkumpul.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


SEMUA ORANG BISA BERJANJI, NAMUN TIDAK SEMUANNYA BISA MENEPATI JANJI.


SAAT JANJI TERUCAP, MAKA ORANG YANG MENDENGARNYA PUN AKAN MERASA BAHAGIA.


AKAN TETAPI SAAT JANJI TERINGKAR, MAKA ORANG YANG MENDENGARNYA AKAN MERASA SEDIH, BENCI DAN TIDAK BAHAGIA.


JANGANLAH KAMU MENJADI ORANG YANG SUKA MENGUCAPKAN KATA JANJI, JIKA KAMU TIDAK YAKIN BISA MENEPATINYA.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...****************...


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2