
Diwaktu yang sama Evan juga telah mengumpulkan banyak barang berharga, hingga beberapa saat kemudian ada beberapa orang yang sedang nampak tergesa-gesa menuju ke suatu tempat.
Evan menguping perbincangan mereka dengan bersembunyi diatas pohon.
"Hei apa kalian tau, disana ada tanaman obat tingkat tujuh yang sangat langka dan berharga!"
"Yah, katanya tanaman itu dapat memperlancar hambatan terobosan dan dapat meningkatkan pencapaian kultivasi dengan cepat!"
"Masih tunggu apa lagi?, ayo cepat kita kesana sebelum orang lain mendapatkan tanaman itu!"
Orang-orang itu pun langsung bergegas berlari ke arah tempat tujuan mereka itu.
"Tanaman langka dan berharga?, hmm.. aku jadi menginginkannya juga!" gumam Evan menyeringai.
Beberapa saat kemudian Evan pun sampai disebuah tempat yang mana ada banyak sekali orang yang sedang berkumpul didepan sebuah Gua.
Evan yang baru saja sampai dan masih belum tahu apa pun mengenai apa yang ada dan terjadi didalam Gua, Evan pun mencari informasi kepada pendekar yang ada didekatnya.
"Hei sobat, boleh beritahu aku apa yang ada didalam Gua itu?" tanya Evan kepada seseorang yang ada didekatnya.
"Apakah kamu baru saja tiba?" tanya sobat itu.
Evan mengangguk pelan.
"Kuberitahu, Didalam Gua itu ada tanaman tingkat tujuh yang sangat berharga, nama tanaman itu adalah Rumput Naga Tujuh Tangkai!" jawab si Sobat.
"Ada tanaman yang sebegitu berharga kenapa kalian masih belum masuk dan mengambilnya?" tanya Evan.
"Nah itu masalahnya, Gua itu dijaga oleh hewan monster tingkat enam yaitu Ular Piton Bertanduk tiga!" jawab si Sobat tanpa kebohongan.
"Hmmm...." Evan memegang dagunya dan berpikir.
Kemudian terdengar suara Elemen Petir di kepala (kesadaran) Evan.
"Evan, aku merasakan ada sesuatu yang lebih berharga dari Rumput Naga Tujuh Tangkai didalam Gua itu!" kata Petir.
"Sesuatu yang lebih berharga dari Rumput Naga Tujuh Tangkai?, apa itu?" tanya Evan menjadi penasaran.
"Jauh lebih kedalam lagi dari letak Rumput Naga Tujuh Tangkai ada sebuah tempat seperti taman, ditempat itu aku merasakan ada sebuah pohon, buahnya sangat familiar bagi kami dan juga ada sebuah telur yang siap menetas, juga masih ada banyak tanaman dan benda-benda berharga lainnya!" jawab Petir memberitahu dengan jelas.
__ADS_1
"Wow!, sungguh beruntung, tetapi dengan kekuatanku yang sekarang tidak mungkin aku bisa mengalahkan Ular Piton Bertanduk Tiga itu!, kecuali jika Ular itu terluka!" pikir Evan tersenyum jahat didalam hatinya.
"Haha.., Kamu memang licik Evan!" ujar Gelap.
"Ini bukan Licik tetapi ini namanya Cerdik!" ucap Evan.
"Aku akan membiarkan orang-orang ini bertarung lebih dulu dengan Monster Ular itu, setelah ular itu terluka dan kekuatannya melemah maka saat itu adalah giliranku untuk menjadi pemenangnya! Hahaha..!" pikir Evan dalam hatinya.
Tawa Evan sampai terbawa kedunia nyata hingga orang-orang yang ada disekitarnya mendengar tawa Evan, mereka melihat ke arah Evan dengan tatapan aneh.
"Sobat!, Sobat!, Sobat!" panggil sobat itu pada Evan, hingga sobat itu menepuk pundak Evan hingga membuat Evan tersadar.
Evan yang tersadar sungguh dangat canggung dan sangat memalukan.
"Maaf, Maaf semuannya hahahaha..." tawa Evan dengan canggungnya.
Tiba-tiba orang-orang itu pun berteriak.
"Ular Piton Bertanduk Tiga telah keluar dari Gua!"
