
"Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk menguji kemampuan dan teknik bertarungku, aku akan mencoba menekan kultivasiku ke Tingkat Jenderal Level Lima!" pikir Evan dalam hatinya.
Kemudian Evan pun mengelurkan tangannya yang mengepal dan siap untuk bertarung melawan 18 wanita murid utama tersebut.
"Baiklah mari kita bertarung!" kata Evan menantang sambil mengeluarkan Aura tingkat Jenderal Level lima dan Energi berwarna hijau Elemen Angin yang menyelimuti tubuhnya.
Melihat Evan yang hanya mengeluarkan aura tingkat Jenderal Level Lima, Ruyin, Bibi Rue Luanyi, Rue Xianyi dan Nenek Rue Qianyu Pun merasa heran kepada Evan.
"Apa Evan ini bodoh?, dia menekan kultivasinya hingga ke tingkat Jenderal Level Lima untuk melawan 18 murid utama yang berada ditingkat Kaisar 1 sampai 3?, apakah dia gila atau bodoh?" pikir Ruyin Li dalam hatinya merasa heran dan khawatir sambil melihat ke arah Evan yang berdiri di atas arena.
"Bocah ini berani menekan kekuatannya hingga ke tingkat Jenderal Level lina untuk melawan 18 orang tingkat kaisar?, bocah ini kenapa selalu bodoh dan ceroboh?" pikir Nenek Rue Qianyu dalam hatinya sambil melihat ke arah Evan yang berdiri di atas arena.
Sementara itu 18 wanita murid utama yang melihat Evan yang hanya mengeluarkan aura tingkat Jenderal Level lima, 18 wanita murid utama tersebut pun merasa heran.
"Tingkat Jenderal Level lima?, apakah dia sedang menyembunyikan kekuatannya?, apakah dia sedang meremehkan kami?!" kata Salah satu wanita dari 18 wanita murid utama tersebut
18 wanita murid utama yang ada di atas arena merasa kesal dam geram melihat Evan yang meremehkan mereka.
"Beraninya kau meremehkan kami?, kau pasti akan kami buat menyesal karena telah berani menantang dan meremehkan kami!, semuannya maju dan serang dia!" kata salah satu murid utama memimpin para murid yang lainnya untuk menyerang Evan.
Kemudian 18 wanita murid utama tersebut pun maju menyerang Evan bersama-sama sekaligus.
Tidak ingin tinggal diam, Evan pun juga maju untuk menyerang dengan tangan mengepal yang diselimuti Energi Spiritual Berwarna Hijau berelemen Angin.
"Tinju Dewa Gerakan Kedua, Tinju Besi!" kata Evan yang kemudian mengadu pukulannya dengan pedang yang diayunkan oleh salah satu wanita yang menjadi lawannya.
"PRAAKK !!" Evan memukul pedang tersebut sampai hancur dan patah hingga membuat musuh yang menyerangnya langsung terpukul mundur.
__ADS_1
"Apakah Pria ini monster?, dia menghnacurkan pedangku hanya dengan satu pukulan!?" gumam si Wanita pemilik pedang yang dihancurkan oleh Evan.
Namun kemudian salah satu musuh datang menyerang dengan Jurus Berupa Telapak Tangan dari belakang Evan, tetapi dengan gerakan yang sangat cepat dan sigap Evan berhasil menghindari serangan tersebut dengan bergeser ke kanan.
Setelah berhasil menghindari Jurus Telapak Tangan tersebut, kemudian tiga jurus lainnya menyerang ke arah Evan secara bersamaan.
"DUAARR !!" Evan berhasil menghindari tiga jurus tersebut dengan melompat ke udara dan kemudian terbang melayang menggunakan sayap Aura.
Dengan cepat Evan mengganti Elemen anginnya menjadi Elemen Petir, dan kemudian Evan mengumpulkan Energi Petir yang sangat banyak pada pedangnya.
"Pedang Naga Petir!" seru mengeluarkan jurus pedangnya yang berupa Naga Petir yang menyerang ke arah para wanita murid utama yang berada di atas Arena Pertarungan.
"Semuannya Menghindar!" seru salah satu wanita murid utama kepada teman-teman murid utama lainnya.
