
Singkat cerita, tiga hari kemudian ditengah malam, tampak Ririn dan keempat istri Evan yang lainnya sedang menunggu Evan pulang di dalam kamar Evan.
"Ini sudah tiga hari tiga malam, tetapi mengapa Evan masih belum pulang?, apakah dia tidak merindukan kami?" batin Reya merasa sedih sambil memeluk bantal.
"Seharusnya kita bertiga tidak perlu marah kepada Evan, Cao Cao benar, kita sebagai istri memang tidak pernah memahami suami kita, kita merasa kalau kita bisa melindungi diri kita sendiri, tetapi pada akhirnya kita malah menjadi beban untuk Evan!" kata Ruyin Li yang merasa bersalah kepada Evan.
Sementara itu tampak Ririn yang sedang menunggu Evan didepan pintu kamar dengan raut wajah sedih.
"Evan sayang, apakah kamu tidak merindukan aku?, padahal biasanya setiap malam hari seperti ini kamu pasti akan datang padaku dengan sikap manjamu, tetapi mengapa sekarang kamu tidak datang?, jika kamu tidak merindukan aku, apakah kamu tidak pernah berpikir kalau aku sedang merindukan kamu?" gumam Ririn berharap agar Evan sedang pulang.
Sementara itu. "Hachiu!" bersin Evan yang tampak sedang berdiri di atas dinding benteng pertahanan, sambil memandang ke arah area bekas pertempuran yang sebelumnya.
"Sialan, gara-gara energi bintang ini aku bahkan tidak bisa memiliki tempat tidur! bahkan tempat tidur batu sekalipun!, sial sekali!" kata Evan sambil menggosok hidungnya.
...****************...
Sementara itu pada siang harinya di istana Kerajaan Mo, tampak Mo Sueyan yang sedang bertengkar dengan ayahnya yaitu Kaisar Mo Luo Tai.
"Ayah beri aku 200 ribu prajurit, maka aku akan membalaskan dendam Kakak Pangeran dan menaklukkan Nanzhou!" kata Mo Sueyan dengan tegas kepada Kaisar Mo Luo Tai.
"Tetap tidak!, bagaimana pun kamu memaksaku, aku tetap tidak akan memberikan kamu satu orang prajurit pun kepadamu, apalagi membiarkan kamu pergi berperang!" kata Kaisar Mo Luo Tai menolak dengan tegas permintaan Mo Sueyan.
"Apakah Ayah tidak ingin membalas dendam untuk putramu satu-satunya?!, Kakak Liang terbunuh di medan perang oleh musuh, apakah Ayah akan tetap membiarkan musuh begitu saja!?" ujar Mo Sueyan merasa sangat marah hingga wajahnya berubah menjadi merah.
"Diam!, apakah kamu pikir aku tidak ingin membalaskan dendam atas kematian Putraku satu-satunya?!, sekarang kamu tenanglah!" ujar Kaisar Mo Luo Tai yang juga ikut merasa marah.
"Bagaimana aku bisa tenang dan diam saja, sementara sampai sekarang orang yang membunuh Kakakku masih hidup dengan damai!?" ujar Mo Sueyan merasa sangat marah.
"Aku bilang diam!, aku juga ingin membalaskan dendam Putraku satu-satunya, tetapi kamu lihat kondisi Kerajaan kita sekarang, semuannya dalam kondisi yang kacau, aku sudah menghabiskan 500 ribu prajurit hanya untuk menyerang dan merebut Nanzhou, tetapi apa yang sekarang aku dapatkan!?, aku bahkan telah kehilangan tiga kota!. Sekarang kerajaan Mo memiliki tidak lebih dari 600 ribu prajurit, jika misalnya aku memberikan kamu 200 ribu prajurit dan kalah lagi, maka kerajaan Mo akan benar-benar hancur!" kata Kaisar Mo Luo Tai yang telah memperhitungkan semuannya.
Mendengar itu Mo Sueyan pun mencoba untuk menahan emosi dan amarahnya.
__ADS_1
"Jadi bagaimana rencana Ayah untuk menghadapi Nanzhou?, kita tidak mungkinkan akan membiarkan mereka begitu saja bukan?" ujar Mo Sueyan mencoba bertanya.
"Aku akan mencoba mengajukan permintaan damai kepada mereka!" jawab Kaisar Mo Luo Tai kepada Mo Sueyan.
Mendengar itu Mo Sueyan pun sontak terkejut dan merasa sangat marah.
"Apakah Ayah bodoh!?, Aku tidak setuju!, bagaimana mungkin kamu akan berdamai dengan orang yang membunuh Putramu satu-satunya!?, aku tidak setuju, aku tidak mungkin akan berdamai dengan mereka!" kata Mo Sueyan menolak dengan tegas.
Mo Sueyan merasa sangat marah hingga wajahnya semakin memerah.
