
Namun disaat Chu Xian memapah Sea Lin, ternyata Sea Lin sudah bangun, dia hanya sedang berpura-pura agar dapat dipapah oleh Chu Xian.
"Hahaha..., menyenangkan sekali diperhatikan oleh Chu Xian!..." batin Sea Lin yang sedang dipapah oleh Chu Xian.
Namun tiba-tiba sebuah kunai meluncur ke arah Chu Xian, Sea Lin yang menyadari serangan itu dengan sigap langsung menarik Chu Xian untuk menghindar dari kunai tersebut.
Chu Xian terkejut merasa terkejut melihat Sea Lin yang ternyata sudah terbangun dan sedang memeluk pinggangnya.
Sea Lin melihat ke arah kunai yang menancap didinding dan ternyata dikunai itu terdapat sebuah kertas kecil yang digulung dibatang kunai (surat).
"Sebuah Surat?" gumam Sea Lin dengan raut wajah serius sembari memeluk pinggang Chu Xian.
Sementara itu Tang Chen yang sedang tertidur sungguhan tidak ada mengalami hal baik.
"Pria ini kenapa tidak ada rasa kewaspadaanya sama sekali?, jika disini ada orang yang ingin menyerangnya apakah dia tetap tidak akan bangun?" ujar Ran Ran merasa heran.
"Tang Chen!, kamu bangun atau kamu akan aku siram pakai air!" kata Reya mencoba membangunkan Tang Chen dengan suara besar.
Mendengar suara besar Reya, Tang Chen pun bangun dan membuka matanya sedikit.
"Apakah sudah pagi?, kenapa kalian semua ada dikamarku?, kalian pergilah aku masih ingin tudur!" Ujar Tang Chen mencoba tidur kembali.
Reya merasa kesal dan jengkel melihat Tang Chen yang tidur kembali, namun kemudian Reya melihat lengan kanan Tang Chen yang masih diperban karena luka yang sebelumnya dia dapatkan belum pulih.
Reya tersenyum dan berjongkok dan berniat ingin mencengkram lengan kanan Tang Chen yang terluka agar membangunkan Tang Chen, melihat itu para gadis lainnya pun merasa kasihan pada Tang Chen.
"Kakak Reya, sudahlah biarkan saja dia tidur disini, lagi pula juga tidak mengganggu bukan?, kasihan jika nanti lukanya terbuka lagi!" kata Qin Yun mencoba menghentikan Reya.
"Hmm..., baiklah" kata Reya bangkit berdiri.
Kemudian Sea Lin dan Chu Xian datang kembali menghampiri Ririn, Reya dan para gadis lainnya.
Ririn yang melihat Sea Lin dan Chu Xian kembali pun bertanya. "Sea Lin, kenapa kalian berdua kembali?" tanga Ririn pada Sea Lin.
"Aku perlu memberikan sesuatu kepada Kakak Besar!" jawab Sea Lin dengan raut wajah serius.
Kemudian Sea Lin melihat Tang Chen yang masih belum bangun juga, Kemudian Sea Lin pun berjalan menghampiri Tang Chen yang masih saja belum bangun.
"Sea Lin, apa yang ingin kamu lakukan padanya?" tanya Qin Yun.
__ADS_1
"Si bodoh ini tidurnya memang seperti kerbau!, jika tidak dipukul maka tidak akan bangun!" kata jawab Sea Lin.
"Aah kamu...." Qin Yun mencoba menghentikan Sea Lin.
Namun "BANG!" Sea Lin langsung memukul kepala Tang Chen sebelum Qin Yun selesai biacara.
"Ada orang seramai ini Kamu masih saja belum bangun, jika misalnya ada orang yang ingin membunuh kamu, kamu pasti sudah mati!" kata Sea Lin mengomeli Tang Chen.
"Keparat!, aku tahu tetapi ini sudah jadi kebiasaanku!, dan kamu tidak perlu selalu memukul kepalaku setiap kali kamu ingin membangunkan aku!" kesal Tang Chen memegang kepalanya yang terasa sakit.
Sementara itu Evan yang sedari tadi mendengar suara kedatangan mereka pun menyelesaikan pembuatan pil nya, Evan pun beranjak keluar dari ruangan kosong tersebut.
"Kenapa kalian berisik sekali?, dan kenapa kalian semua berkumpul disini malam-malam?" tanya Evan membuka pintu.
"Maaf jika kami mengganggumu membuat Pil, tetapi aku hanya ingin mengingatkan kamu supaya jangan sampai lupa waktu, kamu juga harus beristirahat jangan terlalu fokus membuat Pil!" jawab Ririn yang masih merasa kesal pada Evan.