"Rumput Naga Tujuh Tangkai adalah milikku!"
"Cepat Maju Serang!, siapapun yang mendapatkan hartanya maka akan menjadi miliknya!"
"Kalian manusia serakah berani datang menggangguku disini, Matilah!" ucap Ular Piton Bertanduk Tiga menyerang dan membunuh orang-orang itu.
Pertarungan sengit pun terjadi diantara para manusia dengan ular Piton Bertanduk Tiga.
"Hei sobat, ayo kita ikut menyerang!, jangan sampai Rumput Naga Tujuh Tangkai itu diambil orang lebih dulu!" ajak si Sobat dengan sangat bersemangat.
"Hem iyah Ayo!" kata Evan berpura-pura menyetujui.
"Ayo Serang!, bunuh Piton Bertanduk Tiga!" seru si Sobat maju menyerang dengan cepat.
Evan berpura-pura maju dan berhenti setelah maju beberapa langkah.
"Heh, dasar orang-orang bodoh!, kalian hanya akan terluka dan menghabiskan tenaga kalian dengan sia-sia, bertarunglah, seranglah, maka disaat kalian sudah kehabisan tenaga dan Ular Piton Bertanduk tiga itu terluka maka disaat itulah aku akan menjadi pemenang yang sesungguhnya!" batin Evan dengan senangnya.
"Dari pada menunggu kalian bertarung disini, lebih baik aku mencari sumber daya yang lain disekitar sini!" pikir Evan dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Evan pun sudah mendapat banyak tanaman-tanaman spiritual (sumber daya).
"Pencarian sumber daya hari ini sudah cukup, sekarang sudah waktunya untuk memburu!" ucap Evan.
Kemudian Evan pun melakukan pemburuan besar-besaran didalam hutan Alam Fantasi Tujuh Bintang, hanya dalam waktu beberapa jam saja Evan telah membunuh belasan hewan monster tingkat tiga dan tiga hewan monstet tingkat empat.
Tampak Evan yang sedang ingin menyerap 1 monster macan tingkat tiga dan seekor burung tingkat tiga juga.
"Aku sudah menyerap begitu banyak hewan monster tetapi masih saja tidak mengalami peningkatan, semoga setelah ini aku dapat menerobos level!" ucap Evan berharap.
Evan pun menyerap kedua hewan monster itu hingga habis tidak bersisa, namun Evan tetap saja tidak dapat menerobos level.
Evan menghela nafasnya. "Haahh..., padahal sudah sedikit lagi akan menerobos, kenapa masih belum bisa menembus level?" keluh Evan.
Namun tiba-tiba disaat Evan ingin berbalik badan, sebuah cakar besar menghantam dirinya.
"BAMM!!" Evan terlempar cukup jauh dan menghantam sebuah pohon besar hingga berlubang.
Evan terjatuh ke atas tanah dengan kesakitan, Evan segera bangkit berdiri sembari memegang dadanya yang terasa sakit.
"Untung saja aku telah melatih kekuatan fisik hingga tingkat dua, jika tidak aku sekarang pasti sudah mati sekarang!" batin Evan sembari mengelap darah yang ada dipinggir bibirnya.
"Keparat!, binatang mana yang berani memukulku diam-diam!" ucap Evan berdiri tegak dengan raut wajah marah dan kesal.
Kemudian seekor monster macan tutul besar berwarna merah muncul dihadapan Evan, nama monster itu adalah Macan Tutul Pengejar Awan, monster tingkat lima puncak.
"Ternyata kau disini!, Dasar kau manusia rendahan!, berani sekali kau memburu diwilayahku!?" kata Macam Tutul Pengejar Awan dengan marah.
"Heh, ternyata hanya seekor kucing saja sudah berani menyerangku!, baguslah saat ini aku juga sedang membutuhkan bahan kultivasi untuk menerobos level dan kau adalah yang paling cocok!" ucap Evan mengeluarkan aura petir dari tubuhnya.
"Manusia kau sudah memburu banyak diwilayahku!, sekarang kamu malah semakin sombong dan berani, kau ingin membunuhku? kau masih belum cukup kuat!" kata Macan Tutul Pengejar Awan.
"Kau Matilah! Jadi makananku!" seru mereka bersamaan dan saling maju menyerang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...
__ADS_1
......................
......................