"Sueyan ini adalah keputusan terbaik untuk seluruh rakyat dan Kerajaan Mo, jika kita terus melanjutkan peperangan ini, maka kita tidak hanya akan kehilangan banyak prajurit tetapi rakyat juga akan terkena imbasnya, aku mohon putriku, jangan membuatku kesulitan!" ujar Kaisar Mo Luo Tai merasa lemah.
Mendengar itu Mo Sueyan pun merasa sangat marah dan geram sampai mengepalkan tangannya hingga berdarah.
Kemudian Mo Sueyan yang perasaannya kacau dan campur aduk, langsung berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Singkat cerita Mo Sueyan yang perasaannya sedang kacau pun pergi ke penjara, lebih tepatnya ruangan interogasi yang ada didalam sebuah penjara.
"Hormat kepada Putri!" kata dua prajurit tersebut memberi hormat kepada Mo Sueyan.
"Buka pintunya, aku ingin masuk dan menginterogasi mereka lagi!" perintah Mo Sueyan kepada dua prajurit tersebut.
Kemudian dengan patuh kedua prajurit tersebut pun membukakan pintu ruangan interogasi sesuai dengan perintah Mo Sueyan.
Setelah Mo Sueyan masuk, tampak Wei Qing sang prajurit inti Pasukan Gagak Malam dan enam orang bawahan yang dibawanya untuk memata-matai kerajaan Mo, sedang digantung dengan rantai besi spiritual yang mengikat tangan dan kaki mereka.
Mo Sueyan mengambil sebuah pedang dan berjalan perlahan menghampiri Wei Qing.
Setelah Mo Sueyan sampai dihadapan Wei Qing pintu ruangan interogasi pun ditutup oleh kedua prajurit tersebut.
"Kamu pasti adalah ketua kelompok prajurit mata-mata yang dikirim Nanzhou untuk mematai-matai kerajaan Mo bukan?, sepertinya kamu memiliki posisi yang cukup spesial diantara para petinggi Nanzhou, katakan padaku apa kelemahan yang dimiliki oleh Jenderal Li kalian, jika kamu memberiku jawaban yang memuaskan, maka aku berjanji tidak akan menyiksa kamu lagi, bahkan memberikan kamu harta, status dan jabatan yang tinggi di kerajaan Nanzhou!" ujar Mo Sueyan mencoba bernegosiasi dengan Wei Qing.
__ADS_1
"Aku adalah seorang prajurit!, aku tidak akan pernah mengkhianati pemimpinku!" kata Wei Qing dengan teguh tetap setia kepada Evan.
Mendengar jawab Wei Qing yang memilih tetap setia kepada pemimpinnya, Mo Sueyan pun seketika langsung memasang ekspresi dingin.
"Haiis sayang sekali, padahal padahal wajah kamu sangat cantik, tetapi karena kamu memilih untuk tetap setia kepada pemimpinmu maka biarkan aku bermain sekali lagi dengan kalian (Craash!)" kata Mo Sueyan menggores wajah Wei Qing.
"Tes tes tes...." darah mengalir dari wajah Wei Qing dan ke lantai.
"Jika hanya satu goresan aku masih bisa memanggil seorang tabib hebat untuk menyembuhkannya, aku akan memberikan kamu satu kesempatan lagi, katakan padaku apa kelemahan Jenderal Li kalian?" tanya Mo Sueyan dengan ujung pedang di bawah dagu Wei Qing.
"Aku adalah prajurit, aku tidak akan pernah mengkhianat pemimpinku,i Jenderal Li adalah satu-satunya orang yang telah mengabulkan harapanku, jadi aku tidak akan pernah mengkhianatinya sampai mati!" kata Wei Qing dengan teguh memilih untuk tetap setia kepada Evan.
"Yah, Jenderal Li adalah orang yang telah memberikan kami harapan baru, jadi sampai mati pun kami tidak akan pernah mengkhianati Jenderal Li!" kata salah seorang prajurit mata-mata yang lainnya yang juga sedang digantung dan diikat dengan rantai besi.
Tujuh Prajurit mata-mata tersebut dengan teguh terus berkata tentang kesetiaan mereka kepada Jenderal Li, hingga akhirnya Mo Sueyan yang mendengarnya pun kehilangan kesabaran.
"Hahahaha bagus sekali!, kalian memang antek-antek bodoh yang sangat setia, karena aku tidak bisa membalas dendam kepada Jenderal Li kalian, maka kalian akan menjadi penggantinya!, akan aku siksa kalian sedikit demi sedikit, hingga kalian merasa bahwa mati lebih baik dari pada hidup!" kata Mo Sueyan dengan ekspresi kejamnya.
Kemudian suara siksaan dan jeritan kesakutan dari ruangan isterogasi itu pun terdengar sangat sadis.
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
......................
......................
__ADS_1