
Keesokan paginya ditempat penginapan rumah kayu Evan.
Pagi yang cerah dengan mentari pagi yang bersinar terang, bunga-bunga berwarna-warni bermekaran dan kicau-kicauan yang terdengar sangar merdu.
Evan membuka lebar pintu gerbang penginapan dengan wajah yang ceria dan segar, kemudian Evan menghirup udara segar dengan panjang.
"Sekte Puncak Dewi Putih memang masih sama seperti dulu, Cuaca ditempat ini memang selalu cerah dan udaranya selalu segar, sungguh membuat orang merasa sangat nyaman dan betah tinggal disini!" kata Evan dengan raut wajah ceria.
"Hmm..., ngomong-ngomong aku belum ada melihat si Nenek tua bangka itu, apa dia sudah mati?" pikir Evan didalam hatinya sembari mengingat neneknya Rue Qianyu.
"Dasar mulut sampah ini selalu saja pandai mengutuk orang, walaupun Nenek Tua itu tidak memiliki hubungan darah denganku, tetapi bagaimanapun ibuku tetaplah anak angkatnya, aku tidak boleh sembarangan mengutuk Nenek Tua itu!" ujar Evan berbicara pada dirinya sendiri.
"Memikirkan Nenek Tua itu, aku jadi merindukannya!. Dan ngomong-ngomong aku perlu mencari orang yang memata-mataiku semalam!" pikir Evan sembari mengeluarkan Tusuk konde Giok merah dari cincin penyimpanannya.
"Sekarang ayo kita cari tahu dimana kamu bersembunyi wahai penguntit, Pendeteksi Aura!" kata Evan mengeluarkan jurus yang dapat mendeteksi letak seseorang melalui aura spiritual yang ditinggalkannya.
Melalui sedikit Aura Spiritual milik si penguntit (Nenek Rue Qianyu) yang tertinggal di Tusuk Konde Giok merah tersebut, Evan pun menemukan arah tempat si Penguntit berada.
Namun baru saja Evan ingin pergi untuk mencari keberadaan si Penguntit, tiba-tiba datang dua orang wanita yang diutus untuk memanggil Evan pergi ke Aula Utama.
Melihat kedatangan kedua wanita tersebut Evan pun mengurungkan niatnya kembali untuk mencari si Penguntit.
"Kamu dipanggil oleh para Tetua untuk pergi ke Aula Utama, mari ikuti kami!" kata salah satu dari dua wanita tersebut kepada Evan.
Setelah selesai berbicara dua kalimat, dua wanita tersebut pun langsung berbalik badan dan pergi tanpa berbicara sepatah kata pun lagi.
Kemudian Evan pun mengikuti kedua wanita tersebut pergi menuju Aula Utama.
Setelah berjalan cukup lama, Evan sedikit merasa heran karena Arah jalan yang ditunjukan oleh kedua wanita tersebut sama dengan arah deteksi letak orang yang menguntitnya tadi malam.
__ADS_1
"Kenapa arah jalan ini sama dengan arah dimana si Penguntit berada?" pikir Evan dalam hatinya merasa heran.
Setelah beberapa saat kemudian, Dua wanita tersebut pun telah mengantar Evan hingga sampai ke depan Aula Utama.
Evan merasa terkejut bahwa ternyata dugaannya benar, Aula Utama adalah letak tempat dimana si Penguntit berada.
"Ternyara dugaanku benar, si Penguntit itu sedang berada di Aula Utama ini!, Hahaha.., dasar Penguntit kamu sudah tidak bisa kabur lagi!" kata Evan dalam hatinya.
Karena sudah mengantar Evan hingga sampai ke tempat tujuan, dua wanita tersebut pun pamit pergi kepada Evan.
"Kami berdua sudah mengantar kamu sampai sini, kami berdua pamit pergi!" kata salah satu dari dua wanita tersebut dan kemudian pergi meninggalkan Evan.
Melihat dua wanita tersebut sudah pergi, kemudian Evan pun masuk ke dalam Aula Utama tersebut.
Tampak di dalam Aula Utama yang besar tersebut Evan melihat ada 6 Tetua Murid Dalam, 6 Tetua Murid Luar, 20 murid utama, Wakil Pemimpin Sekte dan Pemimpin Sekte.