"Baiklah, aku juga sudah selesai membuat Pil nya!" ujar Evan sembari mengusap kepala Ririn.
Kemudian Sea Lin pun memberikan kunai yang dibatangnya terdapat sebuah gulungan kertas kecil kepada Evan.
"Kakak Besar, ada sebuah surat untukmu!" kata Sea Lin memberikan kunai tersebut kepada Evan.
Dikertas kecil itu terdapat sebuah kalimat "Datanglah Ke Hutan Sebelah Utara!" yang tertulis dikertas kecil tersebut.
"Sea Lin-Tang Chen, kalian berdua ikut aku pergi ke hutan sebelah utara!" kata Evan kepada Sea Lin dan Tang Chen.
"Kamu ingin pergi lagi?, ini sudah larut tengah malam!, tidakkah kamu jika itu adalah jebakan?" ujar Ririn mencoba menahan Evan.
"Walaupun itu adalah jebakan, aku juga tetap harus pergi kesana untuk melihatnya!, kamu jangan khawatir, aku tidak akan terluka dan pasti akan kembali dengan baik-baik saja!" ujar Evan mencoba menenangkan Ririn.
"Baguslah jika kamu tahu!" kata Ririn.
"Evan, yang mengkhawatirkan kamu tidak hanya Ririn saja, kami bertiga juga mengharapkan kamu kembali tanpa terluka!" kata Nan Ruyu kepada Evan.
"Yah kamu harus berhati-hati!" kata Ran Ran mengingatkan Evan.
"Baiklah aku pasti akan berhati-hati, ada empat gadis cantik yang mengkhawatirkan aku, aku mana mungkin akan membuat kalian kecewa!" kata Evan dengan tersenyum.
"Sea Lin, kamu juga harus berhati-hati!" ucap Chu Xian mengingatkan Sea Lin.
__ADS_1
"Sayangku tenang saja, aku pasti akan kembali, lagi pula aku tidak ingin mati sebelum aku menikah denganmu!" ujar Sea Lin yang membuat Chu Xian kesal.
"Siapa yang mau menikah denganmu!?" kata Chu Xian dengan kesal dan malu.
"Sea Lin-Tang Chen, ayo kita pergi ke hutan sebelah utara!" ajak Evan yang hendak pergi.
"Baik Kak!" jawab Sea Lin dengan semangat.
"Hoaaamm...... tengah malam begini pun ada saja masalah, tidak bisakah jika tidak mengajakku?, aku ngantuk sekali!" ujar Tang Chen yang masih mengantuk.
"Kamu kenapa banyak sekali protes?, Kakak Besar mengajak kamu ikut maka kamu harus ikut! Ayo!" kata Sea Lin menyeret Tang Chen dengan menarik kerah belakang baju Tang Chen.
Kemudian mereka bertiga pun pergi meninggalkan kediaman Jenderal dan menuju ke hutan sebelah utara seperti yang disebutkan.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga sampai di Hutan sebelah utara yang disebutkan, namun setelah mereka sampai mereka tidak melihat siapa atau apa pun disana.
Akan tetapi Evan dan Sea Lin mengetahui bahwa dihutan ada banyak orang yang sedang bersembunyi, Sedangkan Tang Chen masih saja mengantuk dan menguap.
"Kalian keluarlah, jangan bersembunyi lagi!" kata Evan kepada orang-orang yang sedang bersembunyi dalam kegelapan.
Kemudian 17 orang muncul (keluar) dari kegelapan, mereka semua mengeluarkan aura kegelapan dari tubuh mereka, mereka berkumpul dihadapan Evan.
Evan mengerutkan alisnya melihat para orang-orang itu yang mengeluarkan Aura kegelapan dan Niat membunuh.
Melihat itu Sea Lin mengeluarkan tombak sabitnya.
"Tang Chen bodoh!, jika kamu masih belum bangun juga maka kamu akan benar-benar mati disini!" ujar Sea Lin kepada Tang Chen yang sedang tidur bersandar pada pundak Sea Lin.
"Hooaam...., baiklah-baiklah aku bangun, kenapa tengah malam begini masih saja ada orang yang ingin mati, singguh tidak sayang nyawa!" kata Tang Chen mengeluarkan pedang dan membuka mata.
"Jenderal Li!" kata seorang Pria tua yang membuka kerudungnya dan melihat ke arah Evan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
......................
__ADS_1