
Sementara itu Mo Sueyan dan sisa pasukannya yang tersisa pulang ke Negara Gu dengan membawa kekalahan total.
Kekalahan total Mo Sueyan dan 200 ribu prajurit yang dibawanya membuat seluruh kerajaan Mo merasa malu, terutama keluarga Kerajaan.
Di istana Kerajaan Mo, Aula Kaisar.
Tampak Mo Sueyan yang sedang menghadap kepada Ayahnya yaitu Mo Luo Tai sang Kaisar Kerajaan Mo.
Kaisar Mo Luo Tai merasa sangat marah pada Putrinya Mo Sueyan yang telah gagal dua kali dalam menjalankan misi.
Pertama, Mo Sueyan gagal mendapatkan Teratai Api Emas saat di Alam Fantasi Tujuh Bintang sebelumnya dan pulang membawa tubuh yang terluka sangat parah.
Kedua adalah, Mo Sueyan gagal mendapatkan Nanzhou dengan 200 lebih prajurit dan pulang membawa kekalahan total dengan hanya membawa pulang 60 ribu prajurit dari 200 ribu prajurit yang dibawanya.
"Sueyan, kamu sudah sangat mengecewakan Ayah, kamu sudah gagal menjalankan dua tugas yang aku percayakan kepadamu!" kata Kaisar Mo Luo Tai.
"Mohon maafkan aku Ayah, aku telah ceroboh dan mengecewakan Ayah, aku pantas diberi hukuman, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi maka aku pasi tidak akan mengecewakan Ayah, aku pasti akan merebut Nanzhou untuk Ayah!" kata Mo Sueyan sambil bersujud memberi hormat pada Kaisat Mo Luo Tai.
"Tidak bisa!, apakah kamu tahu?, karena kesalahan yang kamu lakukan kita sekarang telah kehilangan tiga kota sekaligus?" kata Kaisar Mo Luo Tai hingga mengejutkan Mo Sueyan.
"Apa? bagaimana mungkin!?" kata Mo Sueyan sontak terkejut mendengar bahwa mereka telah kehilangan tiga kota mereka.
"Kenapa tidak mungkin?, karena kamu menyerang ke arah kota Hao yang telah dihancurkan oleh mereka untuk memancingmu, mereka mengambil kesempatan itu untuk merebut tiga kota sekaligus dalam waktu dua hari!" kata Kaisar Mo Luo Tai yang seketika langsung membuat Mo Sueyan terdiam.
"Sudahlah sebaiknya kamu diam di istana kerajaan dan terima hukuman kamu, urusan untuk merebut Nanzhou biar aku dan Kakak kamu saja yang memikirkannya!" kata Kaisar Mo Luo Tai dengan tegas kepada putrinya Mo Sueyan.
"Ayah, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi, aku pasti akan merebut Nanzhou, aku pasti tidak akan mengecewakan Ayah lagi!" kata Mo Sueyan memohon sambil bersujud kepada Kaisar Luo Tai.
"Pengawal bawa dan hukum Putri Mo Sueyan dengan hukuman 100 cambuk lidah neraka, setelah itu kurung dia didalam kamarnya selama 40 hari, jangan biarkan dia keluar melewati pintu kamarnya!" kata Kaisar Mo Luo Tai memberi perintah kepada para pengawalnya.
Kemudian dengan patuh Mo Sueyan pun dibawa oleh para pengwal keluar dari Aula Kaisar.
Tidak lama setelah Mo Sueyan dibawa pergi oleh para pengawal dari Aula Kaisar, kemudian datang Putra Tunggal Kaisar Mo Luo Tai, yaitu Pangeran Mo Liang.
Mo Lian berjalan dan kemudian menghadap sambil membungkuk memberi hormat kepada Kaisar Mo Luo Tai yang duduk diatas singgasananya.
"Mo Liang menghadap Ayah Kaisar, ada hal apa ayah menyuruh aku datang kesini?" tanya Mo Liang sambil membungkuk dan memberi hormat pada Kaisar Mo Luo Tai.
__ADS_1
"Liang, aku ingin kamu berperang menaklukkan Nanzhou, kamu boleh memilih dan membawa dua Jenderal Berpengalaman untuk membantumu berperang menaklukkan Nanzhou!, apakah kamu sanggup?" tanya Kaisar Mo Luo Tai kepada Mo Liang.
"Tentu saja aku sanggup Ayah, tetapi bukankah Ayah sudah tahu kalau kemampuan yang aku miliki lebih rendah dari adik?, jika adik saja tidak berhasil menaklukkan Nanzhou apa lagi aku?. kenapa Ayah malah lebih mempercayaiku dari pada adik?" tanya Mo Liang yang merasa heran kepada keputusan Kaisar Mo Luo Tai.
"Liang, kamu adalah putraku satu-satunya, kedepannya kamu akan meneruskan tahtaku dan menjadi Kaisar Kerajaan Mo, kamu harus memiliki pengalaman untuk menjadi seorang pemimpin, kamu harus bisa memerintah kerajaan ini dengan baik, agar kedepannya aku bisa menyerahkan seluruh kerajaan ini kepadamu dengan tenang, aku mengandalkan kamu Mo Liang, kamu adalah harapanku!" kata Kaisar Mo Liang yang sangat berharap kepada putra satu-satunya Mo Liang.
"Ayah, aku tidak ingin menjadi Kaisar, berikan saja posisi itu kepada Sueyan, dia sudah banyak berkontribusi dan berkorban demi Kerajaan ini, dialah yang lebih layak untuk mendapatkan posisi itu!" ujar Mo Liang.
