
Di dalam salah satu kamar di kediaman Jenderal, tampak Sea Lin yang sedang duduk bersila dan bersiap untuk berlatih.
Akan tetapi perasaan Sea Lin masih selalu kacau dengan temperamen dan sikap Chu Xian kepadanya, tidak hanya yang terakhir kali ini saja, tetapi semua perlakuan Chu Xian selama ini.
"Chu Xian sebenarnya apa artinya aku untukmu?, kamu selalu mengatakan bahwa aku bersikap seperti anak-anak dan orang bodoh, tetapi apakah kau tahu bahwa sikapku yang seperti ini hanya terjadi padamu?" kata Sea Lin dalam hatinya.
Sea Lin merasa sedih dan kecewa terhadap perlakuan yang diberikan Chu Xian selama ini.
"Maaf Chu Xian, karena kamu bahkan bersikap dingin padaku, maka maafkan aku, kau akan kehilangan kehangatan ini selamanya!" kata Sea Lin merasa lelah dengan perlakuan Chu Xian padanya.
Kemudian Sea Lin langsung menutup kedua matanya secara perlahan. Setelah menutup kedua matanya Sea Lin langsung masuk kedalam Lautan Spiritualnya.
Didalam Lautan Spiritual Sea Lin melihat ada satu buku kitab raksasa yang ada dihadapannya, benar sekali kitab itu adalah Kitab Raja Mayat yang diberikan oleh Evan kepadanya.
Kemudian Sea Lin mengibaskan tangannya ke kanan dan terbukalah lembaran terakhir yang terdapat dalam kitab raja mayat. Didalam lembar terakhir kitab Raja Mayat adalah Teknik Kelima dalam kitab raja mayat, yaitu Teknik Pengendali Mayat.
Di lembar terakhir Kitab Raja Mayat tersebut tertulis sebuah kalimat. "Hilangkan Segala Emosi Dan Tetapkan Pikiran Pada Satu Tujuan".
Kalimat tersebut merupakan kalimat yang menjadi alasan, mengapa Sea Lin selama ini belum bisa menguasai Teknik Kelima dari Kitab Raja Mayat.
Kalimat tersebut adalah satu syarat terpenting untuk Sea Lin menguasai Teknik Pengendali Mayat, kalimat tersebut memiliki arti, bahwa Sea Lin untuk menguasai Teknik Pengendali Mayat maka harus menghilangkan semua emosi yang ia miliki, dan juga Sea Lin hanya akan memiliki satu pemikiran dan satu tujuan dalam hidupnya.
Sea Lin memulai latihannya, kemudian sebuah aura energi darah dan kegelapan keluar dari tubuh Sea Lin.
"Kitab Raja Mayat, Teknik Pengendali Mayat!" kata Sea Lin berseru untuk memulai proses latihannya.
"Hilangkan Segala Emosi Dan Tetapkan Pikiran Pada Satu Tujuan!" kata Sea Lin mengucapkan kalimat mantranya.
Namun pada saat ditengah proses latihan tiba-tiba Sea Lin merasa bimbang kembali, disaat memikirkan apakah dia harus benar-benar menghilangkan semua emosi yang dia miliki dan menjadi seorang mayat hidup.
"Aku tidak bisa!" kata Sea Lin membuka matanya kembali dan energi darah dan kegelapan yang keluar dari tubuhnya ssketika langsung menghilang.
"Aku tidak ingin membuat Chu Xian merasa sedih, aku akan memberi satu kesempatan lagi pada Chu Xian!" kata Sea Lin dalam hatinya yang merasa ragu.
...****************...
Sementara itu diwaktu yang sama, tampak Evan yang masuk ke dalam kamar Ririn secara diam-diam. Saat Evan masuk, ia mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi.
"Apakah Ririn sedang mandi?, kalau begitu waktunya sungguh tepat sekali!" kata Evan merasa sangat senang.
__ADS_1
Secara perlahan Evan masuk kedalam kamar mandi tanpa diketahui oleh Ririn sama sekali.
Didalam kamar mandi Evan melihat Ririn yang sedang berendam air hangat didalam bak mandi dengan santai sambil memejamkan mata.
Evan yang datang dengan pakian yang masih utuh, tiba-tiba langsung melompat masuk kedalam bak.
"BYUURR!!" Evan melompat masuk kedalam bak, hingga membuat Ririn sontak terkejut dan air bak bermuncratan kemana-mana.
"Bajingan!" kata Ririn merasa terkejut dan marah.
Ririn dengan cepat langsung menciptakan sebuah tombak es runcing di tangan kanannya dan bersiap untuk membunuh orang yang masuk ke dalam baknya.
