
Keesokan harinya....
Pasukan Negara Mo yang tersisa yang dipimpin oleh Jenderal Bian Luo tetap menyerang Nanzhou kota Yanzhou, tetapi dengan kekuatan mereka yang kelelahan dan tanpa adanya senjata yang memadai, mereka dengan mudah dibantai habis oleh pasukan yang dipimpin oleh Evan dan Sea Lin.
Setelah beberapa saat bertempur akhirnya bertempuran pun sampai pada titik akhirnya.
Tampak Evan yang menodongkan pedangnya pada Jenderal Bian Luo yang berlutut dan mengalami luka dalam yang parah.
"Jenderal Bian, kau sudah kalah, kau cukup berani tetapi kau bodoh!" ucap Evan sembari menodongkan pedangnya.
"Hahaha... tidak aku sangka aku dikalahkan oleh seorang bocah licik yang hebat, jika bukan karena kelicikanmu aku tidak mungkin bisa kalah!" ucap Jenderal Bian Luo.
"Ini bukan licik tetapi ini adalah taktik!" ucap Evan.
"SRAASSH!!" Evan mengayunkan pedang dan menebas Jenderal Bian Luo hingga mati.
Darah mengalir di atas tanah berpasir, tidak lupa Evan mengambil cincin penyimpanan milik Jenderal Bian Luo.
"Setelah ini mungkin Nanzhou akan terus berperang!" gumam Evan memperkirakan.
Tak lama Kemudian Sea Lin datang menghampiri Evan untuk melapor.
"Kakak Besar, semua prajurit musuh telah kita tumpas habis, dan mayat mereka juga telah kita kumpulkan!" lapor Sea Lin kepada Evan.
"Serap untukmu dan Pasukan Gagak Malam saja, peningkatan kekuatan kalian harus dipercepat karna aku akan butuh banyak bantuan kalian kedepannya!" ujar Evan.
"Baik, terima kasih Kak, tetapi kita menyerap para mayat mereka bukankah ini terlalu kejam dan mengerikan?" jawab Sea Lin.
"Sea Lin, menakutkan bagi musuh adalah suatu kebanggaan dan kehormatan bagi kita, dan kita bukanlah orang jahat, kita hanya kejam kepada musuh tetapi tidak dengan teman!" jawab Evan dengan raut wajah tersenyum.
"Jadi kamu jangan ragu atau kasihan kepada musuh, mengasihani musuh adalah kejahatan bagi diri sendiri!" ucap Evan mengingatkan Sea Lin.
"Baik Kak, maafkan aku karena terlalu banyak bertanya!" ujar Sea Lin.
"Tidak apa-apa, sebenarnya aku juga tahu ini terlalu kejam tetapi didunia yang kejam ini dimana yang kuat menindas yang lemah, kekejaman memang diperlukan!" kata Evan.
"Baik Kakak besar, aku mengerti!" ucap Sea Lin.
Singkat cerita pada malam hari dikediaman Jenderal, Evan dan Qin Shan berdiskusi mengenai perkembangan Ekonomi Nanzhou.
"Qin Shan, bagaimana dengan perkembangan ekonomi kita?" tanya Evan.
__ADS_1
"Cukup bagus Evan, aku sudah menjual sebagian harta rampasan perang kita kepada beberapa pedagang dengan harga yang cukup tinggi. barang-barang Negara Mo menjadi cukup populer dan berharga dipasaran karena akibat perang antar negara ini membuat jalur perdagangan terhambat, jadi barang-barang berciri khas dari Negara asing cukuplah langka dan Khas militer kita juga jadi bertambah! " jawab Qin Shan.
"Syukurlah, jika begini cepat atau lambat Nanzhou pasti bisa menjadi daerah yang maju!" ucap Evan merasa senang.
...****************...
Keesokan harinya di istana kerajaan Negara Mo.
"APA!!" ucap Kaisar Mo terkejut dengan marah.
"Benar Kaisar, Jenderal Bian Luo beserta 100 ribu pasukan yang anda kirim untuk menaklukan Nanzhou telah ditumpas habis hanya dalam waktu kurang dari sehari!" kata seorang yang melapor.
"Sial, siapa sebenarnya Jenderal baru mereka sampai bisa mengalahkan 100 ribu prajurit ku dengan sebegitu mudahnya?" kesal Kaisar Mo merasa heran.
"Ayah kaisar tenang saja, kirim aku untuk berperang dengan Nanzhou, siapapun Jenderal mereka pasti akan aku bunuh, dan aku akan merebut Nanzhou untuk Ayah Kaisar!" ucap Mo Sueyan.
"Tidak bisa!, Tujuh hari lagi Alam Fantasi Tujuh Bintang akan terbuka, kamu dan Kakakmu harus pergi kesana untuk mencari Teratai Api Emas dan Bambu Tujuh Warna untuk obatku!!" perintah Kaisar Mo.
"Masalah yang ada disini biar aku yang menangani!" ujar Kaisar Mo.
