
"Maafkan aku, aku mengaku salah, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi, jadi kumohon kamu jangan marah!" kata Cao Cao mengakui kesalahannya dengan perasaan sedikit kecewa.
Mendengar permintaan maaf Cao Cao yang mengakui kesalahannya, tampak Qiu Nia Lan menatap Cao Cao dengan tatapan tajam dan penuh kewaspadaan.
"Humph! baik aku maafkan, tapi mulai besok kamu tidak boleh sentuh aku lagi!" kata Qiu Nia Lan merasa kesal dan marah pada Cao Cao.
"Apakah berpegangan tangan juga tidak boleh?" tanya Cao Cao sangat berharap.
"Tidak boleh!" kata Qiu Nia Lan menjawab dengan cepat.
"Apakah sampai seperti itu? apakah itu tidak terlalu berlebihan?" ujar Cao Cao merasa sangat sedih.
Mendengar perkataan Cao Cao yang dengan raut wajah sedih membuat Qiu Nia Lan merasa iba dan kasihan.
"Baiklah boleh berpegangan tangan," kata Qiu Nia Lan memperbolehkan hingga membuat Cao Cao seketika merasa senang.
"Tapi jika kamu minta yang aneh-aneh lagi, aku janji gak akan mau datang bermain ke Kediaman Jenderal lagi!" lanjut kata Qiu Nia Lan memberi peringatan pada Cao Cao.
"Baiklah Nyonya! aku berjanji tidak akan meminta hal yang aneh-aneh lagi!" kata Cao Cao berjanji.
Kemudian Evan yang sedang bersembunyi dibalik pohon, akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menghampiri Cao Cao dan Qiu Nia Lan yang sedang mengobrol.
"Cao Cao? Nia Lan? sepertinya kalian berdua sedang sangat asyik mengobrol, bolehkah Kakak tahu apa yang sedang kalian obrolkan?" tanya Evan sambil berjalan menghampiri Cao Cao dan Qiu Nia Lan.
"Kakak Evan!?" sebut Cao Cao dan Qiu Nia Lan yang langsung menoleh ke arah Evan yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Kakak Evan, kapan kamu kembali pulang?" tanya Cao Cao merasa heran dengan kedatangan Evan yang tiba-tiba muncul dan berjalan menghampiri mereka.
"Kakak baru saja sampai, mungkin belum ada satu menit dan kemudian melihat kalian berdua yang sedang memgobrol dengan sangat asyik!" kata Evan membohongi Cao Cao dan Qiu Nia Lan.
Tujuan Evan berbohong pada Cao Cao dan Qiu Nia Lan dengan mengatakan baru sampai di kediaman Jenderal adalah, agar Cao Cao dan Qiu Nia Lan tidak merasa malu atau pun merasa curiga kalau dirinya telah menguping pembicaraan mereka berdua.
Sementara itu Cao Cao dan Qiu Nia Lan merasa sangat lega mendengar jawaban Evan.
"Baguslah kalau begitu. Semoga Kakak tidak mendengar pembicaraanku dengan Nia Lan tadi. Jika Kakak mengetahuinya, maka habislah aku!" batin Cao Cao dalam hatinya merasa takut pada Evan.
__ADS_1
"Oh yah, tadi kalian sedang membicarakan apa? kenapa sepertinya sangat asyik?" tanya Evan mencoba mencari tahu dan mengetes kejujuran Cao Cao dan Qiu Nia Lan.
"Kami tidak ada membicarakan apapun kok, Kak. Kami hanya sedang membicarakan tentang latihan tadi siang. Qiu Nia Lan ada beberapa hal yang kurang dipahaminya, jadi dia bertanya padaku!" kata Cao Cao membohongi Evan dengan raut wajah tersenyum.
Mendengar jawaban Cao Cao yang membohonginya, membuat Evan tertawa didalam hatinya dan tersenyum didunia nyata.
"Dasar bocah tengil, beraninya kamu berbohong padaku? Lihat saja, setelah ini aku pasti akan memberi kamu hukuman!" batin Evan dalam hatinya merasa kesal.
Melihat Cao Cao yang tidal ingin menjawab dan mengatakannya dengan jujur, kemudian Evan berbalik badan ke arah Qiu Nia Lan dengan raut wajah tersenyum.
Melihat Evan yang pastinya ingin bertanya pada Qiu Nia Lan, seketika membuat Cao Cao merasa panik.
"Nia Lan..., tadi apa yang kalian bicarakan? kenapa sepertinya sangat asyik?" tanya Evan mencoba mengetes kejujuran Qiu Nia Lan.
Mendengar pertanyaan Evan, membuat Qiu Nia Lan merasa bimbang dan bingung apakah menjawab jujur atau tidak.
Qiu Nia Lan melihat ke arah Cao Cao yang melambai-lambaikan tangannya dengan panik dibelakang Evan. Sementara itu, Evan ternyata menyadari kalau Qiu Nia Lan merasa ragu saat melihat ke arah Cao Cao yang ada dibelangnya.