Namun betapa terkejutnya Evan ketika melihat si penguntit ternyata adalah Neneknya Rue Qianyu yang merupakan Pemimpin Sekte Puncak Dewi Putih.
"Bocah ini pasti sedang terkejut melihatku!" pikir Nenek Rue Qianyu sambil tersenyum melihat ke arah Evan.
"Topeng Perak bukan?, kamu silahkan berlutut disamping Calon istrimu Ruyin Li" ujar Nenek Rue Qianyu menyuruh Evan berlutut bersama dengan Ruyin Li yang telah berlutut sejak tadi.
Kemudian Evan pun dengan patuh berlutut disamping Ruyin Li yang juga berlutut.
"Kalian berdua Pria dan Wanita telah melakukan sesuatu yang telah menodai nama suci Sekte Puncak Dewi Putih, dan untuk membersihkan nama Sekte kembali kalian berdua memilki dua pilihan, pertama kalian berdua Pria dan Wanita menikah, kedua kalian berdua harus bertarung hingga salah satu diantara kalian mati, dan untuk pilihan lainnya terkhusus untuk wanita adalah keluar dari Sekte Puncak Dewi Putih dan seluruh pencapaian kultivasinya akan dilumpuhkan. Sekarang aku akan bertanya kepada kalian, kalian ingin memilih pilihan yang mana diantara pilihan-pilihan yang tadi aku sebutkan?" tanya Nenek Rue Qianyu kepada Evan dan Ruyin Li yang sedang berlutut.
"Ijin menjawaban Pemimpin Sekte, Kami memilih untuk menikah!" jawab Evan dan Ruyin Li secara bersamaan sambil berlutut memberi hormat.
"Bagus!, aku dan semua orang disini akan menjadi saksi jawaban kalian berdua hari ini, kami ingin tahu kapan rencana kalian melangsungkan pernikahannya?" tanya Nenek Rue Qianyu kepada Evan dan Ruyin Li.
__ADS_1
"Sebelumnya saya ingin minta maaf terlebih dahulu, jika untuk melakukan pernikahan tolong beri saya waktu dua bulan, setelah dua bulan saya berjanji akan kembali datang kesini untuk melangsungkan pernikahan saya dengan Ruyin Li!, mohon Pemimpin Sekte dan Para Tetua yang ada disini mengijinkan!" pinta Evan.
"Itu semua terserah pada kalian berdua, kami tidak akan ikut campur, tetapi kamu harus meminta persetujuan terlebih dahulu dari Calon Istrimu, karena dialah yang ingin kamu nikahi!" ujar Nenek Rue Qianyu.
"Saya ikut calon suami saya, jika dia sudah berkata begitu maka saya akan menyetujuinya!" ujar Ruyin Li menjawab Nenek Rue Qianyu.
Baiklah, kalau begitu masalah pernikahan kalian sudah terselesaikan, sekarang mari kita ke Arena Pertarungan untuk melakukan tradisi kita, yaitu sang calon suami Pria harus bertanding dengan para Murid seangkatan calon istri!" kata Nenek Rue Qianyu.
Mendengar hal tersebut, Evan pun merasa terkejut dan heran tentang tradisi Sekte Puncak Dewi Putih yang tidak kalah anehnya dengan aturannya.
Singkat cerita mereka semua pun sampai di Arena Pertarungan, yang mana tampak banyak sekali para murid Sekte Puncak Dewi Putih yang semuannya wanita sedang mengelilingi arena pertarungan tersebut.
Sedangkan Pemimpin dan Wakil Pemimpin Sekte serta para Tetua duduk menonton ditempat yang dibuat khusus untuk para Tetua.
Sebelum naik ke atas arena untuk bertarung, Evan yang merasa heran pun bertanya kepada Ruyin Li.
"Sebenarnya apa tujuan dari pertarungan ini?, kenapa aku harus bertarung dengan para murid seangkatan kamu?" tanya Evan kepada Ruyin Li yang ada disampingnya.
"Pertandingan ini adalah bertujuan untuk menunjukan kemampuan bahwa sang calon suami pantas untuk menikahi calon istri!" jawab Ruyin Li kepada Evan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1
......................