Mendengar bahwa Mo Liang, putra satu-satunya tidak ingin meneruskan tahta dan menjadi kaisar kerajaan Mo, Kaisar Mo Liang pun naik pitam dan menjadi marah.
"Liang?, apa maksudmu, apakah kamu tidak ingin menjadi penerusku untuk menjadi Kaisar dan memerintah Kerajaan in?, kamu adalah harapan dan putraku satu-satunya, kamu tidak boleh menolak!" kata Kaisar Mo Liang yang merasa kecewa dan marah kepada Mo Liang.
"Aku menolak!, aku tidak ingin menjadi Kaisar, tetapi Ayah tenang saja, walaupun aku tidak ingin menjadi Kaisar, aku akan tetap membantumu untuk menaklukkan Nanzhou!" kata Mo Liang sambil membalikkan badannya membelakangi Kaisar Mo Luo Tai.
"Dan aku ada satu hal lagi yang ingin aku katakan pada Ayah, jangan pernah sakiti Mo Sueyan hanya untuk kepentinganmu atau negaramu, jika kamu berani menyakitinya atau membuatnya terluka lagi sama seperti sebelumnya, maka jangan salahkan aku tidak sungkan padamu dan menjadi anak yang durhaka, camkan itu!" kata Mo Liang dengan lirikkan kejam hingga membuat Kaisar Mo Luo Tai sontak terkejut melihatnya.
Kemudian Mo Liang pun pergi meninggalkan Aula Kaisar, sedangkan disisi lain Kaisar Mo Luo Tai merasa hampa dan kecewa, karena putra harapannya yang membangkang dan menolak menjadi penerus Kaisar.
"Sebenarnya apa kesalahan yang telah aku perbuat? kenapa aku memiliki putra pembakang seperti dia?, haahh...." pikir Kaisar Mo Luo Lai menghela nafas kecewa.
Tampak Mo Sueyan yang tengah digantung dengan tangan diikat di atas dan siap untuk menerima cambukan Api Lidah Neraka dari seorang Pengawal Kerajaan, namun tiba-tiba Mo Liang datang dan menghentikan Pengawal tersebut.
"Hentikan!" teriak Mo Liang dari kejauhan hingga membuat Pengawal tersebut seketika berhenti.
"Kakak!?" sebut Mo Sueyan yang terkejut senang melihat kedatangan Kakaknya Mo Liang.
Kemudian Mo Liang berjalan menghampiri Mo Sueyan, dan melepaskan tali yang mengikat tangan Mo Sueuan.
"Sueyan, kenapa kamu mau dihukum oleh Ayah?, kamu tidak boleh dihukum oleh siapa pun termasuk Ayah, kamu kembalilah ke kamarmu, yah?" kata Mo Liang sambil mengusap pipi Mo Sueyan dengan lemah lembut.
"Tetapi...." Mo Sueyan merasa bimbang.
"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang marah padamu, kamu kembalilah ke kamarmu" ujar Mo Liang dengan lemah lembut.
Namun kemudian seorang pengawal yang sedang memegang cambuk Api Lidak Neraka mencoba untuk menghentikan mereka.
"Maaf Pangeran Putra Mahkota, Pangeran tidak boleh membawa Putri sekarang, Putri harus menjalani hukuman terlebih dahulu, ini perintah dari Kaisar!" kata Pengawal tersebut mencoba menghentikan Mo Liang.
__ADS_1
"Aku sudah berbicara kepada Kaisar dan dia mengijinkan!, jika kamu masih berani menghentikan aku membawa adikku, maka kamu akan langsung aku penggal!" kata Mo Liang kepada prajurit tersebut.
"Maaf Pangeran, hamba bersalah!" kata Pengewal tersebut sambil membungkuk dan memberi hormat.
Mendengar bahwa dirinya telah dilepaskan dari hukuman, Mo Sueyan pun merasa senang dan memeluk Mo Liang kakaknya.
"Terima kasih Kakak, kamu adalah orang yang paling baik padaku, aku mencintaimu!" kata Mo Sueyan dengan sangat senang sambil memeluk Mo Liang.
Mendengar itu Mo Liang pun tertegun dan merasa bahagia.
"Yah cinta, andai saja kamu bukanlah adik kandungku, bukankah akan sangat sempurna?" ujar Mo Liang sambil memeluk Mo Sueyan dengan hangat.
"Apa maksud Kakak?" tanya Mo Sueyan yang bingung sambil mendongak melihat wajah Mo Liang.
"Tidak apa-apa, Kakak juga sangat mencintai Sueyan!" ucap Mo Liang membelai rambut Mo Sueyan.
Kemudian mereka berdua pun saling melepas pelukan mereka.
"Sekarang kamu kembalilah ke kamarmu untuk memulihkan luka, jangan kemana-mana, turuti perkataan Ayah untuk diam dikamarmu, jika kamu bosan kamu boleh berkeliling istana, tetapi tidak boleh keluar dari istana, mengerti?" ujar Mo Liang dengan lemah lembut kepada Mo Sueyan.
"Baik, terima kasih Kakak!" kata Mo Sueyan.
Kemudian Mo Sueyan pun pergi kembali ke kamarnya dengan hati senang, sedangkan disisi lain Mo Liang merasa hampa sambil melihat Mo Sueyan berjalan pergi meninggalkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
...****************...
......................
__ADS_1