Evan tersenyum dan kemudian mengeluarkan satu kantung kristal spirit dari dalam cincin penyimpanannya. Evan menyodorkan satu kantung kristal tersebut kehadapan Qiu Nia Lan dan menggoyang-goyangkannya.
Melihat satu kantung kristal spirit ada dihadapannya, seketika membuat kedua mata Qiu Nia Lan langsung bersinar terang seperti emas yang bercahaya.
"Gawat! habis aku!..." batin Cao Cao memegang kepala dengan kedua tangannya.
Sementara itu, tampak Evan yang mulai bertanya pada Qiu Nia Lan yang sudah tergoda oleh sekantung kristal spirit yang ada ditangannya.
"Nia Lan?..., tadi kalian sedang membicarakan apa?kenapa sepertinya sangat asyik? bolehkan Kakak tau?Jika Nia Lan berbaik hati memberitahu Kakak dengan jujur, maka semua uang yang ada dikantung ini akan menjadi milik Nia Lan. Nia Lan jawab saja yang jujur, Kakak tidak akan marah pada Nia!" ujar Evan membujuk Qiu Nia Lan dengan lemah lembut.
Melihat sekantung kristal spirit yang terus bergoyang-goyang dihadapannya, Qiu Nua tanpa ragu langsung menjawab.
"Sebenarnya bukan pembicaraan yang menyenangkan, tadi Cao Cao ingin menciumku dan aku menolaknya!" kata Qiu Nia Lan langsung menjawab dengan cepat.
"Oohh? ternyata seperti itu, tadi sepertinya Kakak mendengar ada bocah tengil yang tidak berkata seperti itu. Bocah tengil itu berkata, kamu tidak memahami beberapa hal saat latihan tadi siang, dan kamu bertanya padanya. Jadi yang berkata benar dan berbohong pada Kakak Bocah tengil itu atau Nia Lan?" tanya Evan sambil melirik dan tersenyum menyeringai pada Cao Cao yang ada dibelakangnya.
Melihat senyuman Evan yang sangat menyeramkan, seketika Cao Cao langsung merinding dan merasa ketakutan.
__ADS_1
Sementara itu, Qiu Nia Lan yang tidak ingin disalahkan pun menjawab dengan sejujur-jujurnya pada Evan.
"Tentu saja Qiu Nia Lan yang berkata jujur, sedangkan Bocah tengil.., Eh maksusku Cao Cao berbohong! Dia takut dimarahi dan dihukum oleh Kakak Evan!" kata Qiu Nia Lan sambil menunjuk Cao Cao yang berada dibelakang Evan dengan jari telunjuknya.
"Ooohh..., apakah benar yang dikatakan oleh Nia Lan, Cao Cao si Bocah tengil?" ujar Evan bertanya sambil menoleh dan tersenyum jahat pada Cao Cao.
"Benar, Cao Cao berbohong, Cao Cao mengaku salah!" kata Cao Cao mengakui kesalahannya sambil menganggukan kepala dengan pelan.
"Bagus, jika kamu sudah tahu salah, kamu pergilah ke kamarmu dan jangan keluar sebelum aku menyuruh kamu keluar!" kata Evan menyuruh Cao Cao untuk pergi ke kamar.
"Besok, aku akan memberi kamu hukuman karena menggoda seorang gadis kecil!" lanjut kata Evan menetapkan hukuman untun Cao Cao.
"Baik Kakak!" kata Cao Cao dengan sangat patuh menuruti apa yang dikatakan oleh Evan.
Kemudian Cao Cao pun berbalik badan dan pergi ke kamarnya untuk menerima hukuman dari Evan.
Sedangkan Evan, kemudian kembali menoleh dan melihat ke arah Qiu Nia Lan yang ada dihadapannya.
"Sedangkan untuk Nia Lan, sesuai dengan perkataan Kakak semua kristal spirit ini sekarang menjadi milik Nia Lan!" kata Evan sembari memberikan sekantung kristal spirit yang ada ditangannya pada Qiu Nia Lan.
"Terima Kasih Kakak Evan!" kata Qiu Nia Lan merasa sangat senang dan gembira menerima sekantung kristal spirit yang diberikann oleh Evan padanya.
Melihat Qiu Nia Lan yang merasa senang, Evan pun tersenyum dan ikut merasa senang juga, bahkan bahagia.
"Baiklah, sekarang Qiu Nia Lan cepatlah pulang, hari sudah malam, Kakek Qiu pasti sedang merasa khawatir dan mencarimu!" ujar Evan sambil mengusap kepala Qiu Nia Lan dengan lembut dan hangat.
"Baik Kakak Evan, Nia Lan akan pulang sekarang, Nia Lan tidak boleh membuat Kakek Qiu merasa khawatir!" kata Qiu Nia Lan yang dengan patuh menuruti semua perkataan Evan.
Kemudian Qiu Nia Lan dengan hati senamg berbalik pergi meninggalkan kediaman Jenderal dan kembali pulang ke rumahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
__ADS_1
......................
......................