Namun disaat Ririn sudah siap menyerang dan menancapkan tombak es yang ada di tangan kanannya, tiba-tiba Evan mengeluarkan kepalanya hingga saling bertatap-tatapan dengan wajah Ririn.
"EVAN!?...." kata Ririn yang merasa terkejut dan heran juga bercampur kesal.
"Hehehe!......" tawa Evan sambil tersenyum cengengesan kepada Ririn.
"Iiii......., Kamu membuat aku terkejut, tahu tidak?" ujar Ririn merasa sangat kesal sambil menjewer telinga Evan.
Tanpa peduli lagi Evan yang sudah sangat merindukan Ririn, langsung mencium bibir Ririn.
"CUPP!" ciuman Evan mendarat tepat dibibir mungil Ririn yang menggoda.
Selang beberapa detik Evan melepaskan ciumannya, Evan merasa sangat puas dan senang, sedangkan Ririn tampak terengah-engah pada nafasnya.
"Kamu!, kamu kenapa tiba-tiba menciumku?" ujar Ririn merasa sangat kesal dengan wajah merah merona. Namun tiba-tiba Ririn tersadar akan satu hal penting yang membuatnya merasa heran dan terkejut.
"Energi bintang kamu?" tanya Ririn pada Evan dengan raut wajah terkejut dan heran.
"Energi bintang yang ada didalam tubuhku semuannya sudah menghilang, kita sudah bisa melakukannya lagi!" kata Evan memberitahu Ririn kabar baik tersebut.
Kemudian Evan yang sangat merindukan Ririn, langsung mencium bibir Ririn lagi.
Ririn sama sekali tidak menolak dan membalas ciuman dari Evan, kemudian ciuman mesra mereka terpisah lagi setelah beberapa detik.
Sebelum terpisah Evan menelan air liur Ririn yang masuk kedalam mulutnya. Ririn melihat Evan yang sedang sangat bersemangat, akan tetapi Ririn yang sedang hamil tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai Istri untuk melayani Evan sang suaminya.
"Evan, aku tidak bisa melakukannya, aku sedang hamil. Kamu carilah Reya dan yang lainnya untuk melayani kamu" kata Ririn menolak permintaan Evan dengan lemah lembut.
__ADS_1
Mendengar perkataan Ririn yang mengiranya ingin meminta jatah, Evan merasa tersenyum keheranan.
"Ririn, apa yang kamu katakan?, siapa yang ingin meminta kamu untuk melakukan hal itu?, maksud perkataan aku adalah kita bisa saling berinteraksi dengan normal seperti biasa!" ujar Evan sambil tersenyum kepada Ririn.
Perkataan Evan seketika langsung membuat Ririn merasa malu dan merona, sangking meronanya bahkan telinga Ririn juga ikut memerah.
Melihat Ririn yang sedang merasa malu dan merona, maka Evan pun tidak ingin menyia-nyiakan saat-saat tersebut untuk mengerjai dan menjahili Ririn.
Evan mendekatkan wajahnya ke samping wajah Ririn yang sedang merah merona.
"Ririn, apakah kamu sedang berfikir kalau aku ingin melakukan hal itu?, kalau kamu mau kita bisa melakukannya!" bisik Evan sambil menghembus dan menjilat daun telinga Ririn yang memerah.
Ririn yang secara tidak sengaja memegang dan merasakan benda Evan yang sudah berdiri tegak langsung sangat merasa sangat malu dan geli.
Ririn dengan wajah merona langsung menarik tangannya kembali, dan mendorong Evan hingga terjatuh ke dalam bak yang dipenuhi air.
"Aku sudah selesai mandi, aku mau ganti baju!" kata Ririn yang langsung bangkit berdiri dan keluar dari bak mandi dengan wajah yang sudah sangat merona.
Evan yang tadi terjatuh ke dalam bak mandi langsung berdiri dengan pakaian yang sudah basah kuyup.
"Kenapa buru-buru sekali?, ayo kita mandi dulu, nanti kita ganti bajunya barengan saja!" ujar Evan sambil tersenyum menggoda Ririn yang sedang memakai handuk.
"Kamu mandi saja sendiri, aku sudah selesai!" kata Ririn dengan wajah yang sudah sangat merona.
"Ririn?" panggil Evan dengan suara yang amat lemah lembut pada Ririn.
Mendengar suara lemah lembut Evan yang memanggilnya, Ririn pun menoleh dan melihat ke belakang.
Sontak betapa malunya Ririn ketika melihat Evan yang sudah melepas seluruh pakaiannya dan terlihat benda terlarangnya.
"Dasar Evan tidak tahu malu!" kata Ririn langsung memalingkan wajah dan pandangannya.
Dengan sangat malu dan wajah yang terasa panas dan merah merona, Ririn langsung bergegas keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Evan sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
__ADS_1
......................
......................