"Tidak boleh!, Ayah sedang sakit tidak boleh menangani hal ini sendirian, biar aku saja yang pergi ke Alam Fantasi Tujuh Bintang untuk mencari obatnya, Kakak pangeran akan menemani anda disini!" kata Mo Sueyan.
Alam Fantasi tujuh bintang adalah tempat yang ajaib, di tempat itu terdapat banyak barang dan benda berharga yang langka dan tak ternilai harganya, tetapi tempat itu juga penuh dengan bahaya karena adanya banyak hewan monster tingkat tinggi disana.
Dan setiap orang yang masuk ke tempat itu kekuatan mereka akan diturunkan hingga ke tingkat Jenderal level satu.
Diwaktu yang sama Evan juga mendapat kabar mengenai Alam Fantasi Tujuh Bintang yang akan segera terbuka tujuh hari kedepan.
"Kakak Besar, aku ada hal bagus yang ingin aku sampaikan!" kata Sea Lin menghampiri Evan.
"Ehm.., apa hal bagus itu?" tanya Evan berbalik badan.
"Alam Fantasi Tujuh Bintang akan segera terbuka tujuh hari lagi!" jawab Sea Lin sangat bersemangat.
"Alam Fantasi Tujuh Bintang?" ucap Evan penasaran.
"Benar!, katanya ditempat itu ada banyak barang bagus yang langka dan tidak ternilai harganya!, apa kita juga akan pergi kesana?" tanya Sea Lin pada Evan.
"Ada hal bagus seperti ini tentu saja aku tidak akan melewatkannya, baiklah kalau begitu tujuh hari lagi kita akan pergi ke tempat itu!" kata Evan ikut bersemangat dan senang hati.
"Tetapi Kak, jika kita pergi ke Alam Fantasi Tujuh Bintang bagaimana dengan Nanzhou?, siapa yang akan menjaganya?" tanya Sea Lin.
__ADS_1
"Tenang saja itu adalah hal mudah, kamu bersiaplah untuk pergi ke tempat itu!" perintah Evan.
"Apa kita perlu mengajak yang lainnya juga?" tanya Sea Lin.
"Hmm..., kalau itu akan aku pikirkan dulu nanti!" jawab Evan.
Singkat cerita tiga hari sebelum Alam Fantasi Tujuh Bintang terbuka.
Dikediaman Jenderal tampak Evan yang sudah bersiap untuk berangkat pergi ke Alam Fantasi Tujuh Bintang.
Namun para gadis tampak tidak rela untuk melepas kepergian Evan.
"Evan, apakah kamu sungguh akan pergi tanpa membawa kami?, Bawa kami yah?, kami bisa menjaga diri kok!" pinta Ran Ran.
"Benar Evan, kami bisa menjaga diri kami sendiri dan kami tidak akan menyusahkan kamu jika kamu membawa kami!" ujar Reya.
"Bukannya aku meremehkan kalian atau tidak memperbolehkan kalian untuk ikut, tetapi jika kalian pergi maka siapa yang akan menjaga kediaman Jenderal dan membanntuku untuk mengurusi hal-hal yang ada disini?" ujar Evan.
"Benar kata Evan, dia membutuhkan kita untuk membantunya mengurus masalah-masalah yang ada disini, Lagi pula bukankah Evan juga hanya pergi untuk beberapa hari saja, kenapa kalian berdua tampak sangat tidak rela?, lihat Ririn, dia saja tidak membuat masalah apapun!" ujar Nan Ruyu sembbari melihat Ririn yang sedang diam menggendong Limau dan bermain dengan Qinglong.
"Baiklah kami tidak akan memaksa ikut denganmu lagi, tetapi kamu tidak boleh mencari (berselingkuh) dengan gadis lain!" kata Ran Ran mengingatkan.
"Benar, jika kamu berani berselingkuh maka....." ucap Nan Ruyu sembari memberi ancaman akan memotong Elang Kecil milik Evan.
Melihat itu Evan pun sampai berkeringat
".... jadi jangan berani berselingkuh dari kami!" ancam Nan Ruyu dengan wajah kejam.
"Tenang saja aku tidak akan mencari wanita lain lagi!, ada empat calon istri cantik yang menungguku di kediamanku, aku mana mungkin akan berselingkuh!" kata Evan meyakinkan 4 wanita itu.
Melihat itu Evan pun ditertawakan oleh Sea Lin yang keberadaannya baru disadari, padahal Sea Lin sudah sedari tadi datang dan menunggu Evan untuk berangkat.
Melihat Sea Lin yang menertawakannya Evan pun menjadi malu. "Memang punya banyak wanita itu ada enak dan tidaknya!" batin Evan.
"Sea Lin, kapan kamu sampai?" tanya Reya.
"Sudah cukup lama Kakak ipar Reya, aku disini ingin menjemput Kakak Besar Evan, semuannya sudah siap untuk berangkat hanya tinggal menunggu Kakak Besar Evan saja!" jawab Sea Lin.
"Baiklah kalau begitu ayo kita berangkat!" ajak Evan.
Kemudian Evan pun berjalan pergi, para gadis itu juga tidak lupa mengucapkan sampai jumpa dan memgingatkan supaya hati-hati kepada Evan.
__ADS_1