Mendengar seruan tersebut, dengan cepat Para Murid Utama tersebut langsung dapat menghindari serangan Jurus Naga Petir tersebut dengan mereka menyebar ke segala arah.
Melihat para Murid Utama yang menyebar ke segala arah tersebut, Evan pun mengambil kesempatan dari situasi tersebut.
Mendengar suara jeritan rekannya, para murid utama yang lainnya pun menjadi lebih waspada, tetapi Evan dengan Langkah Kilat Surgawinya dengan cepat langsung berada dihadapan lawannya dan memukul wajah lawannya tersebut.
Dalam sekejab Evan berhasil menumbangkan 2 dari 18 lawannya.
Melihat Evan yang telah berhasil menumbangkan dua rekan mereka, para murid utama yang launnya pun menjadi lebih waspada lagi. Untuk menghindari serangan tiba-tiba dari Evan, mereka semua pun berdiri dengan menjaga jarak dari Evan.
Sementara itu ditempat duduk penonton, Pemimpin dan Wakil Pemimpin Sekte juga para Tetua terkejut dan takjub melihat kehebatan Evan.
"Tidak aku sangka ternyata bocah ini hebat juga, hanya dengan kekuatan Tingkat Jenderal Level Lima dia mampu menekan dan memojokan para Murid Utama sekte Puncak Dewi Putih milikku, cucuku memang luar biasa!" batin Nenek Rue Qianyu dalam hatinya yang merasa kagum kepada Evan.
__ADS_1
"Topeng Perak ini terlalu hebat!, mungkin jika aku yang berada dalam posisinya aku pasti sudah dikalahkan hanya dalam hitungan detik, Topeng Perak ini tidak hanya bisa bertahan lama tetapi bahkan bisa membuat Para Murid Utama yang kami didik dengan susah payah terpojok!" batin wakil Pemimpin Sekte Rue Xianyi.
Disisi Lain di atas arena tampak Evan yang cukup merasa puas dan senang dengan pertarungannya.
"Haha!..., cukup seru juga, jika tadi aku tidak menekan kekuatanku hingga ke tingkat Jenderal Level Lima mungkin dua wanita tadi sudah mati!" pikir Evan dalam hatinya sambil tersenyum melihat ke arah para murid Utama yang tampak sangat waspada kepadanya.
Disisi lain para Murid Utama yang melihat Evan berhasil memojokan mereka pun merasa kesal.
"Pria sialan!, dia padahal sudah menekan kekuatannya tetapi dia tetap bisa memojokan kami!"
"Topeng Perak ini sungguh monster!, jika kami tahu akan jadi seperti ini lebih baik tadi tidak usah meladeninya, sekarang jika ingin mundur sudah terlambat!"
"Ini semua salah Ruyin Li yang membawa calon suami monsternya yang membuat kami jadi dipermalukan!"
Para murid utama yang kesal seketika langsung menoleh dengan tatapan tajam ke arah Ruyin Li yang berdiri menonton dipinggir Arena.
Melihat teman-temannya yang melihat ke arahnya, Ruyin Li seketika pun terkejut dan menyalahkan Evan.
"Sepertinya teman-temanku akan memusuhi aku setelah pertarungan ini selesai, ini semua karena Evan yang terlalu memamerkan kekuatannya!" kata Ruyin Li sambil melihat dengan tatapan tajam dari balik punggung Evan.
Merasakan tatapan Ruyin Li tersebut, Evan merasa dingin punggungnya menjadi dingin.
"Aneh sekali!, kenapa punggungku tiba-tiba terasa dingin?" batin Evan dalam hatinya yang merasa tidak nyaman.
Kemudian mereka pun lanjut fokus ke pertarungan mereka.
"Sepertinya mereka sudah menjadi lebih waspada dari sebelumnya, karena kalian belum maju menyerang kalau begitu biar aku yang maju menyerang kalian!" pikir Evan dalam hatinya.
__ADS_1
"Dia maju menyerang!" kata salah satu wanita murid utama yang waspada dan bersiap untuk bertarung dan begitu juga dengan para murid wanita lainnya.
"Semuannya maju, serang dia bersama-sama!" seru salah satu murid utama yang memimpin para murid utama lainnya untuk maju menyerang Evan secara bersama-sama.